Kamis, 20 Juni 2019

Puisi Marhalim Zaini tentang Bakar Tongkang

Puisi Marhalim Zaini tentang Bakar Tongkang

Puisi Marhalim Zaini tentang Bakar Tongkang
Kamis, 20 Juni 2019


Bakar Tongkang

tak di malam
kau tinggalkan siam
dalam tahun demam
tapi di hujan
kau curi api daratan
dari pelabuhan bagan
itu dewa kie ong ya
  menghitung gigil cahaya
di biji kayu sempoa
ia menunggu ombakmu
menghala ke matahari
ke hulu sebuah mimpi:
tentang lelaki yang berlari
mengejar riwayat angin selat
ke sengat musim yang tak tercatat
 namakukah itu
 yang berkibar di layar
saat tongkang terbakar?

tapi kau menghalau asap hio
dengan kipas lipatan peta cina
ke kobaran api hutan melayu
ke wajahku sampah jerebu
meruap hinggap ke tatap
mata langit yang gelap
maka izinkan aku jadi tan ki
memikiul bola duri
mengelilingi tubuhmu
angkuh membatu
di atap bang liau
agar kau tahu
aku kian mencandu
bau amis ikanmu
bagai merindu
aroma payau
lautmu

bahwa di akar api-api
pagi pernah bernyanyi
tentang lancang kuning
yang tersadai di pantai
tentang nelayan tua
yang membakar jala
tentang janda raja-raja
yang menjahit kebaya
di mana anak sungai
membuang muka
menghanyutkan kota
entah di jawa
entah di malaysia
mungkin pula melaka
diam-diam berdusta
tentang batas warna
bendera marga
diam-diam menelikung
hikayat semenanjung
berkaki buntung
terseret angin tanjung
ke kuala rawa
tempat kita memuja
segala yang menjaga
segala yang tak tampak
sebagai yang berkehendak
segala yang tak padam
sebagai tuhan

maka sembahyang ini, tun
tak sujud pada jumat
pun tak takut pada sebat
sebab telah tumbang
tiang tongkang
ke seberang
ke sebuah kampung
ke ujung halaman kitab
ke jantung segala gelap
di kelentengmu
atau di surauku
kita mengaji rindu
pada dinding pelantar
atau selembar tikar
ada jejak bandar 
bekas terbakar

kita mematung saja
bagai perahu tua
yang menunggu senja
siapa tahu ada cinta
atau syair lama
tentang ular naga
yang berpagut
dalam surga
nanti saat petang
baba cina datang
pakai baju marga ang
bawa sesajen satu dulang
apa kau akan pulang?
aku takut pulang
pada lengang
yang panjang

lampion-lampion itu, tun
rumah-rumah malam
yang menunggu padam
orang-orang rokan
menanam cahayanya
di ujung pelabuhan
singgahlah sebagai pelaut
bukan sebagai kayu hanyut
niscaya kau akan disambut
bagai laksemana raja dilaut
merantaulah seperti berperang
tak pulang sebagai pecundang
niscaya kau akan terpandang
bagai sultan namamu dikenang
tapi aku pendurhaka
kau pun tak setia
siapa di antara kita
yang dikutuk dewa
jadi dermaga
kota tua

itu sempoa kie ong ya
menggigil ditimbun cahaya
tak di siam atau di bagan
hujan mencuri api hutan
ke mana menghala matahari
di kaki lelaki musim berlari
                  namakukah itu
                  yang berkibar di layar
                  saat tongkang terbakar?

kampung asap, 2008


*Puisi ini pernah dimuat di Koran Tempo dan termaktub dalam buku puisi Marhalim Zaini “Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu” (2013), buku penerima dua penghargaaan nasional yakni Anugerah Hari Puisi dan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta. 

**Foto dari GenPi.co

Puisi Marhalim Zaini tentang Bakar Tongkang
4/ 5
Oleh