Jumat, 29 November 2019

Kepala Suku Seni Menjadi Narasumber Dialog 4 Negara



Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Riau mengundang Marhalim Zaini (Kepala Suku Seni Riau) untuk menjadi narasumber dalam diskusi yang diberi tajuk “Focus Group Discussion Four Country.” Acara yang akan digelar pada Sabtu, 30 November 2019 ini mengangkat tema diskusi “Mengenal Kearifan Budaya 4 Negara.” Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Komunikasi UIR.

Selain Marhalim yang diundang mewakili Riau (Indonesia), tiga narasumber lain berasal dari tiga negara, yakni Fais Niaka (Patani, Thailand), Nabaggala Aisha (Uganda), Ummi Binti Ishak (Kamboja). Tiap Negara, diminta berbicara tentang kearifan budaya masing-masing, dengan penguatan bagaimana keragaman budaya justru dapat memberi warna bagi kehidupan manusia, kehidupan bernegara, dan berbangsa.  

Menurut Marhalim, diskusi kecil semacam ini penting dalam mencermati gejala-gejala dinamika sosial yang bergerak cepat dengan batas-batas ruang yang sangat terbuka hari ini. Apalagi, empat Negara ini menarik dibincangkan, tiga Asia satu Afrika, terutama soal keberagaman dalam bingkai multikulturalisme. “Saya senang bisa berkontribusi dalam diskusi ini, tentu karena saya akan banyak menyerap banyak pengetahuan dari sini,” ujar Marhalim.***

Kamis, 28 November 2019

Ke Ambon, Suku Seni Dampingi Tim Riau dalam Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional


Rumah Kreatif Suku Seni Riau ditunjuk oleh Kementerian Agama Kanwil Provinsi Riau dan Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia Riau (LASQI) untuk turut mendampingi dan membina tim Duta Qasidah yang akan mewakili provinsi Riau untuk mengikuti Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional di Ambon, Maluku, pada 25-30 November 2019 ini. Suku Seni mengutus Rahmadi ke Ambon, sebagai pendamping.

Dibuka oleh Wakil Menteri Agama, KH. Zainut Tauhid, Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional XXIV ini berlangsung di halaman Tahapary, Ambon. Diikuti oleh ratusan peserta dari 34 Provinsi, provinsi Riau mengutus para penyanyi Qasidah terbaiknya, antara lain Muhammad Al Farisi (Rokan Hulu), Sepreza Ummizri (Pelalawan), dan Aria Putra Utama (Pekanbaru). Sampai berita ini dikabarkan, dua utusan Riau telah masuk final, yakni Muhammad Al Farisi dan Aria Putra Utama.

Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, S.Sn., M.A, mengatakan menyambut baik kerjasama ini. Suku Seni selama ini memang berupaya untuk berkreasi dan membuka ruang seluas-luasnya untuk semua genre seni, dan bekerjasama dengan banyak pihak. Salah satu program yang pernah digelar adalah Tadarus Puisi dan Pesantren Seni di bulan Ramadan. “Terima kasih kepada LASQI Riau dan Kementerian Agama kanwil Riau yang telah memberi kepercayaan ini,” ujar Marhalim.***

Minggu, 24 November 2019

Pentas 28 November, Teater SMANDASH Berlatih di Rumah Suku


Sabtu, 23 November 2019, siswa-siswi anggota Sanggar Teater SMANDASH (SMA Negeri 2 Siak Hulu) berlatih teater di Rumah Suku (begitu sebutan untuk sanggar Suku Seni). Latihan ini dalam rangka persiapan pertunjukan “Air Mata Sungai” pada 28 November 2019 mendatang di Aula Dinas Pendidikan provinsi Riau, dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Sebelum itu, mereka akan tampil di sekolah dalam rangka Hari Guru Nasional 2019.

Marhalim Zaini sebagai seniman dan Joni Hendri sebagai asisten seniman yang ditunjuk oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan provinsi Riau, telah melatih siswa-siswi SMA Negeri 2 Siak Hulu selama lebih kurang 3 bulan ini. Naskah “Air Mata Sungai” karya Marhalim Zaini, adalah sebuah kisah tentang keperihatinan terhadap krisis lingkungan, khususnya pencemaran sungai.

Marhalim menyebut, latihan biasanya memang dilakukan di sekolah SMA N 2 Siak Hulu, di jalan Kubangraya nomor 62 Siak Hulu, Kampar. Tapi untuk lebih mengintensifkan proses latihan dan agar lebih konsentrasi, maka kali ini latihan dilakukan di Rumah Suku. 

Siswa-siswi yang tergabung dalam sanggar SMANDASH ini adalah mereka yang mendaftar, dan terseleksi, untuk mengikuti program GSMS ini. “Meskipun mereka baru awal mengenal teater, tapi mereka memiliki potensi, dan minat yang tinggi…,” ujar Marhalim.

Rumah Suku, sejak berdiri 2017 lalu, telah menjadi tempat alternatif bagi sejumlah komunitas seni untuk berlatih. Meskipun sederhana, dengan fasilitas yang seadanya, namun ruang ini tetap memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, diskusi, dan proses kreatif kekaryaan.***


Suku Seni akan Pentaskan “Megat” dalam Festival Teater Bangsawan di Siak



Rumah Kreatif Suku Seni Riau tengah berlatih mempersiapkan pertunjukan teater Bangsawan berjudul “Megat” yang diangkat dari novel Rida K Liamsi, adaptasi dan sutradara oleh Marhalim Zaini. Suku Seni diundang oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak untuk tampil dalam Festival Teater Bangsawan yang akan diselenggarakan pada 7 Desember 2019, di Gedung Maharatu.


Marhalim, selaku Kepala Suku Seni dan sutradara mengatakan, Suku Seni akan menampilkan pertunjukan sesuai dengan tema festival yakni dengan gaya Bangsawan, meskipun tidak murni sebagai Bangsawan konvensional. Bangsawan akan tetap dijadikan pijakan utama pertunjukan, dengan sentuhan-sentuhan dramaturgi yang eksploratif. “Permainan simbolisasi, dimungkinkan untuk menyuguhkan tawaran lain dalam pengembangan teater Bangsawan,” ujar Marhalim.

Para pendukung yang terlibat dalam pertunjukan ini semua dari anggota Suku Seni, yakni Joni Hendri, Adek FeisaL Usman, Ajik Bahar, Ace Pauzul Azmi, Denisa Indriani, Ukhidaragia, Misratul Jannah, Cici Sri Rahayu, Novita Suhendriani, Faisal Amin, dan Eko Raghil. Mereka akan memerankan tokoh-tokoh di antaranya Megat, Sultan Mahmud, Bendahara, Sri Bija Wangsa, Wan Anom, Hulubalang Rejab.

Marhalim menambahkan, cerita ini diangkat dari novel Rida K Liamsi dengan judul sama, yang terbit pada tahun 2016 (penerbit Sagang Intermedia). Marhalim selaku editor novel tersebut merasa sangat tertarik sejak awal membacanya. Perbancuhan antara sejarah sebagai ruang masa lalu, dan peristiwa kekinian dipadukan dan dikait-kelindankan dalam perdebatan-perdebatan yang memikat. Namun, kata Marhalim, karena durasi yang tersedia terbatas, maka untuk kali ini akan dipentaskan kisah masa lalu tentang kematian Sultan Mahmud.

Marhalim mengaku, ia akan mengangkat Wan Anom, sebagai sosok perempuan Melayu yang “dikorbankan” (yang dibunuh gara-gara seulas nangka). Meskipun porsinya belum banyak dalam pertunjukan ini, akan tetapi dialog-dialog “perlawanan” akan memberi jalan keberpihakan Marhalim dalam mengulik soal-soal gender.***


Minggu, 03 November 2019

Tiga Buku Lagi, Terbit melalui Suku Seni


SEJAK program Workshop Menulis Buku yang diselenggarakan oleh Rumah Kreatif Suku Seni Riau di lima daerah di Riau (Siak, Bengkalis, Mandau, Kuansing, Rengat) pada awal tahun 2019, buku-buku terus lahir dari tangan para guru. Sampai hari ini telah belasan karya lahir yang diterbitkan melalui Suku Seni.

Kini, ada tiga lagi buku yang baru terbit, yakni “Cerucuk Bakau” karya Juanda, M.T, “Hikmah Silaturahmi” karya Dra. Hj. Syarifah, M.A, dan “Mak Tipah di Ujung Senja” (kumpulan cerita) karya Meirian Dahlianti, S.Pd. Menyusul sedang proses edting sejumlah buku yang diangkat dari tesis dan karya sastra seperti puisi dan cerpen.

Suku Seni, sebagai komunitas yang juga konsen terhadap dunia literasi, terus berupaya membantu para penulis terutama di Riau untuk menerbitkan buku. Karena Suku Seni adalah lembaga nir-laba, maka Suku Seni hanya memfasiliti proses penerbitan dari awal sampai buku dipastikan sampai di tangan penulisnya, sedang biaya sepenuhnya ditanggung oleh penulisnya.

Bagi yang berminat sila datang langsung ke Rumah Suku di Jalan Amal Ikhlas nomor 11, atau kontak ke Ajik Bahar (Manager Program) 0822848084444 atau langsung ke editor Marhalim Zaini (081371660659).



DAFTAR BUKU YANG TELAH TERBIT:
1.  “Kuitip Cintaku di Arafah” kaya Yusi Adrianti 
2. “Siswa Terampil Berbicara” kumpulan artikel karya Desfianti
3. “Kepada Kabut Pagi” buku puisi karya Lisda Ika Wahyuni Ningsih 
4. "Hikayat Negeri Api” buku puisi karya Fitri Yanti 
5. “Tapak Tak Berjejak” buku puisi Raja Mariani 
6. “Pendidikan Karakter, Lierasi & Kreativitas” buku esai Marlina 
7. “Terubuk Menangis” buku puisi Dessy Satria 
8. “Buhul yang Terlepas” buku puisi Suhernawati
9. “Cahaya Kecil dalam Pusaran Ingatan” karya Pispian Rahman 
10. “Api dalam Sekam” novel karya Zurliati
11. “Menyibak Kertas Putih” (kumpulan puisi) karya Irirayana Ningsih
12. “Cahaya di Atas Cahaya” (kumpulan puisi) karya Fetti Anggriani
13. “Memeluk Bayangan” (kumpulan puisi) karya Aswinek
14. “Cahaya Cakrawala” (Kumpulan puisi) karya Fifi Emilda.
15. “Cerucuk Bakau” (karya ilmiah) karya Juanda.
16. “Hikmah Silaturahmi” karya Dra. Hj. Syarifah, M.A
17. “Mak Tipah di Ujung Senja” (kumpulan cerita) karya Meirian Dahlianti

Selasa, 29 Oktober 2019

Ngaji Seni #3 bersama Datuk Seri Al azhar


SENIN, 28 Oktober 2019. Hujan lebat telah mengguyur Pekanbaru sejak petang. Bahkan sampai malam, ketika kami akan berangkat ke Balai Adat (Lembaga Adat Melayu Riau) di jalan Diponegoro, hujan masih cukup lebat. Tapi kami tak surut, karena program Ngaji Seni ini penting bagi kami. Penting untuk menyerap energi kreatif dari para tokoh seni di Riau ini.

Kami sampai di Balai Adat, ketika bapak Al azhar sedang sibuk mengerjakan sesuatu di depan laptopnya. Ia menyambut kami dengan hangat. Menyuguhkan kopi panas dan makanan ringan. Beberapa dari kami mengaku belum makan malam dan langsung menyerbunya. Tak lama, Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni memberi pengantar tentang pertemuan ini; yang intinya silaturahmi dan belajar dan belajar. Anggota Suku Seni lalu sibuk mengeluarkan buku catatan mereka.

Bapak Al azhar langsung menyambutnya dengan mulai berkisah tentang proses awal ia berkenalan dengan seni sejak di bangku sekolah menengah. Bagaimana pertemuan pertamanya dengan Idrus Tintin, adalah juga pertemuan yang membuka jalan panjang proses berkesenian yang ia lalui sampai sekarang, yang sejak itu pula ia tidak pernah “berpisah” dengan Idrus Tintin.

Dan sejak itu, ia masuk dalam kehidupan seni di Riau. Proses berkesenian selalu tidak dapat dipisahkan dengan proses menjalani kehidupan, begitulah ia menjelaskan. Bagaimana ia dulu sempat ngamen puisi, hidup bohemian, pentas di berbagai tempat dengan seadanya dan fasilitas yang minim. Tapi berteater, berkesenian, tidak semata soal ketersediaan, akan tetapi soal kemauan dan kecintaan.

Pengalaman semacam ini, bagi kami, amat penting untuk dapat menakar bagaimana kini kami, Suku Seni, harus memposisikan diri dalam proses berkesenian yang makin kompleks dan tentu makin banyak tantangannya. Tentu ini bukan semata romantisme, karena bagi kami, sejarah hidup seseorang adalah pelajaran yang penting yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolahan/kuliahan.

Dinamika berkesenian sejak tahun 1970-an sampai kini, diceritakannya sebagai  gambaran bagi kami bahwa dunia seni Riau itu terus bergerak dialektis. Tidak hanya cerita tentang kegigihan dan totalitas dalam berkarya tetapi juga soal pergesekan paham terutama dalam konteks estetis. Soal pilihan-pilihan dalam berteater, antara yang “klasik” dan yang “kontemporer”, antara yang setia pada naskah dan yang memilih bermain pada gagasan-gagasan visual.

Banyak yang kami dapat, sedikit yang baru bisa kami tuliskan di sini. Masing-masing dari kami mencatatnya dalam buku dan ingatan kami, sebagai pemantik untuk terus bertahan dan bergerak dalam dunia seni. Satu pertanyaan penutup dari Ajik Bahar, “apa yang membuat kita bisa bertahan di dunia seni ini, Pak?” Sambil sejenak berpikir, bapak Al azhar menjawab lugas, “Cinta. Cintalah yang membuat kita mampu bertahan di dunia seni ini.”

Ngaji Seni 3# telah usai, tapi belum tuntas, karena dalam waktu 2 jam pertemuan terasa sangat singkat untuk sebuah rentang panjang perjalanan. Terima kasih karena bapak Al azhar pun berkenan, ketika kami mengajukan diri untuk kembali datang, berkunjung, di lain waktu nanti, untuk lanjut ngaji seni, dalam tema yang spesifik. “Boleh di mana pun, tidak mesti di sini. Di Suku Seni juga boleh. Bahkan di bawah pohon juga oke,” tutupnya.***


Sabtu, 26 Oktober 2019

Marhalim dan Joni Latih Teater SMA N 2 Siak Hulu dalam Program GSMS 2019


GERAKAN Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Riau kembali hadir tahun ini. Marhalim Zaini, S,Sn., M.A, Kepala Suku Seni, ditunjuk sebagai salah seorang seniman Riau yang melatih seni teater di SMA N 2 Siak Hulu. Dan Joni Hendri, Amd.Sn, anggota Suku Seni, ditunjuk sebagai asisten seniman.

Bagi Marhalim, ini kali ketiga ia ditunjuk untuk melatih dan membina seni teater di sekolah-sekolah. GSMS tahun 2017, ia bersama Joni melatih teater di SDN 153 Pekanbaru. Tahun 2018, melatih di SMAN 1 Sekijang. Dan di tahun 2019 ini, sekolah yang dipilih oleh Dinas adalah SMAN 2 Siak Hulu.

Program ini telah berjalan sejak akhir Agustus, dan berakhir sampai akhir November mendatang, dan hasilnya berupa sebuah reportoar pertunjukan yang akan digelar di aula Dinas Pendidikan provinsi Riau. Sejak itu Marhalim dan Joni telah melatih siswa-siswa yang ditunjuk oleh pihak sekolah. Sekitar 20 siswa yang terlibat dalam pelatihan ini, yang biasanya dilakukan saat pelaksanaan ekstrakurikuler di sekolah.

Kepala Sekolah SMAN 2 Siak Hulu, Ali Iskandar, S.Sos, dalam pertemuan pertama dengan Marhalim dan Joni di kantornya menyatakan, ia menyambut baik kegiatan ini. “Apapun kegiatannya demi kemajuan sekolah kami ini, tentu kami dukung dan akan membantu secara maksimal,” ujarnya. Sementara itu, Zulkaidah, S.Pd, selaku pembimbing siswa, menyatakan siap mendampingi proses siswa berlatih sampai program GSMS ini selesai.***