Sabtu, 15 Februari 2020

Suku Seni Gelar Orientasi Seni untuk Anggota Baru Angkatan IV



Pada hari Sabtu dan Minggu, 15-16 Februari 2020, Suku Seni akan menggelar kegiatan Orientasi Seni yang diikuti oleh seluruh anggota Suku Seni, khususnya anggota baru angkatan IV.

Setelah melalui sejumlah tahapan seleksi, tersaring 7 anggota baru, dari 35 peserta yang mendaftar. Program Orientasi Seni ini adalah sebuah tahap awal pengenalan dan pemahaman basic seni serta bagaimana proses kreatif dalam kerja-kerja kesenian bagi anggota baru. Selain itu juga, bertujuan untuk perkenalan dan penguatan visi-misi Suku Seni.

Program ini adalah juga bagian dari proses seleksi alam, ketika anggota baru mulai masuk menjadi anggota tetap. Seleksi alam adalah sebuah proses panjang dalam mengikuti berbagai program di Suku Seni. Hanya mereka yang betul-betul serius berproses yang akan lolos seleksi ini.

Namun, Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini menyebut, tahun 2020 ini akan diprioritaskan kepada bagaimana mereka mencipta karya, dan karya. Tujuan mereka di Suku, yang paling utama adalah mereka mau berkarya apa. “Kalau hanya sekedar iseng, sekedar ngisi waktu kosong, dan malas mencipta, lebih baik mencari ruang lain,” tambah Marhalim.

Berikut nama-nama anggota baru:
1.      REDO KURNIAWANDA
2.      PUTRI ELJA MAHARANI
3.      DION RAHMAT PRASETIAWAN
4.      PUTRI SONIA CANIAGO
5.      SHINTA ASMARZA PUTRI
6.      INTAN SRI ARINDRANI
7.      ADE OKTAVIANDI
***

Rabu, 01 Januari 2020

Suku Seni Buka Pendaftaran Penerimaan Anggota Baru


Setiap awal tahun, Rumah Kreatif Suku Seni Riau membuka pendaftaran penerimaan anggota baru. Tahun 2020 ini, pendaftaran telah dibuka sejak tanggal 20 Desember 2019 hingga 08 Februari 2020.

Bagi yang berminat dapat segera mendaftar dengan mengisi formulir yang tersedia di link tinyurl.com/sukuseni Angk4 (dapat dilihat juga di bio IG Suku Seni) dan melengkapi sejumlah syarat administratif antar lain menyerahkan foto dan membayar uang pendaftaran Rp. 40.000 melalui rekening BNI 0695207254, a.n. Perkumpulan Rumah Kreatif Suku Seni Riau (bukti transfer dikirim ke WA 082268972872). Usia minimal 17 tahun.

Ajik Bahar, selaku manager Keanggotaan Suku Seni menyebutkan, siapapun yang memiliki minat dan kemampuan di bidang seni dapat mendaftar. Mulai seni musik, tari, teater, seni rupa, film, dan sastra. “Meskipun secara spesifik, tahun ini kami akan memprioritaskan mereka yang tidak semata punya minat tapi juga minimal memiliki kemampuan dasar di bidang seni,” ujar Ajik.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, menambahkan bahwa kemampuan dasar ini penting mengingat Suku Seni ke depan akan membentuk grup seni yang akan bergerak dalam bidang masing-masing. Misalnya ada grup musik, grup tari, grup sastra, grup teater, dan lain-lain sesuai kemampuan yang ada. “Suku Seni punya berbagai alat musik, punya kostum, jadi harus dimanfaatkan secara maksimal oleh anggota Suku Seni untuk berkarya,” imbuh Marhalim.***



Kamis, 12 Desember 2019

Diskusi Seni #19 Bahas Sejarah Komunitas Seni Pertunjukan Riau


Diskusi seni bulanan hadir kembali, kali ini membahas tentang sejarah komunitas seni pertunjukan di Riau. Tema ini adalah judul draft buku karya kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, yang akan diterbitkan oleh Direktorat Sejarah. Diskusi akan digelar pada Jumat, pukul 20.00 WIB, bertempat di rumah kepala Suku di Perumahan Gading Marpoyan blok L, nomor 6, Pandau Jaya, Siak Hulu. Gratis, tapi karena tempat terbatas, diharapkan yang hadir konfirmasi ke Eko (0895604130236).

Suku Seni akan menghadirkan tiga pemantik diskusi yang sekaligus sebagai pembaca awal draft buku ini, yakni Husin, M.Sn (akademisi seni), Fedli Aziz (seniman), dan Marhalim sendiri. Selain membincangkan gerak perkembangan komunitas seni pertunjukan di Riau, diskusi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan, koreksi, serta tambahan data yang boleh jadi terlewatkan dalam buku dengan judul lenkap, “Sejarah Komunitas Seni Pertunjukan di Riau, dari Masa Perintisan hingga Tahun 2000-an.”

Marhalim Zaini, menjelaskan bahwa buku ini adalah hasil dari penelitiannya selama lebih kurang tiga bulan, setelah ia menerima bantuan pemerintah berupa Fasilitasi Penulisan Buku Sejarah yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Tanpa fasilitasi ini, mungkin buku sejarah komunitas seni pertunjukan ini tidak bisa lahir secepat ini, meskipun saya sudah mulai mengumpulkan data sejak lama jauh sebelum ini, “ jelas Marhalim.

Menurut Marhalim, ini adalah kerja awal untuk dilanjutkan pada kerja-kerja riset yang lebih luas, lebih komprehensif.  Menurutnya, kerja semacam ini sangat penting untuk memulai secara lebih serius melakukan pendokumentasian seni pertunjukan di Riau. Selain dokumentasi video, dokumentasi dalam bentuk buku dapat memberikan narasi dan informasi yang lebih lengkap, agar generasi ke depan dapat lebih memahami bagaimana dinamika dunia seni pertunjukan di Riau. “Saya berterima kasih kepada Direktorat Sejarah, yang telah memberi dukungan ini,” tambah Marhalim.***

Jumat, 06 Desember 2019

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siak Undang Suku Seni Pentaskan Bangsawan



Tanggal 8 Desember 2019, mulai pukul 20.00 WIB, Suku Seni akan pentaskan sebuah pertunjukan Bangsawan versi Suku pada acara Festival Teater Bangsawan di gedung Mahratu, Siak Sri Indrapura. Selain Suku Seni, ada dua grup lain yang diundang untuk tampil dalam acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak ini, yakni Teater Jelaga dan Pengat Production.

Suku Seni akan membawakan sebuah kisah berjudul “Megat” yang diangkat dan diolah dari novel karya Rida K Liamsi, disutradarai oleh Marhalim Zaini. Bagi Suku Seni, yang baru berdiri di akhir 2017, ini adalah pertunjukan kali pertama dalam mementaskan model teater Bangsawan. Sebelumnya, Suku Seni lebih banyak mementaskan naskah-naskah kontemporer dengan tetap bersumber dari khazanah budaya Melayu yang ditulis oleh Marhalim Zaini, seperti Dilanggar Todak (2018), Hikayat Orang Laut (2018), dan Agama Sungai (2019).

Marhalim menyebut, novel “Megat” yang ditulis Rida K Liamsi sangat menarik untuk dipanggungkan. Meskipun Marhalim mengaku, karena dibatasi durasi, kali ini ia hanya mengambil satu peristiwa dibunuhnya Wan Anom dan perlawanan Megat yang membunuh Sultan, kisah yang telah cukup dikenal dalam dunia Bangsawan. “Padahal, novel “Megat” memiliki potensi konflik pikiran dan sejarah antara narasi lama dan narasi baru yang dibangun Pak Rida, dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan menarik saol politik, cinta, dan kekuasaan,” tambah Marhalim.

Kali ini, Suku Seni akan menurunkan 10 Pemain dari anggota tetap Suku Seni, yakni Joni Hendri sebagai Megat, Adek Feisal Usman sebagai Datuk Bendahara, Ajik Bahar sebagai Sri Bijawangsa, Ace Pauzul Azmi sebagai Sultan, Faisal Amin sebagai Hulubalang, dan lima peremupan sebagai Wan Anom (Denisa Indriani, Cici Sri Rahayu, Novita Suhendriani, Misratul Jannah dan Ukhidaragia). Untuk produksi dikoordinatori oleh Eko Raghil.

Marhalim menyebut pertunjukan ini tidak menggunakan konvensi teater Bangsawan murni, tetapi dikemas dalam bentuk-bentuk simbolik. Kemungkinan-kemungkinan konsepsi estetis akan terus terbuka selama teks Bangsawan ini dipahami sebagai sebuah sumber penjelajahan baru. Sehingga meskipun cerita ini telah banyak dipentaskan, tetap akan dapat hadir dengan warna baru, ekspresi-ekspresi masa lalu yang akan selalu relevan dalam ruang imajinasi kekinian.***



Jumat, 29 November 2019

Kepala Suku Seni Menjadi Narasumber Dialog 4 Negara



Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Riau mengundang Marhalim Zaini (Kepala Suku Seni Riau) untuk menjadi narasumber dalam diskusi yang diberi tajuk “Focus Group Discussion Four Country.” Acara yang akan digelar pada Sabtu, 30 November 2019 ini mengangkat tema diskusi “Mengenal Kearifan Budaya 4 Negara.” Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Komunikasi UIR.

Selain Marhalim yang diundang mewakili Riau (Indonesia), tiga narasumber lain berasal dari tiga negara, yakni Fais Niaka (Patani, Thailand), Nabaggala Aisha (Uganda), Ummi Binti Ishak (Kamboja). Tiap Negara, diminta berbicara tentang kearifan budaya masing-masing, dengan penguatan bagaimana keragaman budaya justru dapat memberi warna bagi kehidupan manusia, kehidupan bernegara, dan berbangsa.  

Menurut Marhalim, diskusi kecil semacam ini penting dalam mencermati gejala-gejala dinamika sosial yang bergerak cepat dengan batas-batas ruang yang sangat terbuka hari ini. Apalagi, empat Negara ini menarik dibincangkan, tiga Asia satu Afrika, terutama soal keberagaman dalam bingkai multikulturalisme. “Saya senang bisa berkontribusi dalam diskusi ini, tentu karena saya akan banyak menyerap banyak pengetahuan dari sini,” ujar Marhalim.***

Kamis, 28 November 2019

Ke Ambon, Suku Seni Dampingi Tim Riau dalam Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional


Rumah Kreatif Suku Seni Riau ditunjuk oleh Kementerian Agama Kanwil Provinsi Riau dan Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia Riau (LASQI) untuk turut mendampingi dan membina tim Duta Qasidah yang akan mewakili provinsi Riau untuk mengikuti Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional di Ambon, Maluku, pada 25-30 November 2019 ini. Suku Seni mengutus Rahmadi ke Ambon, sebagai pendamping.

Dibuka oleh Wakil Menteri Agama, KH. Zainut Tauhid, Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional XXIV ini berlangsung di halaman Tahapary, Ambon. Diikuti oleh ratusan peserta dari 34 Provinsi, provinsi Riau mengutus para penyanyi Qasidah terbaiknya, antara lain Muhammad Al Farisi (Rokan Hulu), Sepreza Ummizri (Pelalawan), dan Aria Putra Utama (Pekanbaru). Sampai berita ini dikabarkan, dua utusan Riau telah masuk final, yakni Muhammad Al Farisi dan Aria Putra Utama.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, S.Sn., M.A, mengatakan menyambut baik kerjasama ini. Suku Seni selama ini memang berupaya untuk berkreasi dan membuka ruang seluas-luasnya untuk semua genre seni, dan bekerjasama dengan banyak pihak. Salah satu program yang pernah digelar adalah Tadarus Puisi dan Pesantren Seni di bulan Ramadan. “Terima kasih kepada LASQI Riau dan Kementerian Agama kanwil Riau yang telah memberi kepercayaan ini,” ujar Marhalim.***

Minggu, 24 November 2019

Pentas 28 November, Teater SMANDASH Berlatih di Rumah Suku


Sabtu, 23 November 2019, siswa-siswi anggota Sanggar Teater SMANDASH (SMA Negeri 2 Siak Hulu) berlatih teater di Rumah Suku (begitu sebutan untuk sanggar Suku Seni). Latihan ini dalam rangka persiapan pertunjukan “Air Mata Sungai” pada 28 November 2019 mendatang di Aula Dinas Pendidikan provinsi Riau, dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Sebelum itu, mereka akan tampil di sekolah dalam rangka Hari Guru Nasional 2019.

Marhalim Zaini sebagai seniman dan Joni Hendri sebagai asisten seniman yang ditunjuk oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan provinsi Riau, telah melatih siswa-siswi SMA Negeri 2 Siak Hulu selama lebih kurang 3 bulan ini. Naskah “Air Mata Sungai” karya Marhalim Zaini, adalah sebuah kisah tentang keperihatinan terhadap krisis lingkungan, khususnya pencemaran sungai.

Marhalim menyebut, latihan biasanya memang dilakukan di sekolah SMA N 2 Siak Hulu, di jalan Kubangraya nomor 62 Siak Hulu, Kampar. Tapi untuk lebih mengintensifkan proses latihan dan agar lebih konsentrasi, maka kali ini latihan dilakukan di Rumah Suku. 

Siswa-siswi yang tergabung dalam sanggar SMANDASH ini adalah mereka yang mendaftar, dan terseleksi, untuk mengikuti program GSMS ini. “Meskipun mereka baru awal mengenal teater, tapi mereka memiliki potensi, dan minat yang tinggi…,” ujar Marhalim.

Rumah Suku, sejak berdiri 2017 lalu, telah menjadi tempat alternatif bagi sejumlah komunitas seni untuk berlatih. Meskipun sederhana, dengan fasilitas yang seadanya, namun ruang ini tetap memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, diskusi, dan proses kreatif kekaryaan.***