Rabu, 03 April 2019

Dukung Earth Hour, Suku Seni Riau Tampilkan Performing Art di Panggung Seni Kreatif

Dukung Earth Hour, Suku Seni Riau Tampilkan Performing Art di Panggung Seni Kreatif

Dukung Earth Hour, Suku Seni Riau Tampilkan Performing Art di Panggung Seni Kreatif
Rabu, 03 April 2019

Rumah Kreatif Suku Seni Riau (SSR), mempersembahkan teatrikal berjudul “Kayu” dalam kegiatan Earth Hour pada Sabtu malam, 30 Maret 2019 di Panggung Seni Kreatif, Pekanbaru. Penampilan yang dilakoni oleh empat orang ini menceritakan kondisi hutan Riau yang semakin memprihatinkan.



Diiringi musik etnik seperti seruling dan biola, teatrikal ini sukses membuat seluruh pengunjung terpukau. Secara khusus,  SSR menyajikan sebuah penampilan yang merepresentasikan kondisi eksploitasi kayu hutan yang tak lagi terkendali. Hutan semakin terbebani oleh berbagai persoalan yang membelit seperti pergantian musim yang sulit diprediksi, berulangnya kebakaran hutan dan bencana asap, serta banjir dan kekeringan di wilayah yang tidak biasa mengalaminya dikarenakan pemanasan global atau meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan atmosfer dan permukaan bumi.



Menurut Koordinator SSR, Adek Faesal Usman, hadir dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang bertemakan lingkungan sangatlah penting. Lewat teater, ia yakin dapat menyampaikan pesan dan mengajak masyarakat untuk peduli dan cinta terhadap lingkungan.

“Berhubung Suku Seni fokus ke teater yang bertemakan lingkungan, kami pikir tak ingin melewatkan tawaran menjadi pengisi acara Earth Hour yang diadakan oleh Earth Hour Pekanbaru.  Acara seperti ini penting. Dengan begitu kita bisa menyadari, kita harus menghemat cadangan energi yang ada di bumi ini, dan secara simbolik penghematan itu dilakukan lewat "switch off" selama 60 menit,” kata Adek, Minggu 31 Maret 2019.

Terpisah, Sutradara teatrikal “Kayu”, Joni Hendri berharap agar pesan dalam pertunjukan dapat sampai kepada penonton. Menurut Joni, penampilan tentu akan lebih hidup apabila diterjemahankan ke dalam gerak. Tak heran jika Joni dan Suku Seni Riau mendapat hadiah tepuk tangan yang meriah.



“Saya berusaha menuangkan dengan detail isi naskah ke dalam gerak dan akting para aktor. Sebab, penampilan ini punya pesan. Kami ingin mengajak masyarakat untuk senantiasa mengingat hutan, yang mana hutan makin lama makin digerogoti oleh industri-industri terutama hutan di Riau. Padahal, fenomena ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, tapi kok senantiasa masif terjadi dari tahun ke tahun, kenapa kita tidak peduli dan apakah kita memang suka dengan bencana itu sendiri,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Earth Hour diperingati oleh seluruh masyarakat dunia. Istilah Earth Hour sendiri mulai diperkenalkan kepada masyarakat sejak 2007. Earth Hour atau dalam bahasa Indonesia berarti Jam Bumi merupakan sebuah kegiatan  global yang diselenggarakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada setiap Sabtu di akhir Maret. Adapun bentuk kegiatannya berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan selama satu jam, baik di rumah, hotel, bandara maupun perkantoran. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran perlunya tindakan khusus guna menghadapi perubahan iklim di bumi.

Logo yang digunakan dalam Earth Hour adalah tanda 60+ dengan motif gambar planet bumi. Awalnya Earth Hour hanya menggunakan angka 60 saja yang melambangkan 60 menit sebagai waktu yang digunakan untuk berpartisipasi dalam Earth Hour. Namun, sejak tahun 2011 logo Earth Hour mendapat tambahan tanda plus (+) di belakang angka 60. Tanda plus ini menggambarkan tujuan Earth Hour sendiri yang mendorong masyarakat dunia untuk melakukan aksi lanjutan setelah satu jam mematikan lampu.

Penulis: Fatma Kumala

Dukung Earth Hour, Suku Seni Riau Tampilkan Performing Art di Panggung Seni Kreatif
4/ 5
Oleh