Minggu, 28 April 2019

Puisi Bukan Mi Instan

Puisi Bukan Mi Instan

Puisi Bukan Mi Instan
Minggu, 28 April 2019


Sejak lama, banyak orang risau—termasuk para penyairnya—kenapa puisi susah sekali “diterima” oleh publik luas. Nasib puisi, “dianggap” kerap marjinal, secara popularitas, bahkan jika dibandingkan dengan sesama genre sastra sekalipun; cerpen atau novel misalnya.

Orang terkadang berharap puisi dapat diterima seperti diterimanya mi instan oleh semua lidah lintas usia. Espektasi terlampau besar semacam itu, dengan cara pandang (teramat) umum, kadang, membuat kita kian hari kian tak percaya lagi pada kekuatan kata-kata dalam puisi. Puisi-puisi yang terlahir kemudian pun, selalu (dan berupaya keras) untuk “didekat-dekatkan” dengan publik. Seolah, berupaya untuk membuat puisi tak berjarak dengan publik.

Maka, penyair, selalu waswas. Selalu kuatir, jangan-jangan puisinya kelak tidak bisa diterima oleh publik. Tidak bisa dimuat di media massa. Tidak layak masuk buku kumpulan puisi bersama. Tidak menang lomba. Dianggap “puisi gelap” oleh para kritikus. Banyak sekali kekuatiran muncul, bahkan sebelum puisi benar-benar dituliskan oleh si penyairnya.

Puisi, pada posisi semacam ini, seolah mengalami distorsi eksistensi diri. Ia, puisi, kemudian seolah jadi makhluk tak percaya diri, karena memang banyak orang yang tidak mempercayainya. Banyak orang meragukan, jika si puisi berjalan sendiri di tengah orang ramai, akan tersesat, akan terhimpit, tersenggol, bahkan terjatuh, dan terinjak-injak oleh yang disebut sebagai “publik” itu, oleh yang kerap dipanggil “kontekstual” itu. Maka, banyak orang berpikir—sekali lagi, bahkan oleh si penyairnya sendiri—puisi harus ditemani, tak boleh berjalan sendiri di rimba raya realitas.

Lalu, puisi-puisi yang gamang pun lahir, karena ditulis dengan tangan yang gemeteran, dengan jiwa yang ragu-ragu, dan pikiran-pikiran yang goyang. Puisi-puisi kini seolah harus ekstra hati-hati untuk memakai lisensi “kebebasan” menulis kata-kata. Kata-kata yang tak boleh seenaknya nyelonong. Tak boleh pula dengan diksi-diksi yang “berat”—yang dikuatirkan tak “dikenal” atau tidak terdeteksi oleh signal antena publik luas.

Maka, puisi-puisi lahir dari keterasingan penyair dengan puisi-puisinya sendiri, yang boleh jadi, sehabis menulis puisi, ia merasa harus berkenalan dengan puisinya sendiri. Siapakah kamu? Dari mana kamu lahir? Kok kamu tidak mirip aku, tapi malah mirip tetangga? Atau, di lain waktu, si penyairnya malah berkali-kali harus marah-marah karena puisi-puisinya yang lahir kembar semua.

Saya, selalu cemburu dengan Tardji, zaman dulu, yang bisa sebebas itu menulis puisi. Di zaman, yang justru boleh dikata tunggang-langgang orang mengais hidup, membangun struktur sosial-ekonomi. Di zaman ketika puisi didakwa sebagai makhluk “brengsek” oleh sebuah “pengadilan puisi.” Toh, sampai sekarang tetap bernama “puisi” dan tetap “dibicarakan” orang sebagai puisi yang “berhasil” membangun eksistensi kata-kata.

Selain pada Tardji, saya selalu cemburu pada orang-orang suku “terasing”, orang-orang di ceruk-ceruk kampung, di pedalaman, orang-orang yang kerap dianggap tak “beradab” oleh peradaban “publik.” Saya cemburu, karena mereka masih percaya dengan kekuatan “kata-kata” dalam mantera, misalnya. Mantera yang tak gampang dicerna oleh telinga publik, tapi memiliki kekuatan magis yang luar biasa, kekuatan untuk menggerakkan.

Ya, kekuatan untuk mewujudkan sosok manusia sebagai makhluk yang tak sekedar memiliki tubuh (wadag), tetapi juga emosi. Sebab, kata-kata dipercaya memiliki kuasa tersembunyi (hidden realms). Orang Petalangan di Riau menyebut, “kato jadi daging tulang.” Daging dan tulang yang menyokong “tubuh makna,” menegakkan batang tubuh “ideologis.” Jadi, mari menulis puisi dengan jujur, enjoy, bebas, tanpa ketakutan, dan beri kepercayaan besar pada kekuatan kata-kata.***

Puisi Bukan Mi Instan
4/ 5
Oleh