Sabtu, 29 Agustus 2020

Puisi-puisi Diego Alpadani (Bandung)



 Tidur Kesorean

 

Tidur siangku lambat dan lontong pagi

sudah menjadi kuah kering di mangkok.

Lambat-lambat teringat teman lontong

teh telur pagi tadi di lepau Wo Wat.

 

Sekarang sudah sore

datang membawa apa saja yang kau inginkan

: sayur bayam, kangkung, sapi belang puntung

atau

sekedar air mineral dalam pipa.

 

Karena tidur kesorean

itu bunga rampai yang kudapatkan

dibangunkan malam.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

Dibangunkan Malam

 

Dibangunkan malam sudah seperti

ke kamar mandi tidak membuang apa jua

Itu kunamakan kesal panjang

karena malam-malam selalu lama berteman

dengan peronda layar miring.

 

Tidak ada kopi atau roma kelapa

Mendampingi mabar dini hari. Sejauh itu

peronda layar miring merapal carut-

marut menelan kekalahan.

Untung saja, Hitler tidak bangun lagi.

 

Aku yang kesal melepas semua lamunan itu

sudah menghabiskan beberapa menit

di kamar mandi, yang keluar pada tengah

malam pun tiada.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

Setelah Dibangunkan Malam

 

Keluar dari kamar mandi

sudah kutanggalkan atribut hayalan itu

mestinya kopi dan roma kelapa yang tadi tiada

mesti ada di dalam kulkas berdaya tinggi.

Acapkali kulkas dibuka

yang ada hanya lampu hidup

dan mati ketika ditutup.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

Menutup Pintu Kulkas

 

Lampu kulkas putus

tapi masih ada cahaya mungil seperti

mata kucing jantan pada tengah malam

mengintai kucing betina

 

sebelum aku menarik selimut pemberian Emak.

Dari dalam kulkas, cahaya mata kucing itu

keluar dan mengawasi aku yang alpa

tentang perubahan, pergeseran waktu.

 

Aku tahu,

cahaya itu tidak dapat bicara

hanya hayal pembawa cahaya bicara.

Jelas dari awasnya ingin berpetuah

satu atau dua pepatah lama

mungkin, belum terlihat sudah teraba.

 

Agam, 2020

 

 

 

 

Dalam Selimut Pemberian Emak

 

Kealpaan terhadap ini dan itu

membuat cahaya mata kucing jantan

masuk ke dalam selimut sebesar badan

di dalam

 

ia mengikrarkan persekutuan padaku

yang enak-enakan dengan bayangmu.

 

Ia tanyakan tentang kopi hitam dan

kue roma kemarin di perkulkasan.

Tidak sesekali aku mengerti

kenapa bisa cahaya mata kucing

meminta kopi dan kue roma,

sedang aku hanya meminta bayangmu

lekas memagut dalam selimut.

 

Agam, 2020

 

 

 

 

Bayangmu Sebesar Normal

 

Ternyata bayangmu tidak lebih besar

dari akar toge di lapak tani Bapak.

Bayang sekecil itu mampu membuat

buntutku tak mau diam barang sejenak

pada tengah malam saat para moba

membanting ponsel canggihnya.

 

Buntutku ingin kaki berlari

keluar dari selimut pemberian Emak

dua puluh dua tahun lalu, lebih enam bulan.

Di situ sudah banyak liur dan ompol

menjadi kesatuan tanpa persatuan

dan ganjilnya,

 

bayangmu yang tak lebih besar dari akar toge

memaksaku mencipta buntut sebesar kesatuan.

Di situ, aku dan bayangmu menjadi sebesar normal

dari ketiadaan panjang memungkinkan keberadaan.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

Diego Alpadani, lahir di Bandung. Saat ini tengah menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Indonesia Universtas Andalas. Ia aktif berkegiatan di Labor Penulisan Kreatif (LPK), Teater Langkah, dan Lab. Pauh 9.


Minggu, 09 Agustus 2020

Bendera Merah Abu-abu (Cerpen Romi Afriadi)

MURAD melangkah dengan gontai saat baru saja pulang sehabis memanen karet di kebunnya. Bukan saja karena kelelahan, tapi membayangkan uang hasil panen karetnya yang kian jauh dari harapan. Daun-daun pohon karet sedang meranggas, berjatuhan serupa musim gugur di negeri jauh. Mengakibatkan getah semakin sedikit keluar. Ditambah lagi, harga karet yang tak pernah naik dalam beberapa bulan belakangan. Membuat petani karet macam Murad keteteran memenuhi kebutuhan hidup.

“Sebentar lagi peringatan 17 Agustus, Bang, semoga kita bisa beli bendera baru pada tahun ini.”

Murad masih mengingat permintaan istrinya sebelum berangkat. Keinginan itu sudah diperam istrinya nyaris tiga tahun ini. Barangkali ia malu selalu mengibarkan bendera lusuh yang warna putihnya sudah berubah abu-abu itu tiap tahun.

“Tapi tahun ini musim pandemi, orang-orang tidak merayakan kemerdekaan seperti biasa,” Murad berharap itu mampu meredam keinginan istrinya.

“Kata Pak RT tahun ini tetap diadakan lomba pemasangan bendera, Bang. Seperti biasa, dusun paling banyak memasang bendera dan paling semarak, akan dapat penghargaan dari Pak Wali.”

Itu memang perlombaan rutin yang diselenggarakan tiap tahun selain perlombaan tradisional lainnya. Penilaian ini bersifat menyeluruh. Satu rumah yang tidak memasang bendera, akan mengurangi poin untuk dusunnya. Begitu pun, untuk bendera yang ukurannya besar dan menarik.

Bahkan tiang benderanya saja ikut dinilai. Jika menggunakan tiang dari kayu yang tinggi dan kokoh, nilai juga akan bertambah. Sebaliknya, bagi yang enteng saja menegakkan bendera pada kayu bengkok ala kadarnya, potensi menang akan sangat sulit.

Tiga tahun-tahun berturut, istrinya memberi andil atas kegagalan dusunnya menjadi juara. Jadi Murad amat paham, istrinya meminta bendera baru karena tak tahan melihat tetangga yang menudingnya sebagai biang kekalahan.

“Asih, seharusnya kamu bisa lihat sendiri keadaan benderamu. Kalau kamu pakai bendera itu terus, dusun kita tak akan pernah menang.”

Murad pun hanya bisa terdiam jika Asih menceritakan itu. Ia cuma bisa berharap tahun depan ia bisa membelikan bendera baru. Tapi tersebab hidup yang tak pernah mudah, harapan itu selalu saja mengambang. Selama ini, Murad dan keluarganya memang hanya bergantung pada hasil potongan karet. Jika harga karet jatuh, otomatis kehidupannya akan tercekik.

Menjadi penyadap karet selalu menimbulkan banyak masalah yang kerap memusingkan Murad dalam berbagai musim. Saat musim penghujan, sudah jelas amat menakutkan. Bukan karena takut banjir akan menenggelamkan kebun karetnya. Tapi hujan akan membuat cucuran getah yang ditampung tempurung itu berubah menjadi air persis menyerupai warna susu putih.

Apalagi hujan tak bisa diprediksi. Hujan pada malam hari masih bisa diakali. Biasanya Murad akan memulai aktivitas agak tengah hari, membiarkan batang-batang pohon karet itu mengering dari tetesan air hujan. Hujan pada pagi hari pun, masih bisa diterima dengan tanpa umpatan. Jika itu terjadi, Murad akan memilih melanjutkan tidur di atas tilam, menarik selimut untuk menyambung mimpi. Lalu ia akan berangkat menyadap sore hari.

Tapi jika hujan datang tengah hari atau sore hari, itulah yang membuatnya kehabisan akal. Sesal lalu menggema, karena itu pertanda kerja sehari jadi percuma dan sia-sia. Apa sebab? Proses air getah membeku membutuhkan waktu 9 hingga 10 jam. Maka, kalau hujan cepat sekali bertandang pas tengah hari. Alamat keesokan harinya akan berubah menjadi susu putih. Mubazir.

Sebaliknya saat musim kemarau seperti sekarang, Murad juga cemas. Memang tidak perlu dikhawatirkan lagi getahnya akan tertimpa hujan, karena sekali sebulan belum tentu hujan turun. Namun, kulit pohon karet akan keras dan menyusahkan saat menyadapnya. Belum lagi air getahnya yang menyusut drastis. Kalau biasanya bisa dapat empat kilo sehari, masa kemarau sudah mujur jika dapat separuhnya.

“Kalau mengharapkan timbangan esok pagi, tidak cukup untuk beli bendera. 17 Agustus masih lebih seminggu lagi, kan? Semoga ada rezeki kita minggu depan,” ucap Murad lirih.

***

Tempat penimbangan hasil panen karet itu terletak di samping pasar sendiri, berdekatan dengan sebuah pohon yang amat keramat oleh semua penghuni kampung ini. Pohon itu disebut pohon tanjung. Berdiri kukuh menjulang, cuma ada sebatang, dan tidak mau ditanami lagi pada tempat yang lain. Usianya sudah tak terbilang, saking tuanya. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui sejak kapan pohon itu tumbuh dan berada di situ. “Dulu saat masih kecil, sudah seperti itu juga pohon ini,” itu kata tetua kampung. Kalimat itu juga yang mereka dengar dari generasi di atasnya. Sehingga tak ada yang berani sekadar menaksir usia pohon tanjung itu. Karena itu pulalah, kampung ini dinamai Tanjung.

Hari Jumat, hari pasar, sekaligus hari menimbang hasil karet. Proses penimbangan karet berlangsung ramai dan gaduh. Puluhan kilo karet yang sudah dibentuk dan direkatkan satu sama lain dalam plastik atau ember bekas. Dililit dengan akar dan tali rafia agar tak terlepas, dinaikkan untuk ditimbang pada kilo besi. Para tauke akan menggeser pemberat pada timbangan agar tepat pada angka yang pas. Jika berhenti pada angka yang kurang berkenan dihati pemilik karet, mereka kan bergumam. “Coba naikkan lagi satu angka, sepertinya masih cukup,” lalu si tauke akan menjawab. “Kau lihat saja! Tambah satu angka lagi berat sebelah timbangannya. Bisa rugi aku.”

“Harga karet kalau sekali turun, susah sekali naiknya.”

Murad berucap pasrah mendapati harga yang berkisar itu-itu saja. Nada yang sama juga terucap pada mulut lain. Para istri sudah menunggu di pasar, menukarkan uang itu dengan kebutuhan selama sepekan mendatang.

Murad berjalan menuju pasar, tak terlalu bersemangat. Namun saat mendapati wajah Asih begitu semringah, hilang sudah gundah gulananya. “Dua hari ke depan aku akan bekerja menyiangi rumput di ladang Gambir Pak Ahmad, semoga uang itu bisa kita belikan bendera baru,” ucap Asih bersemangat.

Murad ikut senang, setidaknya itu jadi jalan keluar tentang keinginan istrinya yang sudah menahun.

“Aku mau beli yang agak besar, Bang. Supaya tetangga tidak lagi mencelaku,” Asih jadi kian tak sabar. Agaknya perasaannya sudah amat tertekan mendengar olok-olok tetangganya yang berulang saban tahun.

“Terserah kamu saja yang penting uangnya cukup,” jawab Murad singkat.

Asih lalu berlalu dengan langkah riang. Memilih cabai dan Ikan asin, pada lapak yang berdekatan.

***

Hujan mengguyur kampung tiga hari berturut-turut, hujan bulan Agustus yang menyesakkan bagi Murad dan Asih karena rencananya berantakan. Entah mengapa kemujuran enggan menghampiri. Padahal seharusnya pekan ini jadi sangat layak untuk diabadikan dengan bahagia. Sesuai rencana, Asih bekerja dua hari menyiangi ladang Gambir. Ia akan menerima upah lima puluh ribu per hari. Uang itu sedianya akan dibelikan bendera baru, sedangkan hasil karet akan dijadikan belanja di pasar.

Namun hujan yang turun tiba-tiba memaksa keinginan itu kembali harus dikubur dalam-dalam. Biasanya musim hujan baru mulai ketika September atau Oktober, tapi tahun ini datang lebih awal. Akibatnya rencana terpaksa dibelokkan. Membeli bendera baru harus dihapus dari daftar. Tentu, kebutuhan perut lebih penting dari mengisi kemerdekaan dengan semarak.

“Mungkin bendera lusuh ini memang ditakdirkan sebagai perlambang kehidupan kita, Bang. Aku akan tetap memasangnya tanpa peduli dengan omongan orang-orang.”

Murad jadi tak enak kepada istrinya.

“Aku ada ide untuk itu,” bagai menemukan barang penting, Asih bersemangat menjelaskannya. “Abang ingat! kita masih punya sisa cat kapur di dekat sumur. Esok, kita cari kayu lurus yang agak panjang sebagai tiang bendera. Lalu kita bisa mengecatnya.”

Murad mengingat, sebetulnya cat itu dulu didapatnya saat bekerja sebagai tukang di salah satu rumah warga. Karena berlebih, Murad minta izin membawanya pulang.

Memang itulah yang mereka lakukan. Sengaja dipilih kayu paling lurus dan kokoh. Kayu itu dikuliti, dibiarkan kering, lalu dibalur cat kapur setelah direndam sehari semalam. Sebelum 17 Agustus, bendera itu telah berkibar dan terpacak di sudut halaman rumah.

Asih tak lagi sakit hati dengan omongan tetangga, ia juga tak lagi peduli apakah dusunnya gagal juara gegara itu. Memperingati kemerdekaan tak harus dengan bendera baru yang berkilau, pikirnya. Asih sudah melakukan sebisa yang ia mampu. Ia merasa merdeka seutuhnya saat melihat bendera merah abu-abunya terpasang dengan kayu bercat kapur itu. (*)

Tanjung 26 Juli 2020

Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Menunggu Ayah Pulang (Cerpen Ranto Napitupulu)

HINGGA saat di mana kami harus meredam rasa yang berkecamuk itu, segelas kopi yang kami temukan di atas meja Ayah masih saja menjadi perdebatan di antara kami. Meski satu sama lain mulut kami tidak berbicara, batin kami antara yang satu dengan lainnya masih terus saling bertanya; siapakah yang menyeduh kopi itu?

Menurut Ibu, kopi itu bukan seduhan Ayah. Ibu sangat tahu kalau Ayah tidak pandai menyeduh kopi. Lebih baik Ayah mengurungkan niatnya meminum kopi ketimbang harus menyeduh sendiri kopinya. Itulah alasan Ibu untuk tetap yakin bahwa yang menyeduh kopi itu bukan Ayah.

Jika Ibu berpendapat seperti itu, dua adik perempuanku lain lagi. Dari raut wajah mereka, sepertinya mereka menaruh curiga, kalau-kalau ada seseorang yang telah menyeduh kopi itu dan meletakkannya di atas meja Ayah. Tujuannya hanya sebagai pengalih perhatian.

Satu-satunya orang yang menaruh dugaan kalau kopi yang kami temukan di atas meja itu adalah senduhan Ayah sendiri, adalah aku. Alasan yang kugunakan untuk menaruh duguaan itu adalah pertimbangan-pertimbangan logis. Lalu rasa di hati, feeling.

Terakhir kali, sebelum kopi di atas meja itu kami temukan, aku melihat Ayah membawa beberapa buku menuju meja kerjanya. Sepertinya waktu itu Ayah hanya hendak membaca saja. Bukan hendak menulis. Kalau Ayah hendak menulis, paling banyak membawa dua buku saja.

Kebiasaan Ayah kalau hendak membaca buku, ia selalu meminta disediakan segelas kopi. Nah! Waktu itu Ibu tidak ada di rumah. Menurutku, sesuatu yang tadinya tidak biasa dilakukan oleh seseorang, bisa jadi menjadi bisa ia lakukan karena dipaksa oleh keadaan. Kukira demikianlah yang dialami oleh Ayah waktu itu.

Beberapa buku yang kusebut tadi adalah buku yang di masa dulu tidak bisa bebas dibaca oleh orang-orang. Pun oleh kami sendiri. Di rumah kami, buku-buku itu tidak bisa bebas kami baca. Ayah tidak pernah mengizinkan kami untuk membacanya. Selalu saja ada alasan Ayah untuk mengahalangi kami membaca buku-buku itu.

“Itu catatan sejarah yang salah! Tidak baik untuk kalian ketahui!” kata Ayah suatu hari. Pada hari yang lain, ada lagi alasan yang Ayah kemukakan untuk menghalangi kami membaca buku-buku itu. Sepotong kata-kata Ayah yang selalu kuingat adalah: catatan sejarah yang salah.

*

Kopi itu sudah dingin ketika kami menemukannya di atas meja. Bahkan sudah sangat dingin. Tampaknya belum sempat diminum barang seteguk pun, atau sekadar diseruput. Kalau seumpama sudah ada diseruput untuk sekadar merasakan manis atau pahitnya, tentulah sisi bagian atas dari gelas itu akan ada bekas kopi yang mengering. Ini masih bersih. Awalnya kami menduga, sembari menunggu kopi itu dingin, Ayah pergi ke kedai di ujung gang. Mungkin hendak membeli sesuatu, atau bermaksud menemui seseorang untuk mengobrol. Tetapi akhirnya keenakan ngobrolnya, dan kopi itu pun menjadi tidak diingat.

Tetapi kemudian ketika aku sadar bahwa beberapa buku yang dibawa oleh Ayah ke ruangan kerjanya ternyata tidak ada di atas meja, jantungku seketika berdegub. Dan ketika hal itu kukemukakan kepada Ibu, Ibu tampak sangat cemas. Keempat adik-adikku pun tampak turut cemas.

Kecemasan kami semakin bertambah, sewaktu ada berita bahwa ada beberapa buku yang ditemukan oleh seseorang di atas batu di tepi sungai di selatan desa. Buku-buku itu adalah buku milik Ayah. Berpuluh pertanyaan dan praduga absurd sekonyong-konyong berkelebat saling berebut di hati kami.

Apakah Ayah telah dibunuh? Atau, apakah Ayah sengaja ingin membaca buku itu di tepian sungai, lalu tiba-tiba ia dipanggil seorang temannya, dan buku-buku itu tertinggal di sana? Atau seorang temannya mengajaknya ke sana, lalu mereka pergi entah ke mana dan buku-buku itu tertinggal di atas batu itu? Atau buku-buku itu dipinjam oleh seorang temannya. Karena suatu hal terjadi atas diri temannya itu, maka buku itu pun tertinggal di atas batu itu.

Atau..., Ayah sendirikah sebenarnya yang meletakkan buku-buku itu di atas batu itu? Tetapi untuk apa? Dan kemanakah Ayah pergi setelah meletakkan buku-buku itu di situ? Andai benar Ayah pergi, ini di luar kebiasaan. Ayah tidak pernah bepergian tanpa meninggalkan pesan terlebih dahulu kepada Ibu. Terlebih kalau bepergiannya sampai beberapa hari. Biasanya kalau Ayah bepergian, paling tidak satu atau dua hari sebelumnya ia pasti memberitahu Ibu.

Kami tidak tahu harus melapor kepada siapa. Hendak melapor kepada kepala desa, tidak mungkin. Hendak melapor kepada polisi, lebih tidak mungkin. Hubungan Ayah dengan kepala desa sudah lama tidak baik. Demikian juga kepada polisi di kecamatan. Kata orang-orang, hubungan tidak baik itu terjadi sejak dulu. Sejak Ayah sering menyuarakan ketidakpercayaannya pada catatan sejarah. Menurut Ayah, sejarah itu dicatat oleh orang-orang pendusta. Ayah lebih percaya pada sejarah yang dicatat di nisan orang-orang yang telah mati. Atau pada batu-batu di tepian sungai di selatan desa. Oleh sebab itulah kepala desa dan polisi di kecamatan menganggap Ayah sebagai orang yang tidak perlu disahabati.

“Mereka menggolongkan Ayah sebagai orang berhaluan kiri.” kata Ibu suatu hari, ketika aku bertanya perihal ketidakbaikan hubungan Ayah kepada kepala desa dan polisi. Kata Ibu, sikap tidak bersahabat itu berlaku secara estafet dari seorang kepala desa ke kepala desa berikutnya. Begitu juga dari kepala polisi di kecamatan ke kepala polisi berikutnya.

Tetapi, terkait dengan sikapnya atas ketidakbenaran sejarah itu, Ayah tidak diberhetikan dari pekerjaannya sebagai guru. Malahan, ada berita kemarin ini, bahwa masa bakti Ayah akan diperpanjang selama lima tahun lagi. Pejabat sekolah yang membawahi Ayah mengatakan, bahwa Ayah adalah guru sejarah terbaik sekecamatan.

*

TIGA hari tiga malam berlalu. Harapan kami semakin pupus. Pada hari ke dua, harapan kami masih ada; bahwa Ayah hanya pergi entah ke mana untuk beberapa saat saja. Tetapi setelah malam ke tiga dari waktu kami menemukan segelas kopi di atas meja kerja Ayah, harapan itu pupus. Dugaan banyak orang pelan-pelan mulai bisa kami terima, meski terasa begitu menyakitkan di hati kami.

Orang-orang menduga, bahwa sebelum kami menemukan segelas kopi itu, Ayah telah dijemput oleh sekelompok orang. Kata mereka, Ayah adalah salah seorang yang tahu penyebab hilangnya orang-orang desa pada masa dulu. Ayah adalah orang yang selalu lebih dulu ribut jika ada penduduk desa yang tiba-tiba hilang. Ayah selalu mengatakan, bahwa orang-orang yang hilang itu tidak bersalah. Mereka adalah korban arogansi. Korban dari cara-cara konyol; mempertontonkan kekuasaan. Tujuannya, agar yang lainnya tidak mau macem-macem.

Menurut Ayah, kalau orang-orang yang hilang itu dikatakan sebagai antek-antek kelompok tertentu, itu tolol namanya. Jangankan menjadi antek-antek. Arti dari antek-antek saja mereka tidak tahu.

“Paling banter mereka pintarnya itung duit hasil penjualan gaplek. Selebihnya, ya, bikin anak! Membuntingi bininya! Masak orang seperti itu dituduh ngikutin perkumpulan terlarang? Edan itu!” begitu selalu kata Ayah ketika ada orang yang mempertanyakan perihal orang-orang yang hilang di desa.

Kami pun sebenarnya sadar, bahwa Ayah sudah lama dianggap sebagai orang yang tidak baik dalam upaya menghilangkan dendam dan kebencian masa lalu. Ayah dihitung sebagai duri dalam daging. Ayah patut diduga akan selalu memengaruhi orang-orang desa untuk tidak meyakini sejarah yang ada. Ayah patut diduga sebagai orang yang selalu mengatakan kepada orang-orang desa, bahwa sejarah yang benar adalah sejarah yang dicatat pada batu-batu di tepian sungai. Yang dicatat dengan gesekan tulang belulang yang hanyut dan terhempas oleh arus air sungai.

*

Ibu memanggil kami untuk berkumpul di ruang kerja Ayah. Kami masuk satu demi satu, dengan mata yang sembab, letih dan kuyu. Dua adik kami yang belum mengerti apa-apa, tampak beringsut di pelukan Ibu. Mata mereka mencari-cari sesuatu di wajah kami.

Aku melihat Ibu telah mengenakan sehelai kain berwarna biru-tua bergaris hitam-putih samar di atas kepalanya. Ibu pernah bercerita, katanya Ayah pernah bilang, kalau seorang isteri orang Batak ditinggal mati oleh suaminya, pada saat jenazah disemayamkan, di atas kepalanya akan dikenakan sehelai kain selendang bernama ulos sibolang. Itulah kain yang dikenakan oleh Ibu waktu itu.

Semestinya orang yang menyematkan ulos itu di atas kepala Ibu adalah ayahnya Ibu, atau salah seorang saudara laki-laki Ibu. Tetapi Ibu telah mengenakan sendiri ulos itu. Ada cerita panjang yang lumayan rumit diuraikan tetang hal ini. Satu yang kutahu adalah, bahwa Ibu tidak satu suku dengan Ayah. Ibu telah kehilangan sanak keluarganya sejak ia dianggap tolol; berani memilih Ayah sebagai suaminya.

“Apakah Ibu yakin kalau Ayah sudah mati?” tanyaku pelan kepada Ibu.

Ibu tidak menyahut. Hanya bulir-bulir air bening yang tampak mengambang di kelopak matanya. Aku berusaha untuk tidak ikut menangis. Kupikir, jika aku menangis, kekuatan kami akan benar-benar runtuh. Harapan di hati keempat adik-adikku akan benar-benar pupus.

*

SEJAK malam di mana Ibu mengenakan sehelai ulos berwarna biru tua bergaris hitam-putih samar itu, Ibu tidak berniat lagi melakukan upaya pencarian terhadap Ayah. Malahan Ibu sudah melakukan hal-hal sebagaimana dilakukan oleh para perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya.

Ibu sudah merapikan semua pakaian Ayah ke dalam satu lemari, lalu menguncinya rapat-rapat. Ibu juga sudah memasukkan semua buku-buku Ayah -yang tidak bisa bebas kami baca dan yang bisa bebas kami baca, ke dalam koper besi di kolong ranjang kayu di bilik mereka.

Meski ada kabar yang menghidupkan harapan kami tentang kemungkinan Ayah masih hidup, Ibu tidak mengurungkan niatnya untuk melakukan semua yang ingin ia lakukan sebagai pertanda bahwa Ayah tidak akan kembali lagi.

“Kata orang-orang di kabupaten, ayah kalian hanya ditahan saja.” begitu kabar itu. “Jika ia mau berjanji tidak akan mempersalahkan catatan sejarah yang ada, ada kemungkinan ia akan dipulangkan.” kata pembawa berita itu.

“Ayah kalian adalah laki-laki yang sangat teguh pada pendiriannya.” kata Ibu menanggapi berita itu. Artinya, menurut Ibu, Ayah tidak akan pulang lagi. Sebab Ayah tidak mungkin menarik kata-katanya soal ketidakbenaran catatan sejarah yang ada itu. Andai hal itu menjadi kenyataan, akan sangat menyakitkan. Ayah dijemput paksa oleh sekelompok orang karena ia mempersalahkan catatan sejarah. Ini tidak adil! Bagaimana pun upaya kami untuk tidak percaya akan hal itu, rasa pedih itu akan tetap membekas.

Aku sendiri sebenarnya masih ingin menghidupkan keyakinanku, bahwa Ayah masih hidup. Sementara itu, aku sangat tahu bagaimana kedekatan hati dan jiwa Ibu dengan Ayah. Aku juga sangat percaya, bahwa Ibu sangat mengenal Ayah. Oleh karenanya, aku tidak berani mempersalahkan Ibu, kalau Ibu sudah benar-benar yakin bahwa Ayah tidak akan pulang lagi.

Tetapi aku akan tetap menghidupkan harapan, bahwa Ayah masih hidup. Pada waktunya, ia akan pulang. Ketika ia sudah tiba di rumah, ia akan bercerita ke mana saja ia pergi selama ia meninggalkan kami. Lalu Ayah akan menjelaskan perihal catatan sejarah yang salah itu.

*

Tiba-tiba terdengar suara sirine di kejauhan. Agaknya suara sirine itu adalah suara sirine mobil jenazah! Aku melihat seorang adikku yang duduk di kursi, mempertajam pendengarannya terhadap suara sirine itu. Aku berharap, mayat yang diusung oleh mobil jenazah itu bukanlah jenazah Ayah.***


Ranto Napitupulu, lahir di Pematang Siantar, 06 Juni 1965, tinggal di Desa Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Menulis cerpen dan esai di beberapa media cetak.


Sabtu, 25 Juli 2020

Puisi-puisi Barokatus Jeh (Indramayu)


Percakapan dalam Lemari

di dalam lemari kau menyimpan percakapan-percakapan
yang aromanya masih menyimpan tanda tanya

kau selalu bercerita pada lemari tentang keadaanmu hingga hari ini
dan kau menekuri sunyi yang diam-diam membuatmu sakit kepala

dan kau tidur di sana selamanya

Ponorogo, 2020



Latihan Menulis

pada jam satu siang kau tak bisa tidur
sebab puisi telah memenuhi kepalamu
dan kau bingung dengan sebuah percakapan panjang dalam otakmu

bahwa katanya jika kau ingin bisa menulis, maka kau harus menulis
kau tak perlu mikir berat tentang tulisanmu
apa saja bisa kau tulis
semua orang bisa menulis
dan kau salah satunya

sebelum kau benar-benar menulis
ngantuk telah menyergap matamu
kau tak jadi menulis hanya berpikir apa yang ditulis
dan untuk selamanya kau tetap latihan menulis

dalam mimpi indahmu

Ponorogo, 2020




Puisi dalam Kepalamu

apa-apa telah menjadi puisi dalam keseharianmu
hendak makan bulir-bulir nasi dan lauk-pauk menjadi hidangan paling lezat untuk menyantap kata-kata
akan melakukan ibadah tidur diksi-diksi menyergap penglihatanmu dan
kau terbuai bersama huruf-huruf semu hingga mimpi indah
mau rebahan kau juga memikirkan puisi yang belum juga lancar dibicarakan
bahkan mandi pun puisi telah menjelma menjadi aliran air yang segar menyelimuti tubuhmu

sebab puisi telah mendoktrin kepalamu untuk mengingatnya

jadi masihkah kepalamu penuh dengan puisi

Ponorogo, 2020



Latihan

semua butuh dilatih
barangkali mengeja namamu dalam sunyi-sunyi malam hanya ada aku dan Tuhan
menekuri cita-cita yang masih maju-mundur dalam kepala
menulis puisi dengan sebenar-benar puisi
membaca alam dengan telanjang tanpa menghakimi
melipat jarak yang membuatmu sekarat dan berat
serta latihan-latihan lainnya

sebab semuanya perlu latihan

Ponorogo, 2020



Barokatus Jeh atau biasa dipanggil Barjeh. Lahir di Indramayu, 27 November. Karyanya terhimpung dalam antologi bersama puisi dan cerpen Candhuk Badra (2018), Jazirah 2 Segara Sakti Rantau Bertuah (2019), Mudik ke Rahim Ibu, puisi Pilihan Lomba Menulis Puisi 2019 Indramayu (2019), Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkuan, Pasaman dalam Puisi Penyair Nusantara (2019). Serta dimuat di sejumlah media antar lain Ruangkabapesisir, Bias.puisi, Puisipedia, Purapurapenyair, Travesia.co, linkkoe my id, Rembukan.com dan Medan Pos.

Rabu, 15 Juli 2020

Rumah Baca Suku Seni Digemari Masyarakat


Sejak awal tahun 2019, Rumah Kreatif Suku Seni Riau telah membuka ruang baca bagi masyarakat di lingkungan sekitar sanggar di Jl. Air Dingin. Setelah kini sanggar pindah di Jl. Gading Marpoyan, Rumah Baca juga tetap dibuka bagi masyarakat setempat, dan gratis.

Rumah Baca Suku Seni menyediakan berbagai buku bacaan, mulai dari anak-anak, sampai buku sastra, seni, budaya, filsafat, Sejarah, dll. Tujuannya agar masyarakat termotivasi untuk membaca, lebih dekat dengan buku, dan turut mendukung gerakan literasi.
Rumah Baca Suku Seni terbuka untuk umum, dibuka mulai jam 08.00 WIB sampai 22.00 WIB. Untuk sementara ini, buku hanya bisa dibaca di tempat. Marhalim Zaini, menyebut, “harus ada ruang-ruang baca masyarakat, agar buku tetap menjadi penting bagi pencerdasan bangsa, dan kesadaran membaca masyarakat dapat meningkat.”***

Puisi-puisi Uzi Fauzi (Cianjur)


Sore di Bulan Kemarau II

Pada dahan pohon
lapuk yang berbau lumut
suara siur ditiup angin
ke tembok-tembok
kamar tuaku
cahaya yang menembus langit
seringkali singgah ke sana
untuk membakar dosa-dosa
yang aku gantung pada paku-paku.

Cianjur
, 2019


Burung yang Hinggap Setiap Malam

Semenjak senja memupuk puisi,
langit malam selalu dipenuhi burung-

Burung yang tercipta dari lipatan kertas
dipenuhi dengan tulisan percintaan.
Kesepian. Mereka selalu mengintai
orang-orang yang takut pada kesepian.

Sebab kesepian itu kejam.

Sebab kesepian itu dingin.
Dingin yang selalu membekas
pada ranting,

pada goresan sayap kabut
di bawah bulan yang redup

Mengambang di udara. Di halaman,
Di atas pohon yang kering,
seekor burung hinggap
seperti mengintai diriku.

Cianjur
, 2020


Daun yang Jatuh

Daun yang jatuh
Pada hari itu
Tuhan sedang bermain
bersama musim.

Dibantu embus angin
Tuhan menidurkannya
Di atas bumi.

Daun yang jatuh itu
Mengering dan membusuk,
Juga menjadi kenangan bagi
pohon, tempat ia tinggal dulu.

Tuhan memang bermain tapi tidak main-main. Dia membantu,
Daun itu hidup dengan bentuk yang lain.

Cianjur
, 2020



Mixtuznavia

Mixtuznavia, kuberitahu kamu.
Burungmu meninggalkan celanamu
Terbang mencari sarang baru
Mencari obat untuk lubang
Nafsu yang terbuka.

Burungku sayang, burungku malang
Kamu pergi dan menghilang
Ke siapa lagi aku akan
Memberikan segala ruhku.
Matilah kamu! Mati dengan segala
nikmatmu

Oh, burung Mixtuznavia dari gua-gua
yang penuh keberanian berahi,
Ia telah dilahirkan kembali
Dari serakan abu di sebuah gunung batu.

Cianjur
, 2019


Uzi Fauzi, lahir di Cianjur, 5 Mei 1999. Puisinya pernah dimuat di Biem.co, kataberita, dan Travesia.