Selasa, 22 Oktober 2019

Ngaji Seni #1 bersama Taufik Effendi Aria

NGAJI Seni adalah program terbaru Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Selain program diskusi seni dan Malam Seni Masyarakat yang telah dan terus berjalan, Ngaji Seni adalah program rutin yang bertujuan untuk memperkuat sumber daya manusia anggota Suku Seni.

Bentuk program ini adalah mendatangi seniman, tokoh seni, atau para penggerak seni di Riau, atau juga luar Riau, untuk belajar dan berdiskusi, menimba ilmu dan pengalaman langsung dari senimannya.  Dengan begitu, anggota Suku Seni yang ikut dalam program ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan pengetahuannya tentang dunia seni, tentang perkembangan kesenian, juga sekaligus mengenalkan lebih dekat tokoh-tokoh seni.

Ngaji Seni #1 dimulai pada Senin malam, 21 Oktober 2019, dengan mengunjungi kediaman salah satu tokoh teater Riau, bapak Taufik Effendi Aria. Dengan sambutan yang hangat, Pak Taufik bercerita tentang pengalamannya dulu berkesenian sejak di Rengat kemudian pindah ke Pekanbaru, bersama tokoh-tokoh seni yang lain, seperti Salimi Yusuf, Idrus Tintin, Bustamam Halimy, dan sejumlah nama lain.

Selain itu, perbincangan berlanjut dengan pandangan-pandangan beliau terhadap teori dan konsep-konsep teater yang ia pahami selama ini. Ia memancing diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan terkait apa perbedaan sandiwara, drama, dan teater. Apa ciri-ciri khasnya. Lalu ia juga menyinggung apa itu teater Bangsawan, dan mengulik bagaimana bentuk-bentuk teater Bangsawan itu dipentaskan di masa kini, dengan versi-versi yang masih harus terus diperdebatkan.

Lebih jauh, penulis naskah drama “Menanti Hari Panen” ini, juga membicarakan soal teater sutradara dan teater aktor. Baginya, keduanya ia sukai. Teater Sutradara kadang diperlukan untuk lebih luas merealisasikan gagasan-gagasan sutradara di atas panggung. Sementara teater aktor juga sangat penting karena dapat memberi tempat lebih luas kepada eksplorasi keaktoran.

Taufik Effendi Aria, lahir di Rengat, Inderagiri Hulu, Riau, 2 Juni 1942. Selain berteater, ia juga dikenal sebagai penyair. Buku puisi tunggalnya adalah Menuju Ruang Kosong, Menjemput Firman (2008). Sebelumnya, menerbitkan kumpulan sajak Arus (1975) bersama Wunulde Syaffinal. Puisi-puisinya juga dimuat di sejumlah media seperti Minggu Pagi (Yogyakarta), Haluan (Padang), dan Riau Pos. Selain menulis puisi, kiprah di dunia teater Taufik nampak dalam sejumlah naskah drama yang ia tulis, seperti Menanti Hari Panen. Selain teater, dunia sinetron pun pernah ia masuki, di antaranya terlibat dalam sinetron Sirus (2000) dan Boejang Talma (2001).

Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni menyebut program ini penting agar generasi-generasi hari ini mengetahui siapa tokoh-tokoh seni di Riau ini. Selain itu dapat memotivasi mereka untuk terus giat berkarya, terus menggali potensi diri mereka dalam dunia seni. Setelah ini, kami akan berkunjung ke seniman-seniman lain. “Bertemu langsung dengan seniman, pelaku seni terdahulu, tentu akan memberi efek yang berbeda,” ujar Marhalim.

Sebagai informasi, meskipun program Ngaji Seni ini difokuskan untuk penguatan SDM anggota Suku Seni, namun tidak menutup pintu bagi kawan-kawan di luar Suku Seni yang hendak turut serta. Informasi berikutnya, soal waktu dan tokoh siapa yang akan dikunjungi, dapat menghubungi manager program Suku Seni, Ajik Bahar (082284808444).***

Jumat, 18 Oktober 2019

Ayo, Ikuti Festival Sastra Sungai Jantan 2019



DINAS Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Siak Sri Indrapura tahun ini menggelar Festival Sastra Sungai Jantan. Kegiatan ini terdiri dari lomba penulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Pendaftaran dibuka sejak tanggal 10 Oktober dan ditutup tanggal 10 November 2019. Total hadiah yang disediakan adalah 21 juta. Semua ketentuan lomba dapat dilihat pada poster (terlampir).

Zulkarnain Al Idrus, selaku panitia pelaksana dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyebut, bahwa kegiatan ini direncanakan akan digelar setiap tahun. Tahun ini adalah awal, dan akan dilanjutkan tahun 2020, dengan kegiatan yang lebih luas lagi. Menurut dia, nama kegiatan “Festival Sastra Sungai Jantan” ini adalah hasil diskusi dan usul dari kanda Marhalim Zaini, sastrawan Riau.

“Kegiatan ini dibuat untuk memotivasi para penulis di Riau, terutama di Siak, untuk terus melahirkan karya. Tahun depan kita berupaya Festival Sastra Sungai Jantan ini akan menjadi iven sastra nasional, dan Siak menjadi tuan rumahnya,” ujar Wak Zul, panggilan akrabnya.

Sementara itu, Kepala Suku Seni, yang ditunjuk sebagai salah satu dewan juri dan sekaligus konsultan kegiatan ini menyatakan sangat senang karena Siak telah menyambut baik gagasan-gagasannya, dan mulai bergerak dengan agenda-agenda sastranya. Marhalim menyebut, ini agenda awal, dan akan terus dipersiapkan untuk tahun 2020, menjadi iven sastra nasional. Tema "Sungai Jantan" sengaja diangkat untuk memberi perhatian dan kepedulian terhadap sungai Siak yang sangat penting perannya dalam sejarah dan peradaban dunia Melayu.

“Saya akan terus berupaya untuk support kegiatan sastra di Siak, dan berupaya menjadikan Siak sebagai salah satu titik pergerakan sastra di Riau, dan di Indonesia,” tambah Marhalim, yang tahun lalu juga ditunjuk menjadi narasumber kegiatan workshop sastra di Siak.

Festival Sastra Sungai Jantan ini, bukan kegiatan pertama yang digelar oleh pemerintah daerah Siak, karena tahun-tahun sebelumnya cukup banyak agenda sastra. Di antaranya penerbitan buku puisi antologi bersama para penulis Siak, berjudul “Kau Tiup Aku Hembus,” dan workshop sastra bersama Marhalim Zaini. 

Menurut Marhalim, Wak Zul adalah bagian penting dari pergerakan sastra di Siak, karena atas inisiatif dan semangatnya, ia telah membangun atmosfer penulisan sastra di kabupaten Siak hari ini.***

Kamis, 17 Oktober 2019

Diskusi Seni #18 Angkat Tema Musik Ekologi


DISKUSI bulanan Rumah Kreatif Suku Seni Riau kembali hadir, pada Sabtu, 19 Oktober 2019. Kali ini diskusi mengangkat tentang musik ekologi dan proses kreatif penciptaan musik berjudul “Meratus” karya Rusmansyah (dari Jogja), yang diproduksi oleh Forest Wacth Indonesia. Diskusi akan digelar mulai pukul 20.00 WIB sampai selesai, bertempat di Rumah Suku, dimoderatori oleh Ajik Bahar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Rusmansyah, bahwa musik yang digarap ini inspirasinya bersumber dari kepedulian terhadap lingkungan yang berada di pegunungan Meratus, di Tenggara pulau Kalimantan.  Pegunungan ini membentang sepanjang 600 km dari arah Baratdaya-Timurlaut dan membelok ke arah utara hingga perbatasan provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, yang merupakan paru-paru hutan tropis terakhir yang perlu diselamatkan.

Belakangan Meratus diincar oleh perusahan-perusahaan batu bara untuk melakukan penambangan. Para aktivis llingkungan kemudian terus “berteriak” termasuk juga melalui ekpresi seni musik, salah satunya yang diproduksi oleh Forest Wacth Indonesia ini. Selain soal tematik, diskusi juga akan membahas seputar proses kreatif penciptaan musik.

Marhalim Zaini, kepala Suku Seni menyebut bahwa secara kebetulan Rusmansyah sedang “nyanggar” di Rumah Suku selama beberapa hari ini. Suku Seni menyambut baik, kawan-kawan seniman yang singgah di Rumah Suku, apalagi untuk berbagi. Dan karena Suku Seni juga tengah konsen bergerak dalam seni ekologi, maka karya “Meratus” harus di-share dan didiskusikan. “Salah satu tujuannya agar seni ekologi, menjadi arus utama dalam penciptaan seni di Indonesia dan berkontribusi dalam konservasi lingkungan,” tambah Marhalim, yang baru saja menyampaikan makalahnya tentang “Sastra, Manusia, Lingkungan” dalam forum Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali.***


Rabu, 09 Oktober 2019

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (5)


Oleh Marhalim Zaini

SENI, POLITIK, ISLAM

SAYA sampai di rumah Pak Hanafiah di desa Suak Trieng, malam hari. Dari kota Meulaboh, jaraknya sekitar 1 jam. Melewati desa-desa kecil, dan beberapa kecamatan, juga hutan lebat. Saya diantar menggunakan mobil oleh dua orang kenalan; Pak Muhajir, seorang kawan lama yang menjadi dosen dari STAIN Meulaboh, dan Pak Taufik, pegawai TU di STAIN Meulaboh yang kebetulan masih ada hubungan saudara dengan Pak Hanafiah dan rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari sana.

Dalam mobil, selama perjalanan, mereka banyak bercerita tentang karakter masyarakat Aceh  Barat, khususnya Meulaboh. Intinya, pesan penting dari mereka adalah, ini kota Kabupaten tidak sama dengan Banda Aceh, kota provinsi yang lebih plural. Harus agak hati-hati bergaul. Apalagi di kecamatan, di desa-desa yang agak jauh ke pelosok seperti Woyla, orang asing masih harus selalu “didampingi”. Saya hanya berdoa, semoga semua baik-baik saja.

Sesampainya di rumah Pak Hanafiah, kami disambut oleh beberapa orang anggota keluarga Pak Hanafiah, salah satunya Pak Husaini. Perbincangan yang hangat terjadi. Salah satu yang agak menyentak saya adalah soal politik, yang berdampak pada aktivitas seni. Pak Husaini, yang paling mendominasi cerita-cerita seputar ini, karena kebetulan ia pernah menjadi Keuchik (Kepala Desa) selama hampir dua priode di desa Suak Trieng. 

Apa boleh buat, perubahan kepemimpinan politik di tingkat kabupaten juga berimbas pada sejumlah pergeseran kepemimpinan desa. Tentu, ini soal siapa pilih siapa dan keberpihakan politik. Namun, sayangnya kemudian juga berdampak pada terganggunya soliditas grup Dalupa SSDR. Sebagain anggota mengundurkan diri, dan tidak mau mengikuti proses latihan.

Saya cukup gamang mendengarnya, karena grup ini nanti akan menjadi salah satu grup yang tampil pada Pekan Teater Nasional 2019 di Kalimantan Timur. Kalau kelompok yang telah ditunjuk ini tidak solid, anggotanya pecah, tentu tugas saya sebagai periset juga terganggu. Akan tetapi, pak Husaini, dapat membaca kegamangan saya. Dia dengan cepat menimpali, bahwa soal anggota yang terpecah ini, sudah dapat diantisipasi. Beberapa pemain telah siap digantikan oleh pemain baru yang diambil dari masyarakat sekitar. Pemain musik, terutama pemain Seurune, akan digantikan oleh Ikram (kebetulan menantu pak Hanafiah) yang didatangkan dari Lhoukseumawe.

Syukurlah, kalau telah ada solusi. Namun yang ada dalam kepala saya saat itu adalah apakah para pegganti ini bisa bermain, apakah mampu mengimbangi para pemain lama, sementara mereka belum pernah sama sekali ikut bermain sebelumnya. Saya tidak langsung menanyakan lebih lanjut prihal itu, karena Pak Husaini dan pak Hanafiah seperti telah memberikan jaminan bahwa mereka bisa bermain, karena mereka telah sejak kecil mellihat pertunjukan Dalupa sebelumnya. 

Okelah, untuk sementara saya percaya itu. Saya percaya karena dalam seni tradisional, improvisasi dan spontanitas selalu menjadi ruang terbuka yang selalu memberi kesempatan para penonton untuk terlibat. Apalagi dengan struktur teks pertunjukan teater Dalupa yang cukup longgar.

Pertunjukan mungkin bisa diselamatkan, tetapi bahwa ada persoalan politik yang membuntutinya, ini boleh jadi akan terus “mengganggu” proses berkesenian. Meskipun kita tahu, seni memang tidak hidup dari ruang kosong politik, karena sejarah mencatatnya sejak lama. Apalagi di desa ini, daerah yang kemudian saya ketahui menjadi salah satu wilayah konflik di masa lalu, dengan kisah-kisah tragis yang sempat saya dengar, maka politik dan seni seperti berkelindan dalam kehidupan masyarakat. 

Meskipun tak sepenuhnya terkait langsung secara parksis, sebagaimana dulu misalnya seni menjadi alat propaganda, namun tetap berdampak bagi kehidupan kesenian. Setidaknya selama masa konflik Aceh dulu, sekitar tahun 1970-an sampai 1980-an, pertunjukan Dalupa tak bisa tampil karena alasan keamanan. Dan kalaupun tampil, menurut Pak Husaini, harus dikawal oleh aparat. Hal ini juga yang dirasakan oleh kelompok Dalupa lain, Sanggar Buraq Lan Tapa. “Konflik sempat mematikan seluruh sendi kehidupan orang Aceh, termasuk seni,” ujar Syekh Din (dalam catatan Melliyan).

Padahal kalau dilihat dari kisah-kisahnya yang dimainkan, pertunjukan Dalupa tidak mengandung unsur propraganda politik, kecuali terselip pesan-pesan ideologi ke-Islaman. Dari sejumlah versi cerita yang dipaparkan sebelumnya, semua mengandung pesan dakwah Islam. Mulai versi yang dimainkan oleh grup SSDR, kemudian Dalupa di Aceh Jaya yang kisahnya bermula dari perjalanan seorang Teungku Sabé yang tinggal di Panggong, sampai pada kelompok Sanggar Buraq Lam Tapa pimpinan Syekh Din di Bubon, semuanya masih berhubungan dengan Islam. Pertunjukan Dalupa selain ditampilkan pada acara pernikahan, juga kerap tampil dalam perayaan hari besar Islam, Maulid Nabi, Sunat Rasul, Kenduri-kenduri, dan sebagainya.

Maka, dibanding dengan unsur politik, unsur-unsur agama (Islam) lebih menonjol dalam pertunjukan Dalupa. Terlepas dari bagaimana cara pesan-pesan tersebut disampaikan dalam sejumlah versi cerita, bahwa ideologi ke-Islaman telah menjadi kekuatan sekaligus identitas tersendiri dalam Dalupa. Hal ini tentu tak terpisahkan dari aktivitas keseharian dan sejarah masyarakat Aceh sendiri. 

Sehingga, saya sadar, kenapa misalnya di hari pertama saya di Woyla, saya dibawa berziarah ke makam seorang ulama Abu H. Ibrahim, di Gampong Pasi Aceh, masih di Kecamatan Woyla—dan uniknya foto ulama ini ada di setiap rumah masyarakat sekitar Woyla. Dan saya sadar pula, pada hari berikutnya saya diajak berziarah ke makam pahlawan Nasional Teuku Umar di Suak Ujung Kalak, dan melihat Alquran besar bertulis tangan di daerah yang sama.***

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (4)


Oleh Marhalim Zaini

FUNGSI PERTUNJUKAN;
HIBURAN, SARANA INTEGRATIF,
REPRESENTASI ESTETIS, & MISTIS (?)

Hari kedua saya di desa Suak Trieng, Woyla, adalah hari sesi latihan dimulai—hari pertama habis untuk perjalanan. Karena latihan dilakukan pada malam hari, siangnya saya ingin melihat bagaimana proses membuat kostum untuk pemain dalupa, yang terbuat dari kulit kayu tarok. 

Saya diajak oleh Pak Husaini, salah seorang pendiri grup SSDR sekaligus tokoh masyarakat yang telah dua priode menjabat sebagai Keuchik (Kepala Desa) Suak Trieung, ke sebuah rumah panggung di atas bukit yang mulai banyak ditanami pohon sawit. 

Sesampainya di rumah sangat sederhana terbuat dari papan itu, saya mendengar suara keras orang-orang berkaroke, bernyanyi dangdut dari dalam rumah menggunakan speaker kecil. Agaknya, berkaroke dalam hutan sunyi ini, adalah sebuah kemewahan.

Begitu saya dan Pak Husaini sampai di depan pintu, dan menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam rumah, mereka berhenti bernyanyi. Terlihat beberapa lelaki yang tak berbaju, dengan kulit gelap, wajah khas Aceh, dan asap rokok yang memenuhi ruangan kecil itu. Mereka menyambut kami dengan bahagia, bersalaman dan berbicara dengan bahasa Aceh yang tidak saya pahami. Beberapa ada yang bergegas memakai baju, beberapa yang lain ke dapur dan ke kamar. 

Tak lama, beberapa orang itu keluar membawa beberapa alat musik rapai. Ada yang berukuran besar, sedang, dan ada yang berbentuk bulat-pipih. Pak Husaini mulai memukul-mukul rapai, diikuti yang lain. Ikram, mulai menyiapkan serunai dan meniupnya. Mereka mulai menunjukkan bentuk musik yang nanti mengiringi pertunjukan Dalupa. Ada yang bersolawat, sesekali bersyair, sesekali tertawa lepas, berkelakar, merokok linting, dan tentu saja ngopi—selama dua hari di sini, entah telah berapa gelas kopi saya minum.

Saya merasakan, ada kebahagiaan yang sama dalam diri mereka antara ketika mereka bernyanyi lagu dangdut dengan ketika mereka bersolawat sambil memukul rapai. Kebahagiaan yang sama, datang dari dua genre musik rakyat, yang satu populer dan yang satu tradisional. Saya kira, inilah salah satu fungsi kesenian bagi mereka, menghadirkan kabahagiaan. Dan kebahagiaan hadir ketika mereka merasa terhibur. Seni (Dalupa) berfungsi sebagai sarana hiburan.

Malam datang, dan latihan akan digelar di halaman depan rumah pak Husaini. Satu persatu para pemain datang. Makin malam makin ramai. Saya agak heran, apakah mereka yang datang ini semuanya pemain. Rupanya bukan. Pemain hanya 15 orang, sisanya adalah masyarakat setempat yang datang hendak menonton. Pak Husaini bilang, sebelum saya datang, mereka telah beberapa kali berlatih, dan setiap kali latihan penontonnya selalu ramai. Demikianlah, fungsi teater Dalupa tidak semata sebagai sarana hiburan bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat pendukungnya.

Fungsi lain yang saya amati selama berada di Woyla dan mendampingi proses latihan Dalupa adalah sebagai sarana integratif bagi sesama anggota masyarakat. Berkumpul ketika proses latihan, tidak semata dalam rangka memperlancar dan mematangkan pertunjukan, akan tetapi terlebih dari itu adalah juga sebagai sebuah pertemuan sosial. 
Saya mellihat, antar pemain telah terjadi hubungan persaudaraan/emosional yang demikian kuat—meskipun memang sebagian besar pemain adalah berasal dari keluarga besar pak Hanafiah dan pak Husaini. Andai pertemuan proses latihan atau pertunjuakn Dalupa ini tidak ada, intensitas pertemuan tentu tidak sebanyak ini. Ditambah pertemuan pemain dengan penonton, dan pertemuan antar sesama penonton. 

Mulai dari anak-anak, orang tua, muda, semua menyatu dalam ruang ekosistem pertunjukan, ekosistem sosial, ekosistem lokal-tradisional. Nilai-nilai komunitas masyarakat seolah menyatu dalam ruang kepercayaan yang sama, dan dengan demikian sebuah pertunjukan telah menjadi titik magnetnya. Dalupa telah menjadi ruang sosial yang produktif.

Apakah juga pertunjukan Dalupa berfungsi sebagai representasi estetis? Tentu saja, karena betapapun ia dimainkan oleh para pemain yang bukan profesional, Dalupa adalah sebuah pertunjukan seni. Nilai estetika dipresentasikan oleh para pemain melalui bahasa, verbal dan non-verbal. Dialog berbahasa Aceh, alat musik khas Aceh, irama dan syair khas Aceh, sejarah kultur Aceh, dan seterusnya, adalah medium representasi estetis itu. Ada mitos-mitos di situ, peralatan tradisional, kepercayaan dan pandangan hidup dalam cerita yang dikisahkan, segalanya berada dalam jejaring ruang sirkular estetika.

“Apakah dalam pertunjukan Dalupa ada ritual-ritual tertentu?” 

Pertanyaan ini saya ajukan sejak di awal pertemuan saya dengan pak Hanafiah di Jakarta, sebelum turun riset lapangan. Dan jawabannya, tidak ada. Tidak ada ritual, mantra, atau prosesi tertentu. Saya hampir tidak percaya, karena setahu saya pertunjukan tradisional semacam ini selalu menggunakan ritual tertentu, yang selalu mistis. Apalagi terdapat sosok Dalupa dengan kostum yang mengerikan itu. 

Saya lalu bertanya kepada Pak Husaini, dan jawabannya sama. Hanya saya, kata Pak Husaini, mantra biasanya ada saat pertunjukan dabuh (debus)—biasanya dipertunjukan di akhir kisah pertunjukan Dalupa. Begitu pula yang ditegaskan oleh Syekh Din, pendiri sanggar Buraq Lan Tapa, bahwa tidak ada mistik dalam pementasan Sidalupa, melainkan hanya hiburan, dan dakwah dibalut dengan zikir.

Apakah saya puas? Tidak. Pada saat hari terakhir saya di Aceh, saya bertemu seseorang di Banda Aceh yang juga pernah menyaksikan pertunjukan Dalupa. Dia mengatakan Dalupa yang ia saksikan itu menggunakan ritual, mengucapkan mantra-mantra saat pertunjukan akan dimulai, bahkan menggunakan sejumlah peralatan seperti kemenyan. 

Apakah saya percaya? Tidak juga. Karena seseorang ini sumber skunder, dan agak diragukan kebenarannya sebelum saya menemukan data pendukung lain. Akan tetapi, memang selalu ada yang misteri, selalu ada yang tersembunyi dari yang tampak. Apalagi Dalupa masih terkait dengan makhluk aneh, dengan kostum aneh, tinggal di hutan, bukit, gunung, melewati laut, gua, dan pohon-pohon, sungai, dan seterusnya, maka mantra “alam” sebagai dunia spiritual selalu ada di sana, unsur mistis selalu menyertainya.***

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (3)


Oleh Marhalim Zaini

BENTUK DAN STRUKTUR PERTUNJUKAN;

Dapat dipastikan bahwa pertunjukan Dalupa yang dimainkan oleh grup Sanggar Seni Datuk Rimba (SSDR) dari Gampong Suak Trieng, Woyla, ini adalah sebuah bentuk pertunjukan teater. Unsur-unsurnya terlihat jelas pada kisah dramatik yang dimainkan, para pemeran dengan tokoh-tokoh karakter tertentu, pola dramaturgi dari adegan per adegan, dialog-dialog yang dituturkan, peran sutradara yang sekaligus pemimpin grup cukup menonjol, dan unsur musik berfungsi sebagai ilustrasi pendukung. 

Hal ini penting ditegaskan, karena ada informasi lain yang menyebutkan bahwa pertunjukan Dalupa pada mulanya tampil lebih pada bentuk pertunjukan tari dan musik mulai popular pada tahun 1980 (baca juga Herman HN, dalam Buletin Teuho, Mei 2016). Lalu di tahun 1988, pada ivent Pekan Kebudaayaan Aceh (PKA) baru muncul unsur-unsur teater di dalamnya, seperti kisah-kisah dramatiknya.

Informasi tersebut boleh jadi benar, jika gejalanya dilihat dari sosok tokoh Dalupa yang berkostum karakter berbulu hitam lebat dan dengan topeng yang menyeramkan itu. Sehingga sosok Dalupa menjadi yang paling menonjol dalam pertunjukan ini, dibanding yang lain. Bahkan kalaupun tokoh-tokoh pendukung yang lain ditiadakan, pertunjukan Dalupa masih tetap menarik perhatian penonton. Buktinya, sosok Dalupa dengan kostum dan topeng yang sambil menari-nari, beberapa kali “dimainkan” juga dalam sebuah parade atau pawai budaya dalam sebuah iven—yang tentu saja tanpa narasi.

Maka unsur drama (narasi), pada gilirannya, akan menjadi semacam “penguat” untuk membuat pertunjukan Dalupa menjadi lebih memiliki motivasi, gagasan, nilai ideologis (values), sekaligus pengembangan plot. Argumen ini dapat dikuatkan lagi dengan munculnya beberapa varian cerita lain, selain yang dimainkan oleh grup SSDR. Misalnya pertunjukan Dalupa yang dimainkan oleh Sanggar Buraq Lam Tapa pimpinan Syekh Din, di kecamatan Bubon (bersebelahan dengan kecamatan Woyla), cerita yang mereka bawakan jauh berbeda.

Hal ini juga tampaknya yang membuat bentuk pertunjukan seni teater Dalupa yang dimainkan oleh grup SSDR memiliki struktur pertunjukan yang cukup longgar. Cerita Dalupa yang dikarang oleh Hanafiah (yang sekaligus bertindak sebagai sutradara) masih sangat mungkin dilakukan penambahan, bahkan pengurangan, bersifat kondisional tergantung tempat dan waktu. Konvensi atau pakem cerita hanya pada alur cerita, itupun tidak terlampau ketat, karena masih mungkin tumbuh cabang dan ranting kisah. 

Pak Hanafiah mengaku bahwa cerita dalam pertunjukan Dalupa adalah sebagaimana yang pernah ia saksikan sejak ia masih anak-anak. Ketika ia membuat grup bersama Pak Husaini, untuk kebutuhan ivent tertentu ia lalu menuliskan semacam jalan cerita yang memberikan panduan kepada para pemain. Maka penambahan, pun pengurangan terjadi pada narasi, adegan, dan pesan-pesan ke-Islaman yang kontekstual.

Struktur teks cerita yang longgar, tentu berakibat pula pada struktur pertunjukan yang longgar. Hal ini mendapat signifikansinya dengan pola permainan yang lebih banyak mengandalkan improvisasi dengan dialog-dialog berbahasa Aceh yang bersifat spontan. Semua pemain pertunjukan Dalupa (terdiri dari 14 orang), adalah laki-laki. Ada seorang perempuan, yang bertugas menjadi narator (peran tambahan), tidak ikut turun main. Kalau ada peran perempuan dalam cerita, tetap akan dimainkan oleh pemain laki-laki yang memakai kostum perempuan.

Sebagaimana juga kebanyakan teater tradisional, para pemain Dalupa bukan para pemain profesional. Mereka semua adalah para petani sawit, petani karet, peladang, dan pedagang yang memanfaatkan waktu luang malam hari untuk “menghibur diri” dengan bermain Dalupa. Meskipun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa mereka semua adalah pemain “amatir” sehingga tidak total ketika mereka naik panggung. 

Beberapa pemain terlihat memiliki jam terbang cukup tinggi dengan improvisasi dan spontanitas yang baik, seperti Pak Abdul Salam dan Pak Darisman yang masing-masing memerankan dua peran sekaligus (sebagai anak-anak dan petani). Dua tokoh ini, menurut saya, justru yang bisa menghidupkan suasana, membangun dan mengambangkan plot cerita. Karena dua sosok Dalupa sendiri, yang menjadi tokoh utama, justru tidak mengucapkan dialog apapun kecuali hanya suara auman mirip suara binatang besar yang buas.

Konvensi yang longgar juga pada tempat dan waktu pertunjukan. Tidak seperti seni ritual, pertunjukan Dalupa dapat dipentaskan kapanpun dan bisa di mana saja. Tidak membutuhkan waktu dan tempat khusus. Meskipun lebih sering pada acara-acara perkawinan, Dalupa juga tampil dalam berbagai perayaan tradisi, festival seni-budaya, bahkan di panggung hiburan rakyat. Bisa siang hari, dan bisa pula malam hari. Bisa dipentaskan di ruang terbuka seperti di lapangan gampong, halaman rumah, kebun, atau bahkan di dalam semak belukar. 

Jika melihat kecenderungannya, maka Dalupa juga bisa ditampilkan di ruang tertutup, di gedung pertunjukan misalnya. Walaupun demikian, para pemain menyebut mereka lebih bersemangat kalau pertunjukan dapat digelar di malam hari dan di ruang terbuka. Selain merasa bisa lebih total bermain, suasana mistis ketika sosok Dalupa keluar dari semak-semak persembunyiannya juga dapat lebih terasa.

Maka kostum, khususnya yang dikenakan oleh dua sosok Dalupa menjadi faktor penentu menariknya pertunjukan ini.  Meskipun hanya terbuat dari lidi ijuk, dan topeng yang terbuat dari kayu rubek, efek bentuk dan visualnya dapat membangkitkan rasa ketertarikan penonton. Apalagi sengaja dipilih pemain yang berbadan cukup besar untuk memerankan Dalupa dan memakai kostum ini, maka akan semakin kuat kesan mistis yang ditimbulkan. 

Sementara kostum yang terbuat dari kulit kayu tarok yang dibuat sendiri oleh para pemain, yang dikenakan oleh pemain-pemain lain, juga sangat mendukung pertunjukan. Hanya saja, kostum sejenis ini, juga kerap digunakan oleh masyarakat suku pedalaman di sejumlah daerah di Indonesia. Tidak ada tata rias khusus bagi para pemain, selain topeng yang dikenakan oleh dua tokoh Dalupa.  

Unsur yang tak kalah penting dalam pertunjukan Dalupa adalah musik. Meskipun fungsi musik di sini hanya sebagai pengantar adegan dan kadang ilustratif, namun nada dan irama yang terdengar justru sangat kuat menunjukkan kekhasan identitas Aceh. Setidaknya ada 2 jenis instrument musik yang digunakan, perkusi dan tiup yang khas Aceh yakni rapai dan seurunei. Rapai dimainkan oleh 2 sampai 3 orang, dengan ukuran rapai yang berbeda. Sesekali syair juga dilantunkan bersama iringan musik oleh Pak Husaini, salah seorang tokoh masyarakat yang juga pendiri grup ini. Namun tidak seperti seni pertunjukan tradisional lain yang biasanya selalu menyertakan unsur tarian di dalamnya, Dalupa dari grup SSDR ini hanya menampilkan gerakan-gerakan sederhana. Unsur gerak lebih banyak spontan, yang berfungsi semata untuk membantu memperkuat karakter peran.

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (2)



Oleh Marhalim Zaini

ASAL MULA, PERSEBARAN, VARIAN

“…Pada malam bulan purnama, anak lekaki remaja kadang-kadang menyaru untuk menakuti teman-temannya. Membuat mukanya tak dapat dikenali dan tubuhnya dibalut pakaian aneh, disebut dalupa…” (lihat: Asal Usul Aceh Barat, 2015:454).

Kalimat di atas adalah kutipan dari tulisan Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang ilmuan Belanda yang pernah lama tinggal di Aceh, yang terdapat di dalam buku “Asal Usul Aceh Barat” yang ditulis oleh HT Ahmad Dadek SH, dkk, (terbit tahun 2015). Setidaknya ada dua aspek yang dapat diurai dari kalimat tersebut. Pertama, dengan dikutipnya pernyataan tersebut, Dadek seolah hendak menegaskan bahwa asal mula seni Dalupa adalah dari Aceh Barat. 

Meskipun muncul pendapat bahwa Dalupa berasal dari Aceh Jaya, namun informasi yang saya dapatkan dari sejumlah sumber di lapangan, grup teater Dalupa memang banyak terdapat di Aceh Barat. Hemat saya, kedua pandangan ini masih relevan karena kedua daerah (Aceh Barat dan Aceh Jaya) masih berada pada satu wilayah Pantai Barat Aceh. Sehingga sangat wajar persebaran terjadi pada dua daerah yang berdekatan ini. Yang masih perlu penelusuran lebih jauh adalah ketika saya juga mendapatkan informasi bahwa sosok mirip Dalupa (dengan kostum dan topeng) ada juga di daerah luar Aceh, seperti Lampung.

Kedua, pernyataan Snouck tersebut juga mengemukakan satu informasi lain tentang asal mula munculnya istilah “Dalupa”—yang nanti akan menjelaskan pula bahwa “Dalupa” memiliki beberapa varian. Sosok “Dalupa” dalam pernyataan Snouck, muasalnya dari keinginan seorang anak laki-laki yang menakut-nakuti teman bermainnya. Hal ini berkorelasi pula dengan informasi lain yang saya dapatkan bahwa kata “Dalupa” itu sendiri berarti “menyamar” atau “samaran.”  Menyamar dengan memakai kostum dan topeng.

Varian Dalupa yang ada di Aceh Jaya, narasinya jauh berbeda dengan Dalupa dari grup SSDR. Di dalam buku “Asal Usul Aceh Barat” diceritakan bahwa Dalupa itu sesosok makhluk tapi bukan manusia. Kisahnya bermula dari perjalanan seorang Teungku Sabé, yang tinggal di Panggong. Suatu malam ketika ia berjalan melintasi sebatang pohon kayu besar, tiba-tiba ia mendengar suara yang memberikan salam. Teungku Sabé menjawab salam tersebut, tetapi ia tidak melihat sesiapapun ada di situ. Tak lama ia mendengar suara lagi, “Saya ada di samping Anda. Jika Anda mau melihat saya, tolong ambilkan kupiah kakek saya di pohon besar itu dan pakailah.”

Teungku Sabé menuruti suara tersebut dan mendekati pohon yang ditunjuk. Teungku Sabé melihat ada bundelan berbentuk peci yang dirajut dari lidi ijuk atau ‘pureh jok’. Ia lalu memakai peci tersebut, lantas melihat ke arah asal suara tadi. Ketika itulah, Teungku Sabé melihat sesosok makhluk tinggi besar. Sosok itu kemudian mengaku ingin menjadi pengawal Teungku Sabé. Dan dari sinilah kemudian para seniman di Aceh Jaya meyakini asa muasal Dalupa itu yang dimainkan dengan diiringi rapai debuh (debus dengan iringan rapai).

Sementara itu, di Aceh Barat, termasuk grup SSDR yang berada di Suak Trieng Woyla, kisahnya seperti yang tergambar dalam alur cerita di awal tulisan ini. Namun, variasi kisah yang lain muncul. Misalnya tokoh Datok Rimba dalam grup SSDR, dalam versi yang lain bernama Sidar Singh—sebelum ia diberi gelar oleh masyarakat sebagai Datok Rimba. Seorang dari suku India yang berlayar ke Aceh Barat. Ketika ia masuk hutan Woyla ia bertemu dengan dua sosok makhluk menyerupai manusia tetapi seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat. Sosok itu kemudian disebut “Si Dalupa.” Maknanya kira-kira ‘si kakak lupa adik’ dan ‘si adik lupa kakak’. Hal ini diambil dari kata “Da” dalam bahasa Aceh yang artinya ‘kakak’. Artinya, variasi cerita maupun arti kata “Dalupa” di Aceh Barat tidak terlalu jauh berbeda.

Ada satu versi lain yang saya dapatkan informasinya dari seorang jurnalis bernama Mellyan Cut Keumala Nyakman, yang tinggal di Meulaboh. Ia pernah melakukan liputan di salah satu grup Dalupa di daerah Keude Layung, Kecamatan Bubon, Aceh Barat. Ia bertemu langsung dengan sutradara dan pimpinan kelompok Sanggar Buraq Lam Tapa, bernama Syekh Din (kelahiran 1931). Nama kelompok ini juga adalah nama pangung dari Syekh Din. Kisah Dalupa versi Syekh Din, berbeda dengan kisah Dalupa versi SSDR. Syekh Din mendengar cerita ini dari Pang Kaom pada tahun 1662, dan nama pertunjukan ini adalah “Si Dalupa.

Sambil bersyair, Syekh Din mengisahkan bahwa ada dua orang India kakak beradik bernama Sidal dan Upa. Mereka terusir dari kampung halamannya karena suatu kesalahan yang membuat sang Raja murka. Keduanya kemudian pergi dengan sebuah perahu buntung mengarungi Samudera Hindia. Setelah terombang ambing di tengah laut, perahunya terhempas karena angin kencang dan puting beliung. Mereka terdampar di pesisir barat Aceh, di pantai Kuala Bubon. Sidalupa berjalan sampai ke Cot Amun (sekarang masuk Kecamatan Samatiga). Ketika melanjutkan perjalanan ke Cot Kuyun mereka dihalang oleh buaya.

Mereka pun mengayuh perahu sampai ke sungai Layung. Sungai yang memiliki dua muara itu berakhir dalam hutan rimba (sekarang terletak di Desa Liceh, Kecamatan Bubon). Di situ terdapat sebuah gunung bernama Glee Tarom Pucok Sikumbang. “Awak nyan deuk alahai hana dipajoh sapue (mereka kelaparan, tidak makan apa-apa),” begitu ucap Syekh Din. Si Dalupa tinggal dalam sebuah gua berpuluh tahun hingga tubuhnya ditumbuhi bulu yang sangat lebat.

Bertahun kemudian, orang-orang kampung mendengar berita ada mahkluk dalam gua, yang suaranya seperti orang mendengkur. Karena penasaran, orang kampung beramai-ramai menuju gua di Pucok Sikumbang. Mereka melihat banyak rotan yang tumbuh di sekitar gua. Begitu rotan-rotan itu ditarik terdengarlah suara seperti suara orang mendengkur yang sangat keras. Orang-orang pun melihat sesosok makhluk hitam, dan berupaya mengajaknya bicara, memintanya keluar dari gua. Karena gagal, ada yang usul untuk memancing Sidalupa dengan cermin. Cermin diletakkan dekat dengan wajah Sidalupa. Karena kaget dan penasaran, Sidalupa mengikuti arah cermin itu sampai ia keluar dari gua. Namun tidak lama, dan hanya sampai pinggir desa, keduanya kembali berlari ke dalam Gua Liceh. Tidak lama kemudian, terdengar kabar Sidalupa mati akibat kelaparan. Setelah Sidalupa mati, bertahun tahun kemudian, warga sekitar mengisahkannya kembali dalam sebuah pertunjukan kesenian yang bertajuk “Sidalupa”.***