Minggu, 05 Mei 2019

Diskusi Sastra #21 Bersama May Moon Nasution

Diskusi Sastra #21 Bersama May Moon Nasution

Diskusi Sastra #21 Bersama May Moon Nasution
Minggu, 05 Mei 2019



Diskusi sastra #21 yang dilaksanakan oleh Rumah Kreatif Suku Seni Riau pada Sabtu sore 4 Mei 2019, bertajuk “Puisi, Teks, dan Konteks”, dibahas May Moon Nasution untuk kedua kalinya setelah Sabtu lalu (Diskusi Sastra #21) melanjutkan tema yang sama. Peserta diskusi yang hadir merupakan anggota Suku Seni Riau dan umum.

Menurut May Moon, teks puisi yang ditulis penyair berasal dari sebuah kejadian atau peristiwa.
Konteksnya dapat berupa kesedihan, perjuangan, perlawanan, kondisi sosial. Ia mengambil contoh
kejadian tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, gempa di Sumatera Barat, Yogya, Lombok, dan di Palu.
Tanpa disadari banyak terpublikasi teks-teks berupa cerpen, novel, lagu, maupun puisi yang terinspirasi dari peristiwa tersebut. Baik itu penulis baru, maupun penyair lama. “Konteks puisi dari kejadian tsunami ini tentu saja kesedihan,” kata May Moon.


Kejadian perlawanan mahasiswa dari tahun 1965, 1998, juga menjadi kejadian yang banyak melahirkan puisi-puisi perlawanan terhadap Negara. Contohnya WS. Rendra, Wiji Thukul, popular karena puisi-puisi sederhana namun dapat membangun emosi pembaca untuk melakukan perlawanan. Di sisi lain, lanjut May Moon, teks puisi bisa juga lahir dari peristiwa budaya.

“Tema “Puisi, Teks, dan Konteks” sebenarnya luas. Bisa diambil dari masa Amir Hamzah, Chairil Anwar, hingga sekarang zaman milenial ini. Namun secara garis besar dapat kita ambil bahwa sebuah kejadian atau peristiwa dapat menginspirasi lahirnya teks-teks, terutama puisi,” kata May Moon, penyair yang menulis buku "Pedang dan Cinta yang Mengasahnya.".

Penulis: Julisman

Diskusi Sastra #21 Bersama May Moon Nasution
4/ 5
Oleh