Jumat, 24 Mei 2019

Suku Seni Menyediakan Jasa Seni


Selain berbagai program seni-budaya yang digelar sepanjang tahun, Rumah Kreatif Suku Seni Riau juga menyediakan berbagai bentuk “Jasa Seni” dalam berbagai bidang seni bagi mayarakat yang membutuhkan. Mulai dari menyediakan pelatih/instruktur seni, penciptaan karya seni, penulisan buku, sampai penyewaan alat musik dan kostum.

Bagi mayarakat yang membutuhkan bisa langsung datang ke Rumah Suku di Jl. Amal Ikhlas No. 11 Air Dingin, Bukitraya, Pekanbaru. Atau bisa menghubungi nomor-nomor berikut:
Titin (081371660659)
Ace (082285486366)
Joni (081266824580)
Email: sukuseniriau01@gmail.com

Pelatih/Instruktur/Juri/Tenaga Ahli Seni:
- Seni Teater/Drama (Akting, Sutradara)
- Seni Tari (Tradisi dan Kreasi)
- Seni Musik (Gitar, Biola, Drum, Perkusi, Piano, Kompang, dll)
- Seni Menulis (Puisi, Cerpen, Novel, Skenario, Esai, Makalah, dll)
- Seni Lukis
- Seni Kaligrafi
- Seni Kriya
- Seni Komik/Kartun
- Seni Mendongeng
- Seni Membaca Puisi
- Seni Pantomim
- Seni Perfilman
- Make-Up (Tata Rias)
- Jurnalistik
- Seni Fotografi
- Desain Grafis
- Seni Berpantun
- Seni Syair
- Seni Tarik Suara (Bernyanyi)
- Seni Musikalisasi Puisi
- MC (Master Ceremoni)
- Dll.

Jasa Pembuatan/Cipta Karya Seni:
- Membuat lukisan wajah
- Membuat pertunjukan Teater/Drama
- Membuat pertunjukan Tari
- Membuat pertunjukan Musik
- Membuat Film
- Membuat Dokumentasi Video dan Foto
- Membuat Mural
- Membuat Kaligrafi
- Membuat Kostum Tari
- Membuat Dekorasi/Setting Panggung
- Membuat Seni Kriya (Kayu, Keramik, Logam)
- Membuat Desain Grafis (Poster, Buku, Majalah, dll)
- Membuat Komik/Animasi/Kartun
- Menulis Buku
- Editor buku
- Mencetak dan Menerbitkan buku
- Ivent Organizer

Menjual/Sewa:
- Lukisan
- Buku-buku Sastra/Seni/Budaya
- Seni Kriya
- Tanjak
- Kaos kreatif
- Kostum Tari
- Kerajinan
- Alat-alat musik***

Inilah Anggota Suku Seni Riau Angkatan 2 (2018)


Tahun 2018, Rumah Kreatif Suku Seni Riau kembali menerima anggota baru. Untuk angkatan 2 ini, proses penerimaannya disinergikan dengan program Kelas Seni yang digelar di Rumah Suku. Selama proses ‘seleksi alam’ bekerja, berikut ini adalah anggota tetap yang masih aktif.

1. Anisah Veronika Ridhanti, lahir di Pekanbaru, 14 November 1999. Mahasiswa Fakultas Hukum UIR. Bidang seni sastra dan teater.
2. Faisal Amin, lahir di Sungai Salak, 6 Agustus 1999. Mahasiswa Sendratasik FKIP UIR. Bidang seni teater dan musik.
3. Ardilo Indragita, lahir di Pulau Kedudung, 27 Februari 1994. Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Riau. Bidang sastra.
4. Deden Akbar Maulana, lahir di Jambi, 16 Juni 1998. Pegawai Negeri Sipil di Bea Cukai, Kementerian Keuangan. Bidang seni teater.
5. Fatma Kumala, lahir di Airmolek, 20 Juli. Bekerja sebagai wartawan sejak 2015 di posko Ekonomi Bisnis. Bidang sastra.
6. Rahmadi, lahir di Pekanbaru, 1 Maret 2001. Alumnus SMA 12 Pekanbaru. Bidang seni sastra dan teater.
7. Misra, lahir di Pekanbaru, 20 Februari 1995. Alumni DIII Kebidanan Universitas Abdurrab. Bidang seni sastra dan teater.
8. Rasmalina Putri, lahir di Kisaran, 13 Mei 1997. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UIR. Bidang sastra.

Puisi Terjemahan #2: Puisi-puisi Adonis


Terjemahan bebas: Eko Ragil Ar-Rahman


Awal Pembicaraan

Anak yang pernah datang kepadaku
dengan wajah yang asing

dia tidak bicara
kami berjalan beriringan
kami saling menatap dalam diam.
Sungai yang asing mengalir di antara kami berdua.

Kami dipertemukan dengan perilaku yang baik.
dan kertas ini sekarang luluh diterbangkan angin.
lalu kami berpisah,
sebuah hutan yang dilahirkan bumi
telah disirami perubahan musim.

datanglah lagi, anak yang pernah menemuiku
apa yang membawa kita bersama, 
Dan apa yang ingin kita bincangkan bersama?


Merayakan Masa Kecil

Bahkan angin sekalipun
ingin menjadi kereta yang
ditarik kupu-kupu

Aku ingat ketika kegilaan
pertama kali hinggap
di kepalaku

Aku bicara dengan tubuhku sendiri
lalu ia menjadi ide
yang kutulis tanpa ambisi.

Merah adalah singgasana terindah matahari
dan seluruh warna mengelu
Menyembah pada permadani merahnya.

Sedang malam adalah lilin yang lain
pada setiap batang, setiap lengan
sebuah pesan dibawa ke langit
Bergema karena hembusan angin.

Matahari bersikeras memakai kabut
Setiap kali ingin menemuiku:
Apakah aku telah ditegur cahaya?

Oh, hari-hariku yang lalu
yang selalu berjalan ketika tidur
Dan aku selalu bersandar pada mereka

Mimpi dan Cinta adalah dua tanda kurung
di antaranya telah kurebahkan tubuhku
dan menemukan dunia.

sering sekali
kulihat udara terbang dengan sepasang kaki rumput
dan jalanan menari dengan kaki dari udara.

harapanku adalah bunga
yang mewarnai hariku

aku terlalu cepat terluka
dan terlalu cepat pula belajar
Kalau lukalah yang melahirkanku

Maka sampai sekarang, masih kuikuti
Anak yang terus berjalan di tubuhku

Sekarang, dia berdiri pada tangga dari cahaya
mencari tepian untuk sejenak istirahat
Dan kembali membaca wajah malam.

Jika bulan adalah rumah,
Kakiku akan menolak mendekati daun pintunya

Sebab mereka yang diambil debu
telah membawaku menghirup udara musim

Aku berjalan,
dengan satu tangan di udara
dan tangan lain membelai pohon
di kepalaku

Pula seperti bintang yang juga
sebongkah kerikil di angkasa

Dia yang mengikuti cakrawala sendirian
dapat membangun jalan yang baru.

Dan bulan, orang tua itu,
yang duduk pada malamnya
Sedang cahaya adalah tongkat berjalannya.

maka apa yang harus kukatakan
pada tubuh yang kubuang begitu saja
Pada rumah reyot tempatku dilahirkan?
tidak ada yang bisa menceritakan masa kecilku
kecuali bintang yang berkilau di langit
dan meninggalkan jejak kaki
Pada jalanan malam hari.

Masa kecilku
tetaplah lahir pada tangan cahaya,
pada yang namanya tak kukenal
dan sebaliknya memberikanku nama.

Sungai yang dia buat sebagai cermin
Dan bertanya mengenai kesedihannya sendiri
Dia turunkan hujan dari penderitaanya
Lalu menirukan bentuk-bentuk awan.

Masa kanak-kanak adalah kampung halaman
dimana kau tak akan pernah melewati batas
Walau begitu jauh kau berjalan

hari-harinya adalah danau,
Dan kenangannya berubah tubuh-tubuh mengapung.

kau yang turun
dari gunung masa lalu
bagaimana kau kembali memanjatnya
Dan kenapa?

waktu adalah pintu yang sulit dibuka
Sihirku telah habis
mantraku telah gugur

Aku yang lahir di sebuah desa kecil
Sangat kecil dan rahasia seperti rahim
Aku tak akan meninggalkannya  
Seperti aku mencintai laut bukannya pantai.

Surga di Bumi


Tidak ada yang tahu tentangnya, selain namanya
Yang tak lebih hadir sebagai cerita orang banyak
Kulit telah menelan daging
Dan debu hanya nama lain dari kegagalan

dan ini bukanlah kesedihan terburuk:
Dia jatuh sebagai tubuh atas dirimu dan kaulah itu.
dan bangkit bersama kabut lalu berkata Demi menjaga lautan bahasa   

“Akulah Lambaian dan panggilanmu, Tuhan.
           Lambaian dan panggilanmu!”

Dan di sinilah kita, Yerusalem,
Jibril meluncur di atas dinginnya makna.
Langit menyimpan Jin dan Ifrit dalam tubuhmu

Lagu untuk Hasrat Ketiadaaan

Aku tak percaya pada pikiran orang banyak
Aku percaya pada Cahaya-
                       Bersinar dan menembus, lurus menuju cakrawala
Wahai pohon kebijaksanaan
Apa yang membuat bocah Jerusalem ini terikat padaku?
dan siapakah yang tidak pernah hadir
                       Kecuali pada saat pemakaman atau penobatan?
Belum, bencana itu belum lagi datang.
                                                Banjir belum pecah
Mediterranean tengah sedia. Laut bergetar pun menghentak
Siapa yang bersedia mati demi sang maha kaya? Siapa yang akan berkata pada Hanibal:
“Roma mengalahkanmu, tapi bukankah kau pemenangnya? Sebab awal baru telah lahir dari tengkorakmu.”
  
Tubuhku bukanlah ether. Hanya tulang dan debu. Tempat Arteri dan Vena.
Aku hidup dalam pelukan asap, dan awan adalah bajuku. Aku tetap ingin menyembuhkan langit,
tanpa akhir, tanpa sekalipun berhasil.
Sejahat apakah aku, yang hidup tulus seperti hujan. Sedang dosaku hanyalah melawan Cahaya.
Maka langit, diamlah sebelum kau menemuiku. Sebab aku telah bersumpah akan meninggalkanmu
dan Planet-planet, aku takkan lagi memintamu
    Menjadi tanggaku, sedang ribuan planet telah setia dalam tubuhku

Sekarang menyanyilah, Kekasih!

Apakah nafasmu kekasihmu? Apakah kekasihmu nafasmu?
Jangan kau jawab, cukup menyanyilah 
Waktu yang hancur, telah menjadi batu di tangan Tuhannya
dan meninggalkan anak-anaknya menangis.
Telah kucatat bintang di atas kepalamu, bintang yang bersinar lemah.
Telah kurasakan ada layar pecah di danau mimpimu
Bernyanyilah! 

Ombak berubah sesuai yang kau mau. Dimana Kau nyanyikan surut dan alir arus.
Pujilah nyanyian
Pujilah cinta: dimana benar dan salah hanya sepasang kembar di antara mereka,
           dan kebenaran adalah luka yang dibagi bersama

            Sebab di sinilah ia bunyikan lonceng makna
            tapi adakah yang mendengar?
Dan matahari, tangan siapakah yang tengah kau raih di hadapan kami?

Maka bernyanyilah, kasihku,
Sebab takdir telah menjauh dengan rasa cemburu
Sedang padamu tinggal pikat abadi sebuah hidup.


Adonis, atau dengan nama asli Ali Ahmad Sa’id Isbir merupakan salah satu Satrawan Arab modern yang dianggap berpengaruh pada perkembangan sastra modern. Lahir di Desa Al-Qassabin, dekat Kota Lakasia, Suriah, tahun 1930, dia juga dikenal sebagai penulis esai dan seorang penerjemah Suriah. Karya puisinya berupa bentuk ungkapan mengenai hal bersifat politik, religi, hingga Nasionalisme sehingga mengantarkannya mendapatkan berbagai penghargaan dari beberapa Negara, seperti Amerika, Prancis, Italia, istambul, hingga Paris.

Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, seperti The song of Mihyar of Damascus (1961), This is My Name (1969), A Time Between Ashes and Roses (1970), The Book (2003), Adonis: Selected Poems (terjemahan Khalled Mattawa).