Jumat, 15 Maret 2019

Pantomim Anak-anak Riau

Pantomim Anak-anak Riau

Pantomim Anak-anak Riau
Jumat, 15 Maret 2019


Secara garis besar pantomim adalah seni pertunjukan yang memvisualisasikan suatu objek atau benda tanpa menggunakan kata-kata, namun menggunakan gerakan tubuh dan mimik wajah. Bahkan pantomime memvisualisasikan rasa dengan gerakan tubuh dan mimiknya. Pantomim merupakan pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal. Istilah pantomim berasal dari bahasa Yunani yang artinya serba isyarat. Berarti secara etimologis, pertunjukan pantomim yang dikenal sampai sekarang itu adalah sebuah pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal. Pertunjukan itu bahkan bisa sepenuhnya tanpa suara apa-apa. 

Charles Aubert mendefinisikan pantomim adalah seni pertunjukan yang diungkapkan melalui ciri-ciri dasarnya, yakni ketika seseorang melakukan gerak isyarat atau secara umum bahasa bisu. Bahasa gerak sang pantomimer adalah iniversal; menjalankan ekspresi emosi yang serupa diantara berbagai umat manusia. Pantomim merupakan pertunjukan teatrikal dalam sebuah permainan dengan bahasa gerak.Kemudian dalam Encyclopedia Britanica dijelaskan bahwa pantomim sebagai seni yang mengandalkan olah tubuh dan kebisuan ini ada di Yunani sejak tahun 600 Sebelum Masehi.

Saya lansung terbangun dan menjadi kesadaran tersendiri, bahwa dunia pantomim menjadi penting untuk di exspresikan sebagai ungkapan tanpa kata mewakili gerak manusia itu sendiri pada era sekarang, sebab pantomim tidak hanya bermain tubuh tanpa kata, pantomim juga bisa mewakili bicaranya bagi kalangan tunarungu dalam arti kata tidak semata bagi manusia yang sempurna begitu hemat saya.

Tubuh aktor pantomim itu seperti tanah liat. Yang akhirnya bisa dibentuk menjadi apa saja. Bukan tanah liat yang biasa, tetapi tanah liat yang sudah melewati proses (pelatihan, pencarian, eksperimen dan eksplorasi) dibuang kerikilnya, batunya, pasirnya. Sehingga tanah liat ini menjadi tanah liat yang berkualitas tinggi  (Septian Dwicahyo).

Ketika saya membaca ungkapan Septian di atas entah mengapa saya teringat pantomim Anak-anak di Riau yang bisa dikatakan pantomim musiman, karena hidupnya pantomim di Riau ketika adanya lomba saja, Septian sebagai aktor pantomim yang tunak, dia mengungkapkan kata di atas. bahwa jelas sekali ia menegaskan lalu mengibaratkan seperti tanah liat yang mudah di bentuk dan di motif, artinya butuh proses yang panjang dan tidak semata-mata membentuk seperti kerikil yang keras, atau batu yang tak berbentuk dan pasir yang kaku tampa berbentuk apa-apa.

Tapi kalau boleh kita bandingkan dengan tubuh aktor pantomim Riau sangat jauh sekali dalam ranah hal seperti itu, apa mungkin hanya sebuah mempantomimkan diri dalam arti kata memaksakan diri untuk menjadi pantomim yang sejati dan sudah matang dalam bidang itu. Hal tersebut sungguh sangat menggelisahkan. Mungkin dapat kita lihat dari berbagai pertunjukkan lomba pantomim,  sangat jelas minimnya referensi dan apalagi sebagai pelatih/guru yang baik dalam bidang itu untuk membentuk generasi sangat sulit di temukan. Lejend pantomim indonesia Jamek Sapardi pernah mengatakan ketika di wawan cara di sebuah telivisi : aktor pantomim di indonesia sangat sulit untuk di cari . jadi beliau juga merasa resah pada zaman tersebut.

 Padahal pantomim kata Aristoteles dalam sebuah artikel saya baca dia mengungkapkan : “pantomim sudah di kenal sejak zaman mesir kuno dan india, kemuadian menyebar ke Yunani”. Nah jelas sekali bahwa seni pantomim sudah sangat tua, tapi entah mengapa di Riau seakan-akan baru bermunculan pada era saya hidup ini, apa mungkin pantomim adalah sebuah seni yang sangat sulit, sebab ia memunculkan sebuah gerak tiruan (imition) yang tidak berdasarkan ritme secara dominan.
Kenapa  hari ini orang menganggap seni pantomim adalah sebuah komedi dan kelucuan tersendiri,padahal kalau kita ingat kembali sebagaimana Jamek Sapardi mengungkap kesediahan beliau melalui pantomim dan orang pada masa itu menjadi terpukau dalam artikata tidak ketawa dan tak menganggap itu lucu.padahal setiap gerak yang di suguhkan merupakan sebuah ungkapan atau exspresi tersendiri, yang berbicara secara rasa. Kemudian pantomim juga mengingatkan pada munculnya Marchel Marcheau, Charlie Chaplin dan Buster Keaton dimana ketiga tersebut menjadi bintang di dunia telivisi pada eranya dan bermain karakter, narasi yang berbeda kemudian berusaha mengakrabkan musik sebagai pijakan tubuh dan improvisasi dalam frame dan ketepatan terbatas. Mari kita berseru “Berpantomimlah kita agar gerak menjadi suara dan mulut istirahat sejenak!”


Ditulis oleh: Joni Hendri

Pantomim Anak-anak Riau
4/ 5
Oleh