Jumat, 16 Agustus 2019

PT. Pegadaian Undang Suku Seni Pentas


DALAM rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, PT. Pegadaian mengundang Rumah Kreatif Suku Seni Riau untuk tampil. Sesuai bunyi tema acara yang disuguhkan “Gebyar Milenial”, Suku Seni akan menyajikan sebuah pertunjukan puisi karya WS. Rendra, berjudul “Sajak Anak Muda.”

Marhalim Zaini, sebagai dramaturg pertunjukan ini menyebut bahwa puisi Rendra memang selalu mengandung semangat perlawanan dan suara-suara nyaring bagi kritik sosial. Puisi "Sajak Anak Muda" ini adalah juga sebuah kritik sosial itu, yang ditujukan pada dinamika dunia anak muda dan masa depan bangsa. “Jadi, puisi ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian meskipun ditulis Rendra tahun 1977,” ujar Marhalim.

Ajik Bahar, Manager Program Suku Seni menyambut baik kerjasama ini dan berterima kasih kepada pihak Pegadaian yang telah mengundang. Harapannya ke depan, kerjasama ini bisa berlanjut dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan melalui ekspresi seni. “Untuk kali ini, kami akan melibatkan 5 pemain, seperti Misratul Jannah, Denisa Indiani, Vira Silvia, Novita Suhendriani, dan saya sendiri. Serta penata musik Pauzul Azmi,” imbuh Ajik.

Acara “Gebyar Milineal” ini akan dimulai sejak sore hari sampai malam. Dan Suku Seni akan tampil sekitar pukul 21.00 WIB, bertempat di The Gade Caffe, jalan Jenderal Sudirman (samping RS. Syafira). Pihak PT. Pegadaian dan Suku Seni mengundang para penikmat seni dan anak muda untuk meramaikan dan menyaksikan berbagai pertunjukan yang akan digelar.***

Selasa, 13 Agustus 2019

Terima Kasih Riau Pos dan Tribun Pekanbaru Telah Dukung GGMB


SELAIN sejumlah media daring, dua media cetak yang kerap mendukung program-program Rumah Kreatif Suku Seni Riau adalah koran Riau Pos dan Tribun Pekanbaru. Dukungan yang diberikan tentu dengan menyiarkan ulasan atau berita program yang digelar Suku Seni.
Salah satu program Suku Seni yang telah disiarkan adalah kegiatan Workshop Menulis Buku untuk Guru dengan tema Gerakan Guru Menulis Buku (GGMB). Program yang diselenggarakan sejak Januari-Maret 2019 ini telah menjangkau kabupaten Siak, Rengat (Indragiri Hulu), Mandau, Bengkalis, dan Taluk Kuantan. Tahun depan, program ini direncanakan akan diselenggarakan di daerah lain di provinsi Riau.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, mengucapkan terima kasih kepada Riau Pos dan Tribun Pekanbaru yang telah turut mendukung kegiatan Suku Seni. “Dua media ini, sering ekspose Suku Seni. Dalam kegiatan GGMB, dua media ini membuat review khusus. Saya mewakili Suku, mengucapkan terima kasih. Semoga ke depan terus dapat bekerjasama,” ujar Marhalim.

Ajik Bahar, manager program Suku Seni, menambahkan bahwa Suku Seni yang baru beranjak dua tahun ini, tentu sangat butuh publikasi dan media sosialisasi. Meskipun Suku Seni telah punya media sendiri, tapi media luar sangat kami perlukan untuk memperluas jangkauan informasi tentang program-program Suku. ***

Senin, 12 Agustus 2019

Apakah Dunia Literasi Kita Sudah Merdeka?


PROGRAM diskusi seni bulanan akan digelar hari Jumat, 16 Agustus 2019 mendatang. Bertempat di kedai kopi Suku, diskusi akan dimulai pukul 20.00 WIB sampai selesai. Kali ini mengangkat tema yang belakangan cukup menggelisahkan bagi dunia literasi yakni terkait razia buku. Tema yang juga dikaitkan dengan peringatan hari kemerdekan Republik Indonesia ke 74 ini berbunyi “Merdeka Literasi versus Razia Buku.”

Diskusi seni yang ke 16 ini, menghadirkan para pemantik Irsyad Al Djaelani (mahasiswa Pasacasarjana UNRI), Wamdi Jihadi (Duta Baca Riau 2018), dan Marhalim Zaini (sastrawan, Kepala Suku Seni), serta dipandu oleh Ajik Bahar.

Koordinator diskusi, Eko Ragil, menyebut para pemantik yang diundang ini akan membincangkan bagaimana perkembangan dunia literasi kita hari ini, dan bagaimana pula jika diperhadapkan dengan upaya-upaya penyitaan buku di sejumlah daerah di Indonesia. Maka pertanyaan berikutnya adalah apakah dunia literasi kita ini sudah merdeka?

Diskusi yang dibuka untuk umum ini, adalah program bulanan Suku Seni. Sejak berdiri di akhir 2017, Suku Seni telah menggelar 15 kali diskusi seni yang menghadirkan berbagai narasumber, baik dari dalam Riau maupun luar Riau, serta mengangkat berbagai tema seputar dunia seni-budaya.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, menyebut program ini adalah sebuah upaya menciptakan atmosfer pergerakan wacana seni-budaya, untuk mengimbangi produksi seni-budaya yang terus lahir dan berkembang. “Diskusi harus terus terjadi, secara intensif. Itu salah satu cara membangun kebudayaan. Tidak hanya seminar tahunan, dengan agenda yang seolah besar, tapi setelah itu diam,” tutup Marhalim.***

Kamis, 08 Agustus 2019

Portofolio Suku Seni Riau


PERTUNJUKAN SENI:

1. Pertunjukan Teater-Puisi “Dilanggar Todak” karya/sutradara Marhalim Zaini, 22, 23, 24 Februari 2018, di Ajung Seni Idrus Tintin Pekanbaru. Didukung Balai Pelestarian Nilai-nilai Budaya Kepulauan Riau, dan Balai Bahasa Provinsi Riau, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Eksplorasi Puisi "kau Ibrahim Sattah" oleh Ajik Bahar, 16 Maret 2017, di Rumah Suku.

3. Pertunjukan Teater “Bernafas dalam Lumpur” karya/sutradara Joni Hendri, 17 Maret 2018 dalam acara Panggung Seni Kreatif, Taman Budaya Riau di Bandar Serai, Pekanbaru.

4. Pertunjukan Tari-Puisi "Selagi Masih Senja", Sabtu, 31 Maret 2018,
koreografer Ade Siwa, penari: Fatma Kumala dan Nadya Tintin, di Kopikirapa Coffeshop.

5. Pertunjukan Teater Anak “Bertandak” karya/sutradara Joni Hendri, bekerjasama dengan Bengkel Seni SDN 153 Pekanbaru, 28 April 2018.

6. Pertunjukan Teater “Waktu” karya/sutradara Ajik Bahar, dalam acara Generasi Muda Menginspirasi oleh GENBI, Minggu 29 April 2018, Warkop 45 Pekanbaru.

7. Tadarus Puisi, Jumat, 25 Mei 2018, di Rumah Suku

8. Pertunjukn Drama di Mal SKA Pekanbaru, Sutradara Joni Hendri, pemain: Ratna, Joni, Amin, Ace. Didukung  Bank BTN

9. Pertunjukan Teater-Puisi “Hikayat Orang Laut” karya/sutradara Marhalim Zaini, pada 4 Mei 2018, di UIN Imam Bonjol Padang dan 28-29 Juli 2018 di Ajung Seni Idrus Tintin Pekanbaru. Didukung Bantuan Fasilitasi Kegiatan Kesenian, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

10. Panggung Seni Merdeka, melibatkan anggota Suku Seni dan masyarakat di sekitar Rumah Suku, pada 17 Agustus 2018 di Rumah Suku, Pekanbaru.

11. Pertunjukan teater-puisi “Para Penunggu Hutan” naskah Marhalim Zaini, sutradara Joni Hendri, dalam acara Festival Musik Rimbang Baling, pada 13-16 September 2018, di Koto Kiri, Kampar.

12. Pertunjukkan Teater “Kayu” naskah Eko Ragil Ar-Rahman, sutradara Joni Hendri, dalam acara “Switch Off” Earth Hour Pekanbaru yang diadakan oleh WWF didukung Dinas Pariwisata, Sabtu 30 Maret 2019 di Bandar Serai, Pekanbaru.

13. Performance Art “Kecekek Kedarah” oleh Joni Hendri, malam pembukaan diskusi seni, dalam rangka Hari Teater Dunia di Rumah Suku, 27 Maret 2019.

14. Pertunjukkan “Aku Chairil”, Naskah/Sutradara Baharsyah Setiadji, dalam acara Pekanbaru Festinight, Sabtu 30 Maret 2019 di RTH Tunjuk Ajar, bersama Riau Menari.

15. Pertunjukkan Seni “Senyap” Karya/Sutradara Joni Hendri, dalam acara Malam Puncak amal GENBI, Minggu 31 Maret 2019

16. Pertunjukan Teater-Puisi “Agama Sungai” karya/sutradara Marhalim Zaini, di Teater Terbuka Taman Budaya Riau, 27 Juli 2019, bersempena Hari Sungai Nasional dan Kenduri Seni Rakyat Riau, didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Riau.


DISKUSI SENI BULANAN:

1. Musik dan Realitas, pemantik Anggara Satria, Rabu, 14 Maret 2018, di Rumah Suku.
2. Membaca Estetika Tari di Riau, pemantik Wan Harun, M.Sn, Rabu, 21 Maret 2018, di Rumah Suku.
3. Fenomena Generasi Sastra Milenial, pembicara Boy Riza Utama, Rabu, 28 Maret 2018, di Rumah Suku.
4. Bincang Proses Kreatif & Etos Berkarya (Mengenang Hasan Junus), Pembicara Zuarman Ahmad, Senin, 2 April 2018, di Rumah Suku.
5. Menyoal Pendidikan Seni di Riau, pembicara Muslim, S.Kar., M.Sn. Rabu, 4 April 2018, di Rumah Suku.
6. Ritual Bulean, sebagai Ide Penciptaan Musik Orkestra, pembicara Weldi Saputra, M.Sn dan Benny Andiko, M.Sn, Senin 9 April 2018, di Rumah Suku.
7. Kartun & Literasi Visual Kita, pembicara Furqon Elwe, Rabu, 11 April 2018, di Rumah Suku.
8. Islam dan Budaya Literasi, pembicara Wamdi Jihadi, Rabu 18 April 2018, di Rumah Suku.
9. Nonton dan Bincang Film, pemantik Fatma Kumala, Senin, 23 April 2018, di Rumah Suku.
10. Politik Kebudayaan di Indonesia, Pembicara Prof. Dr. Tulus Warsito (Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Selasa, 24 April 2018, di Rumah Suku.
11. Membaca Puisi Cinta Chairil, pemantik May Moon Nasution, Senin, 30 April 2018.
12. Mejinakkan Budaya Milenal, Pembicara Prof. Dr. Tulus Warsito (Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Selasa, 11 September 2018, di Rumah Suku.
13. Fenomena Selfie dan Dunia Fotografi Hari Ini, pembicara Adhari Donora, S.Sn.,M.A, Rabu, 27 Februari 2019
14. Teater dan Lingkungan, pembicara Azis Fikri (AkademisiTeater), Fandi Rahman (Deputi Direktur Walhi Riau), Fedli Aziz (SenimanTeater), Rabu, 27 Maret 2019
15. Melihat Indonesia dari Sesuatu yang Kecil, pembicara Hary B Kori’un (Peserta Sastrawan Berkarya keLokasi 3T), Sabtu, 29 Juni 2019.


KUNJUNGAN KE SEKOLAH:
1. SDN 153 Pekanbaru, 3 April 2018
2. SMK LABOR Pekanbaru, 10 Maret 2018
3. SMK  N 1 Pekanbaru, 29 Maret 2018



PELATIHAN/WORKSHOP:
1. Eksplorasi Tubuh bersama Ajik Bahar, 17 Maret 2018, di Rumah Suku
2. Kelas Akting, Minggu, 23 September 2018, di Rumah Suku.
3. Kelas Menulis Kreatif, Minggu, 30 September 2018, di Rumah Suku
4. Workhsop Menulis Buku untuk Guru, Januari-Maret 2018, di Siak, Rengat, Bengkalis, Mandau, Kuansing.

RUMAH BACA:
Saat ini memiliki koleksi kurang lebih 500 judul buku, meliputi buku-buku seni (teater, tari, musik, seni rupa), sastra (puisi, cerpen, novel), biografi, filsafat, motivasi, agama Islam, bacaan anak, dan lain-lain. Dibuka untuk masyarakat sekitar dan umum. Buka setiap hari.


MALAM SENI MASYARAKAT (PANGGUNG PUBLIK)
Adalah sebuah program bulanan, berbentuk pertunjukan seni dari anggota Suku Seni dan berbagai komunitas di luar yaang ada di Riau. Selain itu juga menampilkan pertunjukan-pertunjukan dari masyarakat setempat. Malam Seni Masyarakat telah terlaksana 4 kali (Juni 2019).



Senin, 05 Agustus 2019

Suku Seni Sewakan Alat Musik


SEJAK bulan Juli 2019, Rumah Kreatif Suku Seni Riau mulai menyewakan sejumlah alat musik, tradisional maupun modern, seperti kompang, marwas, gendang panjang, bebano, biola, accordion, tambur, gitar, keyboard, dan gambus. Bagi masyarakat yang membutuhkan bisa langsung ke Rumah Suku di Jalan Amal Ikhlas nomor 11, Air Dingin atau menghubungi Ace (082285486366) atau Denisa (082285956903).

Alat-alat musik yang diperoleh dari Bantuan Pemerintah melalui program Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat (FKBM) 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ini memang lebih diperuntukkan bagi anggota Suku Seni sendiri dalam berkarya, untuk terus meningkatkan sumber daya manusianya, dan melahirkan generasi baru pekerja seni di Riau. “Fasilitasi ini sangat berarti bagi kami, karena kami sekarang tidak lagi bingung saat memerlukan alat musik untuk berkarya,” ujar Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini.

Di samping itu, Marhalim menambahkan, Suku Seni sebagai sebuah komunitas independen yang bergerak dari swadaya dan usaha-usaha mandiri harus terus berupaya untuk survive. Harus terus kreatif untuk mengembangkan diri agar komunitas ini bisa bertahan ke depan. “Usaha menyewakan alat musik ini adalah satu upaya agar kami mampu bertahan, selain juga tetap terus menjalin kerjasama dan membuka jaringan ke berbagai pihak yang peduli terhadap seni-budaya. Kami juga menyewakan kostum tari, teater bangsawan, dan sound system,” tambah Marhalim.***

Senin, 29 Juli 2019

Direktorat Kesenian Undang Marhalim Zaini Ikuti Lokakarya Pekan Teater Nasional 2019

DIREKTORAT Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta mengundang Marhalim Zaini (Kepala Suku Seni Riau) untuk mengikuti Lokakarya Pekan Teater Nasional 2019. Lokakarya yang diselenggarakan selama tiga hari (30 Juli s.d 1 Agustus) di Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat ini juga mengundang 18 seniman teater lain dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Asia Ramli Prapanca, Dr. Yusril, Jecko Siompu, Shohifur Ridbho’i, Otniel Tasman, dan John M. Mambor.

Kegiatan yang dikuti oleh sejumlah Sutradara, Penggarap, dan Periset ini merupakan salah satu rangkaian dari Pekan Teater Nasional (PTN) 2019 yang rencananya akan digelar di Samarinda, Kalimantan Timur, pada bulan September mendatang. Kegiatan Pra-PTN ini akan membahas berbagai hal teknis dan non teknis pelaksanaan PTN yang mengambil tema “Tubuh Gunung, Resonansi Teater Tradisi”.

Dalam TOR kegiatan, para kurator yang terdiri dari Afrizal Malna, Benny Yohanes, dan Dindon WS menjelaskan bahwa agenda PTN akan dibagi dalam tiga platform yakni Kanon Tradisi, Post Tradisi, dan Teater Riset. Para Periset akan melakukan kerja penelitian terhadap Kanon tradisi, sementara para Sutradara dan Penggarap akan menampilkan karya-karya progresif yang dihasilkan dari tafsir terhadap seni pertunjukan tradisional. Dalam kegiatan tersebut Marhalim Zaini ditunjuk sebagai periset teater tradisional Dalupa (Aceh). 

Marhalim menyebut, ia merasa tertantang ketika ditawari untuk melakukan riset teater tradisional Dalupa di Aceh.  Kerja-kerja penelitian yang telah dilakukan selama ini, memang masih seputar teater yang berbasis pada kebudayaan Melayu, seperti Mamanda, Mendu, Bangsawan, dan Makyong. “Ini kesempatan saya untuk mengembangkan wilayah penelitian saya terhadap seni teater tradisional di Indonesia,” ujar Marhalim.***

Alhamdulillah, “Agama Sungai” Sukses Dipentaskan


SABTU malam, 27 Juli 2019, pertunjukan “Agama Sungai” karya/sutradara Marhalim Zaini, sukses dipentaskan di Teater Terbuka Taman Budaya Riau. Pertunjukan yang berlangsung selama 50 menit ini disaksikan oleh ratusan penonton yang terdiri dari seniman, pelajar, mahasiswa, jurnalis, aktivis lingkungan dan masyarakat luas.

Dalam sesi diskusi sehabis pertunjukan, Marhalim Zaini menjelaskan beberapa hal terkait konsep dan isu lingkungan yang menjadi gagasan utama pertunjukan. Bertepatan juga dengan peringatan Hari Sungai Nasional, pertunjukan ini hendak menegaskan bahwa Suku Seni Riau adalah sebuah komunitas seni yang peduli dengan kerusakan lingkungan yang terjadi. Melalui media seni, keberpihakan terhadap lestarinya lingkungan diartikulasikan dan diekspresikan dengan cara yang kreatif.

Selain itu konsep “teater-puisi” juga menjadi pertanyaan salah seorang penonton. Menurut Marhalim sebutan “teater-puisi” karena merujuk pada dua genre seni, puisi dan teater. Agak berbeda dengan istilah “teaterikalisasi puisi”, konsep “teater-puisi” lebih memberi ruang otonom bagi puisi dan teater untuk bersinergi, dengan tanpa saling meniadakan satu dengan yang lain.

Diskusi berjalan hangat. Semua penanggap diskusi pada dasarnya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pertunjukan ini. “Pertunjukannya unik dan penuh kejutan, “ ujar salah seorang penanya. “Saya adalah penonton setia Suku Seni, sejak “Dilanggar Todak” dulu, “ ujar penonton yang lain. “Saya berharap Suku Seni terus produktif menghasilkan karya, terutama yang mengangkat isu lingkungan, karena plastik memang sudah meresahkan kita, “ tambah yang lain.

Sehabis pentas, Suku Seni gelar syukuran. Makan bersama dan evaluasi. Suku Seni mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pertunjukan ini. “Selain pihak Taman Budaya Riau, Dinas Kebudayaan Riau yang telah mengundang untuk tampil dalam iven Kenduri Seni Rakyat Riau 2019, kami juga mengucapkan terima kasih kepada sejumlah media yang telah turut mempublikasikan. Juga kepada penonton setia kami. Huha...” tutup Marhalim.***