Jumat, 29 Maret 2019

Peran Teater dalam Penyadartahuan Kerusakan Lingkungan

Peran Teater dalam Penyadartahuan Kerusakan Lingkungan

Peran Teater dalam Penyadartahuan Kerusakan Lingkungan
Jumat, 29 Maret 2019

Tatanan hidup, budaya, dan kehidupan masyarakat mengalami pergeseran yang tidak terkontrol pada hari ini. Pergeseran tersebut membuat banyak orang kota khususnya di Riau, tak lagi paham dan peduli terhadap lingkungan.


Riau semakin terpuruk. Ketimpangan penguasaan lahan korporasi dengan masyarakat menyebabkan konflik agraria yang tidak berujung. Masyarakat kehilangan wilayah kelolanya. Masyarakat adat tidak diakui keberadaannya. Potret kerusakan lingkungan karena praktek pengelolaan lahan yang tidak berkeadilan lingkungan harusnya menjadi perhatian, baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Salah satu hal yang dapat menyuarakan potret Riau hari ini adalah dengan berkesenian. Seni mampu membantu mengampanyekan apapun, termasuk penyelamatan lingkungan. Demikian permasalahan yang mengemuka dalam Diskusi Sastra #14 yang bertajuk “Teater & Lingkungan”. Diskusi berlangsung di Rumah Kreatif Suku Seni Riau, Rabu 27 Maret 2019. Pembicara pada diskusi tersebut di antaranya Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau Fandi Rahman, Akademisi Teater Aziz Fikri, dan Seniman Teater Fedli Aziz.

Deputi Direktur Walhi, Fandi menyampaikan bahwa penyelamatan ekologis antargenerasi dapat dilakukan dengan seni. Sebab seni, kata Fandi, dapat masuk dalam berbagai bentuk buah pikiran indah sarat makna.

”Di hari teater dunia ini, potret kerusakan lingkungan juga bisa diangkat dalam teater. Menyuarakan kepada dunia bahwa kita korban,  ada pelakunya. Ada juga akibatnya. Banyak musibah yang terjadi akibat merusak lingkungan. Kalau orang kaya dengan gampang pindah. Sedangkan orang miskin? Sudah seharusnya kita semua memikirkan hal apa yang bisa kita lakukan agar bumi tetap bernapas. Agar anak cucu tahu pohon tidak satu warna,” jelas Fandi.

Hal senada juga disampaikan Fedli Aziz. Menurut seniman teater ini, semua orang sudah harus paham dan peduli terhadap lingkungan, terutama kondisi lingkungan di kampung-kampung. Semua orang sudah seharusnya menyuarakan tentang bobroknya kampung karena ulah oknum yang tak bertanggungjawab.

“Kita ini semuanya orang kampung yang tinggal di kota. Dan kita yang memiliki pengetahuanlah yang seharusnya bersuara tentang bobroknya kampung, karena yang mengerti kampung itu ya kita sendiri. Kampung kita hancur, masa kita harus diam,” sebutnya.

Disampaikan Fedli, salah satu bentuk menyuarakan kerusakan lingkungan yang efektif adalah dengan pertunjukan teater. Namun, pertunjukan teater juga harus diimbangi dengan data-data yang valid.

“Jika sebuah pertunjukan teater ingin menyampaikan pesan atau sebagai media penyadartahuan tentang kerusakan lingkungan, kita harus cari data dulu. Kemudian kolaborasi dengan pencinta budaya lain. Jangan hanya mengandalkan data google. Bisa komunikasi dengan teman-teman LSM yang konsen terhadap penyelamatan lingkungan seperti Walhi, mereka pasti punya cukup data yang kompleks. Sehingga data yang kita peroleh untuk sebuah penampilan teater itu konkret. Dan masyarakat luas bisa terima dengan gamblang. Hasilnya, kesadaran masyarakat muncul akan pentingnya menyelamatkan lingkungan,” paparnya.

Kemudian, Akademisi Teater Aziz Fikri menghimbau agar semua pihak terus mencintai alam secara terus menerus. Hal tersebut menurut Aziz penting untuk menimbulkan sikap reflek dan menjadi kebiasaan yang baik.

“Teknisnya kita harus mencintai alam, melakukan terus menerus sehingga menimbulkan refleks. Khusus pemain teater, ini akan sangat mempengaruhi. Pemain teater akan mudah berekspresi dengan tubuh. Efeknya akan sampai ke penonton, pesannya mudah diterima dan mudah dicerna. Hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah terus menambah pengetahuan harian tentang lingkungan. Pemain teater juga harus menyatu dengan alam,” tutupnya.



*Ditulis oleh Fatma Kumala

Peran Teater dalam Penyadartahuan Kerusakan Lingkungan
4/ 5
Oleh