Minggu, 19 Mei 2019

Ramadan, Konsumerisme, Estetisasi Gaya Hidup

Ramadan, Konsumerisme, Estetisasi Gaya Hidup

Ramadan, Konsumerisme, Estetisasi Gaya Hidup
Minggu, 19 Mei 2019

Oleh: Marhalim Zaini

SELAIN adat-istiadat, agama adalah salah satu kekuatan etis-ideologis yang selama ini menjadi perekat sosial, yang tampak telah digeser fungsinya oleh komodifikasi menjadi produk yang “dikonsumsi.” Sehingga yang menonjol adalah citraan, prestise, simbolis, yang lebih terkesan formalisme, permukaan, dan dangkal. Simmel (1991) menyebut, kecenderungan semacam ini membuat esensi kehidupan tidak lebih penting untuk dihayati ketimbang citra.

Persoalan berikutnya yang segera muncul adalah, benarkah tafsir atas makna dari citraan-citraan tersebut telah dimodifikasi oleh (hanya) “seseorang” sebagai konsumen? Tentu, secara lebih luas, kita harus kemudian melihatnya bahwa ada kekuatan besar di baliknya yang memodifikasi simbol, berikut maknanya. Yakni, kekuatan besar yang terkait dengan budaya konsumerisme yang kemudian membentuk gaya hidup seseorang. Dalam diskursus kapitalisme mutakhir, perkembangan masyarakat post-industri juga disebut sebagai masyarakat konsumer. Menurut Yasraf (2004), ada tiga kekuatan (kekuasaan) yang beroperasi di belakang produksi dan konsumsi objek-objek estetik; yakni kekuasaan kapital, kekuasaan produser, dan kekuasaan media massa.

Tiga kekuasaan besar tersebut, kemudian menghadirkan simbol-simbol “estetik” baru lewat produk-produk hiburan, informasi, bahasa, makanan, dan sebagainya, yang kemudian melahirkan gaya nonton, gaya makan, gaya berbicara, gaya berpakaian, gaya rambut, gaya sepatu, dan lain-lain. Mal misalnya, sebagai sebuah ruang sosial yang pluralistik, yang heterogen, dan global, adalah tempat di mana berbagai simbol dari gaya hidup itu dapat  kita temukan signifikansinya. Maka boleh dikata mal sendiri adalah simbol representatif dari gaya hidup yang disebut “modern” itu, yang konsumtif itu. Produk-produk konsumer itulah kemudian yang menjadi medium pembentukan personalitas, citra, untuk menemukan makna hidup.

Karena consumer culture menempatkan “konsumsi” sebagai faktor penting dalam mengubah nilai dan tatanan simbolis, maka kecenderungan yang semacam ini, menurut Featherstone (1990), yang membuat identitas dan subyektivitas seseorang mengalami transformasi. Proses transformasi itu terjadi misalnya ketika seseorang mulai mengekspresikan gaya hidupnya dengan kepemilikan objek-objek dan penggunaan benda-benda, dengan penekanan utamanya tidak pada nilai fungsionalnya, akan tetapi pada nilai-nilai simbolisnya.

Tengoklah acara-acara di televisi. Simbol-simbol agama selama bulan Ramadhan ini, menjadi sajian yang lebih banyak menampilkan citra luaran dibanding substansinya. Lebih pada citra kemeriahan yang dibentuk oleh kapitalisme, yang ujung-ujungnya mengajak pada gaya hidup konsumtif.

Di sini, Ramadan kemudian menjadi ritual musiman dari lingkaran yang disebut Turner (1966) sebagai bagian dari The Ritual Process, yang kerap berada di titik liminal. Begitu datang “musim” lain, Ramadan tinggal jadi kenangan. Jilbab dan baju koko pun segera berganti dengan kostum yang lain, sebab ia hanya sebuah fashion, sebuah gaya hidup, yang dapat segera ditanggalkan kapanpun.
Agama, dalam konteks ini hanya menjadi simbol identitas semata, bukan gambaran dari kekuatan spiritualitas. Meskipun, pada saat yang sama, ekspose yang terus-menerus tentang berbagai simbol agama di media, dengan berbagai pola pendekatan dan melibatkan berbagai tokoh-tokoh yang menjadi “idola” di mata publik (seperti para artis, dan ustaz-artis), membuat seolah minat orang untuk mendekatkan diri pada agama (Tuhan) kian meguat.

Lalu, muara atau klimaks dari Ramadan adalah lebaran. Lebaran, telah berhasil dikomodifikasi sedemikian rupa menjadi sebuah ivent “perlombaan” di mana hasrat berbelanja dilampiaskan. Selain itu, lebaran adalah juga sebuah gambaran tentang bagaimana transformasi sosial terjadi dalam sebuah tata masyarakat kelas menengah baru, yang dapat secara bebas mengekspresikan gaya hidupnya, terutama melalui komsumsi. Interpretasi abstrak atas “kemenangan” dan memperoleh “jiwa bersih dan baru” dari jerih puasa selama sebulan, adalah mengganti semua “yang lama” menjadi baru (secara fisik). Sejak semasa masih kecil lagi, persepsi ini ditanamkan di kepala kita, secara turun-temurun, sehingga (seolah) mentradisi dan pada gilirannya diakui sebagai salah satu budaya kita.

Tidak ada yang aneh dari fenomena tersebut. Sebab inilah konsekuensi dari prilaku mobilitas yang paling mengemuka sejak abad ke-20. Mobilitas yang membuka sekat-sekat kultural dan rasionalisasi ekonomi. Maka ketika agama merespon berbagai kepentingan dan pergerakan lingkungan sosial yang terus berubah, adaptasi-adaptasi dan konstekstualisasi menjadi niscaya. Hanya saja, kontekstualisasi yang banyak terjadi dalam praktik keagamaan lebih didominasi oleh budaya pasar. Sehingga, seturut Abdullah (2007), budaya Islam tidak berkembang menjadi budaya yang adaptif karena agama telah dipengaruhi oleh ideologi pasar. Nilai estetis kemudian lebih mengemuka, dibanding nilai etis.

Agama, pada gilirannya, tidak lagi mampu memberikan referensi bagai sebuah penataan sosial.
Agar kontekstualisasi agama dapat berlangsung dengan baik, dan agama tidak kian menjauh dari kepentingan publik, maka agama “harus mampu memberikan pelayanan yang tidak hanya mendukung dan meningkatkan keyakinan bagi pemeluknya, tetapi juga dalam memperluas implikasi agama di luar bidang agama itu sendiri” (Beyer, 1991).

Kalau kita bersepakat dengan Beyer, melalui konsep function dan performance dalam melihat bagaimana agama mengkonsepsikan realitas, maka saya kira agama akan dapat memainkan perannya baik dalam aspek sakralnya maupun aspek profan-nya. Meskipun, sebagai orang Islam, saya sangat yakin bahwa dalam Al Quran, melalui perannya sebagai “rahmat bagi sekalian alam”, telah dengan lengkap menjabarkan tentang “panduan” bagi kita untuk lebih bisa secara arif menghayati universalitas.***

Ramadan, Konsumerisme, Estetisasi Gaya Hidup
4/ 5
Oleh