Minggu, 24 Maret 2019

Mengulas Puisi-Puisi Baharsyah Setiaji

Mengulas Puisi-Puisi Baharsyah Setiaji

Mengulas Puisi-Puisi Baharsyah Setiaji
Minggu, 24 Maret 2019



Puisi-puisi yang diulas, tentu telah ditulis oleh Aji dengan segenap pemikiran berdasarkan pengalamannya. Adapun, saya, di sini sebagai pembaca, hanya menyampaikan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya yang tidak seberapa. Terlebih, bicara puisi tentu cenderung mengikut kepada selera masing-masing. Berikut ulasan saya:

Sirene
Puisi “Sirene” boleh jadi adalah tafsiran yang coba diutarakan Aji tehadap pelbagai kejadian yang dilihatnya dalam kehidupan, terlebih kehidupan sosial bernegara. Jika menilik kepada narasi-narasi yang ditulis serta frasa-frasa di dalamnya.  Puisi “Sirine” menurut pembaca adalah sebuah kritik sosial. Beberapa catatan yang mungkin bisa dipertimbangkan di antaranya:

Bait pertama masih lemah dan kurang padat. Larik-larik:

Nadinya disayat dengan detik
Jantungnya ditikam oleh menit
Kepalanya disepak-sepak zaman

Selain kurang puitik juga tak semestinya ada menurut hemat pembaca. Memang, kelihatan di sini Aji ingin membangun suasana ngeri dan haru tetapi mestinya lebih padat saja. Frasa “martir” mestinya bisa lebih dimanfaatkan lagi. Lalu, susunan larik demi larik mesti dirunut sehingga membangun suasana nan elok. Sedikit saja diubah, tentu makna jadi berlainan. Menurut pembaca, ini bukan contoh terbaik, paling tidak bait pertama kalau dipadatkan, menjadi:

Seorang martir mati dibunuh
Jasadnya tenggelam dalam tumpukan sampah
Dari podium yang berdasi bertepuk tangan
Menyaksikan bunga-bunga tumbuh bermekaran
Dari sisa luka di tubuhnya

Kemudian, dalam puisi ini disampaikan pula pesan, terlihat pada larik-larik:

Bergegaslah memasak kebaikan
Segeralah membakar kemunafikan
Sudah tak ada waktu lagi membingkai harapan
Cepat! Cepatlah!

Perasaan yang timbul ketika membaca larik-larik ini, ketimbang sebuah bahasa puitik, lebih membangun suasana layaknya sebuah orasi. Barangkali, Aji bisa menawarkan narasi alternatif agar pesan disampaikan tidak menimbulkan kesan menggurui pembaca.
Adapun, bagian yang cukup menarik bagi pembaca ialah bait ketiga. Selain puitik juga penuh perumpamaan. Bait ketiga menimbulkan kesan ironi ketika dibaca. Hanya, kata sirene, yang juga merupakan judul puisi, menurut hemat pembaca bukanlah kata yang tepat buat diadikan judul mengingat kesan dan tema puisi ini.

Tenang yang Hilang
Puisi ini adalah puisi relatif pendek yang nyaris keseluruhan lariknya terdiri dari dua kata. Frasa tenang dan hilang adalah frasa paling dominan, sesuai dengan judul. Ketika membaca puisi sejenis, dengan larik-larik pendek sebait, hal yang paling pembaca nanti-nantikan adalah semacam unsur kejutan pada penutup. Ada semacam tarikan yang menyentuk, begitu kira-kira. Puisi “Tenang yang Hilang”, menurut hemat pembaca, tidak menawarkan kejutan pada larik penutup.  Keseluruhan, pembaca ingin puisi ini lebih liar lagi, maksudnya, antara larik satu dengan larik berikut hendaknya menawarkan suasana yang berbeda. Lewat permainan kata-kata dan citraan, misal:

Terang menghilang
Aku menghilang
Kau kan menghilang
Sadar menghilang

Pembaca suka dengan bagian di atas. Tetapi, kalau lebih dimainkan lagi, saran saja, barangkali bisa:

Hilang terang
Hilang aku
Kau hilang
Hilang sadar
Lalu hilang

Di atas sekadar saran, sebab, pergeseran kecil saja tentu menimbulkan interpretasi lain. boleh jadi penulis punya alasan yang dapat diutarakan.

Eksekusi
Puisi eksekusi telah dieksekusi dengan sebuah bait pembuka yang penuh interpretasi. Narasi yang dibangun, pertentangan-pertentangan di dalam bait pertama sungguh cemerlang. Pembaca begitu menikmati puisi ini.

Lalu kita mengisi liang hati dengan batu
Dan kita membangun ruang hampa
dengan suara dekap kita
tanpa salah satu dari mereka
Dan kita tak akan pernah berhenti

Larik demi larik terasa puitik. Suasana serta cerita yang disampaikan begitu jelas. Tiada dilebih-lebihkan. Tentu, dengan sedikit penyempurnaan, puisi ini bakal lebih menyentak dan sangat berkesan. Tahniah!

Berhenti
Puisi ini, menurut pembacaan pembaca, adalah sebuah puisi kritik sosial. Berbeda dengan puisi “Sirene” karyanya, puisi Aji ini lebih bisa dinikmati. Ide menarik melihat cara Aji memainkan alur waktu dalam puisinya. Pesan-pesan disampaikan tanpa kesan menggurui. Aji menyuarakan apa yang telah ia lihat, barangkali dan mengajak pembaca untuk merefleksikannya kepada pengalaman pribadi. Inilah yang membuat pesan dalam puisi ini sampai.
Secara keseluruhan, kekurangan dalam puisi ini adalah pada larik-lariknya yang masih belum rapi. Kemudian, karena puisi ini penuh simbol dan perumpamaan, ada beberapa logika bahasa yang belum bisa penulis terima. Misal: menangis pijar, para orangtua. Para orangtua, pada bait pertama menurut pembaca untuk keperluan larik sekumpulan anak kecil... pada bait kedua, biar lebih ada kaitannya. Penulis barangkali punya alasan tertentu. Tetapi, mestinya akan menarik ketika ada tawaran-tawaran yang sedikit menyentak. Misal para orangtua diganti, sehingga bait pertama menjadi (kalau pembaca yang menulis puisi ini, juga kalau dugaan sebelumnya tepat):

Detik ini ada seseorang yang menangis pijar di persimpangan jalan
Pendeta dan penyamun segera membangun tembok di dekatnya

Teringat
Pada beberapa bagian, puisi ini kuat dan sangat menarik. Di lain bagian, begitu lemah dan tidak bisa dinikmati. Perbedaan bagian-bagian ini begitu kelihatan oleh pembaca. Misal:

Bagaimana kabarmu?
Baru saja kau melintasmengendarai kotak besi

Larik-larik di atas adalah larik-larik pembuka yang menrut pembaca masih lemah. Pilihan diksi-diksinya kurang menarik hingga tidak bisa dinikmati. Kemudian:
Aku harus pergi seperti biasa
Semoga kau masih terjebak kemacetan
dan aku berkedip di layar kemudimu

Larik-larik penutup puisi ini begitu menarik. dan aku berkedip do layar kemudimu adalah pilihan yang cemerlang untuk dijadikan penutup. Begitu menimbulkan kesan. Pembaca berharap puisi ini diperbaiki lagi dan dibuka dengan menarik

*D

Mengulas Puisi-Puisi Baharsyah Setiaji
4/ 5
Oleh