Sabtu, 16 Februari 2019

Membongkar Rahasia dari Rahasia (Ulasan Kukila – M. Aan Mansyur)

Membongkar Rahasia dari Rahasia (Ulasan Kukila – M. Aan Mansyur)

Membongkar Rahasia dari Rahasia (Ulasan Kukila – M. Aan Mansyur)
Sabtu, 16 Februari 2019



Kebanyakan dari kita tentunya mengenal M Aan Mansyur sebagai seorang penyair alih-alih cerpenis. Sebut saja “Tidak Ada New York Hari Ini”, yang beberapa puisinya dibawakan oleh Rangga (Nicholas Saputra) di film Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016). Beberapa tahun sebelum itu tepatnya tahun 2012, M Aan Mansyur telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul Kukila. Saya sendiri baru tahu—dan membaca—buku ini setelah sebelumnya membaca Tidak Ada New York Hari Ini, Cinta yang Marah, dan Sebelum Sendiri. Membaca cerpen dari penulis yang lebih dikenal sebagai penyair pasti sedikit banyak membuat kita berharap lebih, bukan?

Kukila berisi 16 cerpen yang beberapa di antaranya telah diterbitkan di antologi cerpen lain dengan beberapa perubahan. Keenam belas cerita itu antara lain: Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), Kebun Kelapa di Kepalaku, Setengah Lusin Ciuman Pertama, Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji, Setia Adalah Pekerjaan Yang Baik, Sehari Setelah Istriya Dimakamkan, Membunuh Mini, Aku Selalu Bangun Lebih Pagi, Ketinggalan Pesawat, Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi, Lima Pertanyaan Perihal Bakso, Lebaran Kali Ini Aku Pulang, Hujan. Deras Sekali, Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza, Tiga Surat yang Belum Terkirim, dan Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing. Berikut adalah ulasan setiap ceritanya:

Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)
Cerpen yang dipilih sebagai judul buku ini terdiri dari 13 bagian dengan panjang keseluruhannya adalah 62 halaman. Tiap-tiap bagian bercerita melalui sudut pandang berbeda-beda dengan sepotong-dua potong informasi, yang jika disatukan, akan membentuk satu kesatuan utuh. Dalam satu bagian, tak jarang terjadi perpindahan sudut pandang cerita (orang pertama tunggal dan orang ketiga). Beberapa kali saya sedikit kebingungan lantaran perpindahan sudut pandang ini. Tapi semakin lama akhirnya terbiasa juga.

Cerita dimulai dengan Kukila, seorang perempuan yang membenci September dan pohon mangga. Lalu ada Rusdi (Suami Kukila), Pilang (Kekasih Kukila), Aurora, Nawa, dan Janu (Anak Kukila) secara bergantian menceritakan kisah mereka. Kisah masing-masing dari mereka setelah meninggalkan Kukila. Alur kisah ini maju-mundur di tiap bagian untuk menguatkan penjelasan sekaligus membuat kisahnya semakin kompleks.

Selain dari jumlah halaman yang panjang dan pemotongan bagian-bagiannya, secara pribadi menurut saya cerpen ini sedikit berat. Gaya bahasa puitis ala-ala penyair yang digunakan Aan Mansyur juga membuat saya berulang-ulang membaca satu kalimat atau paragraf demi memahami maksudnya. Simak salah satu potongan paragraf dari bagian pertama:
September tinggal bagai di rumah sendiri. Aku tamu saja. Menumpang istirahat. Aku tidak bisa menolak kemauan tuan rumah. Di ruang tamu, beranda, dan di kamar tidur. Aku hanya bisa menangis diam-diam. Padahal, aku pikir air mata telah kemarau seperti September. Ternyata di mataku ada mata air yang tidak memiliki usia, yang tidak mengenal mati. Mata air itu menyediakan minum buat hutan-hutan. Pohon-pohon kenangan. Belantara kenangan itu.
Cerpen Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) ini menceritakan bagaimana tiap-tiap tokoh menyimpan rahasia dan cintanya. Setiap orang menyimpan cintanya seperti menyimpan rahasia. Rahasia yang kemudian dirahasiakan oleh si “Pohon Rahasia”.

Panjang cerpen ini tentu akan membosankan andai kata sang penulis tidak mahir dalam mengolah kisah dan gaya bahasanya. Kerumitan jalan cerita dengan sudut pandang yang lebih dari satu dalam Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) membuat kita akan tetap bertahan menuntaskan ceritanya. Tiap-tiap bagian memberi kita selapis demi selapis rahasia para tokoh. Pada bagian akhir, ketika semua rahasia sudah terbongkar, saya jadi penasaran: apakah masih ada rahasia yang belum terungkap dalam cerpen ini?

Kebun Kelapa di Kepalaku
Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang dipaksa ibunya untuk memotong rambut. Padahal, memotong rambut adalah kegiatan yang paling dibencinya sewaktu masa sekolah; yang kemudian jadi alasannya menggondrongkan rambut ketika kuliah sebagai bentuk perlawanan.

Kebun Kelapa di Kepalaku akan merincikan kepada kita asal mula kebencian si tokoh utama terhadap kegiatan memotong rambut. Ialah Tante Mare, kerabat yang dipercayai Ibunya untuk memangkaskan rambut ia dan kedua saudaranya sewaktu sekolah setiap satu bulan setengah sekali. Dengan bentuk potongan rambut yang membuat ia jadi bahan olok-olok temannya.

Pada cerpen ini, penulis menyisipkan informasi tentang kebiasaan orang di kampungnya—atau mungkin sebenarnya kebiasaan orang Bugis secara umum?—dalam membuat nama panggilan (Tante Maryam menjadi Tante Mare). Ada juga nama depan “Andi” pada keturunan bangsawan. Detail kecil semacam ini tentunya bagus untuk mengenalkan budaya pada orang di luar suku tertentu.

Di akhir kisah, tokoh utama akan mengetahui kenapa Tante Mare yang memangkas rambutnya sewaktu ia sekolah dulu.

Setengah Lusin Ciuman Pertama
Awalnya mungkin kita akan sedikit bingung lantaran judulnya adalah Setengah Lusin Ciuman Pertama. Harusnya, ciuman pertama itu sekali saja, kan? Disampaikan dalam enam bagian. Masing-masing bercerita tentang ciuman pertama “saya” dengan enam orang yang berbeda. Maksud dari ciuman pertama pada judulnya ialah, ciuman pertama kalinya si tokoh utama dengan satu orang, bukan dengan seseorang. Tiap-tiap kisahnya punya nilai tersendiri dan itu yang membuat kisah-kisah ciuman pertama ini jadi menarik. Ada salah satu adegan yang diceritakan tentang ciuman di perpustakaan yang mirip dengan yang diceritakan penulis dalam buku puisinya yang berjudul Cinta yang Marah.

Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji
Cerpen ini berkisah tentang seorang laki-laki yang mau membuat 1000 perahu kertas untuk Akiko. Kertas-kertas itu sendiri berisi huruf-huruf kanji dari Akiko. Cerpen ini mungkin satu-satunya yang tidak realis. Begini, Ia kembali ke negerinya dengan kertas origami bermotif huruf-huruf kanji..., Entah kenapa ia tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi kekasih. Akiko sepakat—dengan syarat seribu perahu kertas..., Ia harus menyelesaikan seribu perahu kertas dengan huruf-huruf kanji. Perahu yang akan membawanya melayari lautan..., Akiko memberinya seribu kertas dengan huruf-huruf kanji waktu itu. 

Pertama, dengan apa ia sebelumnya pergi ke negeri Akiko? Kenapa untuk bertemu Akiko selanjutnya ia melayari lautan dengan perahu kertas? Lelaki macam apa yang mau saja menerima syarat seribu perahu kertas untuk jadi kekasih seorang perempuan? Bukankah syarat tak masuk akal semacam ini sebenarnya cara halus perempuan menolak? Sadar, Bung!

Setia Adalah Pekerjaan yang Baik
Berformat kultwit karena memang dari sanalah cerita ini berasal, M Aan Mansyur membagikan kisah ini dengan tagar #cerinta di akun twitternya. Beberapa bagian ada yang mengalami perubahan kata namun tidak banyak dan subtansi ceritanya masih sama. Cerpen ini bercerita tentang hubungan ibu penulis dengan ayahnya tentang bagaimana setia memanglah pekerjaan yang baik.

Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan
Sehari setelah istrinya dimakamkan, si tokoh utama membongkar isi tas mendiang istrinya. Tas yang menjadi barang terakhir yang dipegang oleh istrinya yang meninggal akibat kecelakaan. Tiap satu benda yang dikeluarkannya dari dalam tas itu semakin mengingatkan si tokoh utama tentang betapa baiknya sang istri selama hidupnya, atau, yah setidaknya sampai benda terakhir.

Cerpen ini punya narasi yang sederhana namun kuat, sehingga minimnya dialog tak terlalu jadi persoalan.

Membunuh Mini
Erwin, seorang direktur perusahaan, menghamili pembantunya. Didesak untuk menikahi Mini, sang pembantu, ia pun merencanakan pembunuhan Mini dengan dibantu oleh Sikki sang supir. Rencana yang mulus, bersih, dan tentu saja tidak berjejak.

Tetapi rencana terbaik pun belum tentu berjalan baik. Dalam enam halamannya, cerpen ini memaparkan rencana pembunuhan Mini yang berakhir dengan cara paling tidak diduga.

Aku Selalu Bangun Lebih Pagi

Menurut saya, cerpen ini salah satu yang paling absurd. Saya suka jalan ceritanya yang menjelaskan bagaimana si tokoh utama selalu dapat pertanyaan “Baru bangun, kan?” dari seorang pelanggan perempuan di perpustakaan sekaligus toko buku miliknya. Cerita disusun sampai ke tahap si tokoh utamanya memperhatikan si pelanggan perempuan. Perhatian yang menurut saya juga absurd. Keabsurdan ini semakin ditambah ketika cerita mencapai klimaksnya dengan penjelasan absurd dari si perempuan dan reaksi tokoh utama, yang menurut saya, sama absurdnya.

Ketinggalan Pesawat
Setelah bercerita dengan lelaki-lelaki melankolis dengan kisah-kisah sendu sebelumnya, cerpen selanjutnya ini bercerita dengan tokoh utama yang tidak melankolis sama sekali. Paling tidak, begitulah memang seharusnya kisah seorang laki-laki yang ketinggalan pesawat. Cerpen ini kembali dengan gaya bahasa puitis, ciri khas sang penulis. Saya menemukan satu kalimat yang nyaris sama dengan potongan puisi dari buku Tidak Ada New York Hari Ini: “Tidak ada orang yang bisa diajak berbincang” yang di puisi Pukul 4 Pagi tidak ada kata orang-nya. Karena urutan baca saya adalah Tidak Ada New York Hari Ini baru kemudian Kukila, saya bisa merasakan kekuatan lebih dari cerpen ini, seolah-olah sedang membaca puisinya. Tentu saja di samping gaya bahasa di cerpen ini, yang kata Jokpin pada testimoni di sampul belakang “bernapaskan puisi”. Kekuatan kata-katanya jadi semakin terasa.

Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi
Berkisah tentang seorang perempuan bernama Rahasia yang memiliki suami bernama Tiran. Karena takut istrinya selingkuh, Tiran menyuruh Rahasia mengenakan celana dalam yang terbuat dari besi. Celana dalam tersebut bergembok dan hanya Tiran yang memegang kuncinya. Jadilah setiap pagi sebelum suaminya pergi ke kantor sampai pulang pada sore harinya, Rahasia mengenakan celana dalam besi yang membuatnya harus menahan buang air selama itu pula. Baik Rahasia maupun Tiran sama-sama memiliki rahasia.

Lima Pertanyaan Perihal Bakso
Cerpen ini, seperti pada Setengan Lusin Ciuman Pertama, terbagi dari 5 bagian yang bercerita tentang pertanyaan si tokoh utama tentang bakso kepada perempuan yang disukainya. Saya suka bakso, juga suka cerpen ini yang bercerita tentang bakso. Ceritanya ringan, tidak kompleks seperti cerpen lain dalam buku ini. Toh, meski cuma lima bagian, cerpen ini cukup mengejutkan dengan twist-nya.

Lebaran Kali Ini Aku Pulang

Dibagi dalam 11 bagian yang dimulai dari 0, cerpen Lebaran Kali Ini Aku Pulang menceritakan seorang lelaki yang setelah sekian lama akhirnya pulang ke desanya. Ia pulang dengan mendapati kenyataan bahwa desa, juga warganya telah banyak berubah. Semua berubah, kecuali surau desa dan Ustaz Arifin. Tiap bagiannya menceritakan perubahan apa saja yang ia lihat di desanya, yang menurutnya, menjadi semakin buruk.

Hujan. Deras Sekali
Secara singkat, cerpen ini bercerita tentang perselingkuhan tokoh-tokohnya dengan menjadikan hujan sebagai alasan tidak pulang ke rumah. Alasan tidak masuk akal, yang ternyata hanya dapat diamini oleh orang yang juga berselingkuh. Saya jadi teringat sajak Bernard Batubara yang berjudul Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan yang bercerita dengan konsep yang sama: hujan dan perselingkuhan.

Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza

Lelaki di cerpen ini bertaruh dengan temannya bahwa salah satu dari suami-istri tetangganya itu mandul. Di akhir kisah, ia kalah taruhan itu dengan cara mengejutkan. Oh, iya, Florentino Ariza di judul adalah nama tokoh dalam Love at the Time of Cholera karangan Gabriel Garcia Marquez, sebuah novel yang ada di kasurnya saat itu. Orang yang sudah pernah membaca Love at the Time of Cholera dan tahu siapa Florentino Ariza agaknya dapat menebak bagaimana sang tokoh utama kalah taruhan. Agaknya.

Tiga Surat yang Belum Terkirim

Terbagi tiga bagian berisi tiga surat untuk tiga orang: adik lelakinya, Kukila (mantan kekasihnya), dan untuk ibunya. Sampai ke cerpen ini, saya melihat sepertinya jenis cerpen yang dibagi menjadi beberapa bagian dan berformat surat semacam ini cukup eksperimental. Berformat surat, mungkin sudah banyak saya baca—dan tulis, ehmm. Kalau dibagi-bagi dengan penomoran semacam ini terbilang jarang.

Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing

Judul cerpen ini adalah jawaban sang tokoh utama ketika ditanya ibunya kenapa ia putus dengan kekasihnya. Sampai pada cerpen terakhir ini, saya juga mendapati napas puisi dalam gaya bahasa penulis. Kalau puisi-puisi Joko Pinurbo—menurut saya—seperti cerpen, cerpen M Aan Mansyur ini kebalikannya: seperti puisi.

Seperti yang disebut pada pengantar awal ulasan ini, membaca cerpen karangan penyair membuat kita sedikit banyak, berharap lebih. Sama halnya ketika membaca novel Hujan Bulan Juni karangan Sapardi Djoko Damono yang merupakan bentuk alih wahana dari puisinya. Hujan Bulan Juni, memang tidak bermain di diksi melainkan alur dan kekompleksan ceritanya. Jadi, tidak terlalu meleset dari ekspektasi awal. Sementara pada Kukila, gaya bahasa puisi dalam cerpen-cerpen ini terasa sangat hidup. Sulit bagi saya untuk membacanya seperti membaca cerpen umumnya. Tiap-tiap kata dan kalimat seolah-olah punya ruh sebagai puisi, bukan cerpen. Gaya bercerita penulis, tentu berbeda dengan cerpen-cerpen romantis ala-ala Wira Nagara, Boy Chandra, atau penulis dengan genre serupa  yang kebanyakan bermain di rima dan berusaha membawa suasana melankolis lewat cerita penuh nestapa. Kenestapaan, seringkali memang jadi daya tarik dalam cerita romansa. Ayat-Ayat Cinta dan Tenggelamnya Kapal Van Der Widjk adalah dua contoh kisah yang “menjual” kenestapaan untuk meraih empati para pembacanya. Menjadikan hal semacam ini sebagai daya tarik karya tentu saja tidak salah. Namun, dalam perjalanan karya sastra saat ini, rumusan semacam ini kelak akan mencapai titik jenuhnya; pembaca lelah dengan tokoh utama yang hidupnya sengsara. Belum lagi tontonan di layar kaca, yang menjadi konsumsi utama masyarakat negara ini, banyak yang menjadikan kemelaratan sebagai penjaring empati pemirsanya. Karya sastra, mestinya tidak terus-menerus terjebak dengan formula semacam ini.

Secara keseluruhan yang dapat saya simpulkan, poin inti cerpen-cerpen dalam buku ini adalah rahasia yang dimiliki para tokohnya. Lazimnya, kita hanya mengenal kisah-kisah denga inti cerita berupa “rahasia” bergenre utama misteri atau detektif, bukan romansa percintaan. Padahal, menurut KBBI rahasia memiliki arti: 1. (n) sesuatu yang sengaja disembunnyikan. 2. (n) sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang 3. (n) sesuatu yang tersembunyi, dll. Pada definisi-definisi ini, rahasia bersifat sangat umum yang tak sesempit genre misteri semata.

Kekuatan pada cerpen-cerpen ini ada dalam rahasia yang disimpan atau dibongkar oleh para tokohnya. Tenang bagaimana gigihnya para tokoh berusaha menyembunyikan rahasianya dan berusaha membongkar rahasia tokoh lainnya. Sebut saja Erwin di Membunuh Mini, yang berusaha menyembunyikan rahasia kalau Mini telah hamil olehnya atau tokoh utama di Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza yang berusaha membongkar rahasia siapa di antara suami-istri tetangganya yang mandul. Ada rahasia yang tidak masuk akal di Aku Selalu Bangun Pagi, ada cara menyembunyikan rahasia yang tidak masuk akal di  Hujan. Deras Sekali. Ada rahasia yang tidak benar-benar rahasia andai si tokoh utama pandai mengambil kesimpulan di Lima Pertanyaan Perihal Bakso dan Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji. Di Setengah Lusin Ciuman Pertama, tokoh utama menceritakan ciumannya sebagai rahasia sementara ibu tokoh utama di Kebun Kelapa di Kepalaku menceritakan rahasia kenapa ia menyuruh tokoh utama dipotong rambutnya oleh Tante Mare.

Hampir semua cerpen di buku Kukila memilki tokoh utama seorang lelaki dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Formula sederhana untuk seorang penulis lelaki, sekaligus juga punya risiko membosankan jika narasi dan karakternya tak signfikan dalam tiap cerita. Selain itu, beberapa cerpen juga menuliskan nama Kukila, yang membuat seakan-akan cerpen-cerpen tersebut berada dalam semesta yang sama. Selain Setia adalah Pekerjaan yang Baik, yang memang adalah kisah nyata dari kehidupan penulis sendiri, kesamaan-kesamaan tertentu dalam cerpen ini dengan karya-karyanya yang lain, membuat saya memikirkan satu kesimpulan lain: kisah-kisah dalam cerpen tersebut memang berangkat dari kehidupan nyata sang penulis. Jika benar begitu, lagi-lagi, formula pengalaman pribadi bisa jadi sangat jitu dalam membuat suatu karya fiksi. Tentu dengan catatan: eksekusi yang benar-benar rapi dan berani mengeksplorasi gaya bercerita dan bahasa.

Akhir kata, kumpulan cerpen ini sangat direkomendasikan.


Ditulis oleh: Redyantino
Disampaikan pada Diskusi Sastra #12 Rumah Kreatif Suku Seni Riau

Membongkar Rahasia dari Rahasia (Ulasan Kukila – M. Aan Mansyur)
4/ 5
Oleh