Rabu, 17 Juli 2019

Dua Penyair dari Suku Seni Riau Juara Krakatau Award 2019


SELAMAT kepada Eko Ragil Ar-Rahman dan Kepala Suku Marhalim Zaini, dua penyair dari Suku Seni Riau yang menjadi juara 1 dan juara 2 dalam iven lomba cipta puisi Nasional, Krakatau Award 2019. Kabar baik ini datang hari ini (17/7/2019) dalam pengumuman dan rilis di sejumlah media massa. Puisi Eko Ragil berujudul “Swara Masnuna” meraih juara 1 dan puisi Marhalim Zaini berjudul “Sajak Mekhanai kepada Muli” raih juara 2. Masing-masing akan menerima hadiah 5 juta dan 4 juta, serta diundang ke Lampung pada 24 Agustus 2019 dalam Lampung Krakatau Festival 2019.

Selain dua pemenang di atas, dewan juri yang terdiri dari Isbedy Stiawan ZS, Syaiful IrbaTanpaka, dan Arief Joko Wicaksono juga menetapkan puisi “Syair Lampung Sakti” karya Budi Saputra (Sumatera Barat) sebagai juara 3. Sementara Juara Harapan I-III adalah “Pukau Krakatau” (Sukoso DM, Jawa Tengah), “Perempuan Pelantun Dadi” (Robi Akbar, Lampung), dan “Kelengkup Gangsa” (Adenar Dirham, Yogyakarta). Bersama enam puisi tersebut, 44 puisi nomine lainnya akan dihimpun dalam sebuah buku antologi.


Mendengar kabar ini, Eko Ragil cukup terkejut sekaligus bahagia, karena dia tidak menyangka akan menjadi pemenang dalam ivent ini. “Ya Allah, aku gak nyangka lho bisa menang. Selamat juga ya Pak Marhalim....,” ujar Eko. Sementara itu, Marhalim Zaini, merasa bersyukur, Suku Seni bidang sastra bisa turut berkontribusi dalam iven nasional ini dan bisa unggul. “Saya ucapkan selamat untuk Eko Ragil. Saya merasa bahagia karena saya masih bisa bersaing dengan para penyair pendatang baru. Mari terus menulis,” imbuh Marhalim.***

Selasa, 16 Juli 2019

Kepala Suku Seni Ikuti Sosialisasi Penerima Fasilitasi Penulisan Sejarah


SELAMA tiga hari (14-16 Juli 2019), Marhalim Zaini mengikuti kegiatan sosialisasi penerima Bantuan Pemerintah Fasilitasi Penulisan Buku Sejarah, di Hotel Ambhara Jakarta Selatan. Marhalim, yang mewakili kategori perorangan, adalah salah seorang penerima dari 87 penerima bantuan yang dinyatakan lolos yang terdiri dari berbagai bidang: Penulisan Buku Sejarah, Ivent Sejarah, Film Sejarah, Ragam Media Pembelajaran Sejarah, dan Aplikasi Pengembangan Sejarah.

Menurut panitia pelaksana teknis kegiatan, M. Iqbal, di antara bidang-bidang tersebut, proposal pengajuan yang paling banyak adalah bidang Penulisan Buku Sejarah. Ada 190 proposal yang masuk, tetapi yang dinyatakan lolos hanya 25 proposal. Sementara jumlah keseluruhan proposal yang masuk dari semua bidang berjumlah 450-an proposal. “Tahun ini jumlah pengajuan dari masyarakat mengalami peningkatan,” ujar Iqbal.

Kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh semua penerima bantuan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan dan pemahaman terkait tujuan program ini dan kebijakan-kebijakan dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Peserta juga dibekali informasi tentang berbagai prosedur pelaksanaan kegiatan sampai pembuatan laporan, serta perpajakan. Selain Direktur Sejarah, dari unsur Perpajakan, unsur Inspektorat, kegiatan ini juga dihadiri oleh Sekretaris Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sri Hartini. Hadir juga beberapa sejarawan dari Universitas Indonesia, yang juga bertindak sebagai verifikator.

Bagi Marhalim Zaini, bantuan pemerintah ini sangat penting bagi kerja penulisan sejarah lokal. Karena banyak sekali sejarah yang terabaikan, terserak tapi tak tercatat. “Meskipun saya bukan orang sejarah, tapi sebagai penulis dan sebagai pegiat kebudayaan saya punya tanggung jawab moral untuk turut menulis sejarah, terutama sejarah di bidang yang saya tekuni selama ini, yakni seni pertujukan,” imbuh Marhalim.***

Sabtu, 13 Juli 2019

Malam Ini, Suku Seni Mengudara di Green Radio


RUMAH Kreatif Suku Seni Riau malam ini (13/7/2019) mengudara di Green Radio Pekanbaru, di frekuensi 96.7 FM. Selama dua jam, sejak pukul 19.00 sampai pukul 21.00, Suku Seni yang diwakili Ajik Bahar (Manajer Program) dan Adek Feisal Usman (Manajer Humas) akan berbincang ringan tentang aktivitas Suku Seni selama ini, khususnya tentang pertunjukan teater-puisi “Agama Sungai” karya/sutradara Marhalim Zaini.

Pertunjukan yang akan digelar pada 27 Juli 2019, di Taman Budaya Riau ini, secara lebih khusus
ditujukan untuk turut memperingati Hari Sungai Nasional. Tema lingkungan, yang selama ini juga menjadi fokus sejumlah produksi seni di Suku Seni, juga menjadi eksplorasi gagasan utama dalam pertunjukan “Agama Sungai” yang bersumber dari puisi Marhalim (pernah dimuat Kompas).

Bagi Suku Seni, Green Radio merupakan media partner yang selama ini kerap menjadi media publikasi dan sosialisasi beberapa program Suku Seni, selain sejumlah media elektronik yang lain. “Suku Seni memang selama ini menjalin kerjasama dengan sejumlah media, sejumlah komunitas, untuk mendukung berbagai program Suku Seni. Kami mengucapkan terima kasih kepada Green Radio yang sudah memberi ruang bagi kami untuk mengudara,” ujar Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini.***

Tentang “Agama Sungai” (1): Peradaban Sungai di Sumatera


Menyusuri sungai di Sumatera adalah juga menyusuri sejarah peradaban masyarakat Sumatera. Sebab, seturut dengan sejarawan Universitas Andalas, Gusti Asnan (2016), sungai adalah faktor penggerak sejarah di Sumatera. Bukankah selama ribuan tahun, sungai telah membentuk peradaban Sumatera, sebagaimana peradaban Tiongkok oleh Sungai Kuning dan peradaban Mesopotamia dibentuk oleh Eufrat dan Tigris, serta Sungai Nil yang merupakan peradaban tua dunia, yang boleh dikata, peradaban megah Mesir Kuno juga lahir dan mengalir dari sana, sampai-sampai sejarawan Herodotus menyebut Mesir adalah ”hadiah Sungai Nil”.

Maka, bicara sungai tidak semata bicara soal aliran air, tetapi juga menelisik sebuah dunia luas yang kompleks, sebagaimana kompleksitas sebuah peradaban. Mulai dari aspek sosi0-historis, tradisi dan mitos, seni dan ritual, agama dan spiritualitas, sampai pada aspek arkeologis dan lingkungan. Dan di semua kawasan Sumatera yang memiliki sungai yang beragam nama, sejumlah sungai terpanjang dan terdalam seperti Sungai Asahan (Sumatera Utara), Sungai Siak (Riau), Way Tulangbawang (Lampung), Sungai Merangin (Jambi), dan lain-lain.

Gusti Anan menyebut, sungai memiliki karakter yang berbeda. Sayangnya sejak Indonesia merdeka, terjadi penyeragaman penggunaan kata ”sungai” untuk semua aliran air ke laut. Padahal karakter sungai dapat ditelisik juga dari beragam sebutan dari setiap daerah, misalnya krueng (Aceh), woi (Gayo), aek (Batak Mandailing), lau (Batak Karo), kuala (Sumatera Timur), batang (Sumatera Tengah), air (Sumatera Selatan), dan way (Lampung). Karakter tersebut--sebagaimana Gusti mengutip Schnitger (1939)—dapat “memanusiakan” sungai-sungai dengan narasi-narasi, semisal dengan penyebutan frasa ”lebar dan pengeluh bagaikan orang tua” untuk Sungai Musi, dan ”ganas dan membara” untuk Sungai Batanghari. Dan bisa pula ditambahkan narasi “tenang di kedalaman” untuk Sungai Siak.

Kompleksitas peradaban sungai juga dapat dilihat misalnya pada era klasik, kerajaan-kerajaan di Sumatera berdiri di kawasan bagian tengah aliran sungai dan di tepian sungai, misalnya Sriwijaya di tepi Musi, Melayu di tepi Batanghari, serta Minangkabau di tepi Batang Selo dan Batang Buo, Siak di tepi Sungai Jantan-Riau, Kerajaan Sungai Pagu di Solok, Kerjaan Sungai Lemau dan Sungai Serut di Bengkulu, Kerajaan Pelalawan di Sungai Rasau, Kerajaan Segati di Hulu Sungai Segati-Riau, Kerajaan Tulang Bawang di Sungai Tulang Bawang. Selain mempermudah pihak kerajaan mengontrol produk dari daerah pedalaman Sumatera yang mengalir ke berbagai belahan dunia, juga dapat menghindari perompakan yang kerap terjadi di laut.

Sampai sekarang, peradaban sungai sesungguhnya masih berlangsung dalam kehidupan masyarakat di Sumatera, terutama yang tinggal di pesisir, dan di pedalaman. Mereka adalah para penduduk asli, yang masih tinggal di pinggir-pinggir sungai, masih mencoba terus berdampingan hidup dengan alam. Akan tetapi, jumlah mereka kian hari kian menyusut. Selain banyak yang pindah ke kota, tinggal di pinggiran sungai tidak lagi memiliki masa depan. Sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka telah banyak yang berubah menjadi tong sampah industri dan pertambanga, limbah manusia, limbah pabrik, dan sebagainya.

Sungai sebagai sebuah peradaban seperti menunju keruntuhannya. Penebangan hutan demi transmigrasi dan perkebunan menyebabkan sungai kering di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Perubahan fungsi sungai ini terjadi sejak kolonialisme Belanda. Mereka membangun loji di tepi sungai, serta menggunakan sungai untuk ekspedisi militernya. Untuk pertama kalinya, jalur sungai Sumatera pun terbuka bagi lalu lintas kapal penumpang dan kapal barang asing berbendera Belanda, Inggris, Tiongkok, bahkan Yunani dan Panama.***

Rabu, 10 Juli 2019

Marhalim Zaini Lolos sebagai Calon Penerima Bantuan Penulisan Sejarah 2019


KEPALA Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, lolos sebagai calon penerima Bantuan Pemerintah Fasilitasi Komunitas Kesejarahan 2019 Bidang Penulisan Sejarah. Program yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini meloloskan 25 calon penerima, selain puluhan calon penerima lain dalam Bidang Pembuatan Film Sejarah, Bidang Event Sejarah, Bidang Ragam Media Pembelajaran Sejarah, dan Bidang Aplikasi Pengembangan Kesejarahan.

Marhalim sangat bersyukur, pengajuan judul penulisan sejarah atas nama perseorangan “Dari Bangsawan Hingga Laksemana: Sejarah Komunitas Seni Pertunjukan di Riau Pasca Kemerdekaan Indonesia,” lolos dalam seleksi ini. “Saya bahagia dan bersyukur, karena kerja penulisan yang telah saya cicil sejak lama ini, akhirnya didukung oleh pemerintah,” ujar Marhalim.

Marhalim menyebut, penulisan sejarah tentang Seni Pertunjukan di Riau sangat minim, terutama tentang komunitas seninya. Padahal komunitas seni pertunjukan terus lahir dan tumbuh dalam dinamika perkembangan sosial-budaya masyarakat pendukungnya. Selain sastra, seni pertunjukan adalah genre seni yang sangat menonjol di Riau. “Ini mungkin kerja awal dari kerja panjang ke depan, untuk mulai mencatat dan menganalisa perkembangan seni pertunjukan Riau yang terus menampakkan gairahnya ini,” tutup Marhalim.***

Kepala Balai Bahasa Sambut Hangat Suku Seni dan Komunitas Paragraf


KEPALA Balai Bahasa Riau yang baru, Drs. Songgo A Siruah, M.Pd, sambut hangat kedatangan dua pimpinan komunitas seni di Pekanbaru, Marhalim Zaini (Kepala Suku Seni Riau) dan Hary B Kori’un (Koordinator Komunitas Paragraf) di Kantor Balai Bahasa, Kompleks Universitas Riau, Panam, Pekanbaru (Selasa, 9 Juli 2019). Pertemuan silaturahmi ini berlangsung santai dan hangat berbincang tentang berbagai hal terkait dunia bahasa dan sastra.

“Terima kasih sudah datang, dan saya merasa bahagia karena kedatangan dua penulis hebat ini, “ kelakar Songgo membuka pembicaraan. Songgo sangat berharap komunitas-komunitas literasi di Riau ini mendukung program-program Balai Bahasa. Karena tanpa dukungan dari berbagai pihak, kegiatan Balai Bahasa tidak akan maksimal hasilnya. “Kami tidak bisa kerja sendiri. Dukungan pemerintah daerah dan masyarakat luas sangat kami butuhkan,” ujar Songgo.

Dalam kesempatan tersebut, Marhalim menyampaikan dan memperkenalkan tentang program-program literasi di Suku Seni, termasuk Rumah Baca, yang barangkali dapat disinergikan dengan program-program Balai Bahasa ke depan. Begitu pula Hary B Kori’un yang bercerita tentang bagaimana aktivitas Komunitas Paragraf selama ini, yang cukup banyak “melahirkan” para penulis. Harapan Marhalim, juga Hary, semoga kerjasama yang telah sejak lama dibangun, sejak masa kepemimpinan Agus Halim, Agus Sri Danardana, dan Umar Solikhan, dapat terus terjalin.

Songgo adalah kepala Balai Bahasa Riau yang baru bertugas di Balai Bahasa Riau per 1 Juni 2019. Dia menggantikan Umar Solikhan yang sekarang menjadi Kepala Balai Bahasa Jawa Barat. Sebelum di Riau, Songgo pernah menjadi Kepala Kantor Bahasa Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan terakhir di Nusa Tenggara Barat (NTB).***

Selasa, 09 Juli 2019

Terima Kasih kepada Media Massa yang Telah Mendukung Suku Seni



MEDIA massa telah mengambil peran penting bagi suksesnya berbagai program yang telah digelar Rumah Kreatif Suku Seni Riau.  Mulai dari pertunjukan teater-puisi “Dilanggar Todak” sampai hari ini, media massa (cetak, elektronik, online) menjadi salah satu pendukung yang tak bisa diabaikan.

Untuk itu, melalui laman ini, keluarga besar Rumah Kreatif Suku Seni Riau mengucapkan ribuan terima kasih atas dukungannya dalam mempublikasikan berbagai program kami selama ini. Semoga kerjasama dan dukungan tersebut terus berlanjut.

Daftar berikut adalah media massa yang pernah mempublikasikan program atau kegiatan Suku Seni, baik kerjasama langsung, maupun tidak langsung. Kalau ada yang tercecer, kami mohon dimaafkan.  

Informasi dukungan dan kerjasama:
Adek Faisal Usman (Humas) : 081261184819
Ajik Bahar (Manager Program): 082284808444
Eko Ragil (Kesekretariatan): 0895604130236