Jumat, 13 September 2019

Diskusi Seni #17 akan Bahas Sensor Media Sosial


DALAM kondisi kabut asap yang telah demikian meresahkan masyarakat Riau, Rumah Kreatif Suku Seni Riau tetap akan menggelar diskusi bulanan, pada Sabtu, 14 September 2019, pukul 20.00 WIB di Rumah Suku, Jalan Amal Ikhlas nomor 11. Kali ini mengangkat tema “Sensor Media Sosial” yang belakangan cukup ramai diperbincangkan, terlebih ketika media sosial menjadi corong berbagai berita hoax.

Dua pembicara sengaja diundang sebagai pemantik diskusi seni yang ke 17 ini, Dr. M. Badri, M.Si (dosen Ilmu Komunikasi UIN Suska) dan Zainul Ikhwan (pegiat media dan Ketua KPID Riau 2010-2016). Diskusi akan dipandu oleh Joni Hendri, salah seorang anggota Suku Seni.

Media sosial hari ini seolah telah menjadi ruang yang paling bebas. Setiap individu dengan leluasa berbicara, menyebarkan berita dan informasi apapun. Batas-batas norma, etika, sopan santun, bahkan  batas-batas hukum, menjadi kabur.

Maka sensor pribadi, sensor pemerintah, mungkin diperlukan. Tapi bagaimana cara kerja sensor itu, apa payung hukumnya? Bagaimana pula dengan upaya pemerintah misalnya ketika menutup akses internet bagi masyarakat di Papua?

Diskusi ini bisa bergerak dalam ruang lingkup pembicaraan di atas. Namun bisa pula meluas dalam rangka mencari formula, mengembangkan pikiran-pikiran yang berkontribusi pada pemahaman kita soal media sosial. “Kami mengundang kawan-kawan dari berbagai displin, untuk ikut diskusi santai di Rumah Suku, sambil malam mingguan yang cerdas...” ujar Marhalim, Kepala Suku Seni.***

Kamis, 12 September 2019

Sound System Suku Seni disewa SMA 3 Siak Hulu



PAGI ini (12 September 2019), sound system Suku Seni disewa oleh pihak SMA 3 Siak Hulu dalam acara Pentas Seni. Acara ini digelar dalam rangka perpisahan guru PPL Universitas Islam Riau dan Penutupan priode OSIS 2018-2019, dengan tajuk “Kampung Seni, Kreativitas Tanpa Batas.”

Titin Kasmila, Manager Usaha Suku Seni, berharap sound system Suku Seni bisa segera dilengkapi dengan peralatan yang lebih baik, sehingga bisa juga mengakomodir pemesanan sewa untuk acara-acara yang lebih besar. “Saat ini, Suku Seni tengah berupaya melengkapi peralatan, dan terus mensosialisasikan ke masyarakat yang membutuhkan sound system,” tambah Titin.

Bagi masyarakat yang ingin menyewa sound system, bisa langsung datang ke Rumah Suku, Jalan Amal Ikhlas nomor 11, kelurahan Air Dingin, Pekanbaru. Atau bisa menghubungi Titin (081371660659), atau Ace (082285486366)***  

Minggu, 08 September 2019

Mau Terbit Buku, Hubungi Suku Seni



RUMAH Kreatif Suku Seni Riau juga bergerak di dunia buku. Setelah program workshop menulis buku yang diselenggarakan di sejumlah daerah di Riau, Suku Seni juga memfasilitasi penerbitan buku guru-guru yang telah melalui proses pembimbingan menulis oleh Marhalim Zaini. Sampai saat ini, telah 16 judul buku yang telah terbit, bekerjasama dengan penerbit di Jakarta dan Yogyakarta.

Selain bertujuan turut menggerakkan dunia literasi, upaya ini adalah untuk membantu memberi jalan bagi para penulis untuk menerbitkan buku. Karena bersifat swadaya, dan posisi Suku Seni sebagai fasilitator, tentu semua biaya terkait dengan proses penerbitan dan percetakan buku dibebankan pada penulis. Saat ini, masih ada beberapa buku, baik dari guru maupun dari penulis umum, yang sedang dikerjakan.

“Kami cetak di Jogja, sebagian ada yang di Jakarta,” ujar Marhalim, Kepala Suku Seni Riau, “Pertimbangannya, karena harga bersaing, dan kualitas bagus.” Marhalim juga menyebut bahwa semua proses mulai pra-cetak sampai cetak dan distribusi berdasarkan kesepakatan dengan penulis, dan dilakukan dengan transparan.

Bagi yang berniat menerbitkan buku, sila langsung datang ke Rumah Suku, atau hubungi langsung Marhalim Zaini sebagai ketua tim editor di nomor 0813171660659, atau Eko Ragil selaku sekretaris (0895604130236) atau kepada Manager Program, Ajik Bahar (082284808444).***

Baca juga:
Inilah Delapan Buku Guru Riau yang Telah Terbit
Terbit Lagi, Enam Buku guru Riau dari Program Workshop Menulis Buku


Kamis, 05 September 2019

Marhalim Ditunjuk Direktorat Kesenian sebagai Periset dalam PTN 2019



SELAMA sepekan (19 – 25 Agustus 2019), Marhalim Zaini (Kepala Suku Seni) turun ke lapangan untuk melakukan riset terhadap keberadaan teater tradisional Dalupa di Suak Trieng, Woyla, Aceh Barat, Provinsi Aceh. Riset ini adalah bagian dari kegiatan Pekan Teater Nasional 2019, yang akan diselenggarakan di Samarinda, Kalimantan Timur, akhir September mendatang.

Marhalim Zaini ditunjuk oleh Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui kurator Afrizal Malna, Dindon WS, dan Benny Johanes. Selain Marhalim, 5 periset lainnya juga ditunjuk dan diminta untuk melakukan riset ke sejumlah daerah di Indonesia, seperti ke Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, Madura, dan Papua.

Teater tradisi dari sejumlah daerah tersebut akan dipentaskan pada Pekan Teater Nasional di Kalimantan Timur. Selain Dalupa (Aceh), ada Belian (Dayak), Ubrug (Sunda), Wayang Orang (Madura), Kondobuleng (Bugis), Sarandaro (Papua). Pertunjukan teater tradisi ini bagian dari platform yang diberi nama “Kanon Tradisi” menyusul dua praltform lain yang juga akan tampil di Kaltim, yakni “Post Tradisi” dan “Teater Riset.”

Marhalim Zaini, menyebut, ia mewakili wilayah Sumatera, ditunjuk sebagai periset dan pendamping teater tradisi Dalupa (Aceh). “Saya senang, karena diberi kepercayaan. Dan saya juga senang bisa dapat belajar lebih banyak tentang teater tradisi di Sumatera, khususnya Aceh. Selama sepekan saya bergaul dengan pekerja seni Dalupa di Woyla, Aceh Barat, dan mendapatkan banyak informasi, pengetahuan dan pengalaman baru, juga keluarga baru. Ya terasa seperti residensi juga. Rencana saya, hasil riset ini akan saya teruskan dengan menulis buku, tentu dengan sejumlah proses pengumpulan data tambahan,” ujar Marhalim.

Selama di Woyla, Marhalim menyaksikan latihan teater Dalupa oleh Sanggar Seni Datuk Rimba, yang didirikan oleh Pak Hanafiah dan Pak Husaini. Kelompok yang telah mulai bergerak sejak tahun  1980-an ini, akan menurunkan 15 pemain untuk mendukung pertunjukan ini di Samarinda. “kami sangat senang, bisa tampil di luar Aceh, karena ini pengalaman pertama. Dan bisa menunjukkan salah satu budaya Aceh,” ujar Pak Hanafiah, yang juga bertindak sebagai sutradara. ***



Suku Seni Sewakan Kostum Tari dan Bangsawan



RUMAH Kreatif Suku Seni Riau adalah sebuah lembaga nir-laba. Semua program kegiatan yang digelar bersifat swadaya dan sering bekerjasama dengan sejumlah komunitas, atau lembaga. Demi mensukseskan semua program, Suku Seni pasti memerlukan dana. Salah satu cara mencari dana untuk mensubsidi kegiatan adalah dengan menyewakan peralatan musilk dan kostum.

Alat musik dan kostum tersebut merupakan bantuan yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melelaui program Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat (FKBM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi, tahun 2019. Sebanyak lebih dari 200 komunitas budaya di Indonesia yang menerima bantuan serupa. Selain untuk mendukung aktivitas kesenian di sanggar, bantuan tersebut juga untuk menstimulus sanggar dalam mengambangkan diri.

Selain alat musik, sound system, Suku Seni juga menyewakan kostum tari Persembahan Dewasa dan tari Persembahan anak, serta kostum Teater Bangsawan. Bagi yang berminat, bisa langsung datang ke Rumah Suku, Jalan Amal Ikhlas, nomor 11, Air Dingin, Bukitraya, Pekanbaru. Atau kontak ke nomor Ace (Manager Kerumahtangaan) 082285486366, atau Adek Feisal (Humas) 081261184819, atau Titin (Manager Usaha) 081371351911.***


Senin, 26 Agustus 2019

Kepala Suku Seni Beri Kuliah Umum di STAIN Meulaboh


SELASA, 21 Agustus 2019, Kepala Suku Seni Riau memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat. Marhalim Zaini diminta berbagi pengalaman menulis kepada para dosen di lingkungan STAIN yang baru tiga tahun ini berubah status Negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Marhalim menyampaikan sejumlah hal terkait dunia kepenulisan, tentang penerbitan buku, displin dalam menulis, bagaimana menembus media massa, serta pentingnya menulis bagi dosen. Menurut Marhalim, dunia kampus memang semestinya menjadi ruang yang paling ideal melahirkan para penulis karena iklimnya cukup mendukung.

Dipandu moderator, Muhajir Al Fairusi (yang juga telah menulis sejumlah buku), diskusi ini berjalan cukup hangat dengan berbagai lontaran tanggapan dan pertanyaan dari para dosen. Meli, seorang dosen yang juga pernah menulis di media massa melontarkan sejumlah problem di dunia kepenulisan, misalnya tentang banyaknya yang menganggap bahwa “karya sastra” itu tidak lebih tinggi dari tulisan ilmiah, serta soal sastra feminisme.***


Sejumlah Komunitas Seni Tampil di Malam Seni Masyarakat #4



SETELAH sempat tertunda pelaksanaan Malam Seni Masyarakat (MSM) di bulan Juli karena proses persiapan pertunjukan “Agama Sungai”, Malam Seni Masyarakat kembali hadir pada 24 Agustus 2019, di Rumah Suku. Sejumlah komunitas seni di Pekanbaru turut meramaikan acara ini seperti Dream School Dance Studio, Otaku Dance, Edensor, dan dari Suku Seni sendiri. Mereka menampikan puisi, musik, tari, performing art, dan drama. 

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini adalah program bulanan Rumah Kreatif Suku Seni Riau, yang sengaja digelar di panggung Rumah Suku agar masyarakat setempat dapat terlibat, baik sebagai penonton maupun sebagai penampil. 

“Program Malam Seni Masyarakat ini digagas memang untuk membuka ruang apresiasi baru bagi masyarakat, dan ruang kreasi baru para komunitas seni di Riau,” ujar Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni, yang saat acara berlangsung masih berada di Aceh.

Joni Hendri, selaku koordinator acara mengatakan, MSM telah berjalan sebanyak 4 kali, dan selalu melibatkan berbagai komunitas. Kali ini, cukup ramai komunitas yang bersedia tampil, walaupun tempat kami masih sangat terbatas dengan fasilitas yang sangat sederhana. 

Para penampil juga merasa senang bisa turut meramaikan acara ini. “Kami senang bisa tampil dalam MSM. Ini acara yang prositif untuk memperkuat jaringan kesenian di Riau ini, “ ujar Surya, salah seorang penampil.

Ajik Bahar, manager program Suku Seni, merasa senang karena sampai kali ini MSM semakin diminati publik. “Ke depan kita akan perluas lagi program ini, dan bisa saja berpindah lokasi ke kampong-kampung,” imbuh Ajik, yang juga bertugas selaku pembaca acara.***