Minggu, 17 Februari 2019

Diskusi Sastra #12: Mempertanyakan Orisinalitas Karya M. Aan Mansyur dalam Kumpulan Cerpen Kukila

Diskusi Sastra #12: Mempertanyakan Orisinalitas Karya M. Aan Mansyur dalam Kumpulan Cerpen Kukila

Diskusi Sastra #12: Mempertanyakan Orisinalitas Karya M. Aan Mansyur dalam Kumpulan Cerpen Kukila
Minggu, 17 Februari 2019



Rumah Kreatif Suku Seni Riau mengadakan Diskusi Sastra #12  Sabtu, 16 Februari 2019. Diskusi dilaksanakan di Sanggar Suku Seni, Jalan Amal Ikhlas No.11 Air Dingin, Bukit Raya , Pekanbaru. Turut hadir ketua Rumah Kreatif Suku Seni Riau, Marhalim Zaini dalam kegiatan diskusi bersama anggota suku seni. Diskusi sastra adalah kegiatan diskusi mingguan yang rutin dilakukan dalam rangka mewadahi dan menumbuhkan iklim diskusi sastra baik bagi anggota suku maupun siapa saja yang ingin bergabung. Adapun diskusi pekan ini membahas tentang buku kumpulan cerpen M. Aan Mansyur yang berjudul “Kukila.” Bertindak sebagai pemantik diskusi ialah Redyantino Susilo. Diskusi dimulai sejak pukul 16.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 18.15 WIB.

Dalam apresiasinya, Redy selaku pembicara dan pemantik diskusi menyampaikan beberapa hal, di antaranya:
1.        Cerpen Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) yang kemudian nama Kukila dipilih pula sebagai judul buku, ialah bacaan relatif berat bagi Redy. Gaya bahasa puitis ala penyair tak sekali dua membuat si pemantik diskusi berulang-ulang membaca baru paham apa yang dimaksud.
2.        Banyak hal dirasa absurd dan kurang dapat diterima bagi Redy. Seperti pada cerpen Aku Selalu Bangun Lebih Pagi baik perhatian yang diberikan pelanggan maupun pemilik toko adalah hal yang absurd. Hal absurd lain banyak pula ditemukan pada cerpen lain. sebutlah cerpen Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi , Hujan. Deras Sekali, dan cerpen-cerpen lainnya.
3.        Poin inti dari cerpen-cerpen dalam buku ini adalah rahasia yang disimpan oleh masing-masing tokoh. Sekaligus menjadi kekuatan pada cerpen-cerpen dalam buku ini. Uniknya, ketika rahasia amat lekat dengan genre cerita misteri atau detektif, Aan Mansyur malah menggiringnya ke arah romansa percintaan. Aan Mansyur memilih mengeliminasi kenestapaan yang sebenarnya ialah senjata kuat meraih empati pembaca cerita romansa percintaan.
4.        Hampir semua cerpen dalam buku "Kukila" memiliki tokoh utama seorang lelaki dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Penulis mesti siap dengan resiko jenuh yang bakal dirasakan pembaca bila dinilai narasi dan karakter tak signifikan. Belum lagi kehadiran tokoh Kukila pada beberapa cerpen membuat cerita yang dihadirkan mempunyai irisan semesta pembicaraan yang sama. Redy sampai pada kesimpulan kemungkinan besar cerpen-cerpen tersebut berasal dari pengalaman pribadi penulis.



Ada dua hal yang kemudian cukup hangat dibahas dalam diskusi. Pertama adalah ketika Baharsya Setiaji mempertanyakan orisinalitas dari karya M. Aan Mansyur. Cerpen berjudul Perahu Kertas dengan Huruf-huruf Kanji  dinilai satu jalan pemikiran dengan kisah legenda Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan. Roro Jongrang menolak secara halus pinangan Bandung Bondowoso dengan memintanya melakukan hal mustahil, membangun seribu candi. Akiko, tokoh wanita dalam cerpen ini tak berminat mengabulkan permintaan menjadi kekasih dari seorang laki-laki dengan memintanya membuat seribu perahu kertas sebagai syarat. Kedua laki-laki ini digagalkan dengan tipu muslihat wanitanya masing-masing. Kita tahu bagaimana kelanjutan dongeng asal mula Candi Prambanan. Sedang tokoh Akiko, menipu laki-laki dengan menghilangkan satu dari seribu kertas. Menurut peserta diskusi tersebut, jika benar ini mengambil ilham dari cerita Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang yang mengalami proses ATM - amati, tiru, dan modifikasi –tentu orisinalitas serta kemampuan M. Aan Mansyur untuk menjadi cerpenis patut dipertanyakan. Terjadi perbedaan pandangan ketika Marhalim Zaini, ketua Rumah Kreatif Suku Seni Riau, yang tak begitu mempermasalahkan hal ini. Eka Kurniawan, misal, dalam buku Manusia Harimau adalah cerita yang memanfaatkan dongeng atau kisah legenda yang telah ada sebelumnya. Masih aman selagi bukan plagiat yang keterlaluan macam hanya proses copy-paste saja, dalam artian tak jadi soalan selagi masih ada bagian yang merupakan buah pikirannya sendiri.

Perkara absurditas, yang kerap disinggung oleh pembahas juga jadi bahasan menarik dalam diskusi sore itu. Marhalim, kemudian meminta pandangan Redy selaku pembahas mengenai apakah makna serta batas-batas absurditas itu sendiri? Serta, apakah kiranya ihwal tertentu dari penulis ketika menuliskan tulisan, terutama bagian yang terkesan absurd ketika dibaca tersebut? Adakah absurditas, yang dalam puisi bentuknya adalah ambiguitas, merupakan salah satu kekuatan utama dalam puisi ketika mampu memunculkan aneka interpretasi pembaca, adalah hal baru yang hendak coba ditawarkan oleh Aan Mansyur dalam kumpulan cerpen "Kukila"? Sebab, bisa jadi penulis bukan sekadar bermain dengan gaya bahasa puitik juga ingin menegaskan identitasnya sebagai seorang cerpenis. Atau jangan-jangan Aan Mansyur dalam proses menulis cerpen masih belum mampu, kalau tak boleh sebut "gagal", lepas dari bayang-bayang identitas aslinya sebagai seorang penyair?



Diskusi jadi kian menarik. Tukar pikiran dan perdebatan, kecil atau besar, berlangsung dan bakal terus berlangsung. Barangkali memang jadi tabiat dalam diskusi, terlebih melakukan apresiasi terhadap sebuah karya sastra. Sebuah karya bisa saja diterima, disanggah, bahkan ditampik. Tetapi, Diskusi Sastra Rumah Kreatif Suku Seni Riau bakal tetap jalan. Menantikan kehadiran taulan yang tertarik buat berbagi gagasan. Tiap pekan.


--Ardilo Indragita

Diskusi Sastra #12: Mempertanyakan Orisinalitas Karya M. Aan Mansyur dalam Kumpulan Cerpen Kukila
4/ 5
Oleh