Minggu, 03 Mei 2020

Mistifikasi Puisi-Penyair



Oleh Marhalim Zaini

            BEGITU kita menyebut frasa “binatang jalang,” kenapa nama Chairil Anwar yang terkenang? Tidak semata terkenang pada puisinya yang berjudul “Aku” itu, tetapi juga terlintas begitu saja berbagai peristiwa biografis hidupnya—yang (dianggap) liar, seorang petualang cinta, sakit-sakitan, pemberontak, nomaden, orang yang terluka-terbuang, dan semacamnya. Seolah, representasi seluruh perjalanan hidup Chairil terpusat di dalam puisi itu. Sehingga, kadang kita pun ragu, mana yang lebih populer di antara keduanya: puisinya atau penyairnya.
            Belum lagi, orang kerap menghubungkaitkan puisi-puisi “kematian” Chairil—semisal “Nisan” atau “Menjemput Kematian” atau “Yang Terampas dan Yang Putus”—dengan  kematian Chairil sendiri. Hubungan “mistik” semacam ini hemat saya, tidak hanya terjadi pada Chairil, tapi juga pada banyak penyair kita—terutama mereka yang telah “berhasil” menjadi “tonggak-tonggak” dalam sejarah kesusastraan kita. Selain Kriapur (1959) yang  kematiannya dalam sebuah kecelakaan juga kerap dihubungkan dengan puisinya, kematian Sitor Situmorang belum lama ini pun, tak lepas dari bagaimana puisi turut berperan sebagai representasi individu penyairnya. Maka puisi “Tatahan Pesan Bunda” itu pun telah jadi wasiat penyairnya; “Bila nanti ajalku tiba/ Kubur abuku di tanah Toba/ Di tanah danau perkasa/ Terbujur di samping Bunda.”
            Puisi, dalam posisi serupa ini, tak bisa tidak, bukan semata telah jadi “anak-anak kandung” si penyairnya, yang bagai air tak putus dicincang, tetapi seolah telah memberi penegasan ihwal paham lama (dalam dunia pembaca) bahwa puisi itu bersifat “mistik” (berbau supranatural). Percaya atau tidak, kadang, pembenaran-pembenaran terus bergulir secara tak sadar, baik oleh pembaca awam, bahkan dalam kajian-kajian sastra. Bukankah misalnya ketika Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi-puisi mantera untuk melepaskan ikatan makna pada kata, toh para pembaca puisi di panggung yang membaca puisi “Batu” misalnya, tetap mengekspresikan bagaimana seorang dukun yang merapal mantera-mantera. Dan, begitu melihat sosok Sutardji, seolah kemudian hidung kita sedang mencium “kemenyan” dalam kosmologis tertentu.
            Upaya memistifikasi puisi-penyair seperti ini, tentu dalam konteks tertentu, dapat membuat puisi seolah tak memiliki kekuatan semiotiknya sendiri—yang sekaligus, turut membantah Roland Bhartes (ihwal “kematian pengarang”) dalam konteks tafsir terhadap karya sastra. Namun, dalam konteks membangun “mitos” terhadap “kekuatan” puisi (selain kekuatan teks), yang kaitannya dengan keyakinan-keyakinan tradisional kita tentang kuasa tersembunyi (hidden realms) dalam puisi, upaya ini tak dapat diabaikan. Meskipun, saya kurang pasti penyebabnya, kenapa kini misalnya, kian hari kian tak dapat dengan mudah “menemukan” puisi yang memiliki “karakter khas” penyairnya di tengah timbunan puisi, yang kemudian tak juga mudah menciptakan “mitos-mitos” baru.
            Barangkali benar, bahwa mitologisasi itu, oleh sebagian pandangan, dapat membunuh rasionalitas. Kita, hari ini, sudah tidak butuh lagi mitos. Namun, saya kira kita tidak pula dapat menampik Roland Bhartes dalam buku Mythologies (1972), bahwa sesungguhnya kita terus-menerus hidup dalam lingkaran-lingkaran mitos baru, yang tanpa disadari, terus merasuki kita. Dunia fashion, misalnya, yang kerap disuguhkan oleh media, yang diam-diam mengubah cara berpakaian kita, cara menata rambut kita, cara makan kita, cara bicara kita, cara berjalan kita, cara bergaul kita, adalah mitos baru para borjuis. Dan itu semua, berkelindan dalam tanda-tanda, dalam dunia semiotik, yang diam-diam pun diterima dalam sebuah kesepakatan bersama, diterima sebagai sebuah pembenaran.
            Dan puisi, pun penyair, jika ia tak dapat menjadi “mitos baru” dalam lingkaran sosial semacam itu—dengan tanpa harus mentakhayulkan hubungan puisi-penyair—lalu bagaimanakah ia akan menempatkan diri?*** 

sumber foto ilustrasi: kompasiana

Sabtu, 02 Mei 2020

Ayo, Perjuangkan Nasib Seniman!



Oleh Marhalim Zaini

Bagi Anda yang bercita-cita menjadi seorang seniman di negeri ini, sebaiknya diurungkanlah dulu. Pertimbangkanlah dulu masak-masak, ratusan kali menimbang-nimbang. Salah satu yang wajib masuk dalam pertimbangan Anda itu adalah; kalau Anda jadi seniman (di negeri ini) bagaimana nanti nasib hidup Anda dan keluarga Anda? Apakah bisa karya-karya Anda “menghidupi” keluarga Anda? Apakah “negara” tempat Anda tinggal memang betul-betul dengan serius memperhatikan nasib Anda?
Sebuah media, di awal tahun ini, menulis berita berjudul “Kesulitan Hidup, Keluarga Sastrawan Ingin Jual Naskah Kuno.” Berita tersebut dimuat kembali oleh sebuah media online, dengan judul (yang lebih dipertegas), “Kesulitan Hidup, Keluarga Sastrawan Hasan Junus Ingin Jual Naskah Kuno.” Bagi saya, berita ini adalah fakta sekaligus jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di awal tulisan ini.
Fakta ini, sebetulnya, bukanlah barang baru. Saya dengan beberapa kawan, tiga minggu terakhir membuat film dokumenter sejumlah tradisi lisan dan tokoh tradisi lisan di Riau. Bagaimanakah nasib para tokoh tradisi lisan itu? Kenyataaannya; mereka yang mampu survive adalah mereka yang memang mau sedikit “kompromi” dengan keadaan, dan yang tidak, maka hidup dalam keterbatasan. Artinya, kata “kompromi” di sini, dapat dimaknai dengan bagaimana si seniman itu sendiri, selain berkarya, juga harus bersusah-payah menunjukkan-nunjukkan dirinya di depan para pejabat pemerintahan. Malah, tak jarang, energi untuk “menunjuk-nunjukkan” diri ini lebih besar dibanding energi untuk berkarya. Sehingga, tak jarang juga, si seniman pun malah kehabisan “energi” dalam karya-karyanya.
Foto: Zuarman Ahmad, salah satu pembicara Diskusi Seni "Mengenang Hasan Junus" oleh Suku Seni Raiu.

Nah, bagi seniman yang memang tak memiliki “akses” dan sepenuhnya mengabdikan dirinya untuk kesenian, menjaga kuat-rapat ideologi dan idealismenya, tak pernah merasa harus “menunjuk-nunjukkan” karyanya pada pemerintah. Karena, “seni” itu adalah “laku” hidupnya. Seni itu, adalah si seniman itu sendiri. Tokoh tradisi lisan macam Wak Setah, misalnya, Koba telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Almarhum Pak Yazid, di Meskom Bengkalis itu, Zapin telah mendarah-daging dalam kehidupannya. Sehingga bukan halangan misalnya ketika ia harus bersepeda dari kampung ke kampung mengajarkan Tari Zapin. Sangat banyak contoh kasus, kalau mau dibariskan di sini.
Apa yang hendak saya garisbawahi di sini adalah, sejauh mana sebenarnya peran pemerintah dalam memperjuangkan nasib para senimannya? Ketika seorang Hasan Junus, yang diagung-agungkan entah dengan sebutan: Paus Sastra Riau, Kamus Berjalan, Kritikus Handal, Satrawan Agung, dan entah apa lagi itu, rupanya di masa hidup dan di masa ia telah tiada, pun “terabaikan” nasibnya. Mungkin saja benar, bahwa beliau tidak terlampau bernasib buruk dibanding dengan para seniman tradisi (atau beberapa seniman modern) yang lain, tetapi bukankah berita itu adalah preseden buruk bagi nasib para seniman kita (khususnya di Riau)? Oke, boleh jadi, frasa “menjual naskah kuno” adalah sebuah “gertakan” saja, tapi substansinya adalah sudah sedemikian melaratkah negeri ini, yang tak mampu memberi perhatian pada para senimannya?
Lalu, bagaimana dengan berbagai penghargaan, misalnya, yang diperoleh si seniman? Apakah itu bukan bentuk dari perhatian? Saya kira, sebuah penghargaan adalah (meminjam toeri Ferdinand de Saussure) sebuah “penanda”(signifier) saja untuk sebuah pertanda (signified). Bahwa di sana terdapat nilai (value), ada thought of reference, yang kemudian membuat seseorang pada tingkat dan konteks tertentu memiliki “kekuatan” simbolik. Idealnya begitulah. Mereka yang pernah dapat penghargaan, apalagi banyak penghargaan, mestinya ia lebih memiliki “posisi tawar” yang kuat, memiliki keistimewaan dari yang lain. Namun, kenyataannya, sehabis penghargaan itu diterima, si seniman seperti kembali ke masa sebelum ia menerima penghargaan. Mungkin saja, gengsi namanya agak naik, tapi tidak serta-merta “penghasilannya” ikut naik, tidak pula serta-merta menjadi mudah baginya untuk menerbitkan sebuah buku, menggelar pameran karya, misalnya. Sertifikat/piagam penghargaan itu, rupanya tidak cukup “sakti” untuk “dijual.” Seniman Pemangku Negeri (SPN) yang dapat dipasang di depan nama saya, misalnya, apakah membuat saya bangga? Ya, mungkin. Tapi apakah cukup berhenti dengan rasa bangga itu saja?
Menurut saya, keseriusan itu tidak berhenti pada bentuk-bentuk penghargaan yang diberikan pada seniman, akan tetapi terus berlanjut pada bagaimana negara (atau lembaga apa pun mengatasnamakan negera) memberi semacam “jaminan” kepada si seniman untuk tetap memiliki energi besar untuk berkarya. Energi itu, tentu harus disupport dari berbagai sisi. Saya jadi ingat, bagaimana nasib Pak Raden, yang di masa tuanya harus mengamen. Untunglah media mengekspose, dan untunglah dia tokoh terkenal yang hidup di Jakarta. Jadi, dia sekarang digaji oleh negara, sebulan 10 juta (anggaplah saja itu tunjangan pensiun). Tentu, bukan lagi karya-karya besar yang lain, yang diharapkan lahir dari orang seperti Pak Raden, misalnya, karena beliau telah menorehkan karya besar di negeri ini. Tetapi, inilah sebenarnya bentuk rasa terima kasih negara kepada si seniman, entah melalui lembaga apa pun namanya. 
Penting saya kira, untuk diwujudkan, bagaimana program-program lanjutan setelah penghargaan diberikan. Misalnya, bisa dengan menyediakan fasilitas (dana, sarana pra sarana) untuk para seniman berkarya secara reguler. Tidak tersendat-sendat, tidak nunggu diminta-minta, macam mengemis. Bisa dalam bentuk memberikan peluang seniman untuk mengikuti berbagai ivent nasional dan internasional, residensi sekian bulan, agar terjalin jaringan, kompetisi yang lebih luas, terlabih agar ada perbandingan, dan dengan begitu dapat terus memperkuat karya-karya yang akan lahir kemudian. Saya malah belakangan kuatir, jangan-jangan berbagai penghargaan itu, justru membuat para seniman sengaja mengejar target berkarya untuk mendapat penghargaan. Ini mungkin tidak salah. Karena memang itulah peluang bagi si seniman untuk menunjukkan eksistensinya sekaligus mendapat hadiah (finansial). Tapi menjadi “menyalah” kalau hal ini kemudian “mentradisi.”
Soal yang lain, yang hemat saya jadi batu sandungan bagi komunikasi antara seniman dan pemerintah adalah ihwal pertanyaan pemerintah tentang; apa kontribusi seniman bagi negeri ini? Sama misalnya, pernah muncul pertanyaan (dari salah satu pejabat); untuk apa sekolah/kampus seni didirikan? Mau kerja apa nanti lulusannya? Apa kontribusi konkretnya bagi pembangunan kita? Maka pertanyaan-pertanyaan semacam ini pun membuat seni (dan senimannya) selalu saja dianaktirikan dibanding bidang-bidang yang lain. Mereka menganggap pembangunan mental manusia lewat seni itu sama dengan membangun gedung hotel yang segera tampak wujudnya. Segera jadi, dengan bim salabim, dan mengabaikan proses. Sifat pragmatisme semacam inilah yang kini menghinggapi para pengelola negeri ini. Betapa sedihnya saya, ketika kampus seni yang menumpang di salah satu gedung kawasan purna MTQ (dulu AKMR, sekarang tertatih-tatih menjadi STSR), dengan sekejap mata rata dengan tanah. Betapa sedihnya lagi saya, sampai sekarang masih juga menumpang di gedung DKR. Bagaimanakah sebenarnya cara berfikir kita dalam mengelola kebudayaan di negeri ini?
Ada sempat muncul misalnya gagasan tentang “sertifikasi” seniman dari kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Langsung ditolak oleh para seniman, karena cara berfikirnya yang juga keliru; semata mendasarkan kekuatiran bahwa seniman Indonesia akan kalah saing dengan seniman luar negeri (dalam ivent internasional) jika tidak ada sertifikasi. Mestinya, kalau pun harus ada sertifikasi, lebih dalam konteks memberikan “kesejahteraan lahir dan bathin” pada senimannya, bukan untuk mengukur kemampuan berkarya mereka. Kemampuan berkarya itu proses, sebab sebutan seniman tidak serta merta dapat diberikan oleh sebuah institusi dalam bentuk sertifikat dengan ukuran-ukuran konvensional.
Hemat saya, kasus yang menimpa kehidupan keluarga Hasan Junus, adalah momentum untuk terus mengingatkan pada negara ini untuk tidak abai terhadap nasib seniman. Melalui lembaga-lembaga seperti Dewan Kesenian Riau, ke depan misalnya, ada porsi program yang memang memberi perhatian besar pada seniman. Tidak semata memberi penghargaan setahun sekali, lalu para seniman itu tidak diberdayakan sebagai aset potensial untuk secara bersama-sama membangun kesenian Riau melalui gagasan-gagasannya. Kenapa tidak, para SP (Seniman Perdana) dan SPN (Seniman Pemangku Negeri) ini diajak untuk secara bersama-sama menyampaikan aspirasi pada pemerintah, misalnya soal anggaran DKR yang menyusut, dan lain-lain. Itu kalau SP dan SPN itu dianggap memiliki “power” karena mereka telah ditabalkan gelar di atas pundaknya. Kadang penyakit kita adalah; senang “membuat” tapi susah “menjaganya.” Samalah halnya dengan gedung megah Anjung Seni Idrus Tintin itu, senang “membangunnya” tapi sampai sekarang tak jelas bagaimana mengelolanya. Di sana sini, sudah mulai rusak, semua pementasan insidental, tidak terprogram dengan baik, dengan kurator yang tidak jelas, dan lain sebagainya.
Maka, di balik riuh-rendah pergelaran kesenian kita, yang mungkin tampak berkilau di sana sini (karena efek seremonialnya), ada rintihan, ada teriakan-teriakan yang tersamar,  ada pula apatisme, pragmatisme seniman yang kadang terkooptasi dengan sistem, ada keluhan-keluhan, ada pula harapan-harapan....*** 

*Ditulis pada tahun 2013. Sengaja tidak direvisi, untuk memperlihatkan kondisi yang terjadi di masa tersebut.



Selasa, 07 April 2020

Puisi Siapakah Engkau, Corona Karya Marhalim Zaini


Puisi Marhalim Zaini
Siapakah Engkau, Corona

Sejak engkau datang, kami mengurung diri
dalam rumah.  Mengunci pintu dan jendela, menutup
Lubang angin, menutup segala yang terbuka dari rasa
takut. Padahal kami tak tahu, engkau ada di luar
Atau di dalam tubuh kami.

Siapakah engkau, Corona?

Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar,
kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan
dari rumah ibadah kami. Padahal kami selalu tak mampu
untuk keluar dari keramaian dalam kepala kami.

Siapakah engkau, Corona.

Engkau datang seperti bala tentara dalam
operasi senyap. Menembaki ribuan orang
di seluruh dunia dengan peluru kecemasan,
padahal kami hanya orang biasa yang tak
Punya senjata, yang selalu percaya bahwa
perang hanya untuk para tentara.

Siapakah engkau, Corona?
Hari ini, kami memang akhirnya mengunci diri
Dalam rumah, tapi kami tidak sedang menyerah.
Peluru-peluru sedang kami siapkan dari doa-doa
yang setiap saat kami rapalkan. Kami punya iman
yang setiap waktu menyala dalam kegelapan.

Tapi siapakah engkau, Corona.
Apakah engkau hanya datang sebagai pengecut, yang
menyerang saat kami buta. Saat kami kerap lalai
menyalakan api iman dalam dada. Saat kami terlalu
bahagia dengan gemerlap dunia, dan lupa pada
dosa-dosa.

Corona, siapapun engkau, kami tak lagi peduli.
Karena hari ini, kami sedang berdiam dalam diri,
mencari tahu, siapakah kami sesungguhnya
dalam tubuh fana yang renta.

Pekanbaru, 2020

*puisi ini ditulis Marhalim Zaini khusus merespon wabah COVID-19, untuk dibaca bersama, sebagai alternatif media perenungan  sekaligus ruang kreativitas bersama. Silakan dibaca, di manapun, oleh siapapun. 






Sabtu, 04 April 2020

Dirjen Kebudayaan Luncurkan Program Perlindungan Sosial Pekerja Seni Terdampak COVID 19



Seniman atau pekerja seni adalah salah satu profesi yang terdampak COVID-19 secara ekonomi. Proses kreativitas, mulai dari penciptaan hingga publikasi karya terhambat karena pemberlakukan social distancing, isolasi, dan berkumpul di keramaian. Otomatis akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi mereka.

Maka Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan, melalui Direktur Jenderal Hilmar Farid, menyampaikan di sebuah televisi bahwa pemerintah telah menyiapkan program Perlindungan Sosial Pekerja Seni (PEPES). Program ini bertujuan membantu pekerja seni tetap beraktivitas seni sambil tetap mematuhi kaidah penjarakan fisik.

Untuk itu, Dirjen Kebudayaan akan melakukan pendataan terlebih dahulu terhadap pekerja seni yang terdampak COVID-19 secara ekonomi. Bagi pekerja seni diminta untuk mengiris borang yang tersedia, sampai tanggal 8 April 2020. Borang bisa diisi di sini http://bit.ly/borangpsps




Sabtu, 28 Maret 2020

Suku Seni Buka Kelas Menulis Online (KEMON)


Dalam masa merebaknya virus Covid 19 ini, program-program yang bersifat pertemuan-pertemuan manusia yang intensif ditiadakan untuk sementara waktu. Namun, dalam masa itu, proses latihan beberapa rencana pertunjukan seni tetap jalan dengan berlatih di rumah masing-masing. Selain itu, program untuk publik, Suku Seni membuka Kelas Menulis Online (KEMON).

Dibuka sejak tanggal 25 Maret 2020, pendaftaran KEMON tidak dibatasi waktu, karena bersifat privat dan terbuka sepanjang waktu. Jadi peserta bisa mendaftar kapanpun, dan memulai kelas kapanpun. Prosedurnya, peserta mendaftar ke nomor WA 081371351911, mengisi formulir pendaftaran, dan membayar investasi hanya Rp. 100.000,- untuk masa kelas selama bulan (terhitung ketika setelah peserta membayar).Waktu konsultasi dan diskusi juga bebas, terserah kepada peserta.

KEMON akan dibimbing langsung oleh kepala Suku Seni, Marhalim Zaini. Proses kelas melalui fasilitas WhatsApp (WA), baik dengan chat, video, maupun suara. Diskusi juga bisa diperluas yang tidak semata soal pengalaman menulis, tetapi juga seputar dunia kepenulisan.***

Sabtu, 15 Februari 2020

Suku Seni Gelar Orientasi Seni untuk Anggota Baru Angkatan IV



Pada hari Sabtu dan Minggu, 15-16 Februari 2020, Suku Seni akan menggelar kegiatan Orientasi Seni yang diikuti oleh seluruh anggota Suku Seni, khususnya anggota baru angkatan IV.

Setelah melalui sejumlah tahapan seleksi, tersaring 7 anggota baru, dari 35 peserta yang mendaftar. Program Orientasi Seni ini adalah sebuah tahap awal pengenalan dan pemahaman basic seni serta bagaimana proses kreatif dalam kerja-kerja kesenian bagi anggota baru. Selain itu juga, bertujuan untuk perkenalan dan penguatan visi-misi Suku Seni.

Program ini adalah juga bagian dari proses seleksi alam, ketika anggota baru mulai masuk menjadi anggota tetap. Seleksi alam adalah sebuah proses panjang dalam mengikuti berbagai program di Suku Seni. Hanya mereka yang betul-betul serius berproses yang akan lolos seleksi ini.

Namun, Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini menyebut, tahun 2020 ini akan diprioritaskan kepada bagaimana mereka mencipta karya, dan karya. Tujuan mereka di Suku, yang paling utama adalah mereka mau berkarya apa. “Kalau hanya sekedar iseng, sekedar ngisi waktu kosong, dan malas mencipta, lebih baik mencari ruang lain,” tambah Marhalim.

Berikut nama-nama anggota baru:
1.      REDO KURNIAWANDA
2.      PUTRI ELJA MAHARANI
3.      DION RAHMAT PRASETIAWAN
4.      PUTRI SONIA CANIAGO
5.      SHINTA ASMARZA PUTRI
6.      INTAN SRI ARINDRANI
7.      ADE OKTAVIANDI
***

Rabu, 01 Januari 2020

Suku Seni Buka Pendaftaran Penerimaan Anggota Baru


Setiap awal tahun, Rumah Kreatif Suku Seni Riau membuka pendaftaran penerimaan anggota baru. Tahun 2020 ini, pendaftaran telah dibuka sejak tanggal 20 Desember 2019 hingga 08 Februari 2020.

Bagi yang berminat dapat segera mendaftar dengan mengisi formulir yang tersedia di link tinyurl.com/sukuseni Angk4 (dapat dilihat juga di bio IG Suku Seni) dan melengkapi sejumlah syarat administratif antar lain menyerahkan foto dan membayar uang pendaftaran Rp. 40.000 melalui rekening BNI 0695207254, a.n. Perkumpulan Rumah Kreatif Suku Seni Riau (bukti transfer dikirim ke WA 082268972872). Usia minimal 17 tahun.

Ajik Bahar, selaku manager Keanggotaan Suku Seni menyebutkan, siapapun yang memiliki minat dan kemampuan di bidang seni dapat mendaftar. Mulai seni musik, tari, teater, seni rupa, film, dan sastra. “Meskipun secara spesifik, tahun ini kami akan memprioritaskan mereka yang tidak semata punya minat tapi juga minimal memiliki kemampuan dasar di bidang seni,” ujar Ajik.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, menambahkan bahwa kemampuan dasar ini penting mengingat Suku Seni ke depan akan membentuk grup seni yang akan bergerak dalam bidang masing-masing. Misalnya ada grup musik, grup tari, grup sastra, grup teater, dan lain-lain sesuai kemampuan yang ada. “Suku Seni punya berbagai alat musik, punya kostum, jadi harus dimanfaatkan secara maksimal oleh anggota Suku Seni untuk berkarya,” imbuh Marhalim.***