Rabu, 19 Juni 2019

Grup Kompang Suku Seni, Latihan Tiap Jumat Sore


KOMPANG, adalah salah satu alat musik tradisional yang diterima Suku Seni dari bantuan pemerintah melalui program Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat (FKBM) 2019. Sebanyak 10 unit Kompang ini siap dimainkan oleh anggota Suku Seni dan juga masyarakat luas.

Suku Seni akan membentuk sebuah grup kompang, yang disiapkan untuk mendukung acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan dan prosesi-prosesi adat-tradisi Melayu di Riau. Grup ini akan melakukan latihan setiap Jumat, pukul 16.00-18.00 di Rumah Suku, Jl. Amal Ikhlas no. 11, Air Dingin. Selain anggota tetap dan anggota tidak tetap, masyarakat yang berminat meramaikan juga dapat turut serta dalam latihan ini. Latihan akan dipimpin oleh korodinator musik Suku Seni, Pauzul Azmi alias Ace.

Marhalim Zaini, kepala Suku menyebut, program ini adalah bagian dari program “Jasa Seni” berupa tersedianya grup kompang yang bisa siap pakai kapan saja, selain itu kompangnya juga bisa disewakan. “Tentu tidak semata itu, tapi juga bagaimana seni musik tradisi ini juga terus dikembangkan, direvitalisasi, disosialisasikan terus melalui berbagai aktivitas seni khususnya di Riau,“ imbuh Marhalim.***

Halal bi Halal dan Rapat Persiapan Program


Setelah libur puasa dan lebaran, pertemuan pada hari Selasa (18 Februari 2019) ini adalah pertemuan pertama anggota tetap Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Selain untuk bermaaf-maafan atau halal bi halal, momen ini juga digunakan untuk membincangkan sejumlah persiapan program Suku Seni.

Program yang terdekat adalah pertunjukan teater-puisi “Agama Sungai” karya/sutradara Marhalim Zaini yang rencana akan digelar di akhir Juli 2019. Selain itu Suku Seni akan membentuk sebuah grup Kompang, dengan jadwal latihan setiap Jumat sore, di Rumah Suku. Program lain yang perlu dipersiapkan adalah program bulanan Suku Seni seperti Diskusi Seni dan Malam Seni Masyarakat yang akan digelar pada bulan Juli, serta program penguatan SDM internal Suku Seni bernama “Laboratorium Seni.”

Dalam rapat juga dibincangkan soal Halal bi halal dan silaturahmi Anggota Tidak Tetap Suku Seni dengan Anggota Tetap, dan mereka yang sempat terlibat dalam produksi karya di Suku Seni. “Agenda ini bertujuan agar keluarga besar Suku Seni tetap solid dan terus menjalin silaturahim, tesera agar selalu dekat secara emosional dan dapat mendukung berbagai program di Suku,” ujar Marhalim, Kepala Suku.***

Senin, 17 Juni 2019

Sewa Rumah Suku dari Hasil Tiket “Dilanggar Todak” (Catatan Sejarah 3)


Pertunjukan teater-puisi “Dilanggar Todak” rupanya membawa berkah bagi Suku Seni. Selama tiga malam berturut-turut (22-24 Februari 2018) pertunjukan ini ditonton oleh lebih dari 1300 penonton. Tiket senilai 25.000 (Pelajar/Mahasiswa), 35.000 (Umum), 150.000 (VIP), terjual sebelum hari pertunjukan.

Pasca pertunjukan, setelah dihitung-hitung ada sekitar 15 jutaan uang hasil produksi tersisa. Dalam rapat anggota lalu diputuskan uang ini untuk melanjutkan pergerakan Suku Seni ke depan. Sebagian dipakai untuk syukuran, makan-makan di Pulau Cinta. Sebagian besar, sepakat digunakan untuk Hal yang paling krusial adalah sanggar, tempat berkumpul dan berkreativitas.

Maka segeralah tim bergerak mencari rumah kontrakan yang memiliki halaman luas, dan strategis untuk dijadikan sanggar. Tim yang saat itu giat mencari antara lain Joni Hendri, Rahmad, Ajik, Anju Zasdar.
 
Setelah beberapa hari mencari di sejumlah lokasi, ditemukanlah sebuah rumah di sekitar Air Dingin. Sebuah rumah yang tampaknya telah lama tidak dihuni, karena bersemak, dan tidak terawat. Tapi halaman cukup luas, dan cukup dengan kampus UIR, tidak pula jauh dari jalan utama. Ini pilihan tepat. Maka setelah ditelusuri pemiliknya, kami pun memutuskan untuk menyewa rumah ini. Terletak di Jl. Amal Ikhlas, no 11, Air Dingin, Bukitraya, Pekanbaru.***

Kamis, 13 Juni 2019

Anggota Suku Seni Lolos Seleksi Workshop Teater Butoh Jepang


Adek Feisal Usman, salah satu anggota Rumah Kreatif Suku Seni Riau dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti workhsop teater Butoh di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Program yang bertajuk Padangpanjang Butoh Camp #1 ini diselenggarakan oleh Indonesia Performance Syndicate bekerjasama dengan sejumlah lembaga, akan berlangsung pada 17 – 21 Juni 2019.

Selain workshop dengan materi pengenalan metode teater Butoh, kegiatan kerjasama Indonesia-Jepang ini juga akan menyelenggarakan pertunjukan kolaborasi pada 25 dan 26 Juni, di dua lokasi, yakni di Teater Arena ISI Padangpanjang dan di Komunitas Seni Budaya KIEK Sungai Landia kab. Agam.

Bersama 20 peserta lain, Adek Feisal akan mengikuti workshop dengan narasumber langsung dari Diretcor Sinonome Butoh Jepang, Yuko Kawamoto. Adek menyebut, ia merasa sangat senang bisa lolos seleksi ini. Karena menurutnya, ini kesempatan berharga bisa langsung belajar tentang teater tubuh dari Jepang. “Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Suku Seni, terutama Kepala Suku, yang telah menunjuk saya mewakili Suku untuk mendaftar dalam program workshop ini,” tambah Adek.


Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni, menyambut baik kabar ini. Suku Seni akan terus berupaya mengirim anggota Suku Seni untuk ikut serta dalam berbagai pelatihan, agar SDM Suku makin baik. Sehingga ke depan Suku makin kuat dalam berkarya. “Semoga Adek bisa mengikuti workshop Butoh ini dengan serius, dan nanti bisa menularkan ilmunya kepada anggota Suku Seni yang lain,” tutup Marhalim.***

Selasa, 04 Juni 2019

Selamat Hari Raya, Mohon Maaf Lahir Batin.


Gelombang kuat airnya berarus
Sampan hanyut ke sungai jantan
Sebulan menahan lapar dan haus
Tibalah saatnya merayakan lebaran

Pergi ke sungai memancing ikan patin
Patin dipancing yang dapat ikan pari
Suku Seni mengucapkan maaf lahir batin
Semoga berbahagia di hari yang fitri

Kepada seluruh keluarga, sanak saudara, handai taulan, di kampung dan di kota, masyarakat muslim di seluruh dunia, kami keluarga besar Rumah Kreatif Suku Seni Riau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan maaf lahir dan batin, minal aidin wal faizin. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan diterima oleh Allah, SWT dan menjadi orang-orang yang berhasil menggapai kemenangan, menggapai takwa. Amin.

*pantun Joni Hendri

Minggu, 02 Juni 2019

Alat Musik Tradisi, Bantuan Pemerintah untuk Suku Seni


Setelah Rumah Kreatif Suku Seni Riau dinyatakan lolos sebagai penerima Bantuan Pemerintah, sejumlah alat musik tradisi kini telah mulai dimiliki oleh Suku Seni. Program Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat (FKBM) 2019 oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini memberikan bantuan kepada lebih dari 300-an Komunitas Budaya di seluruh Indonesia.

Untuk tahap awal, Suku Seni telah membelanjakan bantuan pemerintah ini untuk pembelian alat-alat musik tradisional Melayu sesuai rancangan anggaran belanja, seperti Kompang, Marwas, Gendang Panjang, Bebano. Menyusul sejumlah alat musik lain seperti Gambus, Akordion, Gitar, Keybord, dan Biola.  Selain alat musik, bantuan ini juga akan dibelanjakan untuk pembuatan kostum tari tradisional dan kostum teater Bangsawan serta sound system.

Menurut Kepala Suku, Marhalim Zaini, alat musik dan kostum ini nanti akan digunakan oleh anggota Suku Seni dalam berkarya dan workshop seni. Sarana ini menjadi penting untuk memotivasi lahirnya karya-karya seni baru di Suku. Selain itu, peralatan ini juga nanti akan disewakan bagi siapa saja pekerja seni yang membutuhkan.***

Lebaran & Cermin


Oleh: Marhalim Zaini

Saya menatap diri saya 
tengah menatap diri saya sendiri...” (Jacques Lacan).

KETIKA Lacan bilang begitu, yang terbayang adalah cermin. Ada dua sosok yang saling bersitatap, di depan cermin. Kita mengira, sosok yang satu (di luar cermin) adalah ril, dan yang lain (di dalam cermin) tidak nyata. Tapi siapa menduga, bahwa keduanya boleh jadi adalah (perumpamaan) diri kita yang terbelah, diri yang ambigu.

Dan ketika “dua diri” itu saling menatap, kita kerap merasa asing. Kerap kita harus mengenal kembali lekuk wajah dan tubuh. Terus begitu. Dan hasilnya, senantiasa tak juga kita betul-betul “mengenal” diri kita itu, secara penuh, total. Sebab rupanya, tiap saat, waktu bergerak dan tumbuh dalam diri kita, sebagai kejadian-kejadian baru.

Maka begitu Lebaran datang, misalnya, dan puasa beringsut pergi, kita seolah diminta untuk memeriksa kembali diri kita. Menelisik apakah kerut kulit wajah kita sudah mudah berubah. Memeriksa kulit wajah, adalah juga memeriksa sesuatu yang lampau, sesuatu yang berangkat menuju lampau, dan sesuatu yang kini terjadi. Lalu, masa depan menjadi seperti sesuatu yang jauh, tak tergapai.

Tapi manusia, selalu membangun harapan-harapan, dalam pikiran dan perasaannya. Meskipun, sesekali menyelinap rasa ragu, gamang (tentang masa depan). “Di belakang pikiran-pikiran dan perasan-perasaan Anda, Saudaraku,” kata Nietzshe dalam Thus Spoke Zarathustra (1883), “berdiri seorang jenderal yang gagah perkasa, seorang bijak yang tak dikenal—ia dipanggil Diri. Ia hidup dalam tubuhmu, ia adalah tubuhmu.”

Agaknya, “Diri” di situ—dalam frasa “ia adalah tubuhmu”—adalah penghapusan atas dikotomi-dikotomi, antara tubuh fisik dan jiwa, antara tubuh biologis dan tubuh sosial, antara yang superior dan inferior—dikotomi yang memang telah sejak lama jadi perdebatan panjang dalam sejarah pemikiran filsafat.

Tapi, kalimat “seorang bijak yang tak dikenal” di situ, apa maknanya? Lalu, “seorang jenderal yang gagah perkasa” apa pula maknanya? Dua kalimat ini, boleh jadi, adalah yang ambigu itu. Ia bijak, tapi tak kita kenali. Ia seorang jenderal yang gagah perkasa, tapi kita tidak mengenal wajahnya, selain tubuh yang kita bayangkan sebagai “perkasa.”

Dan, itulah “diri.” Antara yang lemah, dan egois. Antara yang bijak dan pikiran-pikiran picik kita. Diri, yang tak sepenuhnya kita pahami kehendaknya. Yang sebagai “tubuh biologis” ia komsumtif. Sebagai “tubuh sosial” pun ia kompleks. Tubuh biologis itu rupanya tak dapat selesai begitu saja, misalnya dengan memberinya pakaian sobek-sobek, mandi dengan sabun deterjen, pakai sandal terbalik, dan makan nasi dalam ember pecah. Sebab, ia akan berimbas pada “tubuh sosial”-nya.

Dan, itulah “diri” kita. Diri si “aku” yang tak gampang patuh, dan rumit. Selain ia memang rumit, kita sesungguhnya tak pernah secara sadar berniat mendikotominya, meletakkan yang satu berbeda dengan yang lain. Kita cenderung membiarkannya begitu, terbelah dan ambigu. Sebab kita diam-diam memang merasa nyaman juga, hidup dalam ketidakpastian, hidup dalam diri yang kadang sakit, kadang perkasa.

Apalagi, ketika diri kita yang hidup dalam masyarakat pos-industri ini, memang ditengarai telah mengidap skizofrenia: individu yang terpecah. Begitu ia terpecah, bahkan lebih dari satu, diri menjadi samar—yang dalam definisi Laing (1969), menyebut: “ia melihat dirinya sebagai aku dan bukan aku secara bersamaan.”

Selamat berhari raya, selamat bercermin.....***