Minggu, 02 Juni 2019

Anggota Suku Seni Riau Angkatan 1 (2017) yang Masih Bertahan

Anggota Suku Seni Riau Angkatan 1 (2017) yang Masih Bertahan

Anggota Suku Seni Riau Angkatan 1 (2017) yang Masih Bertahan
Minggu, 02 Juni 2019


Tahun 2017, bulan Oktober adalah pertemuan pertama dibentuknya Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Penerimaan anggota baru saat itu, terbuka secara luas atas inisiatif pendiri, Marhalim Zaini. Lebih dari 80 pegiat seni mendaftar. Proses berjalan, latihan “Dilanggar Todak” bergerak, seleksi alam bekerja, tersisa 50-an pendukung.

Setelah selesai pertunjukan “Dilanggar Todak” sampai saat ini, tahun 2019, seleksi alam terus bekerja dalam dinamika proses berkomunitas. Sehingga inilah 8 anggota tetap yang masih solid dan setia berjuang bersama, selama hampir 3 tahun ini. Yang lain, tentu mereka punya pilihan sendiri-sendiri, memilih jalan lain dalam berproses. Tetapi sebagian dari mereka memilih menjadi Anggota Tidak Tetap. Karena secara emosional, kami tetap menjadi sebuah keluarga.

1. Adek Feisal Usman, lahir di Pranap, 19 Februari 2000. Mantan pembalap ini adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNRI. Telah terlibat dalam sejumlah produksi seni sejak Suku Seni Riau berdiri, khususnya menjadi aktor. Sempat  menyutradarai pertunjukan seni. Selain teater, ia juga terus berlajar menulis sastra.

2. Ajik Bahar atau Baharsyah Setiaji, lahir di Lirik, 10 Agustus 1993. Lulusan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini aktif berteater sejak masih di Yogyakarta. Datang kembali ke Riau, langsung bergabung di Suku Seni. Ia kerap dipercaya melatih olah tubuh di Suku Seni, karena potensi seni terbesar dari dirinya adalah tubuh. Terlibat aktif dalam semua proses penggarapan di Suku Seni.

3. Eko Ragil Ar-Rahman, lahir di Pekanbaru, 22 Juni 1995. Masih tercatat sebagai mahasiswa Bahasa Inggris di Universitas Islam Riau. Urusan administrasi menjadi bidangnya sejak awal di Suku Seni. Menulis sastra adalah bidang yang ia tekuni selain juga turut beberapa kali mendukung pertunjukan seni. Telah menerbitkan sebuah buku puisi dan karya-karyanya termuat di sejumlah media massa.

4. Joni Hendri, lahir di Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Sejak Suku Seni Berdiri, ia paling aktif dan sibuk mengurusi banyak hal. Selain sebagai Bendahara di Suku, ia juga terlibat di semua aktivitas kegiatan di Suku Seni. Alumni jurusan Teater Akademi Kesenian Melayu Riau ini suka improvisasi dalam drama komedi, berpantomime, dan berteater. Guru SDN 153 ini belakangan juga mencoba belajar menulis.

5. Julisman, lahir di Pekanbaru, 15 Juli 1985. Alumnus Universitas Islam Riau ini, sejak awal terlibat dalam urusan desain di Suku Seni Riau. Meskipun begitu ia tetap aktif mengikuti berbagai program di Suku, terutama di kelas menulis. Belakangan ia hendak mencoba bermain teater dengan terlibat dalam proses penggarapan “agama sungai.”

6. Rido Ardi, lahir Batu Belah, 25 Maret 1997. Masih tercatat sebagai mahasiswa Sendratasik Universitas Islam Riau. Bermain musik menjadi bidang yang ia tekuni, sejak awal di Suku Seni sampai sekarang. Ia aktif mengikuti program-prorgam di Suku Seni, meskipun harus pulkam setiap malam Minggu tiba.

7. Pauzul Azmi alias Ace, lahir di Selatpanjang, 5 Mei 1995. Terlibat dalam proses penggarapan seni di Suku Seni sebagai pemain musi
k. Meskipun sesekali ia juga terlibat dalam pertunjukan drama, dan juga menjadi pemain di sejumlah pertunjukan seni.  Ia diserahi urusan kelistrikan dan kerumahtanggaan di Suku Seni. Mahir berkompang dan bersilat, sesekali gemar membaca puisi.

8. Suci Ulandari, lahir di Pekanbaru, 2 Desember 1997. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau ini sejak awal di Suku Seni menjadi pemain teater, sesekali terlibat dalam pembacaan puisi. Aktif di organisasi kampus tidak membuat ia meninggalkan Suku Seni sebagai tempat ia berkomunitas.

Anggota Suku Seni Riau Angkatan 1 (2017) yang Masih Bertahan
4/ 5
Oleh