Minggu, 07 Juli 2019

Puisi-puisi Joni Hendri tentang Empat Peristiwa

Puisi-puisi Joni Hendri tentang Empat Peristiwa

Puisi-puisi Joni Hendri tentang Empat Peristiwa
Minggu, 07 Juli 2019


Peristiwa Asap

asap dari arah dapurmu
mengepul di hidung kami
dan malam itu
adalah hari tempat penguburan
lima ratus orang-orang terbunuh

dari arah kota-kota yang tidak bergerak
dalam pikiran kami
membiarkan ia tertimbun tanah oleh bencana
kami hanya melihat dari atas langit yang biru
apakah asap itu?

dan siapa yang terbunuh lima ratus itu?
kami tidak tahu semua itu dan ini
sebab bangkai makna telah ditelan oleh kata
pada akhirnya menjadi asap
dalam pikiranmu dan kami.

Pekanbaru, 2019




Peristiwa Pagi di Sekolah

tiap pagi aku masuk ke lokal sekolah
sambil membawa kepala binatang
yang tiba-tiba berisik seperti kucing dan anjing
buku-buku di meja terlihat berdebu,
lalu aku bertanya; untuk apa buku ini?
mereka diam sambil memegang kepala binatang
lalu mencongkel matanya
membongkar makam waktu dari tubuhnya

pagi itu aku hanya mengajar dongeng dari sejarah
yang keluar dari pori-pori dan lehermu
menelan kurma untuk membatalkan puasa
padahal, aku tidak memakan kepala binatang
apalagi untuk membasuh muka dari sumur pusaka
sebab, waktu sudah tidak nyata
ia membohongi dari sebalik kerudung,
kemudian mengintai dari celah paha.

Pekanbaru, 2019




Peristiwa Jari

aku sempatkan bergendang
dengan jari kelingking
bunyinya tajam
menusuk telinga yang kering
duduk di taman bunga mimpi
pada hari-hari sepi

jari menyimpan sepi
hingga tak sempat tidur

masih adakah jari itu?
kita tunggu saja
sampai ke petang.

Pekanbaru, 2019




Peristiwa Malam

malam mulai menanyakan petang
sebuah gelas berisi kopi menyimpan rahasia
tentang nasib malang seorang tokoh dongeng

aku hanya bisa memejamkan mata pada bantal
hingga menunggu air mata keluar
dan mengalir di lehermu

halaman malam itu hanya ada vespa tua
anak-anak jalanan bermain lalu tidak tidur
mereka menunggumu hingga keluar
aku diamkan saja dari dalam kelambu
sampai ia pulang dari balik rahasia

lampu malam itu entah kenapa mati
anehnya, perempuan-perempuanmu bahagia
hingga aku ketakutan dan demam
menggigil di ujung waktu
sampai pagi menjemput kata-kata yang pergi
dari dalam tubuhmu dan tubuhku.

Pekanbaru, 2019






Joni Hendri, Amd. Sn, adalah anggota angkatan pertama Suku Seni Riau dan guru di SD N 153 Pekanbaru. Lahir di Teluk Dalam, 1993. Menulis adalah bentuk ekspresi kegelisahannya selain berteater dan pantomim.

Puisi-puisi Joni Hendri tentang Empat Peristiwa
4/ 5
Oleh