Minggu, 03 Maret 2019

Struktur Fisik dan Struktur Batin dalam Puisi Julisman

Struktur Fisik dan Struktur Batin dalam Puisi Julisman

Struktur Fisik dan Struktur Batin dalam Puisi Julisman
Minggu, 03 Maret 2019





Oleh : Joni Hendri

Puisi yaitu suatu bentuk karya sastra yang mengungkapkan sebuah pikiran dan perasaan si penyair dengan secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dalam pengonsentrasikan  sebuah struktur fisik dan struktur batin. ( Herman J. Waluyo ).

Dari ungkapan di atas dapat kita pikirkan secara tenang bahwa puisi merupakan ungkapan pemikiran penyair yang terusik oleh perasaan batin setiap manusia penyair itu sendiri, maka  terciptalah sebuah struktur kata-kata melambangkan gejolak fisik di akibatkan struktur batin tersebut.

Mulailah kita menelaah sebuah teks puisi Julisman, sebagaimana kita ketahui bahwa beliau seorang  desain grafis yang cukup tunak saya kira, nah dari puisi bertajuk  Penari” beliau mendesain sebuah kehidupan psikologi keperibadian seperti yang tertera di bawah ini :

Kepalaku pusing mendengarkan ceracaumu
sepanjang malam ini. Aku sudah
tak mengacuhkanmu lagi,
tapi kau tak peduli.

Desain teks puisi Julisman tentang bagaimana terusiknya pemikiran beliau terhadap  racauan-racaun struktur batin disepajang malam oleh seorang penari, penari disini saya kira adalah para  biduan, disini kita dapat menyimpulkan bagaimana terganggunya Julisman terhadap hal tersebut, sehingga munculah karya penari ini.

 Setelah bait pertama ia mengungkapkan struktur batin terhadap gangguan, kemudian muncul terpujuk hatinya terhadap si penari tersebut atau pun dia mulai meracau terhadap struktur teks yang di tuliskan sehingga munculnya ketidak sesuaian batang tubuh puisi beliau dalam pemaknaan saya, karena apa saya mengatakan demikian kita simak penggalan teks di bawah ini:

Katamu, “penarinya cantik gemulai,
berpakaian ketat dan tipis.
Memperlihatkan tubuh semampai.”

Kesimpulan dari situ dapat kita rasakan atau kita nikmati bagaimana Julisman mulai lari dari kerisauan atau keracauannya sehingga munculnya bait tersebut, hal ini saya kira adalah sebuah kengauran sebab ia mulai lari dari kenyataan struktur tersebut. sehingga ia sampai di sebuah toilet dan bermunculan secara tiba-tiba wanitanya atau itu mungkin kekasihnya menunggu di simpang jalan. Bukan kah kita telah membaca ungkapan Wiluyo di atas bahwa puisi bersal dari struktur fisik dan struktur batin. pembaca pasti melihat struktur fisik baru ia merasakna struktur batin, tapi jikalau struktur fisiknya saja sudah mulai berlari ketempat lain bagaimana dengan struktur batin tersebut.

Sampai di toilet, aku berbelok
ke arah wanitaku
yang sudah lama
menunggu di simpang jalan.

Setelah saya bertamu ketempat Penari mulailah saya beranjak berjalan menuju ke tempat “ Temu Kangen” mari kita simak kutipan teksnya:

.

Begitulah temu kangen kali ini,
aku mendengarkan keluh kesahmu.


Julisman mengawali tulisannya dengan menghadirkan sebuah teks yang seakan-akan pembaca terseret kedalam keromantisan, sebab telah membuat simbol-simbol teks suatu nada dring yang spesial, rupanya itu hanya untuk bumbu-bumbu pembaca agar tunak untuk membaca barangkali, disini dalam teropong telaah saya, Julisman menceritakan bagaimana ia bertemu sahabat karipnya yang telah lama tidak bersua, ketika sudah bersua kawan karibnya seakan-akan sudah sukses, sebab ia membicarakan tentang “Korupsi” ketika kita berbicara korupsi, tidak lain adalah seseorang yang sudah menjamah kesuksesan atau pun Julisaman mencoba mulai menyentuh ke rana politik.
Kemudian saya berada di puisi “Senin Sore saya mencoba mengutip teks pertama mari simak dibawah ini:

Jam lima belas lebih lima
puluh delapan menit. Aku rebahkan
badan di peraduan.
Setelah bertamu di rumahmu,
sepanjang pagi hingga siang.
Siang yang cerah dan tak terlalu panas.

Sangat buta dalam telaah saya, apa yang mau di ungkapkan dari struktur puisi julisman, karena seperti puisi tampa makna, atau memang puisi ini hanya sebagai persetubuhan rahasia tersendiri atau memang mengejar estetika semata, kalau kita bicara peraduan semua orang mempunyai peraduan dalam hidup. Dari struktur fisik puisi hanya bercerita semata dengan kata lain mendongengkan. tidak terdapat struktur batin yang bisa di rasakan untuk membuat si pembaca menelaahnya.


            Sekarang  beralih lagi ke “Pesan Untuk Bertender Itu” dari puisi ini, Julisman mulai kembali menceritakan gejolak kekasihnya, seperti kutipan puisi di atas tadi yang berjudul “Penari”. coba kita simak lagi kutipan teks baris pertma puisi yang kesekiannya Julisman:

Sore yang temaram, kau langkahkan kaki
menuju peraduan. Saat tak ada lagi
satu orang pun menemani. Di peraduan,
kau bertutur tentang masa depan
yang ingin dicapai.

Disini dapat kita maknai bahwa Julisman menjelakan bagaimana seseorang yang bercerita tentang masa depan, andai boleh kita rasakan Struktur Batinnya, bahwa di sini adalah suatu kerisauan atau ini sebuah makian, seperti terdapat pada teks “bartender perempuan dengan
buah dada yang kelihatan besar untuk seukuran baju.” Ia menyentuh kata yang di luar dugaan keseharian beliau, ini mungkin suatu makian yang sepontan menyembur dari pena Julisman.

Melanjut ke puisi “Satu Malam Di Sebuah Atap” dalam puisi ini Julisman mulai keluar dari kepribadiannya, ia mulai pergi ke plot-plot sosial menyajikan tentang penomena lingkungan alam karena apa saya mengatakan alam, sebab alam dan dunia subjektifnya manusia berkehidupan. Simaklah bait pertama dibawah ini :

Mendengar ketidaknyamanan dari warga
atas keberadaan preman itu, mereka berniat
mengusirnya dari kampung.
Mereka merencanakan penculikan
terhadap kepala preman itu,
karena telah ketahuan
memukul dan mencuri di rumah
salah seorang dari warga kampung.
Jelas sekali bahwa Julisman mulai keluar dari kepribadiannya dari struktur fisik bait-bait teks puisi tersebut. Ia mencoba mendesain sebuah suasana penjaggaan malam di suatu perkampungan.
Beralih ke “Pribumi”, mendengar pribumi tentu tidak asing di telinga kita bahwa suatu kata yang mengarahkan kepada identitas seseorang pada suatu tempat berdiam. didalam puisi ini Julisman mencoba  menyampaikan suatu keresahan terhadap ejekan orang pendatang terhadap pribumi itu sendiri atau menyampaikan keresahan beliau. Coba kita telaah kata-kata ini:
Malam ini
kau terus menyebutku pribumi.
Mencacimakiku yang makan
duduk di lantai.
Makan nasi dengan pucuk ubi.
Ejekan ini saya kira, masuk dari jalur bagaiamana pendatang melihat orang pribumi hanya sekedar makan yang bisa di makan artinya seperti orang pribumi terasingkan oleh sebuah kursi tempat duduk, yang  di kuasai oleh orang asing.
Pindah lagi ke puisi “Melepas Lelah” coba kita cermati puisi pendek Julisman di bawah ini:

Kau
Yang di seberang sungai
Bersabarlah
Kita masih di kampung yang sama
Tak perlu kau ragukan itu
Walau jarak terpisah
Akan kubangun rumah
Yang kau impikan
Di sudut kampung
Tinggal berdua
Bukan rumah mewah
Cukup sederhana
Bisa membahagiakanmu
Bisa melepas lelah
Setelah jauh berkeliling.

Ini sebuah puisi Julisman yang mengarah  penomena percintaannya saya kira, disini terdapat Struktur fisik puisi yang membuat Sturktur batin saya merasakan bagaimana Julisman mulai meluahkan isi hati akan sebuah keseriusan terhadap sasarannya, dalam arti kata ia meyakinkan pasangan agar mempercayai sebuah keseriusan, bangunan puisi keperibadian beliau ini beda dengan puisi-puisi kepribadian di di atas tadi.

“Pukul Sebelas Lewat Dua Puluh” sebuah judul puisi julisman yang selanjutnya, disini dia mulai bernoltasgia terhadap harapan-harapan yang lampau sehingga menjadi sebuah semangat dalam diri untuk menuju keyakinan atau keseriusan terhadap perjalanan pembangunan hidupnya karena terlihat dari bait ini: “Jika tidak kau yang datang duluan
Aku yang datang lebih awal untuk menemuimu” dari kata-kata itu kita dapat melihat bagaimana semangatnya Julisman terhadap pertemuan yang mungkin akan menjadi sebuah kelanjutan hidup bersama tujuan hati.
            Kemudian berjalan lagi ke puisi “Kerinduan pada Kampung Halaman” disini julisman mulai membuat sebuah kerinduan yang tak pernah ada, sebab ia hanya mencoba merindukan kampung  dimana ia hanya melihat orang-orang di sekitarnya coba simak teks beliau ini:
Bagimu
Pulang ke kampung halaman
Tak lagi menjadi kerinduan
Sebab tradisi
Telah tertelan zaman
Terhapus oleh waktu

Hanya bisa menangis
Pada beban
Anak-anak generasi sekarang

Pulang ke kampung halaman
Hanya menjadi kenangan
Kita menempuh ke puisi berikutnya julisman bertajuk “Mencari Jalan” jalan yang ingin di cari Julisman adalah sebuah percakapan hidupnya bagaimana ia mulai mencari jalan baik suatu perkerjaan ataupun jalan percintaan. dan Julisman kali ini mencoba memelayukan bait-bait diksi yang di sajikan dalam sturktur fisik teks puisi ini :
Adakah kau risaukan
Seseorang yang pernah kau abaikan
Di hutan
Menuju permukaan
Kau lari terbirit-birit
Seperti dikejar orang-orang berpeluit
Meninggalkanku

Aku mencari jalan
Menerabas semak
Mengambil tumbuhan untuk dimakan
Terjerembab masuk jurang
Terus bangkit lagi.
Dari racauan saya di atas tentang puisi-puisi Julisman saya tiba-tiba hanya merasakan sebuah iklan perjalanan hidupnya atau sebuah makanan yang tidak bergizi, dalam arti kata tidak mengandung nilai-nilai sosial. kalau kita ingat dengan nama “Wiji Thukul” pasti kita lansung mengupas puisi beliau bagaimana ia berteriak atau menyuarakan rakyat-rakyat kecil dengan untaian kata yang di tuliskan, ia pun berbicara dengan bahasa sederhana, lalu ia mempunyai nyali dan jujur dalam mengungkapkan apa yang ia lihat.
Atau Julisman mulai menggali identitasnya terhadap dunia kepenyairan dengan mengguna metode desain yang ia geluti. Kalau boleh kita meneliti terhadap penyair-penyair kenamaan memiliki simbol karakter buat diri, semisal dari Chairil Anwar dengan “Jalang”, Amir Hamzah dengan “Sunyi”, Seno Gumira dengan “Senja” dan Joko Pinurbo dengan “Celana”.

Ditulis dan disampaikan oleh Joni Hendri pada Diskusi Sastra #14 Sabtu 2 Maret 2019

Struktur Fisik dan Struktur Batin dalam Puisi Julisman
4/ 5
Oleh