Minggu, 14 April 2019

Sexy Killers, Membuka Kesadaran Bahaya PLTU

Sexy Killers, Membuka Kesadaran Bahaya PLTU

Sexy Killers, Membuka Kesadaran Bahaya PLTU
Minggu, 14 April 2019


Sabtu malam, 13 April 2019 diadakan nonton dan diskusi film dokumenter “Sexy Killers” produksi WatchDoc, disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz. Direkam oleh tujuh orang videografer Dandhy Dwi Laksono, Ikang Fauji, Harry Maulana, Suparta Arz, Kasan Kurdi, Tommi Apriando, dan Erik Wirawan. Sexy Killer merupakan film ke 12 WatchDoc dari ekspedisi Indonesia Biru. 

Sexy Killers telah ditonton di beberapa lokasi di seluruh Indonesia sepanjang 5-13 April 2019. Dalam akun instagram @watchdoc_insta disebutkan sudah ditonton di 476 titik. Kemudian, pada 14 April Sexy Killers resmi dirilis ke publik secara online di kanal youtube WatchDoc.


Film Sexy Killers bercerita tentang penambangan batubara dan penggunaannya oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pengerukan batubara terbesar di Indonesia ada di Kalimantan Timur, dan sudah berlangsung sejak 2007. Tanah yang telah dikeruk meninggalkan lubang-lubang besar dan belum ditutup atau reklamasi. Aktivitas pertambangan batubara dan bekas galian sudah memakan korban masyarakat yang berada di sekitar bekas galian. Seperti ambruknya rumah masyarakat, bahkan ada masyarakat yang meninggal. Karena pertambangan batubara mengolah wilayah yang besar dan luas.

Film berdurasi lebih kurang 90 menit ini ditonton oleh berbagai organisasi mahasiswa, komunitas, dan lembaga yang berfokus pada hak asasi manusia. Di Pekanbaru, Sexy Killer di putar di berbagai tempat; Kedai Kopi Kopikirapa, UIN SUSKA, dan LPM Bahana UNRI. Untuk pemutaran di LPM Bahana UNRI, Andi Wijaya, dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru, dan Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni Riau dan Pegiat seni lingkungan, hadir sebagai pemantik diskusi.


Menurut Marhalim, pada film dokumenter ini ada ekspresi antara tradisi dan modernisme, antara orang-orang kota dan orang kampung. Antara oligarki kekuasaan dan orang miskin. Pejabat selalu berhadapan dengan warga-warga miskin untuk kepentingan pejabat itu sendiri. Film ini bagus karena ada tim riset lapangan, ada tim riset data, supaya data-data yang disampaikan tidak salah untuk ditampilkan. Bahwa kita penting untuk menghargai atau mengapresiasi sebuah film. Marhalim menambahkan, kepedulian kita terhadap kerusakan harus terus disuarakan, dengan berbagai cara. "Karena saya seniman, maka cara saya menyuarakannya dengan karya seni. Agama Sungai, yang akan dipentaskan Juli mendatang, adalah salah satu bentuk ekspresi kepedulian kami dari Suku Seni..." ujar Marhalim.

Menurut Andi Wijaya, dalam film ini nampak tidak ada pertanggungjawaban negara untuk menutup lubang tambang, hanya dibiarkan begitu saja. Setelah menonton film ini kita tahu tentang bahaya tambang batubara. 

Film ini telah membuka kesadaran bahwa bahaya tambang batubara untuk dijadikan bahan dasar energy listrik melalui pabrik PLTU telah menyebabkan penyakit asma, penyakit kulit, hasil pertanian berkurang, berkurangnya tangkapan ikan bagi nelayan. 

Penulis: Julisman

Sexy Killers, Membuka Kesadaran Bahaya PLTU
4/ 5
Oleh