Sabtu, 13 Juli 2019

Tentang “Agama Sungai” (1): Peradaban Sungai di Sumatera

Tentang “Agama Sungai” (1): Peradaban Sungai di Sumatera

Tentang “Agama Sungai” (1):  Peradaban Sungai di Sumatera
Sabtu, 13 Juli 2019


Menyusuri sungai di Sumatera adalah juga menyusuri sejarah peradaban masyarakat Sumatera. Sebab, seturut dengan sejarawan Universitas Andalas, Gusti Asnan (2016), sungai adalah faktor penggerak sejarah di Sumatera. Bukankah selama ribuan tahun, sungai telah membentuk peradaban Sumatera, sebagaimana peradaban Tiongkok oleh Sungai Kuning dan peradaban Mesopotamia dibentuk oleh Eufrat dan Tigris, serta Sungai Nil yang merupakan peradaban tua dunia, yang boleh dikata, peradaban megah Mesir Kuno juga lahir dan mengalir dari sana, sampai-sampai sejarawan Herodotus menyebut Mesir adalah ”hadiah Sungai Nil”.

Maka, bicara sungai tidak semata bicara soal aliran air, tetapi juga menelisik sebuah dunia luas yang kompleks, sebagaimana kompleksitas sebuah peradaban. Mulai dari aspek sosi0-historis, tradisi dan mitos, seni dan ritual, agama dan spiritualitas, sampai pada aspek arkeologis dan lingkungan. Dan di semua kawasan Sumatera yang memiliki sungai yang beragam nama, sejumlah sungai terpanjang dan terdalam seperti Sungai Asahan (Sumatera Utara), Sungai Siak (Riau), Way Tulangbawang (Lampung), Sungai Merangin (Jambi), dan lain-lain.

Gusti Anan menyebut, sungai memiliki karakter yang berbeda. Sayangnya sejak Indonesia merdeka, terjadi penyeragaman penggunaan kata ”sungai” untuk semua aliran air ke laut. Padahal karakter sungai dapat ditelisik juga dari beragam sebutan dari setiap daerah, misalnya krueng (Aceh), woi (Gayo), aek (Batak Mandailing), lau (Batak Karo), kuala (Sumatera Timur), batang (Sumatera Tengah), air (Sumatera Selatan), dan way (Lampung). Karakter tersebut--sebagaimana Gusti mengutip Schnitger (1939)—dapat “memanusiakan” sungai-sungai dengan narasi-narasi, semisal dengan penyebutan frasa ”lebar dan pengeluh bagaikan orang tua” untuk Sungai Musi, dan ”ganas dan membara” untuk Sungai Batanghari. Dan bisa pula ditambahkan narasi “tenang di kedalaman” untuk Sungai Siak.

Kompleksitas peradaban sungai juga dapat dilihat misalnya pada era klasik, kerajaan-kerajaan di Sumatera berdiri di kawasan bagian tengah aliran sungai dan di tepian sungai, misalnya Sriwijaya di tepi Musi, Melayu di tepi Batanghari, serta Minangkabau di tepi Batang Selo dan Batang Buo, Siak di tepi Sungai Jantan-Riau, Kerajaan Sungai Pagu di Solok, Kerjaan Sungai Lemau dan Sungai Serut di Bengkulu, Kerajaan Pelalawan di Sungai Rasau, Kerajaan Segati di Hulu Sungai Segati-Riau, Kerajaan Tulang Bawang di Sungai Tulang Bawang. Selain mempermudah pihak kerajaan mengontrol produk dari daerah pedalaman Sumatera yang mengalir ke berbagai belahan dunia, juga dapat menghindari perompakan yang kerap terjadi di laut.

Sampai sekarang, peradaban sungai sesungguhnya masih berlangsung dalam kehidupan masyarakat di Sumatera, terutama yang tinggal di pesisir, dan di pedalaman. Mereka adalah para penduduk asli, yang masih tinggal di pinggir-pinggir sungai, masih mencoba terus berdampingan hidup dengan alam. Akan tetapi, jumlah mereka kian hari kian menyusut. Selain banyak yang pindah ke kota, tinggal di pinggiran sungai tidak lagi memiliki masa depan. Sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka telah banyak yang berubah menjadi tong sampah industri dan pertambanga, limbah manusia, limbah pabrik, dan sebagainya.

Sungai sebagai sebuah peradaban seperti menunju keruntuhannya. Penebangan hutan demi transmigrasi dan perkebunan menyebabkan sungai kering di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Perubahan fungsi sungai ini terjadi sejak kolonialisme Belanda. Mereka membangun loji di tepi sungai, serta menggunakan sungai untuk ekspedisi militernya. Untuk pertama kalinya, jalur sungai Sumatera pun terbuka bagi lalu lintas kapal penumpang dan kapal barang asing berbendera Belanda, Inggris, Tiongkok, bahkan Yunani dan Panama.***

Tentang “Agama Sungai” (1): Peradaban Sungai di Sumatera
4/ 5
Oleh

2 Comments

avatar

Keren ini, bahkan pada abad ke-6 sebelum masehi, para pakar bahasa sansakerta hidup di tepiang sungai gangga.

avatar

Betul. Nonton ya...