Sabtu, 01 Agustus 2020

Menunggu Ayah Pulang (Cerpen Ranto Napitupulu)

HINGGA saat di mana kami harus meredam rasa yang berkecamuk itu, segelas kopi yang kami temukan di atas meja Ayah masih saja menjadi perdebatan di antara kami. Meski satu sama lain mulut kami tidak berbicara, batin kami antara yang satu dengan lainnya masih terus saling bertanya; siapakah yang menyeduh kopi itu?

Menurut Ibu, kopi itu bukan seduhan Ayah. Ibu sangat tahu kalau Ayah tidak pandai menyeduh kopi. Lebih baik Ayah mengurungkan niatnya meminum kopi ketimbang harus menyeduh sendiri kopinya. Itulah alasan Ibu untuk tetap yakin bahwa yang menyeduh kopi itu bukan Ayah.

Jika Ibu berpendapat seperti itu, dua adik perempuanku lain lagi. Dari raut wajah mereka, sepertinya mereka menaruh curiga, kalau-kalau ada seseorang yang telah menyeduh kopi itu dan meletakkannya di atas meja Ayah. Tujuannya hanya sebagai pengalih perhatian.

Satu-satunya orang yang menaruh dugaan kalau kopi yang kami temukan di atas meja itu adalah senduhan Ayah sendiri, adalah aku. Alasan yang kugunakan untuk menaruh duguaan itu adalah pertimbangan-pertimbangan logis. Lalu rasa di hati, feeling.

Terakhir kali, sebelum kopi di atas meja itu kami temukan, aku melihat Ayah membawa beberapa buku menuju meja kerjanya. Sepertinya waktu itu Ayah hanya hendak membaca saja. Bukan hendak menulis. Kalau Ayah hendak menulis, paling banyak membawa dua buku saja.

Kebiasaan Ayah kalau hendak membaca buku, ia selalu meminta disediakan segelas kopi. Nah! Waktu itu Ibu tidak ada di rumah. Menurutku, sesuatu yang tadinya tidak biasa dilakukan oleh seseorang, bisa jadi menjadi bisa ia lakukan karena dipaksa oleh keadaan. Kukira demikianlah yang dialami oleh Ayah waktu itu.

Beberapa buku yang kusebut tadi adalah buku yang di masa dulu tidak bisa bebas dibaca oleh orang-orang. Pun oleh kami sendiri. Di rumah kami, buku-buku itu tidak bisa bebas kami baca. Ayah tidak pernah mengizinkan kami untuk membacanya. Selalu saja ada alasan Ayah untuk mengahalangi kami membaca buku-buku itu.

“Itu catatan sejarah yang salah! Tidak baik untuk kalian ketahui!” kata Ayah suatu hari. Pada hari yang lain, ada lagi alasan yang Ayah kemukakan untuk menghalangi kami membaca buku-buku itu. Sepotong kata-kata Ayah yang selalu kuingat adalah: catatan sejarah yang salah.

*

Kopi itu sudah dingin ketika kami menemukannya di atas meja. Bahkan sudah sangat dingin. Tampaknya belum sempat diminum barang seteguk pun, atau sekadar diseruput. Kalau seumpama sudah ada diseruput untuk sekadar merasakan manis atau pahitnya, tentulah sisi bagian atas dari gelas itu akan ada bekas kopi yang mengering. Ini masih bersih. Awalnya kami menduga, sembari menunggu kopi itu dingin, Ayah pergi ke kedai di ujung gang. Mungkin hendak membeli sesuatu, atau bermaksud menemui seseorang untuk mengobrol. Tetapi akhirnya keenakan ngobrolnya, dan kopi itu pun menjadi tidak diingat.

Tetapi kemudian ketika aku sadar bahwa beberapa buku yang dibawa oleh Ayah ke ruangan kerjanya ternyata tidak ada di atas meja, jantungku seketika berdegub. Dan ketika hal itu kukemukakan kepada Ibu, Ibu tampak sangat cemas. Keempat adik-adikku pun tampak turut cemas.

Kecemasan kami semakin bertambah, sewaktu ada berita bahwa ada beberapa buku yang ditemukan oleh seseorang di atas batu di tepi sungai di selatan desa. Buku-buku itu adalah buku milik Ayah. Berpuluh pertanyaan dan praduga absurd sekonyong-konyong berkelebat saling berebut di hati kami.

Apakah Ayah telah dibunuh? Atau, apakah Ayah sengaja ingin membaca buku itu di tepian sungai, lalu tiba-tiba ia dipanggil seorang temannya, dan buku-buku itu tertinggal di sana? Atau seorang temannya mengajaknya ke sana, lalu mereka pergi entah ke mana dan buku-buku itu tertinggal di atas batu itu? Atau buku-buku itu dipinjam oleh seorang temannya. Karena suatu hal terjadi atas diri temannya itu, maka buku itu pun tertinggal di atas batu itu.

Atau..., Ayah sendirikah sebenarnya yang meletakkan buku-buku itu di atas batu itu? Tetapi untuk apa? Dan kemanakah Ayah pergi setelah meletakkan buku-buku itu di situ? Andai benar Ayah pergi, ini di luar kebiasaan. Ayah tidak pernah bepergian tanpa meninggalkan pesan terlebih dahulu kepada Ibu. Terlebih kalau bepergiannya sampai beberapa hari. Biasanya kalau Ayah bepergian, paling tidak satu atau dua hari sebelumnya ia pasti memberitahu Ibu.

Kami tidak tahu harus melapor kepada siapa. Hendak melapor kepada kepala desa, tidak mungkin. Hendak melapor kepada polisi, lebih tidak mungkin. Hubungan Ayah dengan kepala desa sudah lama tidak baik. Demikian juga kepada polisi di kecamatan. Kata orang-orang, hubungan tidak baik itu terjadi sejak dulu. Sejak Ayah sering menyuarakan ketidakpercayaannya pada catatan sejarah. Menurut Ayah, sejarah itu dicatat oleh orang-orang pendusta. Ayah lebih percaya pada sejarah yang dicatat di nisan orang-orang yang telah mati. Atau pada batu-batu di tepian sungai di selatan desa. Oleh sebab itulah kepala desa dan polisi di kecamatan menganggap Ayah sebagai orang yang tidak perlu disahabati.

“Mereka menggolongkan Ayah sebagai orang berhaluan kiri.” kata Ibu suatu hari, ketika aku bertanya perihal ketidakbaikan hubungan Ayah kepada kepala desa dan polisi. Kata Ibu, sikap tidak bersahabat itu berlaku secara estafet dari seorang kepala desa ke kepala desa berikutnya. Begitu juga dari kepala polisi di kecamatan ke kepala polisi berikutnya.

Tetapi, terkait dengan sikapnya atas ketidakbenaran sejarah itu, Ayah tidak diberhetikan dari pekerjaannya sebagai guru. Malahan, ada berita kemarin ini, bahwa masa bakti Ayah akan diperpanjang selama lima tahun lagi. Pejabat sekolah yang membawahi Ayah mengatakan, bahwa Ayah adalah guru sejarah terbaik sekecamatan.

*

TIGA hari tiga malam berlalu. Harapan kami semakin pupus. Pada hari ke dua, harapan kami masih ada; bahwa Ayah hanya pergi entah ke mana untuk beberapa saat saja. Tetapi setelah malam ke tiga dari waktu kami menemukan segelas kopi di atas meja kerja Ayah, harapan itu pupus. Dugaan banyak orang pelan-pelan mulai bisa kami terima, meski terasa begitu menyakitkan di hati kami.

Orang-orang menduga, bahwa sebelum kami menemukan segelas kopi itu, Ayah telah dijemput oleh sekelompok orang. Kata mereka, Ayah adalah salah seorang yang tahu penyebab hilangnya orang-orang desa pada masa dulu. Ayah adalah orang yang selalu lebih dulu ribut jika ada penduduk desa yang tiba-tiba hilang. Ayah selalu mengatakan, bahwa orang-orang yang hilang itu tidak bersalah. Mereka adalah korban arogansi. Korban dari cara-cara konyol; mempertontonkan kekuasaan. Tujuannya, agar yang lainnya tidak mau macem-macem.

Menurut Ayah, kalau orang-orang yang hilang itu dikatakan sebagai antek-antek kelompok tertentu, itu tolol namanya. Jangankan menjadi antek-antek. Arti dari antek-antek saja mereka tidak tahu.

“Paling banter mereka pintarnya itung duit hasil penjualan gaplek. Selebihnya, ya, bikin anak! Membuntingi bininya! Masak orang seperti itu dituduh ngikutin perkumpulan terlarang? Edan itu!” begitu selalu kata Ayah ketika ada orang yang mempertanyakan perihal orang-orang yang hilang di desa.

Kami pun sebenarnya sadar, bahwa Ayah sudah lama dianggap sebagai orang yang tidak baik dalam upaya menghilangkan dendam dan kebencian masa lalu. Ayah dihitung sebagai duri dalam daging. Ayah patut diduga akan selalu memengaruhi orang-orang desa untuk tidak meyakini sejarah yang ada. Ayah patut diduga sebagai orang yang selalu mengatakan kepada orang-orang desa, bahwa sejarah yang benar adalah sejarah yang dicatat pada batu-batu di tepian sungai. Yang dicatat dengan gesekan tulang belulang yang hanyut dan terhempas oleh arus air sungai.

*

Ibu memanggil kami untuk berkumpul di ruang kerja Ayah. Kami masuk satu demi satu, dengan mata yang sembab, letih dan kuyu. Dua adik kami yang belum mengerti apa-apa, tampak beringsut di pelukan Ibu. Mata mereka mencari-cari sesuatu di wajah kami.

Aku melihat Ibu telah mengenakan sehelai kain berwarna biru-tua bergaris hitam-putih samar di atas kepalanya. Ibu pernah bercerita, katanya Ayah pernah bilang, kalau seorang isteri orang Batak ditinggal mati oleh suaminya, pada saat jenazah disemayamkan, di atas kepalanya akan dikenakan sehelai kain selendang bernama ulos sibolang. Itulah kain yang dikenakan oleh Ibu waktu itu.

Semestinya orang yang menyematkan ulos itu di atas kepala Ibu adalah ayahnya Ibu, atau salah seorang saudara laki-laki Ibu. Tetapi Ibu telah mengenakan sendiri ulos itu. Ada cerita panjang yang lumayan rumit diuraikan tetang hal ini. Satu yang kutahu adalah, bahwa Ibu tidak satu suku dengan Ayah. Ibu telah kehilangan sanak keluarganya sejak ia dianggap tolol; berani memilih Ayah sebagai suaminya.

“Apakah Ibu yakin kalau Ayah sudah mati?” tanyaku pelan kepada Ibu.

Ibu tidak menyahut. Hanya bulir-bulir air bening yang tampak mengambang di kelopak matanya. Aku berusaha untuk tidak ikut menangis. Kupikir, jika aku menangis, kekuatan kami akan benar-benar runtuh. Harapan di hati keempat adik-adikku akan benar-benar pupus.

*

SEJAK malam di mana Ibu mengenakan sehelai ulos berwarna biru tua bergaris hitam-putih samar itu, Ibu tidak berniat lagi melakukan upaya pencarian terhadap Ayah. Malahan Ibu sudah melakukan hal-hal sebagaimana dilakukan oleh para perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya.

Ibu sudah merapikan semua pakaian Ayah ke dalam satu lemari, lalu menguncinya rapat-rapat. Ibu juga sudah memasukkan semua buku-buku Ayah -yang tidak bisa bebas kami baca dan yang bisa bebas kami baca, ke dalam koper besi di kolong ranjang kayu di bilik mereka.

Meski ada kabar yang menghidupkan harapan kami tentang kemungkinan Ayah masih hidup, Ibu tidak mengurungkan niatnya untuk melakukan semua yang ingin ia lakukan sebagai pertanda bahwa Ayah tidak akan kembali lagi.

“Kata orang-orang di kabupaten, ayah kalian hanya ditahan saja.” begitu kabar itu. “Jika ia mau berjanji tidak akan mempersalahkan catatan sejarah yang ada, ada kemungkinan ia akan dipulangkan.” kata pembawa berita itu.

“Ayah kalian adalah laki-laki yang sangat teguh pada pendiriannya.” kata Ibu menanggapi berita itu. Artinya, menurut Ibu, Ayah tidak akan pulang lagi. Sebab Ayah tidak mungkin menarik kata-katanya soal ketidakbenaran catatan sejarah yang ada itu. Andai hal itu menjadi kenyataan, akan sangat menyakitkan. Ayah dijemput paksa oleh sekelompok orang karena ia mempersalahkan catatan sejarah. Ini tidak adil! Bagaimana pun upaya kami untuk tidak percaya akan hal itu, rasa pedih itu akan tetap membekas.

Aku sendiri sebenarnya masih ingin menghidupkan keyakinanku, bahwa Ayah masih hidup. Sementara itu, aku sangat tahu bagaimana kedekatan hati dan jiwa Ibu dengan Ayah. Aku juga sangat percaya, bahwa Ibu sangat mengenal Ayah. Oleh karenanya, aku tidak berani mempersalahkan Ibu, kalau Ibu sudah benar-benar yakin bahwa Ayah tidak akan pulang lagi.

Tetapi aku akan tetap menghidupkan harapan, bahwa Ayah masih hidup. Pada waktunya, ia akan pulang. Ketika ia sudah tiba di rumah, ia akan bercerita ke mana saja ia pergi selama ia meninggalkan kami. Lalu Ayah akan menjelaskan perihal catatan sejarah yang salah itu.

*

Tiba-tiba terdengar suara sirine di kejauhan. Agaknya suara sirine itu adalah suara sirine mobil jenazah! Aku melihat seorang adikku yang duduk di kursi, mempertajam pendengarannya terhadap suara sirine itu. Aku berharap, mayat yang diusung oleh mobil jenazah itu bukanlah jenazah Ayah.***


Ranto Napitupulu, lahir di Pematang Siantar, 06 Juni 1965, tinggal di Desa Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Menulis cerpen dan esai di beberapa media cetak.


Sabtu, 25 Juli 2020

Puisi-puisi Barokatus Jeh (Indramayu)


Percakapan dalam Lemari

di dalam lemari kau menyimpan percakapan-percakapan
yang aromanya masih menyimpan tanda tanya

kau selalu bercerita pada lemari tentang keadaanmu hingga hari ini
dan kau menekuri sunyi yang diam-diam membuatmu sakit kepala

dan kau tidur di sana selamanya

Ponorogo, 2020



Latihan Menulis

pada jam satu siang kau tak bisa tidur
sebab puisi telah memenuhi kepalamu
dan kau bingung dengan sebuah percakapan panjang dalam otakmu

bahwa katanya jika kau ingin bisa menulis, maka kau harus menulis
kau tak perlu mikir berat tentang tulisanmu
apa saja bisa kau tulis
semua orang bisa menulis
dan kau salah satunya

sebelum kau benar-benar menulis
ngantuk telah menyergap matamu
kau tak jadi menulis hanya berpikir apa yang ditulis
dan untuk selamanya kau tetap latihan menulis

dalam mimpi indahmu

Ponorogo, 2020




Puisi dalam Kepalamu

apa-apa telah menjadi puisi dalam keseharianmu
hendak makan bulir-bulir nasi dan lauk-pauk menjadi hidangan paling lezat untuk menyantap kata-kata
akan melakukan ibadah tidur diksi-diksi menyergap penglihatanmu dan
kau terbuai bersama huruf-huruf semu hingga mimpi indah
mau rebahan kau juga memikirkan puisi yang belum juga lancar dibicarakan
bahkan mandi pun puisi telah menjelma menjadi aliran air yang segar menyelimuti tubuhmu

sebab puisi telah mendoktrin kepalamu untuk mengingatnya

jadi masihkah kepalamu penuh dengan puisi

Ponorogo, 2020



Latihan

semua butuh dilatih
barangkali mengeja namamu dalam sunyi-sunyi malam hanya ada aku dan Tuhan
menekuri cita-cita yang masih maju-mundur dalam kepala
menulis puisi dengan sebenar-benar puisi
membaca alam dengan telanjang tanpa menghakimi
melipat jarak yang membuatmu sekarat dan berat
serta latihan-latihan lainnya

sebab semuanya perlu latihan

Ponorogo, 2020



Barokatus Jeh atau biasa dipanggil Barjeh. Lahir di Indramayu, 27 November. Karyanya terhimpung dalam antologi bersama puisi dan cerpen Candhuk Badra (2018), Jazirah 2 Segara Sakti Rantau Bertuah (2019), Mudik ke Rahim Ibu, puisi Pilihan Lomba Menulis Puisi 2019 Indramayu (2019), Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkuan, Pasaman dalam Puisi Penyair Nusantara (2019). Serta dimuat di sejumlah media antar lain Ruangkabapesisir, Bias.puisi, Puisipedia, Purapurapenyair, Travesia.co, linkkoe my id, Rembukan.com dan Medan Pos.

Rabu, 15 Juli 2020

Rumah Baca Suku Seni Digemari Masyarakat


Sejak awal tahun 2019, Rumah Kreatif Suku Seni Riau telah membuka ruang baca bagi masyarakat di lingkungan sekitar sanggar di Jl. Air Dingin. Setelah kini sanggar pindah di Jl. Gading Marpoyan, Rumah Baca juga tetap dibuka bagi masyarakat setempat, dan gratis.

Rumah Baca Suku Seni menyediakan berbagai buku bacaan, mulai dari anak-anak, sampai buku sastra, seni, budaya, filsafat, Sejarah, dll. Tujuannya agar masyarakat termotivasi untuk membaca, lebih dekat dengan buku, dan turut mendukung gerakan literasi.
Rumah Baca Suku Seni terbuka untuk umum, dibuka mulai jam 08.00 WIB sampai 22.00 WIB. Untuk sementara ini, buku hanya bisa dibaca di tempat. Marhalim Zaini, menyebut, “harus ada ruang-ruang baca masyarakat, agar buku tetap menjadi penting bagi pencerdasan bangsa, dan kesadaran membaca masyarakat dapat meningkat.”***

Puisi-puisi Uzi Fauzi (Cianjur)


Sore di Bulan Kemarau II

Pada dahan pohon
lapuk yang berbau lumut
suara siur ditiup angin
ke tembok-tembok
kamar tuaku
cahaya yang menembus langit
seringkali singgah ke sana
untuk membakar dosa-dosa
yang aku gantung pada paku-paku.

Cianjur
, 2019


Burung yang Hinggap Setiap Malam

Semenjak senja memupuk puisi,
langit malam selalu dipenuhi burung-

Burung yang tercipta dari lipatan kertas
dipenuhi dengan tulisan percintaan.
Kesepian. Mereka selalu mengintai
orang-orang yang takut pada kesepian.

Sebab kesepian itu kejam.

Sebab kesepian itu dingin.
Dingin yang selalu membekas
pada ranting,

pada goresan sayap kabut
di bawah bulan yang redup

Mengambang di udara. Di halaman,
Di atas pohon yang kering,
seekor burung hinggap
seperti mengintai diriku.

Cianjur
, 2020


Daun yang Jatuh

Daun yang jatuh
Pada hari itu
Tuhan sedang bermain
bersama musim.

Dibantu embus angin
Tuhan menidurkannya
Di atas bumi.

Daun yang jatuh itu
Mengering dan membusuk,
Juga menjadi kenangan bagi
pohon, tempat ia tinggal dulu.

Tuhan memang bermain tapi tidak main-main. Dia membantu,
Daun itu hidup dengan bentuk yang lain.

Cianjur
, 2020



Mixtuznavia

Mixtuznavia, kuberitahu kamu.
Burungmu meninggalkan celanamu
Terbang mencari sarang baru
Mencari obat untuk lubang
Nafsu yang terbuka.

Burungku sayang, burungku malang
Kamu pergi dan menghilang
Ke siapa lagi aku akan
Memberikan segala ruhku.
Matilah kamu! Mati dengan segala
nikmatmu

Oh, burung Mixtuznavia dari gua-gua
yang penuh keberanian berahi,
Ia telah dilahirkan kembali
Dari serakan abu di sebuah gunung batu.

Cianjur
, 2019


Uzi Fauzi, lahir di Cianjur, 5 Mei 1999. Puisinya pernah dimuat di Biem.co, kataberita, dan Travesia.


Sabtu, 11 Juli 2020

Puisi-puisi Sulthan Indra (Lampung)



 

MERATAKAN MUSIM LALU

lalu, aku pergi ke hulu
meratakan musim bergelombang
-- datar saja segala rasa

sekiranya musim ini bisa kuhindari,
aku ingin membawa lari segala yang tersisa

tidak saja tentangmu,
tapi juga cahaya yang tumbuh seketika itu

: musim lalu dan mendatang
kita akan berguguran
dan kering tanpa tampuk.

Bukittinggi | 2020




MERAWAT KEMBANG DUKA BULAN JULI

ini bulan Juli,
tempat puisi bermula; kabarnya
mulai dari hujan hingga kembang dikemas bulan ini dalam puisi

tidak dengan kepulangan hujan dalam puisiku.
selain duka dan mekar menjadi sabak pagi hari

selain romantisme kenangan,
-- apakah aku luka karenanya

tidak!

dukaku tak bisa ditawar menjadi luka yang menganga
: percintaan tidak selalu diakhiri perih meski putus di tali jantung

ini bulan Juli,
bulan di mana aku merawat kenangan menjadi kembang hujan berguguran.

Halaban - Bukittinggi | 2020





KEPADA MANTAN

kusimpan waktu sebagai perjalanan silam,
sekiranya ada yang menagih atau terlupa.
akan kuperlihatkan gulungan musim yang berdebu

biar dibukanya sendiri,
setidaknya membaca kenangan
: kau mampu menagihku atau aku yang melupakanmu

kita menjadi jejak silam yang terpendam
bukan sebagai mantan,
tetapi keabadian.

Bukittinggi | 2020




LELAKI MEMBACA MUSIM
~untuk ayah

lelaki itu membaca musim yang gugur di tubuhnya,
meski panen belum segera tiba. ia telah menanam keriput

sebagai peladang, layak sekiranya memupuk kira-kira.
ia mengitari sepanjang pagar, jangan-jangan ada yang patah masa lalu

ditatapnya langit tengah hari dengan napas tersengal,
dipatutnya musim yang semak

lelaki itu baru menyadari, ladang telah terang.
ada satu yang tak terbabat
: cintanya pada kekasih yang menanti di ujung ladang.

Air Haji | 2020




NASIB PUISI

sebelum puisi-puisi menemu takdirnya dan hingar-bingar menemu ajal,
ada yang terlupakan

bagaimana peradaban mati suri sebelum kembali terbangun sebagai puisi

di sudut-sudut relung riuh,
tiba-tiba penyair berhamburan menuju meja makan

ada yang lupa cara mengunyah kata-kata.
serupa pesakit kesurupan mantera euforia

sebelum menemu takdir,
puisi-puisi adalah kesepian yang dipuja.

Bukittinggi | 2020



Sulthan Indra, penulis kelahiran Lampung 1982. Ketua komunitas Rabuang Gadiang. Beberapa tulisannya di muat di Haluan Sumbar, Rakyat Sumbar, Banda Sapuluah.Com dan beberapa tergabung dalam antologi bersama semenjak tahun 2016. Alumni Teater Imam Bonjol Padang.


Rabu, 08 Juli 2020

Suku Seni Buka Kelas Baca Puisi


Mulai bulan Juli 2020 ini, Rumah Kreatif Suku Seni Riau membuka kelas baca puisi bersama Marhalim Zaini. Kelas dibuka dalam dua kategori, daring dan langsung. Daring dilakukan melalui aplikasi Zoom dan kelas langsung dilakukan di Studio Suku Seni. Bisa memilih kelas kelompok maksimal 10 peserta, dan kelas privat, dengan jadwal yang telah ditentukan.

Jadwal proses belajar untuk kelas daring dua kali seminggu selama sebulan, hari Selasa dan Jumat, pukul 20.00 sampai 21.30 WIB. Sementara kelas langsung hari Sabtu pukul 16.00-17.30 WIB, dan Rabu pukul 20.00-21.30 WIB. Setiap peserta kelas membayar investasi sebesar Rp. 200.000 perbulan (8 kali pertemuan).

Materi yang akan diberikan dalam kelas ini antara lain latihan vocal diafragma, latihan intonasi, latihan artikulasi, teknik pemanggungan, latihan ekspresi mimik, latihan penghayatan, memahami teks puisi, dan praktik membaca puisi.

Ajik Bahar, manager program, menyatakan bahwa kelas ini merupakan kelas baru, karena sebelumnya beberapa kelas belajar seni juga sudah dibuka, misalnya Kelas Menulis Online (KEMON), Pelatihan Acting, Wokshop Menulis Kreatif, dll. “Suku Seni, akan terus membuka kelas-kelas kreatif ini agar Suku juga dapat berkontribusi melahirkan generasi baru dunia seni, dan membantu mengembangkan potensi diri masyarakat di bidang kesenian.”


Menyoal Sastra Melayu dalam Sastra Indonesia (Esai Marhalim Zaini)



 

IDENTITAS Melayu atau kemelayuan, setidaknya dapat dilihat dari tiga sifat yang melekat yakni agama (Islam), adat/tradisi, dan bahasa. Dalam aspek kebahasaan, Melayu Riau-Lingga (bersebelahan dengan Johor) adalah penyumbang bahasa karena dianggap paling murni, yang kemudian dijadikan bahasa Melayu baku dalam sistem pendidikan kolonial—setelah  sejumlah peneliti Belanda seperti Von de Wall, dibantu cedikiawan/pengarang pribumi seperti Raja Ali Haji mencatat bahasa dalam kamus dan tata bahasa. Lalu bahasa Melayu disumbangkan, dibawa ke Betawi, diolah lagi, diintelektualisasi, dimodernisasi. Masalahnya kemudian dalam proses yang terakhir itu, menurut Putten (2007), penutur asli bahasa Melayu tidak dilibatkan, melainkan hanya Belanda, Minang, dan Jawa.
Salah satu efeknya di kemudian hari, roman karya sastrawan Melayu Riau Soeman Hs (1904-1999) yang berjudul Kasih Tak Terlarai (1929) yang diterbitkan Balai Pustaka, sempat menjadi perdebatan soal kata “terlarai” (bahsa Minang) yang mestinya “terlerai” (Melayu). Meskipun mengandung arti yang serupa: tercerai, terpisah. Hal ini diakui sendiri oleh Soeman HS (dalam biografi yang ditulis Fakhrunnas MA Jabbar, 1998). Mahayana (2006) cukup panjang lebar mengurai peran Balai Pustaka ini, serta bagaimana kolonial Belanda secara sistematis mengecilkan kebesaran Kerajaan Melayu beserta prestasi para sastrawannya.
Setelah merdeka, bahasa Melayu sebagai bahasa nasional terus dilakukan pembakuan ragam bahasa. Resikonya, ketika bahasa baku terus berkembang, semakin berjarak dari bahasa aslinya. Sehingga bahasa Melayu seolah “turun derajat” dan mau tidak mau menjadi bahasa daerah (tidak baku).
Namun, bukan tanpa masalah ketika bahasa Melayu menjadi bahasa daerah. Satu sisi, masih melekat/identik bahasa Indonesia dalam dirinya (tersebab ia adalah ibu kandung), sehingga tidak mudah bagi pengarang Melayu untuk keluar dari “hubungan darah” itu: yakni untuk menjadi sastra daerah. Sebagaimana tidak mudah untuk menyebut secara dikotomis misalnya seorang Sutardji Calzoum Bachri itu sebagai “sastrawan Melayu” atau “Sastrawan Indonesia.”
Sisi yang lain, begitu hendak menjadi “sastra daerah” pengarang Melayu mau tidak mau harus kembali “terjebak” ke dalam genre sastra lama, semisal pantun, gurindam, syair (yang sesungguhnya juga memakai bahasa “Indonesia”). Maka, tentu, tidak mudah pula para sastrawan yang menulis dengan bahasa daerah Melayu (jika dianggap ada), untuk menerima Hadiah Rancage misalnya. Tidak pula kemudian nyatanya terpecahkkan oleh sebutan “sastra lokal”.
Pada zaman ORBA, pusat tidak adil. Proyek pembangunan tidak merata. Sementara bahasa dan minyak bumi disumbangkan. Riau menuntut. Suara-suara perlawanan terdengar nyaring dalam karya sastra. Tentu, tuntutan dan perlawanan ini tidak semata tersebab itu, akan tetapi juga dalam hal “tersingkirnya” sastra (Melayu) Riau dalam peta kesusastraan Indonesia sejak kolonial Belanda memainkan kuasa-politiknya.
Perlawanan dalam aspek bahasa, misalnya dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah. Will Derks (1994) menyebut perlawanan SCB dalam bentuk “membungkam diri melalui sajak mantranya.” Sementara Ibrahim Sattah melakukan “perlawanan bahasa” dengan “nihilisme linguistiknya melalui sajak nyanyian anak-anak”—selain dapat pula ditelisik dari karya-karya BM. Syam, Hasan Junus, Taufik Ikram Jamil, Idrus Tintin, Rida K Limasi, Norham Abdul Wahab, Abdul Kadir Ibrahim (untuk menyebut beberapa nama), yang menulis karya sastra dalam ragam bahasa Melayu Riau.
Perlawanan masih berlanjut dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang setelahnya, namun lebih bersifat “ideologis,” dikotomi pusat-daerah. Bahasa Melayu masih tampak terus digunakan dalam penciptaan karya sastra, namun lebih digunakan sebagai “identitas kultural” untuk menyuarakan perlawanan. Nama-nama seperti Taufik Ikram Jamil masih masuk dalam barisan ini, terutama dalam puisi dan prosanya semisal Gelombang Sunyi. Selain itu ada Edirusalan Pe Amanriza, Fakhrunnas MA Jabbar, Syaukani Al Karim dan ada banyak cukup nama dalam barisan ini. Teriakan-teriakan “protes sosial” terus terdengar nyaring sampai generasi setelahnya.
Taufik Ikram Jamil (Kompas, 18 September 2004) pernah mengeluhkan prihal hilangnya Melayu dalam sastra Indonesia. Menurutnya, Melayu telah menyumbang bahasa bagi Indonesia, akan tetapi ciri khas Melayu pelan-pelan hilang dalam bahasa Indonesia. Kerisauan Taufik ini juga memiliki alasan yang kuat ketika arah perkembangan bahasa Indonesia tidak merujuk pada asal bahasa Indonesia itu sendiri. Misalnya kata “seronok” yang dalam bahas Melayu berarti “sesuatu yang menyenangkan” tetapi dalam banyak media massa lebih diartikan sebagai yang mengandung pornografi. Kata “sumpah serapah” dalam bahasa Indonesia cenderung bermakna suatu tindakan yang berkaitan dengan amarah, tetapi dalam bahasa Melayu frasa itu bermakna jampa-jampi. Sementara untuk amarah, dalam bahasa Melayu disebut “sumpah seranah.”
Setelah otonomi daerah, dan Riau mekar menjadi Riau (Daratan) dan Riau Kepulauan, persoalan lain memang muncul, misalnya prihal tarik-menarik identitas kultural. Namun, hemat saya, tidak serta merta membuat karya-karya pengarang Riau yang lahir setelah otonomi ikut terpecah. Sepertinya pengarang Riau tidak  terlalu terganggu dengan pemisahan geopolitik ini, karena semangat ke-Melayu-an telah menjadi arus utama penciptaan individu pengarangnya. Al azhar (2015) pernah menyebut kepengarangan di Kepulauan Riau sebagai “pengarang lingkaran Penyengat,”yang tetap terus berhubungan dengan Riau (daratan) tidak semata oleh kesamaan sejarah, tetapi juga oleh sikap kepengarangan. Pengarang-pengarang lingkaran Penyengat bersikap kritis terhadap sejarah dan gejala-gejala yang ada, karena itu mereka cenderung meninggalkan kepengarangan reproduksi-kreatif, dan ‘hijrah’ ke kepengarangan representasi-kritis.
Meskipun begitu, hemat saya, jalan kepengarangan “representasi kritis” itu hari ini tampak telah memudar, terutama setelah otonomi daerah. Sementara kepengarangan “reproduksi-kreatif” juga masih cenderung lambat pergerakannya. Hal ini berakibat pada “sastra (Melayu) Riau” seolah kehilangan “energi” untuk bergerak. Generasi penulis baru (milenial) cenderung tidak lagi masuk ke dalam semangat ke-Melayuan sebagai arus utama. Beberapa hal penyebabnya antara lain: sebagian mereka berasal dari luar Riau, tidak berasal dari rumpun Melayu, bahasa Melayu bukan menjadi bahasa pergaulan anak muda, dan pengaruh arus besar sastra Indonesia hari ini.
      Jadi, jika ada pertanyaan “adakah sastra Melayu dalam sastra Indonesia hari ini?” Maka jawaban yang paling mudah agaknya adalah seturut pernyataan Will Derks dalam sebuah perberbincangan di Pekanbaru beberapa waktu lampau, “sastra Melayu itu ya Sastra Indonesia. Sastra Indonesia itu ya Sastra Melayu.”***

Marhalim Zaini, penyair. Kepala Rumah Kreatif Suku Seni Riau.