Minggu, 31 Maret 2019

Mengulas Puisi Pilihan dari Ediruslan PE Amanriza

Mengulas Puisi Pilihan dari Ediruslan PE Amanriza

Mengulas Puisi Pilihan dari Ediruslan PE Amanriza
Minggu, 31 Maret 2019


Berbicara tentang kesusastraan Riau, adalah membicarakan kontribusi para pelakunya, bahwa dalam jejak yang panjang itu—yang belum akan berhenti, ada segelintir orang yang berupaya melestarikannya, dengan terus berpacu-pacu dalam kreatifitas, untuk kesenian itu sendiri. Pada jejak-jejak itu akan kita temui sederet nama, yang akan terus bergaung dari dalam atau bahkan dari luar karya-karyanya. Nama-nama itu memiliki peran dan kontribusinya masing-masing, disadari ataupun tak.

Tentu saja, akan ada sangat banyak nama apabila kita merunut “jejak panjang” susastra itu, untuk itu, izinkan saya menyebut satu nama saja: Ediruslan PE Amanriza, selanjutnya Ediruslan. Sastrawan asli Riau ini lahir pada 17 Agustus 1947, di Bagansiapi-api, Rokan Hilir. Sangat tunak dalam berkarya, dibuktikan dari pencapaian karya yang dimuat berbagai media cetak, serta meraih banyak penghargaan lokal maupun nasional. Beberapa novelnya bahkan sempat menjadi cerita bersambung di halaman koran nasional. Namun, adapun fokus pembacaan saya kali ini ialah pada puisi-puisinya, yang telah saya saring dan pilih beberapa, untuk kemudian dapat didiskusikan bersama. Ediruslan dengan kelihaian menulis prosa tentu sangat pandai menciptakan atau menghadirkan peristiwa-peristiwa ke dalam teks yang panjang dan penuh penerangan sebagaimana prosa pada umumnya.

Adalah tugas yang berat bagi penulis prosa untuk menciptakan puisi yang padat kata dan sarat makna.  Tugas penulis prosa yang pada umumnya menggiring pembaca melalui alur dan jalan cerita, akan menjadi sangat berbeda dengan penulis puisi yang justru mengaburkan semuanya, maksud saya, cukup hanya dengan menghadirkan tanda-tanda sebagai pedoman bagi para pembaca untuk menelusuri seluk-beluk makna suatu puisi. Ditambah lagi permainan bentuk, unsur bunyi, pemilihan diksi, sehingga dapat mencapai komposisi puitik yang baik.

Namun, agaknya, di tangan Ediruslan, tugas berat itu terasa cukup ringan.

Lihat puisi Riau berikut ini:

Riau
Di Riau
Banjir jadi pantun sepanjang sungai
Air menjilat lantai rumah kami
Air padamkan api di tungku kami
Air basahkan tikar
Dan bubung dalam kelambu kami
Banjir menghanyutkan mimpi-mimpi kami
Di Riau
Kami tak sempat lagi bernyanyi

Mari perhatikan larik “banjir jadi pantun sepanjang sungai”. Apa yang terjadi di Riau pada saat penyair menulis puisi ini? Saya menduga-duga, bahwa banjir, barangkali sesuatu yang menggerus, bisa meluluh-lantakkan. Sementara pantun, di sini, sebagai simbol (tradisi) yang dicoba dimainkan penyair. Hemat saya, puisi Riau adalah puisi bernada kecewa (atau mengeluh?) yang  ingin disampaikan penyairnya, bahwa di Riau (barangkali) sedang terjadi penggerusan tradisi, yang saya yakini, banjir di sini adalah sebentuk sesuatu yang pragmatis, seperti globalisasi atau modernisasi, hal-hal yang berdatangan dari luar dan mengancam seluruh pelosok di Riau, oleh sebab itu pula banjir itu memasuki rumah, memadamkan api di tungku, bahkan menghanyutkan mimpi-mimpi.

Kemudian mari kita lihat puisi Surat, 11 di bawah ini:


Surat, 11
(surat seseorang yang ingin jadi penyair kepada ibunya)
Ibu,bacalah sajak-sajakku: dua ekor burung mati di luar pagar rumahku tadi pagi setelah saling mematuk sehari suntuk berebut dahan tempat bersarangIbu,bacalah sajak-sajakku: sekawanan babi hutan melahap sekandang ayam tadi malam setelah tak menemukan umbi-umbianIbu,bacalah sajak-sajakku: harimau dan gajah menyandera seribu desa menuntun kulit dan gading kaumnya dikembalikan kepada merekaIbu,sajak-sajak itumemang belum dimuatkoran kota

Hal menarik yang tampak pada puisi ini adalah bagaimana upaya si aku-lirik dalam menjentik realitas luas, namun dalam bentuk yang sangat privat: sebuah surat untuk ibu. Tiga bait awal yang meminta si ibu untuk membaca sajak-sajak si aku-lirik, saya kira sangat menarik, sebab sajak-sajak itu, barangkali juga bercerita tentang lingkungan di sekitar si Ibu, bahkan kita (pembaca) yang agaknya memang dibiarkan sehingga dua ekor burung telanjur mati karena tak ditemukan lagi banyak pohon untuk bersarang, babi hutan terpaksa melahap ayam sekandang setelah tak menemukan umbi-umbian (atau tanah untuk menanam umbi-umbian?), dan harimau serta gajah yang turun ke berbagai desa, mencari tempat tinggal. Namun, bagian paling menarik dari puisi ini justru bait terakhirnya, “Ibu/sajak-sajak itu/memang belum dimuat/koran kota. Menurut saya, puncak kegelisahan dari si aku-lirik, tentu bukan tersebab lingkungan yang amburadul tersebut, melainkan sajak-sajak itu belum dimuat koran kota. Heuheu.. :p

Pada puisi Surat, 11, Ediruslan tak sekalipun mencoba menghadirkan kengerian, marah, atau perasaan bersalah kepada kita. Melainkan hanya suatu curahan hati atas keinginannya untuk menjadi penyair, yang ironisnya, sajak-sajak itu, tak berterima oleh koran kota, karena sebuah tuduhan yang tersirat: bahwa orang kotalah yang gemar merusak hutan.

Tapi, mengapa pula mesti meminta izin untuk menjadi penyair?


Hijrah

telah kusiapkan keletihan
akan sebuah perjalanan yang panjang

telah kusiapkan kelaparan
menghadap hari-hari yang garang

telah kusediakan kekecewaan
bila harapan dilumpuhkan

telah kusiapkan duka
lagu kita diperjalanan

Membaca puisi Hijrah, kita tiba-tiba dihidangkan sesuatu yang lain, sesuatu yang bukan dari luar sebagaimana dua puisi di atas. Hijrah di sini, tentu mesti kita maknai sebagai sesuatu berasal dari dalam diri. Empat bait yang dirunut dalam/untuk menempuh perjalanan spritual, adalah bekal yang kuat bagi puisi berjudul Hijrah ini untuk menggapai komposisi puitik yang baik. Memakai istilah Karl Jasper (saya baca serampangan di catatan facebook AYE) chiffer-chiffer, atau situasi-situasi batas dalam eksistensi manusia, kita dapat menganilisis sedikit dari keempat bait tersebut.

Keletihan, kelaparan, kekecewaan dan terakhir duka, merupakan rentetan perasaan yang bisa jadi dialami setiap orang yang sedang menempuh jalan yang sunyi. Perjuangan (melawan letih), penderitaan (menahan kelaparan), cinta (kekecewaan) dan kematian (duka), keempat unsur itu tergambar dan runut di setiap baitnya. Meski begitu, saya cukup heran dan menduga kalaulah si penyair kehabisan kata-kata, hal ini bisa dilihat pada kata “kusiapkan”. Mengapa ada tiga bait yang memakai kata “kusiapkan”? Mengapa pula di bait ketiga penyair menggunakan “kusediakan”? Saya meyakini betul bahwa, Ediruslan, benar-benar kehabisan kata-kata dan tak berupaya lebih untuk menggali lagi kata lain yang bisa mewakilkan  kata “kusiapkan” ini. Padahal, bisa saja, kita menggunakan kata “kumantapkan”, “kutahankan”, “kutangkaskan”, atau kata-kata lain yang masih berkait-hubung tanpa merusak makna pada puisi tersebut.

Pada puisi Lampu, saya juga menemukan ada pergolakan yang berasal dari dalam, yaitu konflik personal  narator, yang dalam bayangan saya, sedang memandangi lampu, dan menyaksikan betapa diri-Nya adalah lampu itu.
Mari simak puisi Lampu berikut:

Lampu

lampu
di bukit sendiri
tikamkan cahayamu
ke kelam laut tak bertepi

lampu
di laut malam hari
terkatung-katung cahayamu yang sunyi

lampu sendiri
berkelip dalam diri
padamkan mimpi
sebelum pagi

Menurut pembacaan saya, puisi Lampu, sebagaimana puisi Hijrah, masih berkutat dan bersiketat di wilayah kebatinan, yang sangat universal. Perasaan galau itu, seketika saja hadir menyelimuti kita. Baca bait berikut: lampu/di bukit sendiri/tikamkan cahayamu/ke kelam laut tak bertepi. Tuhankah itu, yang sendiri di bukit, atau langit, atau bisa saja tempat tinggi lainnya. Tikamkan cahayamu ke kelam laut tak bertepi. Pada larik ini, saya kira, laut adalah penyair itu sendiri. Lalu di bait berikutnya, lampu/di laut malam hari/terkatung-katung cahayamu yang sunyi, semakin mempertegas dan memperjelas kehadiran keilahian itu. Hingga pada akhirnya, lampu itu, berkelip dalam diri (berpadu).

Mengakhiri pembacaan saya atas keempat puisi Ediruslan di atas, tentu masih banyak hal yang bisa dan mesti dibahas bersama. Terutama karya-karyanya yang tak sempat dan tak mampu atau urai atau saya sajikan di sini. Saya sengaja memilih empat puisi ini untuk kemudian dikategorikan ke dalam dua bagian: 1/pergolakan dari luar diri, bagaimana penyair memandang lingkungan dan alam luar untuk kemudian direnung-renungkan ke dalam puisi, dan 2/ pergolakan dari dalam diri, keresahannya terhadap diri sendiri, keyakinan, Tuhan, dan sebagainya. Sedikit catatan atas empat puisi ini, bahwa Ediruslan terkesan sangat tangkas menutup puisi-puisinya. Barangkali didukung juga oleh kepiawaiannya dalam menulis prosa. Saya kira, sebagai penyair, Ediruslan telah berhasil menghadirkan dan menghidangkan puisi-puisi yang padat, untuk terus dibaca dan didiskusikan, baik hari ini, di kemudian hari, maupun hingga seterusnya.


*Ditulis dan disampaikan oleh Reky Arfal pada Diskusi Sastra #17

Mengulas Puisi Pilihan dari Ediruslan PE Amanriza
4/ 5
Oleh