Kamis, 07 Maret 2019

Diskusi Sastra #13: Mengorek unsur kebatinan dan jalan kepenyairan dalam puisi-puisi karya Julisman

Diskusi Sastra #13: Mengorek unsur kebatinan dan jalan kepenyairan dalam puisi-puisi karya Julisman

Diskusi Sastra #13: Mengorek unsur kebatinan dan jalan kepenyairan dalam puisi-puisi karya Julisman
Kamis, 07 Maret 2019





Rumah Kreatif Suku Seni Riau kembali mengadakan Diskusi Sastra yang ke-13 pada Sabtu, 2 Maret 2019. Mengambil lokasi di area Café Rumah Kreatif Suku Seni Riau Jalan Amal Ikhlas No.11 Air Dingin, Bukit Raya, Pekanbaru. Diskusi kali ini mengangkat dan membahas karya-karya anggota suku. Dan kali ini Puisi-puisi Julisman menjadi pembahasan menarik dengan pemantik diskusi yaitu Joni Hendri. Diskusi Sastra merupakan agenda mingguan yang rutin dilaksanakan guna menambah wawasan dan juga saling tukar pikiran mengenai sebuah karya yang nantinya akan sangat membantu penulisnya berkembang menjadi lebih baik lagi dalam hal menulis karya. Diskusi ini berjalan pada pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 17.50.

Dalam pembahasannya selama diskusi, Joni sebagai pemantik diskusi lebih menekankan pada struktur fisik dan batinnya selaku pembaca dan penikmat puisi dalam menelaah puisi-puisi Julisman, yang dimana ia menjabarkan dan menelaah bagaimana karakter seorang julisman dan apa yang julisman rasakan tertuang dalam setiap larik-larik puisinya. Dan beberapa benang merah telah Joni Tarik sepanjang pemahamannya seperti:

  1. Julisman menggunakan gaya puisi yang berujung pada kerinduan, keromantisan, dan bahkan beberapa menggunakan bahasa hujatan yang pedas, seperti yang ia temukan saat membaca puisi penari, temu kangen, dan Pesan kepada Bartender itu.
  2. Joni juga menemukan beberapa ketidaknyamanan saat ia membaca puisi-puisi Julisman seperti pada saat membaca puisi berjudul Senin sore, yang ia dalam pembahasannya mengatakan bahwa puisi itu seperti puisi tanpa makna atau sebagai pengejaran estetika semata.
  3. Dalam diskusi tersebut, Joni juga mengatakan bahwasanya sepanjang ia membaca puisi-puisi Julisman, ia menemukan bahwa ini merupakan usaha penulis untuk menggali identitasnya selama dalam dunia kepenyairan.

Pembahasan mulai hangat ketika terjadi perdebatan saat Misra, salah satu anggota Rumah Kreatif Suku Seni riau memberi sanggahan atas hasil pembahasan Joni Hendri yang mengatakan sedikit tidak sepakat dengan apa yang Joni sajikan. Dalam hal ini, Misra memberikan pendapat dan masukan mengenai bagaimana pembacaannya terhadap puisi Julisman menurut versinya, terlihat dari bagaimana ia mencatat dan menilai dengan teliti bagaimana puisi-puisi Julisman satu persatu dalam kertas yang ia bawa.

Di samping sudut batin, pembahasan kali ini juga tak lepas dari membicarakan mengenai struktur kepenulisan, yang dimana Eko Ragil juga menyanggah sekaligus menjabarkan hasil pemeriksaannya pada puisi-puisi Julisman. Jika Joni menilai dari struktur batin puisi, kali ini, Eko memberi saran dan kritikan pada bagaimana penulisan dan juga struktur puisi Julisman itu sendiri. Mulai dari pemilihan diksi, kesalahan kalimat (Typo), hingga keluwesan narasi yang disajikan Julisman dalam puisinya. Walau begitu, Eko setuju dengan pendapat Joni Hendri bahwasanya Julisman dalam proses menulisnya sekarang masih dalam tahap pencarian jati diri, sehingga ia menyarankan membaca karya-karya puisi dan terus menulis menjadi salah satu cara menemukan identitas Julisman.


Diskusi dan perdebatan yang jauh dari selesai, namun begitu membangun dan menarik. Membahas sebuah tulisan, apalagi sebuah karya sastra tentu membutuhkan pengetahuan luas dan keluwesan diri dalam mengkritik ataupun menerima kritik. Mereka dikatakan selesai saat karya tersebut diapresiasi sebagai karya yang dapat berkembang lebih jauh lagi, dan Diskusi Sastra Rumah Kreatif Suku Seni Riau adalah sesuatu untuk mencari jawaban, dan setiap pekan siap menunggu apresiasi baru untuk dirembukkan bersama dan sebaik-baiknya.

Diskusi Sastra #13: Mengorek unsur kebatinan dan jalan kepenyairan dalam puisi-puisi karya Julisman
4/ 5
Oleh