Senin, 20 Mei 2019

Tak Boleh Pacaran Sesuku (Catatan Sejarah 2)

Tak Boleh Pacaran Sesuku (Catatan Sejarah 2)

Tak Boleh Pacaran Sesuku (Catatan Sejarah 2)
Senin, 20 Mei 2019

Dalam pertemuan awal di Taman Budaya Riau (Oktober 2017), satu hal yang ditegaskan sejak awal oleh Kepala Suku, Marhalim Zaini, adalah dalam satu komunitas dilarang berpacaran. Semua anggota yang hadir saat itu, tergelak. Mereka agaknya mengira bahwa ini hanya guyonan, dan tidak serius. Tapi setelah Marhalim menjelaskan alasannya bahwa komunitas ini adalah ibaratnya sebuah keluarga, adik-beradik, tak ada sekat emosional, dan akan berpotensi mengganggu proses, maka mereka semua memahaminya.
Sehingga, setelah pertemuan pertama itu berakhir, sepasang kekasih (tidak usah disebut ya namanya) yang telah berpacaran sebelumnya datang menghadap kepala Suku. Mereka mengaku berpacaran, dan apakah masih boleh bergabung di Suku? Kalau boleh, mereka berjanji tidak akan mengganggu proses. Marhalim, hanya mengiyakan, dan menyerahkan pada waktu dan seleksi alam yang bekerja. Dan nyatanya kelak, setelah setahun berproses di Suku, pasangan ini bubar. Begitu pula ada satu atau dua pasangan lain, yang sepertinya juga mengalami nasib sama.
Jadi, sebetulnya, boleh jadi apa yang dikata Kepala Suku itu hanya guyonan. Tapi boleh jadi juga ada benarnya. Namun sesungguhnya poin penting yang hendak dipahamkan adalah harus bersama-sama menjaga konsistensi dan komitmen untuk secara serius berproses dalam sebuah aktivitas dan kreativitas seni. Dan selama proses pertunjukan teater-puisi “Dilanggar Todak”, semua berjalan dengan lancar, meskipun tentu terdapat berbagai kelemahan.
Pertunjukan “Dilanggar Todak” yang digelar selama tiga hari (22, 23, 24 Februari 2018) didukung oleh lebih dari 50 pendukung. Dan tidak disangka antusiasme penonton demikian tinggi, sehingga selama tiga hari itu 1300 an penonton memenuhi gedung Anjung Seni Idrus Tintin.

Tak Boleh Pacaran Sesuku (Catatan Sejarah 2)
4/ 5
Oleh