Selasa, 07 Mei 2019

Puisi Cinta Rabi’ah

Puisi Cinta Rabi’ah

Puisi Cinta Rabi’ah
Selasa, 07 Mei 2019


“Andai Kau usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu...” 
(Rabi’ah al Adawiyah)

Selain Maulana Jalaludin Rumi, Ibnu Arabi, Hasan al-Bashr, Malik bin Dinar (dan sejumlah nama lain), sufi yang menulis puisi/syair sebagai media “tangga naik” menuju khalik, adalah Rabi’ah al Adawiyah. Agaknya, begitu menyebut nama perempuan sufi yang lahir di kota Bashroh ini, yang kita ingat adalah (hanya) bahwa ia perempuan yang “tidak menikah” seumur hidupnya. Padahal kenyataan lain bahwa ia juga adalah seorang sufi yang “membahasakan” ekspresi spiritualitasnya melalui puisi/syair, adalah juga satu keistimewaan lain yang perlu kita telisik. Tapi, kenapa memilih puisi/syair?

Ketika para penyair Arab dan Persia memperkenalkan puisi-puisi sufi pada kita, setidaknya terkandung dua tujuan. Pertama, menggambarkan sejarah perkembangan tradisi perpuisian (sastra Arab) yang panjang—mulai priode Jahiliyah sampai modern. Kedua, melalui puisi sufi, mereka hendak terus meneguhkan nilai-nilai agama yang terkandung di dalam kitab suci. Maka puisi/syair yang mereka tulis—sebagaimana pendekatan tasawwuf atau sufisme—bertujuan untuk “menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun lahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian yang abadi.”

Artinya, puisi/syair/sastra yang menggunakan bahasa ucap “istimewa” (bahasa pilihan), yang memiliki lapisan tanda dan multi-interpretasi itu, mereka yakini efektif dapat menyampaikan pesan-pesan luhur agama. Keyakinan ini, saya kira, menandaskan (kembali) bahwa bahasa puisi (karya sastra) memang memiliki kuasa tersembunyi (hidden realms) yang dapat “menggerakkan.” Para sufi itu, sadar betul, bahwa melalui bahasa yang “murni” lahir dari kejernihan jiwa, dapat memberi kekuatan untuk bergerak menaiki tangga-tangga iman menuju ke “langit.” Maka, tentu, dengan begitu, hanya puisi/syair yang memiliki “kejernihan jiwa” yang dapat memberi kekuatan semacam itu.

Substansinya, di sini, tentu bukan ihwal konsepsi sufi sebagai gerakan zuhud (menjauhi hal-hal duniawi) sehingga puisi-puisi sufi memang berorientasi atau bermuara (semata) pada Tuhan dan melupakan dunia di sekelilingnya, akan tetapi ini lebih pada soal potensi kekuatan sebuah puisi (karya sastra) sebagai media representasi ideologis. Bahwa melalui puisi, seseorang dapat memiliki apa yang diistilahkan oleh Rumi sebagai “penglihatan agung.” Penglihatan, yang tidak biasa, yang tidak kasat mata, yang dapat “menembus” keindahan cahaya Tuhan. “Di dalam cahaya-Mu,” tulis Rumi, “aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi.

Yang mampu memiliki “penglihatan agung” semacam itu, tentu, dalam konteks sufisme, adalah mereka yang telah mencapai makrifat. Orang yang telah bersebati dengan Tuhannya. Persebatian, jika merujuk konsepsi tasawuf Mahabbah-nya Rabi’ah, adalah ketika “lenyapnya diri” dalam totalitas keber-Tuhan-an. Karena ia adalah diri yang lenyap itu, maka tak heran misalnya ketika Al-Hallaj menyebut “Akulah Tuhan” (ana al-haq). Tidak kemudian berarti bahwa, ia “menjadi” Tuhan, tetapi Tuhan telah mengalir dalam urat darahnya.

Tapi, dalam konteks penciptaan puisi secara umum, spirit puisi sufi, sesungguhnya juga tak dapat benar-benar dapat terpisah dengan apa yang kemudian muncul sebagai puisi Islam, puisi religius, puisi transendental, puisi profetik, dan lain sebagainya. Sebab semua jenis puisi itu—terlepas sejauhmana kreativitas penyairnya menggunakan puisi sebagai medium—sama-sama menjadi tangga naik menuju Tuhan. Menuju taraf kerohanian yang tinggi, yakni—seturut Rabi’ah—“Aku hilang (fana) dalam mengenang Allah.”***

Puisi Cinta Rabi’ah
4/ 5
Oleh