Minggu, 03 Maret 2019

Nelangsa: ‘Aku’ Terkapar ‘Aku’ Lapar ‘Aku’ Tak Sadar (Ulasan Novel: Lapar – Knut Hamsun)

Nelangsa: ‘Aku’ Terkapar ‘Aku’ Lapar ‘Aku’ Tak Sadar (Ulasan Novel: Lapar – Knut Hamsun)

Nelangsa: ‘Aku’ Terkapar ‘Aku’ Lapar ‘Aku’ Tak Sadar  (Ulasan Novel: Lapar – Knut Hamsun)
Minggu, 03 Maret 2019




“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” - QS. Al-Baqarah(2): 155.


Semua kita tentunya tahu apa sebenarnya arti dari kata “Lapar” pada umumnya: Lapar adalah rasa yang tidak enak di perut seseorang-saat tidak ada/telat makan (Ingin makan (karena perut kosong)-dan hal itu acap kali dirasakan oleh hampir setiap orang yang ada di muka bumi. Tak ada seorangpun yang terbebas dari rasa lapar-tak terkecuali ‘Aku’ sehingga dalam hidupnya ia mesti bekerja demi mengusir rasa lapar yang boleh dikatakan hampir setiap saat mendera tokoh ‘Aku’ dalam novel Lapar.

Rasa lapar yang kerap dirasakan tokoh’Aku’membuat dia terus semangat dan lebih giat mencari pekerjaan, demi mendapatkan beberapa kroner, untuk sekeping roti pengganjal isi perut yang kian bingal, tak jarang ‘Aku’ mengutuk kepada Tuhan atas cobaan-cobaan yang didapatnya: “Aku duduk diatas bangku itu dan merenungkan semua ini, dan aku makin lama makin geram padat Tuhan karena siksaan-siksaanNya yang tak henti-hentinya......”

Lapar adalah karya Knut Hamsun, seorang novelis Norwegia, peraih Hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1920. Ia terlahir sebagai Knut Pedersen, di Gudbransdal, Norwegia Tengah, 4 Agustus 1859 dan meninggal tahun1952. Ia dilahirkan dari keluarga sederhana, ayahnya seorang petani dan penjahit Peder Pedersen/Peder Skredder(penjahit), dan Tora Olsen ibunya.

Lapar karya Knut Hamsun, adalah satu dari sekian karyanya yang mengisahkan gejolak jiwa dan realitas hidup tokoh ‘Aku’ yang menggambarkan bagaimana seseorang bertekad mempertahankan nilai hidup yang diyakininya, meskipun ditempa oleh pahit getirnya kehidupan yang dialaminya. Pada musim gugur dikota Christiania, seperti yang diungkapkan penulis: “sebuah kota aneh yang tak meluputkan seorangpun tanpa bekas mendalam pada dirinya”.

Tokoh ‘Aku’ yang dikisahkan dalam buku ini adalah seorang penulis muda, yang demikian menderitanya, nyaris seperti gelandangan yang sering kita temui di pelataran trotoar lampu merah(asumsi saya). Suasana kejiwaan tentang lapar langsung terasa pada pembukaan bagian pertama “Aku sedang terkapar, terjaga, dalam kamarku di loteng rumah”, jalan hidup’Aku’ sang penulis muda ini tidak menentu, sebab-hidupnya sering berpindah-pindah dari satu penginapan ke penginapan yang lain karena diusir – baik secara halus maupun terang-terangan – oleh induk semangnya karena biayasewa yang tak kunjung dibayar. Selama masa perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain di kota Christiania, tak ada sepeser kroner-pun disakunya. Maka barang-barang(milik dia) yang dikamarnya dibawanya ke rumah gadai demi mendapatkan sedikit kroner, yang bisa dipakai untuk setidaknya membeli sekeping roti atau mungkn makanan yangsedikit lebih bergizi misalnya sepotong bistik sapi. Dan selama itu juga ia mencari pekerjaan tapi selalu gagal. 

Sedang dalam kehidupan kita sebagai manusia kita lapar dan perlu makan, begitu pula ia-satu per satu pakaian dan barang yang melekat di badannya disekolahkan ke rumah gadai. Hingga yang tersisa adalah selimut tempatnya berbaring yang dipinjamkan oleh temannya-itupun ia sempat berpikir untuk menjualnya, namun cepat datang rasa bersalah menghampirinya dan ia urungkan niat itu.

Begitulah cara ia menahan lapar berhari-hari hingga tak ada satupun makanan yang masuk ke perutnya. Tampangnya sangat kurus dan menyeramkan, sampai rambut dikepalanya rontok dan kusut. Kadang karena harus menahan laparn lantaran tak ada kroner dan makanansedikitpun, ia terpaksa memunguti kepingan-kepingan kayu di jalanan untuk digigit-gigit, atau hanya sekedar mengambil batu-batu kecil yang dibersihkan kemudian dihisap, dan tak jarang pula ia datang ke tukang daging dengan alasan’untuk anjingku’ yang kemudian ia makan daging mentah itu, dan dimuntahkannya karena mual memakan daging mentah itu.

Walaupun menderitan kelaparan, ia tak sudi menjadi pengemis atau gelandangan yang hanya bertumpupada belas kasihan oranglain. Sebab ia sadar selama ini di dalam dirinya ia mempunyai suatu bakat terpendam yang dapatdikerjakannya dan bisa mmemberi ia sedikit tambhan daripada sekedar makanan. Ia menulis artikel, atau cerita bersambung untuk dikirim ke media cetak setempat majalah-majalah, dan koran. Ia berharap agar tulisan ia dapat diterima oleh redaktur dan setidaknya ia mendapat sedikir uang, walaupun itu jarang didapatnya.

Bahkan, ia mempunyai hati yang begitu berbelas kasih atau menurut saya boleh dikatakan dungu. Sebab apa? Ia begitu cepat simpatidan berkesan terhadap orang-orang yang dijuumpainya baik itu di jalanan atau dimanapun yang sedikit baik memperlakukan sesuatu terhadapnya. Entahlah, mungkin karena ia merasa ia tak pantas diperlakukan dengan baik, sehingga kalaua ada orang yang memperlakukannya dengan baik makanya langsung bermekaran hatinya karenaharu. Tak hanya sekedar haru, terkadang ia berjanjiterhadap dirinya sendiri, apabila kelas ia punya uang memadai hasil dari tulisannya ia akan membantu orang-orang yang dulu baik terhadapnya, termasuk induk semangnya yang dulu pernah memarahi dan mengusirnya untuk segera keluar dari rumah, namun induk semangitu pda malam harinya selepas memarahi dan mengusir masih berbaik hati memberikan sekepping roti dan segelas susu padanya, itulah kenapa saya memberi judul tulisan ini dengan(‘Aku’ Tak Sadar) karna sikap tokoh yang tidak pernah sadar atas perbuatan tidak baik orang terhadapnya, tokoh ‘Aku’ sangat sabar terkadang.

Gaya bahasa yang digunakan Knut Hamsun dalam novel Lapar  ini tidaklah terlampu berat untuk diikuti. Bahkan dapat dikatakan hal yang diceritakannya merupakan kejadian sehari-hari yang juga terjadi di lingkungan kita dan sertiap orang yang ada, yaitu ketika tokoh ‘Aku’ harus terkapar lapar di Christiania. Tapi, harus diakui bahwa penggambaran detail dan kecermatan seorang Knut Hamsun dalam menyajikan pergolakan bathin sang pelaku itulah yang sangat menakjubkan, dan benar-benar terasa nyata dan kita seakan dirasuki oleh roh lapar itu ketika membacanya. Apalagi ketika ia menyajikan pergolakkan bathin tokoh ‘Aku’ mendebat dirinya sendiri, bertanya pada tuhan, terhadap apayang diterima didalam hidupnya, yang dikutuk dan disumpahi sebagai kemalangan yangmenghalangi keberuntungan untuk mampir kepadanya, dan ia akan terbakar di api neraka karna mendebat sang Tuhan.

Penyajian konflik batin yang menawan untuk pembaca. Sehingga buku ini patut dibaca, terutama bagi mereka yangingin terjun ke dunia kepenulisan, karena di buku ini tersaji kegigihan dan semangat pantang menyerah dari tokoh’Aku’ untuk menghadapi kehidupan dan nasib sedang tidak berpihak terhadapnya. Tapi, dibalik penyajian konflik yang begitu menawan, apabila kita cermati penyajian teknis novel ini bila dikaji berdasarkan EYD terkesan kurang jelas penggunakan huruf kapital dan tanda kutip bila sang tokoh berdialog yang mana tertulis: Aku takut bahwa ia memaksa diri untuk bersikap lembut terhadapku, aku Cuma berkata, betapa cantiknya anda sekarang!

Lepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada dalam novel Lapar karya Knut Hamsun ini sangat syarat akan makna dan pesan-pesan untuk pembacanya, betapa tidak? Kita terkadang baru tertimpa sedikit sakit dan dengan reaktif mengeluh dan mengutuk Tuhan. Dan panggilan hidup dan pengalaman hidup lebih berharga jika kita mensyukurinya, lebih bernilai, lebih indah dari perburuan harta ataupun makananhanya sebagai pengusirrasa lapar yang mampi sebentar. Sebagaimana yang dituliskan Mariana Kattopo pada kata pengantar buku ini: pada hakikatnya, pengalaman tokoh ‘Aku’ dalam Lapar ini dapat mencerminkan pengalaman barang siapa ingin hidup menurut keyakinan dan panggilan yang membakar hidupnya; barang siapa ingin hidup, bukan saja mencarinafkah sesuai ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang hendak dipaksakan oleh masyarakat sekitarnya.

“Manusia tidak hanya hidup dari roti saja – melainkan dari firman tuhan” – Matius 4:4

Ditulis dan disampaikan oleh Adek Feisal Usman pada Diskusi Sastra #13 Sabtu 23 Februari 2019

Nelangsa: ‘Aku’ Terkapar ‘Aku’ Lapar ‘Aku’ Tak Sadar (Ulasan Novel: Lapar – Knut Hamsun)
4/ 5
Oleh