Sabtu, 11 Mei 2019

Makanan Penutup untuk Jek (Cerpen Fatma Kumala)

Makanan Penutup untuk Jek (Cerpen Fatma Kumala)

Makanan Penutup untuk Jek (Cerpen Fatma Kumala)
Sabtu, 11 Mei 2019



KENAPA pula aku tak mengajaknya bertemu di halte. Padahal biasanya aku dan Jek selalu mengatur pertemuan di sana, meski semuanya tetap saja dimulai dari kecelakaan atau anggap saja pertemuan yang tak kuinginkan. Tetapi, malam ini aku lapar, dan halte tak bisa menghidangkan apapun selain kesunyian.

Begitulah yang aku pikirkan. Maka hari ini tak ada kebimbanganku untuk menyiapkan makan malam di WTF (Where’s The Food) Restauran Hotel  FOX Harris Pekanbaru bersama Jek. Aku sengaja tiba lebih awal untuk meminta pelayan hotel mendekorasi table romantis dengan dua buah lilin menyala, bunga mawar warna merah dan memesan menu andalan mereka. Di lantai 15 ini, orang-orang memang gemar makan malam romantis dengan pasangannya. Dan pulang dalam keadaan berbahagia. Begitu pula harapanku. Selepas ini, kami dapat mengingat perpisahan paling indah. Dan bahagia dengan cara yang berbeda.

Jek datang. Ia duduk tepat di depanku. Percakapan tak lagi sama. Udara dingin terperangkap di atas meja. Kularikan mata beberapa kali ke hamparan lampu-lampu kota. Jek masih mengira semua baik-baik saja. Sebelum jamuan makan malam tiba, Jek lebih dulu menyajikan cerita lucu awal pertemuan kami pada musim hujan tiga tahun lalu.

“Kau ketakutan di halte waktu aku ikut berteduh malam itu. Lalu kau menghubungi Maya. Tapi sayangnya Maya tak datang. Hahahaha..,” begitu ia mengantarku ke masa yang mustahil aku lupakan.  Aku menatapnya sembari bergumam dalam hati. Tuhan, aku tak betul-betul siap mengantar hujan di mukanya.

Begitulah kemudian percakapan yang terjadi. Jek mengenang satu per satu perjalanan kami. Di hadapannya, aku selalu menjadi pendengar yang baik. Pria ini memang lihai bercerita. Pandai memikat hati siapa saja yang terlibat perbincangan dengannya. Bahkan ayah dan ibu tersihir olehnya. 
****
SAMPAI tiba waktunya pelayan membawa makanan ke atas meja. Jek menyukai semua yang telah aku pesan. Kami memang jarang sekali makan malam seperti ini. Biasanya hanya makan bakso Mang Uya di depan Mal SKA. Selain murah, Mang Uya juga suka bercanda. Kadang kami minta tambah seenaknya. Mang Uya juga suka memberikan bonus lemak daging yang melimpah. Belum lagi musik keroncong yang disetel dari speaker kecil tergantung di salah satu rusuk gerobaknya. 

Tapi tak ada musik keroncong malam ini. Kami juga tidak makan bakso. Hotel ini menyajikan Fried Spring Roll sebagai makanan pembuka, ditambah main course atau makanan utama seperti Sop Buntut Goreng dan Nasi Goreng Tradisional, hingga dessert atau makanan penutup berupa Traditional BananaFritter with Cheese.

“Kau tak suka makanannya?” Jek memecahkan lamunanku.
“Aku  bingung,”
“Apalagi? Tinggal dimakan saja,”
“Bingung mau makan yang mana. Semua terlihat enak. Lagipula, aku tak ada urusan dengan urutan mana yang mesti aku makan duluan,”
“Saranku,makanlah yang manis di akhir,”

Aku tersentak. Kemudian berusaha mencari kalimat manis untuk Jek malam ini, sebagai penutup makan malam kami. Aku mencarinya di twitter, tak seorang penyair sedang singgah di sana. Aku cari di Facebook, hanya ada tetuah dari para orang tua. Aku cari dalam diriku, kesedihan teronggok di sana. Aku harus temukan hal manis untuk dikatakan pada Jek. Setidaknya, kesedihan tak akan begitu menyakitkan jika mengingat makan malam ini, pikirku.

Aku dan Jek kemudian bermuka-muka kembali. Tentu sembari menghabiskan makanan yang sudah aku pesan. Pertemuan ini semakin kaku. Kemudian aku berpikir untuk langsung saja mengatakan kepada Jek. Namun, aku harus mulai dari mana? Sempat terbesit untuk memegang tangannya, menatap matanya dalam-dalam, lalu berkata sejujurnya tentang maksudku. Tapi ide ini terlalu buruk. Bagaimana bisa aku menjarah tangan laki-laki lebih dulu?
“Mana pelayannya?” Jek melongokkan kepalanya melihat ke segala sisi. Sambil bersiap mengacungkan tangannya.
“Kenapa, Jek? Ada yang salah dari makanannya?”
“Bukan. Makanannya enak. Bisa demam aku sepulang dari sini,”
“Lalu?”
“Kita perlu foto berdua. Jarang sekali kau cantik begini.”
“Terserah kau saja,”
Aku dan Jek memang jarang sekali memanggil dengan sebutan sayang. Jek bilang kita bukan lagi anak sekolah yang sedang mabuk asmara. Tapi, pada momen-momen tertentu, Jek pasti menyematkan kata sayang, untukku. Lengkap dengan kalimat I love you, dan mendaratkan ciuman pada jidadku yang penuh dempulan bedak ini.
***
SEJAK pertemuan awal di halte, aku dan Jek membuat kesepakatan. Setiap pukul tujuh malam, kami bertemu di halte. Kemudian Jek mengantarkan aku pulang dengan Trans Metro Pekanbaru. Di dalam bus, Jek tak henti-henti bercerita. Mulai dari dia memproklamasikan diri sebagai lelaki non perokok, meski bekerja sebagai agen satu merek rokok terkenal. Dia juga membanggakan betapa gagahnya dia semasa sekolah, memiliki jumlah mantan yang aku sendiri tak bisa mengingat lagi nama-nama yang ia sebut. Tapi setelahnya ia berkilah semua hanya masa lalu waktu berseragam abu-abu. Aku terus mendengarkan Jek bercerita, meski sesekali bau keringat penumpang di depan kami begitu mengganggu.

Sampai suatu malam, aku dan Jek menaiki bus sambil berpegangan. Ia duduk di samping dan memandang dalam ke mataku. Mencari sajauh mana bayangannya melekat dalam aku.
***
KEMUDIAN pelayan datang. Aku memberi ponselku. Dan pelayan menghitung. Aku memandang kamera. Dan pelayan mengambil gambar. Aku tersenyum. Dan pelayan pergi. Aku menyadari foto ini tak lagi berarti.

Jek memintaku mengirimkan gambar itu ke ponselnya.  Aku mengangguk. Lalu mengirim gambar pada Jek melalui whatsapp.

Jek terkejut. Lalu meletakkan ponselnya. Lama tak ada suara di meja ini. Tiba-tiba saja malam terasa begitu dingin. Dan dua lilin di hadapan kami padam menyerupai perasaanku.

Foto yang aku kirim, tak satupun memuat gambar aku..***

*Fatma Kumala, lahir di Airmolek, 20 Juli. Bekerja sebagai wartawan sejak 2015 di posko ekonomi bisnis. Anggota Suku Seni Riau angkatan 2 dan aktif di Malam Puisi Pekanbaru. Tinggal di Pekanbaru.

Makanan Penutup untuk Jek (Cerpen Fatma Kumala)
4/ 5
Oleh