Minggu, 03 November 2019

Tiga Buku Lagi, Terbit melalui Suku Seni


SEJAK program Workshop Menulis Buku yang diselenggarakan oleh Rumah Kreatif Suku Seni Riau di lima daerah di Riau (Siak, Bengkalis, Mandau, Kuansing, Rengat) pada awal tahun 2019, buku-buku terus lahir dari tangan para guru. Sampai hari ini telah belasan karya lahir yang diterbitkan melalui Suku Seni.

Kini, ada tiga lagi buku yang baru terbit, yakni “Cerucuk Bakau” karya Juanda, M.T, “Hikmah Silaturahmi” karya Dra. Hj. Syarifah, M.A, dan “Mak Tipah di Ujung Senja” (kumpulan cerita) karya Meirian Dahlianti, S.Pd. Menyusul sedang proses edting sejumlah buku yang diangkat dari tesis dan karya sastra seperti puisi dan cerpen.

Suku Seni, sebagai komunitas yang juga konsen terhadap dunia literasi, terus berupaya membantu para penulis terutama di Riau untuk menerbitkan buku. Karena Suku Seni adalah lembaga nir-laba, maka Suku Seni hanya memfasiliti proses penerbitan dari awal sampai buku dipastikan sampai di tangan penulisnya, sedang biaya sepenuhnya ditanggung oleh penulisnya.

Bagi yang berminat sila datang langsung ke Rumah Suku di Jalan Amal Ikhlas nomor 11, atau kontak ke Ajik Bahar (Manager Program) 0822848084444 atau langsung ke editor Marhalim Zaini (081371660659).



DAFTAR BUKU YANG TELAH TERBIT:
1.  “Kuitip Cintaku di Arafah” kaya Yusi Adrianti 
2. “Siswa Terampil Berbicara” kumpulan artikel karya Desfianti
3. “Kepada Kabut Pagi” buku puisi karya Lisda Ika Wahyuni Ningsih 
4. "Hikayat Negeri Api” buku puisi karya Fitri Yanti 
5. “Tapak Tak Berjejak” buku puisi Raja Mariani 
6. “Pendidikan Karakter, Lierasi & Kreativitas” buku esai Marlina 
7. “Terubuk Menangis” buku puisi Dessy Satria 
8. “Buhul yang Terlepas” buku puisi Suhernawati
9. “Cahaya Kecil dalam Pusaran Ingatan” karya Pispian Rahman 
10. “Api dalam Sekam” novel karya Zurliati
11. “Menyibak Kertas Putih” (kumpulan puisi) karya Irirayana Ningsih
12. “Cahaya di Atas Cahaya” (kumpulan puisi) karya Fetti Anggriani
13. “Memeluk Bayangan” (kumpulan puisi) karya Aswinek
14. “Cahaya Cakrawala” (Kumpulan puisi) karya Fifi Emilda.
15. “Cerucuk Bakau” (karya ilmiah) karya Juanda.
16. “Hikmah Silaturahmi” karya Dra. Hj. Syarifah, M.A
17. “Mak Tipah di Ujung Senja” (kumpulan cerita) karya Meirian Dahlianti

Selasa, 29 Oktober 2019

Ngaji Seni #3 bersama Datuk Seri Al azhar


SENIN, 28 Oktober 2019. Hujan lebat telah mengguyur Pekanbaru sejak petang. Bahkan sampai malam, ketika kami akan berangkat ke Balai Adat (Lembaga Adat Melayu Riau) di jalan Diponegoro, hujan masih cukup lebat. Tapi kami tak surut, karena program Ngaji Seni ini penting bagi kami. Penting untuk menyerap energi kreatif dari para tokoh seni di Riau ini.

Kami sampai di Balai Adat, ketika bapak Al azhar sedang sibuk mengerjakan sesuatu di depan laptopnya. Ia menyambut kami dengan hangat. Menyuguhkan kopi panas dan makanan ringan. Beberapa dari kami mengaku belum makan malam dan langsung menyerbunya. Tak lama, Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni memberi pengantar tentang pertemuan ini; yang intinya silaturahmi dan belajar dan belajar. Anggota Suku Seni lalu sibuk mengeluarkan buku catatan mereka.

Bapak Al azhar langsung menyambutnya dengan mulai berkisah tentang proses awal ia berkenalan dengan seni sejak di bangku sekolah menengah. Bagaimana pertemuan pertamanya dengan Idrus Tintin, adalah juga pertemuan yang membuka jalan panjang proses berkesenian yang ia lalui sampai sekarang, yang sejak itu pula ia tidak pernah “berpisah” dengan Idrus Tintin.

Dan sejak itu, ia masuk dalam kehidupan seni di Riau. Proses berkesenian selalu tidak dapat dipisahkan dengan proses menjalani kehidupan, begitulah ia menjelaskan. Bagaimana ia dulu sempat ngamen puisi, hidup bohemian, pentas di berbagai tempat dengan seadanya dan fasilitas yang minim. Tapi berteater, berkesenian, tidak semata soal ketersediaan, akan tetapi soal kemauan dan kecintaan.

Pengalaman semacam ini, bagi kami, amat penting untuk dapat menakar bagaimana kini kami, Suku Seni, harus memposisikan diri dalam proses berkesenian yang makin kompleks dan tentu makin banyak tantangannya. Tentu ini bukan semata romantisme, karena bagi kami, sejarah hidup seseorang adalah pelajaran yang penting yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolahan/kuliahan.

Dinamika berkesenian sejak tahun 1970-an sampai kini, diceritakannya sebagai  gambaran bagi kami bahwa dunia seni Riau itu terus bergerak dialektis. Tidak hanya cerita tentang kegigihan dan totalitas dalam berkarya tetapi juga soal pergesekan paham terutama dalam konteks estetis. Soal pilihan-pilihan dalam berteater, antara yang “klasik” dan yang “kontemporer”, antara yang setia pada naskah dan yang memilih bermain pada gagasan-gagasan visual.

Banyak yang kami dapat, sedikit yang baru bisa kami tuliskan di sini. Masing-masing dari kami mencatatnya dalam buku dan ingatan kami, sebagai pemantik untuk terus bertahan dan bergerak dalam dunia seni. Satu pertanyaan penutup dari Ajik Bahar, “apa yang membuat kita bisa bertahan di dunia seni ini, Pak?” Sambil sejenak berpikir, bapak Al azhar menjawab lugas, “Cinta. Cintalah yang membuat kita mampu bertahan di dunia seni ini.”

Ngaji Seni 3# telah usai, tapi belum tuntas, karena dalam waktu 2 jam pertemuan terasa sangat singkat untuk sebuah rentang panjang perjalanan. Terima kasih karena bapak Al azhar pun berkenan, ketika kami mengajukan diri untuk kembali datang, berkunjung, di lain waktu nanti, untuk lanjut ngaji seni, dalam tema yang spesifik. “Boleh di mana pun, tidak mesti di sini. Di Suku Seni juga boleh. Bahkan di bawah pohon juga oke,” tutupnya.***


Sabtu, 26 Oktober 2019

Marhalim dan Joni Latih Teater SMA N 2 Siak Hulu dalam Program GSMS 2019


GERAKAN Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Riau kembali hadir tahun ini. Marhalim Zaini, S,Sn., M.A, Kepala Suku Seni, ditunjuk sebagai salah seorang seniman Riau yang melatih seni teater di SMA N 2 Siak Hulu. Dan Joni Hendri, Amd.Sn, anggota Suku Seni, ditunjuk sebagai asisten seniman.

Bagi Marhalim, ini kali ketiga ia ditunjuk untuk melatih dan membina seni teater di sekolah-sekolah. GSMS tahun 2017, ia bersama Joni melatih teater di SDN 153 Pekanbaru. Tahun 2018, melatih di SMAN 1 Sekijang. Dan di tahun 2019 ini, sekolah yang dipilih oleh Dinas adalah SMAN 2 Siak Hulu.

Program ini telah berjalan sejak akhir Agustus, dan berakhir sampai akhir November mendatang, dan hasilnya berupa sebuah reportoar pertunjukan yang akan digelar di aula Dinas Pendidikan provinsi Riau. Sejak itu Marhalim dan Joni telah melatih siswa-siswa yang ditunjuk oleh pihak sekolah. Sekitar 20 siswa yang terlibat dalam pelatihan ini, yang biasanya dilakukan saat pelaksanaan ekstrakurikuler di sekolah.

Kepala Sekolah SMAN 2 Siak Hulu, Ali Iskandar, S.Sos, dalam pertemuan pertama dengan Marhalim dan Joni di kantornya menyatakan, ia menyambut baik kegiatan ini. “Apapun kegiatannya demi kemajuan sekolah kami ini, tentu kami dukung dan akan membantu secara maksimal,” ujarnya. Sementara itu, Zulkaidah, S.Pd, selaku pembimbing siswa, menyatakan siap mendampingi proses siswa berlatih sampai program GSMS ini selesai.***

Dua Seniman, Satu Anggota DPRD Riau Kunjungi Suku Seni

SELAMA bulan Oktober ini, dua seniman luar Riau dan seorang anggota DPR Provinsi Riau berkunjung ke Rumah Kreatif Suku Seni Riau.  Mereka adalah Rusmansyah pemusik dari Jogjakarta dan Sunaryo JW penyair muda dari Sumatera Utara, serta Makmun Solikhin (anggota DRPD Riau).

    Rusmansyah sedang memberikan materi diskusi

Rusmansyah singgah ke Rumah Suku selain dalam rangka silaturahmi juga melakukan kunjungan kreatif, setelah sebelumnya ia melakukan perjalanan ke Aceh dan Medan. Selama lebih kurang sepekan di Rumah Suku, ia banyak berbagi dengan anggota Suku Seni, terutama soal kerja kreatif penciptaan. Menyambut itu, Suku Seni kemudian menggelar sebuah diskusi dari musik ekologis “Meratus” yang diciptakan Rusmansyah. “Ini juga seperti residensi seni di Rumah Suku,” ujarnya.

Sementara itu, suatu malam, Makmun Solikhin, seorang anggota DPRD Riau datang berkunjung ke Rumah Suku. Selain menemui sahabat lamanya Rusmansyah, ia juga hendak melihat langsung keberadaaan sanggar Suku Seni Riau yang dipimpin oleh Marhalim Zaini ini. Ia menyatakan sudah lama mendengar nama Marhalim dan membaca karyanya, baru bertemu langsung dan berdiskusi baru kali ini. Kebetulan ia kini duduk di komisi yang membidangi dunia seni-budaya, maka kunjungan ini bisa menjadi salah satu cara untuk menyerap aspirasi para seniman.
    Makmun Solikhin (berpeci) berada di Rumah Suku

Selang beberapa hari, seorang penyair muda dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara, Sunaryo JW, singgah ke Rumah Suku. Meskipun hanya transit satu malam karena ia akan berangkat ke Jogjakarta, Suku Seni tetap menganggap ini sebuah pertemuan kreatif dan ruang silaturahmi. Suku Seni senang karena Rumah Suku menjadi alternatif bagi kawan-kawan seniman dan pekerja seni yang memerlukan tempat singgah.
Sunaryo JW bersama Kepala Suku Seni

Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni, menyambut baik siapapun yang berkenan singgah di Rumah Suku. Sebab salah satu tujuannya disewa sanggar yang cukup memadai adalah untuk menyediakan alternatif ruang singgah bagi kawan-kawan seniman dari dalam Riau, terutama dari luar Riau. Dengan begitu, kata Marhalim, anggota Suku Seni juga bisa banyak belajar dan menyerap pengalaman dari momentum ini.

Marhalim mengucapkan terima kasih kepada bapak Makmun Solikhin, Rusmansyah dan Sunaryo JW. Terima kasih bagi siapapun yang berkenan datang, bersilaturahmi. Marhalim meminta maaf jika sambutan yang kurang memuaskan dan falisilitas di Rumah Suku yang terbatas.***

Rabu, 23 Oktober 2019

Ngaji Seni #2 bersama Iwan Irawan Permadi


SELASA malam, 22 Oktober 2019, Ngaji Seni #2 Suku Seni mengunjungi kediaman Iwan Irawan Permadi, seorang tokoh seni tari yang memimpin Pusat Latihan Tari Laksemana di Pekanbaru. Setelah sebelumnya pada Ngaji Seni #1 mengunjungi dan belajar bersama Taufik Effendi Aria. Selain bersilaturahmi, Suku Seni mandapat banyak kisah-kisah pengalaman dan pengetahuan dari Iwan selama menekuni dunia kesenian.

Sejak ia datang ke Pekanbaru sekitar tahun 1984, Iwan Irawan sudah bertekad untuk menggerakkan dunia seni tari di Riau. Hal ini dibuktikan dengan membentuk sebuah ruang berproses kesenian yang ia beri nama Pusat Latihan Tari (PLT) Laksemana, yang sampai sekarang masih terus bergerak dan menghasilkan karya-karya tari.  

Iwan bercerita bagaimana proses awal ia berkarya di Pekanbaru dengan penuh tantangan. Namun, berkat kegigihannya, tantangan itu justru membuat ia termotivasi untuk terus berkarya. Tantangan terbesar tentu iklim berkesenian di Riau sendiri saat itu, yang belum kondusif jika dibanding Yogyakarta, tempat ia menempa diri sebelum pindah ke Pekanbaru di Padepokan Bagong.

Penolakan-penolakan masyarakat Pekanbaru terhadap kehadiran karya-karya Iwan saat itu, adalah tantangan yang lain, yang kemudian membuat ia banyak belajar bagaimana memahami kebudayaan Melayu. Ia tidak surut, tapi kemudian justru menggali, menelusuri berbagai khazanah tradisi Melayu untuk kemudian dieksplorasi dalam kerja-kerja kekaryaan. Ia ingat pesan gurunya, Bagong Kusudiardja, “lepaskan semua kebudayaan asalmu, ketika berkarya, membumilah….”

Maka lahirlah karya tari seperti Dramatari Hang Tuah, Silat Perisai, Koba dari Langit, Seri Buantan, Cik Masani, Sirih Besar, Bulian Besar, Kompang Gelek, Puteri Kacamayang, Seligi Tajam Bertimbal, Tuanku Tambusai, Tidur di Bukit Tadah Angin, Kepak-kepak Sayap Puan, dan Air Janggi.

Suku Seni, sebagai komunitas seni yang baru berdiri 2 tahun, menyerap sangat banyak pengalaman Iwan bagaimana mengelola sanggar yang telah bertahan sampai lebih 30 tahun. Mulai soal managemen, keanggotaan, sampai bagaiman bisa survive dalam menghadapi berbagai tantangan. Caranya adalah menjaga intensitas berkarya, dan totalitas, serta terus bergerak secara konsisten. Iwan mencontohkan bagaimana PLT. Laksemana menggagas dan menggerakkan PASTAKOM (Pasar Tari Kontemporer) yang akan kembali digelar 28-30 November 2019 ini.

Iwan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Suku Seni selama ini dengan menggelar berbagai program rutin, seperti diskusi seni dan Malam Seni Masyarakat. Menurutnya hal ini penting untuk membuka ruang-ruang berkesenian yang baru, dan membangun ekosistem berkomunitas di Riau ini.

Iwan berpesan kepada anggota Suku Seni yang baru masuk ke dalam dunia kesenian, jangan gampang menyerah, dan teruslah berlatih, karena dunia kesenian butuh orang-orang yang tidak setengah-setengah. Hal ini terkait pertanyaan yang muncul dari Ukhidaragia, salah seorang anggota termuda Suku Seni (masih duduk di bangku SMA), soal bagaimana caranya meyakinkan orang tua bahwa dunia seni itu adalah pilihan yang tepat untuk diperjuangkan.

Lebih lanjut, Iwan bercerita, bahwa ia dulu pernah diminta masuk sebagai Pegawai Negeri, tapi ia menolak. Ia memilih berkesenian. Dan ia adalah juga orang yang awalnya berseberangan dengan orang tua soal pilihan ini. Namun kemudian ia bertekad untuk membuktikan bahwa pilihannya ini benar. Caranya adalah dengan menunjukkan prestasi, serius dalam menekuni dunia seni, totalitas, dan tidak setengah-setengah. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, yang dulu ia juga pernah memiliki persoalan yang sama saat ia masuk ke jurusan teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta.***


Selasa, 22 Oktober 2019

Ngaji Seni #1 bersama Taufik Effendi Aria

NGAJI Seni adalah program terbaru Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Selain program diskusi seni dan Malam Seni Masyarakat yang telah dan terus berjalan, Ngaji Seni adalah program rutin yang bertujuan untuk memperkuat sumber daya manusia anggota Suku Seni.

Bentuk program ini adalah mendatangi seniman, tokoh seni, atau para penggerak seni di Riau, atau juga luar Riau, untuk belajar dan berdiskusi, menimba ilmu dan pengalaman langsung dari senimannya.  Dengan begitu, anggota Suku Seni yang ikut dalam program ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan pengetahuannya tentang dunia seni, tentang perkembangan kesenian, juga sekaligus mengenalkan lebih dekat tokoh-tokoh seni.

Ngaji Seni #1 dimulai pada Senin malam, 21 Oktober 2019, dengan mengunjungi kediaman salah satu tokoh teater Riau, bapak Taufik Effendi Aria. Dengan sambutan yang hangat, Pak Taufik bercerita tentang pengalamannya dulu berkesenian sejak di Rengat kemudian pindah ke Pekanbaru, bersama tokoh-tokoh seni yang lain, seperti Salimi Yusuf, Idrus Tintin, Bustamam Halimy, dan sejumlah nama lain.

Selain itu, perbincangan berlanjut dengan pandangan-pandangan beliau terhadap teori dan konsep-konsep teater yang ia pahami selama ini. Ia memancing diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan terkait apa perbedaan sandiwara, drama, dan teater. Apa ciri-ciri khasnya. Lalu ia juga menyinggung apa itu teater Bangsawan, dan mengulik bagaimana bentuk-bentuk teater Bangsawan itu dipentaskan di masa kini, dengan versi-versi yang masih harus terus diperdebatkan.

Lebih jauh, penulis naskah drama “Menanti Hari Panen” ini, juga membicarakan soal teater sutradara dan teater aktor. Baginya, keduanya ia sukai. Teater Sutradara kadang diperlukan untuk lebih luas merealisasikan gagasan-gagasan sutradara di atas panggung. Sementara teater aktor juga sangat penting karena dapat memberi tempat lebih luas kepada eksplorasi keaktoran.

Taufik Effendi Aria, lahir di Rengat, Inderagiri Hulu, Riau, 2 Juni 1942. Selain berteater, ia juga dikenal sebagai penyair. Buku puisi tunggalnya adalah Menuju Ruang Kosong, Menjemput Firman (2008). Sebelumnya, menerbitkan kumpulan sajak Arus (1975) bersama Wunulde Syaffinal. Puisi-puisinya juga dimuat di sejumlah media seperti Minggu Pagi (Yogyakarta), Haluan (Padang), dan Riau Pos. Selain menulis puisi, kiprah di dunia teater Taufik nampak dalam sejumlah naskah drama yang ia tulis, seperti Menanti Hari Panen. Selain teater, dunia sinetron pun pernah ia masuki, di antaranya terlibat dalam sinetron Sirus (2000) dan Boejang Talma (2001).

Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni menyebut program ini penting agar generasi-generasi hari ini mengetahui siapa tokoh-tokoh seni di Riau ini. Selain itu dapat memotivasi mereka untuk terus giat berkarya, terus menggali potensi diri mereka dalam dunia seni. Setelah ini, kami akan berkunjung ke seniman-seniman lain. “Bertemu langsung dengan seniman, pelaku seni terdahulu, tentu akan memberi efek yang berbeda,” ujar Marhalim.

Sebagai informasi, meskipun program Ngaji Seni ini difokuskan untuk penguatan SDM anggota Suku Seni, namun tidak menutup pintu bagi kawan-kawan di luar Suku Seni yang hendak turut serta. Informasi berikutnya, soal waktu dan tokoh siapa yang akan dikunjungi, dapat menghubungi manager program Suku Seni, Ajik Bahar (082284808444).***

Jumat, 18 Oktober 2019

Ayo, Ikuti Festival Sastra Sungai Jantan 2019



DINAS Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Siak Sri Indrapura tahun ini menggelar Festival Sastra Sungai Jantan. Kegiatan ini terdiri dari lomba penulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Pendaftaran dibuka sejak tanggal 10 Oktober dan ditutup tanggal 10 November 2019. Total hadiah yang disediakan adalah 21 juta. Semua ketentuan lomba dapat dilihat pada poster (terlampir).

Zulkarnain Al Idrus, selaku panitia pelaksana dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyebut, bahwa kegiatan ini direncanakan akan digelar setiap tahun. Tahun ini adalah awal, dan akan dilanjutkan tahun 2020, dengan kegiatan yang lebih luas lagi. Menurut dia, nama kegiatan “Festival Sastra Sungai Jantan” ini adalah hasil diskusi dan usul dari kanda Marhalim Zaini, sastrawan Riau.

“Kegiatan ini dibuat untuk memotivasi para penulis di Riau, terutama di Siak, untuk terus melahirkan karya. Tahun depan kita berupaya Festival Sastra Sungai Jantan ini akan menjadi iven sastra nasional, dan Siak menjadi tuan rumahnya,” ujar Wak Zul, panggilan akrabnya.

Sementara itu, Kepala Suku Seni, yang ditunjuk sebagai salah satu dewan juri dan sekaligus konsultan kegiatan ini menyatakan sangat senang karena Siak telah menyambut baik gagasan-gagasannya, dan mulai bergerak dengan agenda-agenda sastranya. Marhalim menyebut, ini agenda awal, dan akan terus dipersiapkan untuk tahun 2020, menjadi iven sastra nasional. Tema "Sungai Jantan" sengaja diangkat untuk memberi perhatian dan kepedulian terhadap sungai Siak yang sangat penting perannya dalam sejarah dan peradaban dunia Melayu.

“Saya akan terus berupaya untuk support kegiatan sastra di Siak, dan berupaya menjadikan Siak sebagai salah satu titik pergerakan sastra di Riau, dan di Indonesia,” tambah Marhalim, yang tahun lalu juga ditunjuk menjadi narasumber kegiatan workshop sastra di Siak.

Festival Sastra Sungai Jantan ini, bukan kegiatan pertama yang digelar oleh pemerintah daerah Siak, karena tahun-tahun sebelumnya cukup banyak agenda sastra. Di antaranya penerbitan buku puisi antologi bersama para penulis Siak, berjudul “Kau Tiup Aku Hembus,” dan workshop sastra bersama Marhalim Zaini. 

Menurut Marhalim, Wak Zul adalah bagian penting dari pergerakan sastra di Siak, karena atas inisiatif dan semangatnya, ia telah membangun atmosfer penulisan sastra di kabupaten Siak hari ini.***