Sabtu, 29 Juni 2019

Tugas (Iseng) Puisi

Tugas (Iseng) Puisi

Tugas (Iseng) Puisi
Sabtu, 29 Juni 2019


Oleh Marhalim Zaini

Perkembangan sastra Indonesia sekarang mengkhawatirkan. Sebagian besar hasil karya hanya merupakan sastra ‘klangenan’ atau penghibur, bukan sastra yang berpikir.

Itu kata Rendra, di tahun 1981. Sutan Takdir Alisjahbana kemudian mengutipnya dalam sebuah tulisan, menyandingkan dengan pernyataan-pernyataan lain yang senada, semisal dari Mochtar Lubis berikut ini, “hasil karya sastra Indonesia modern belakangan ini, merupakan pencerminan dari masyarakat yang sakit.” Mochtar setuju dengan Rendra—sebagaimana juga Takdir—bahwa sastra itu adalah obat, dapat menyembuhkan sakit bangsa. Tapi, yang bisa jadi obat itu (hanya) sastra yang “berisi” dan menjadi pikiran, sastra yang bertanggungjawab, bukan sastra hiasan, retoris, semata seni ‘mood’ dan iseng belaka.

 Kerisauan semacam itu, adalah juga perdebatan panjang (belum berujung) sejak lama, soal “tugas dan tanggungjawab” puisi (sastra) dalam kehidupan masyarakatnya. Takdir, dalam sejumlah tulisan lain, kerap ‘berkelahi’ (langsung atau tak langsung) dengan Teeuw, misalnya, pun dengan Korrie Layun Rampan, Goenawan, Sutardji, Subagio, dan sejumlah yang lain. Perkelahian yang positif, tentu, bagi jalan panjang sastra ke depan. Yang, sampai hari ini,perdebatan itu, sudah menempuh lebih dari dua dekade.

Dualisme konsepsi ini—antara “puisi sebagai (semata) karya seni” dan “puisi yang bertanggungjawab”—hemat saya, masih dipegang teguh sampai kini bagi para penganutnya masing-masing. Di dunia puisi (khususnya), dualisme ini seolah telah jadi model tersendiri dalam capaian estetika. Meskipun, kalau diamati dari sejumlah puisi di media massa, pun buku-buku puisi yang terbit, tak banyak muncul puisi-puisi sejenis puisi Wiji Thukul, Rendra, Taufiq Ismail, dan Ahmadun, atau yang lebih awal ada nama Muhammad Yamin, misalnya. Dibanding, yang tampak berkerumun, lahir puisi-puisi “semacam” puisi Chairil, Goenawan, Sapardi, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, dan sejumlah nama lain.

Selama dua tahun ini, saya jadi redaktur puisi di harian Riau Pos, jarang sekali (untuk tidak mengatakan tidak ada) yang mengirim puisi-puisi yang seperti dalam bahasa Takdir di atas, yang disebut (berkali-kali) sebagai puisi (sastra) “yang bertanggungjawab dan berisi.” Saya tidak tahu persis, kenapa demikian. Yang pasti, kita tentu, tak akan pernah berhenti untuk berdebat, ihwal sebutan “bertanggungjawab dan berisi” itu. Para penyair hari ini, yang menulis puisi melankolis, yang tidak heroik, yang liris, yang kadang cengeng, terkesan individualistis, tidak bicara dengan diksi-diksi “kebangsaan,” tentu menolak dikatakan sebagai penyair “yang tidak bertanggungjawab dan tidak berisi.” Sebab, mereka akan bersiteguh mengatakan bahwa mereka (seturut Teeuw) “masih berkomitmen terhadap kemanusiaan (universal).”

 Saya kira kita mafhum, bahwa apa yang jadi fokus pandangan Takdir (dulu) itu, yang ia sebut sebagai “sastra klangenan” itu, atau “sastra yang iseng belaka” itu, tengah berupaya untuk terus memantapkan kesepakatan bersama bahwa jangan anggap “sepele” sastra dalam membangun bangsa. Dan, semua penyair (sastrawan) pasti setuju itu. Soalnya, kemudian, adalah pada “cara” mengatakannya. Ada yang gemar langsung, verbal, terbuka. Ada yang memilih bersembunyi di balik imaji-imaji, di balik suasana, di balik peristiwa-peristiwa. Dua cara ini, sama-sama berisi, dan saya kira, juga sama-sama bertanggungjawab.

Andai pun kemudian, seolah tak dapat kita pungkiri, ketika mengkritisi puisi-puisi yang lahir belakangan, justru (seolah) cenderung mengamini gejala yang disebut Takdir, dkk. Individualisme, seperti kian menguat. Hal-hal sepele, jadi penting. Tubuh dan seksualitas, tak bisa lepas. Tentu, kita tak boleh cepat-cepat menuduh bahwa inilah dia “puisi klangenan” itu, “puisi iseng” itu, puisi sekedar untuk hiburan itu. Puisi, yang seperti kata Chairil, “kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri...”***

Tugas (Iseng) Puisi
4/ 5
Oleh