Minggu, 14 April 2019

Diskusi Sastra #19 : Menulis Berpedoman pada KBBI dan Butuh Riset

Diskusi Sastra #19 : Menulis Berpedoman pada KBBI dan Butuh Riset

Diskusi Sastra #19 : Menulis Berpedoman pada KBBI dan Butuh Riset
Minggu, 14 April 2019


Rumah Kreatif Suku Seni Riau kembali mengadakan diskusi sastra rutin mingguan pada Sabtu, 14 April 2019. Diskusi yang bertajuk Diskusi Sastra #19 mengapresiasi puisi-puisi karya Xattah dihadiri oleh anggota suku dan umum. Diskusi dimulai pukul 16.30 WIB dengan penyampaian apresiasi oleh pembahas, Anisa.


Dalam apresiasinya, Anisa menyebut puisi-puisi yang ditulis oleh Xattah secara keseluruhan belum terlalu puitik dan terkesan minim majas. Dari kelima puisi yang diapresiasi hari itu, Anisa berkesimpulan dalam tulisan Xattah masih banyak terjadi kekeliruan misal penggunaan awalan di yang belum tepat penulisannya. Anisa menyarankan agar penulis berpedoman kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelum memutuskan untuk menulis suatu kata. Meski demikian, Anisa berpendapat bahwa secara umum puisi-puisi yang dibahas petang itu cukup menarik.


Diskusi kemudian dilanjutkan dengan tanggapan oleh peserta diskusi. Redy, anggota suku, menyayangkan ulasan Anisa yang dinilainya terlalu kering sebab hanya membahas perihal kesalahan penulisan saja. Padahal ada banyak hal yang mestinya turut diulas. Senada dengan Redy, Joni, anggota suku, menyebut sebaiknya ketika mengapresiasi sebuah karya haruslah dengan detail. Misal, ketika Anisa menyebut puisi yang ditulis oleh Xattah terlalu jelas maknanya, hendaklah disebut pada larik-larik mana saja. Tujuannya, agar penulis yang karyanya diapresiasi merasa lebih dihargai.


Kedatangan May Moon Nasution ke Sanggar Suku Seni Riau pada pertengahan diskusi membuat jalan diskusi jadi lebih menarik. Terlepas salah satu dari puisi-puisi Xattah yang menggunakan mantera, May Moon berpendapat dalam menulis sebuah puisi bukan hanya berpedoman kepada KBBI saja. Menulis puisi butuh riset yang panjang. Sutardji, misal, sudah melakukan semacam observasi panjang di daerah kelahirannya sebelum mantra-mantra tersebut ia masukkan ke dalam puisinya. Terkait menulis dengan berpedoman kepada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), kalaupun tidak mengikut, seperti Aan Mansyur menggunakan huruf kecil semua bahkan dalam menuliskan nama orang dalam puisi-puisinya, penulis sudah terlebih dahulu mengetahui dan memperdalam pengetahuan tentang penulisan. Sehingga, ketika tulisan-tulisan tersebut ditulis dengan cara yang tak lazim, selain jadi jati diri penulis, pasti ada pula alasan-alasan tertentu yang bisa dipertanggngjawabkan.

Petang itu, diskusi ditutup setelah Xattah menjawab beberapa dugaan dan pertanyaan selama diskusi. Xattah mengakui bahwa puisi-puisi yang dibahas petang itu ditulis beberapa tahun lalu. Puisi berjudul Riau Tak Layak Huni ditulis ketika Riau sedang mengalami bencana kabut asap beberapa tahun lalu. Pun puisi-puisi lainnya yang kebanyakan ia tulis sebagai wujud protesnya ketika di depan mata melihat ada hal-hal yang menurut pendapatnya tidak semestinya terjadi.

Rumah Kreatif Suku Seni Riau akan terus melaksanakan diskusi sastra rutin mingguan. Sabtu depan, di tempat dan waktu yang sama, Diskusi Sastra #20 akan membahas sebuah buku oleh pembahas, Julisman. Siapa saja diundang bergabung.

*Ardilo Indragita

Diskusi Sastra #19 : Menulis Berpedoman pada KBBI dan Butuh Riset
4/ 5
Oleh