Minggu, 30 Juni 2019

Diskusi Seni #15: Melihat Indonesia dari Sesuatu yang Kecil

Diskusi Seni #15: Melihat Indonesia dari Sesuatu yang Kecil

Diskusi Seni #15: Melihat Indonesia dari Sesuatu yang Kecil
Minggu, 30 Juni 2019


RUMAH Kreatif Suku Seni Riau kembali mengadakan Diskusi Seni bulanan yang ke 15 pada Sabtu malam, 29 Juni 2019, di Rumah Suku, Jalan Amal Ikhlas, nomor 11, Air Dingin, Pekanbaru. Pada kesempatan kali ini, diskusi seni menghadirkan Hary B Kori’un, sastrawan yang telah mengikuti residensi menulis di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur selama sebulan, melalui Program Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam diskusi dengan tema “Melihat Indonesia dari Sesuatu yang Kecil” ini Hary berbagi pengalaman yang ia dapatkan mulai proses seleksi sampai proses residensi di Pulau Sabu.
Ia menceritakan bagaimana keterampilan menulis prosa menjadi penting dalam program ini, karena hasil dari residensi ini adalah sebuah naskah buku yang telah siap diterbitkan. Sebuah buku yang lengkap dengan data pengamatan lapangan yang dikemas dalam kelihaian menulis karya sastra/prosa. Dalam hal ini, Hary mengemukakan tentang konsep “jurnalisme sastrawi” sebagai salah satu metode yang paling tepat dalam menulis “laporan” hasil residensi ini.

Selanjutnya Hary menceritakan berbagai kondisi di lapangan, baik geografis Sabu yang memang terpencil, jauh dari hingar-bingar kehidupan kota, sampai cerita ihwal karakter masyarakatnya. Berbagai ritual, kebiasaaan, adat istiadat serta pergaulan kehidupan keseharian masyarakat Sabu menjadi sumber inspirasi yang luar biasa untuk ditulis menjadi karya sastra. Dengan mengikuti residensi ini, Hary makin menyadari bahwa, Indonesia itu sangat luas. Tinggal selama sebulan di Pulau Sabu, membuat ia dapat melihat Indonesia dari titik jauh, titik yang kecil.

Sejumlah penanggap pun muncul. Di antaranya Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, yang merespon soal karakter masyarakat, selain soal potensi pariwisata, juga soal keragaman etnis pun agama. Selain itu Ajik Bahar yang menanyakan soal seputar dunia pendidikan di Sabu, NTT. Dan beberapa yang lain menanggapi seputar proses kreatif penulisan.

Diskusi yang dihadiri oleh sejumlah anggota komunitas literasi di Pekanbaru dan sejumlah sastrawan muda seperti May Moon Nasution, Boy Riza Utama, Reky Arfal, Anju Zasdar, serta anggota Suku Seni yang minat sastra seperti Eko Ragil, Ardilo Indragita, Joni Hendri, Julisman, dll. Dimoderatori oleh Eko Ragil, acara ini berjalan santai, sampai menjelang tengah malam. Bahkan setelah acara ditutup secara resmi, diskusi masih tetap berlanjut sambil ngopi di Kedai Kopi Suku.***

Laporan: Eko 

Diskusi Seni #15: Melihat Indonesia dari Sesuatu yang Kecil
4/ 5
Oleh