Jumat, 19 Juli 2019

Tentang “Agama Sungai” (2): Puisi “Agama-agama” sebagai Sumber Penciptaan

Tentang “Agama Sungai” (2): Puisi “Agama-agama” sebagai Sumber Penciptaan

Tentang “Agama Sungai” (2): Puisi “Agama-agama” sebagai Sumber Penciptaan
Jumat, 19 Juli 2019


Sejumlah puisi tentang “agama-agama” karya Marhalim Zaini berikut ini, yang menjadi sumber penciptaan pertunjukan teater-puisi “agama sungai”.

Dipentaskan tanggal 27 Juli 2019, di Teater Terbuka Taman Budaya Riau, pukul 20.00 WIB



agama sungai

ia hanya berdayung, dari tepi ke tepi. setiap pagi,
ketika sebuah doa tersangkut di jala, dan membuat
luka robek makin menganga. tapi sungai ini, diam saja
seperti seseorang yang terbujur, terpiuh di ujung nyawa.

ia tak sendirian. menjadi pendayung adalah pilihan untuk
tidak menjadi sampan. menjadi sungai adalah pilihan tabu,
sebab sungai memilih menjadi ibu. ibu yang sudah tak lagi
mencuci rambutnya, sejak punggung sejarah menghadap kota.

maka dari tepi ke tepi, dari pagi ke pagi, yang ia dayung
adalah tubuh ibu, ia berdayung di atas tubuh ibu. tubuh
yang tiap malam tak berlampu. yang tiap petang merapal
remang dari dongeng terubuk, dari telunjuk kutuk. tubuh,
yang bertahun-tahun menyaru menjadi patung di istana. 

maka saban azan, yang ia panggil adalah hulu. tuhan di sana,
tuhan di sana. selalu ia berteriak kepada tepi, kepada pagi.
tapi tepi dan pagi, adalah juga birai pada kain, yang ia dengar
hanya sengal gelombang, di ujung gaung sebuah zaman.

2017
(Sumber: Kompas, 17-2-2018)



agama ikan

saling membuat gelombang bunyi
dari gemetar cahaya pagi

tak saling berbantah tentang
akidah langit yang kekal

tak saling menyumpah tentang
kaidah laut yang liar

apakah mata dan air,
satu agama?

bukan. mata bukan air, dan air
bukan mata yang tak bisa tidur.

air, adalah dunia tempat mata berenang
melihat tuhan terjaga. 

dan karena aku bukan tuhan,
aku tidur dengan mata terbuka.

2017
(Sumber: Kompas, 17-2-2018)



agama putih

tak ada warna lain, selain putih, katamu.
kamu lalu pergi, menanggalkan bayanganmu
yang hitam, dari tubuhmu yang malam.

aku sudah lama menunggu bayanganmu
mandi, mencuci bola matanya yang merah,
tapi air tanah menolak menjadi air
jika tugasnya hanya membuat tanah
menjadi tong sampah.

maka bayanganmu pun pergi, menanggalkan
bola matanya yang tertutup. aku melihat
air putih mengalir dari bayangan hitam
tubuhku, dari bola mataku yang padam.

2017.   
(Sumber: Koran Tempo, 12-2-2018)




agama puisi

kata-kata bersaksi, hanya kepada puisi
ia sembunyikan sunyi.

puisi bersaksi, hanya kepada bunyi
ia sembunyikan sepi.

bunyi bersaksi, hanya kepada kata-kata
ia sembunyikan api.

2017 
(Sumber: Koran Tempo, 25-2-2018)



agama suara

tak ada suara yang bisa disembunyikan di sini, dinding-dinding
hanya pembatas ruang dari sejarah tubuh kita yang tak suci.
sejarah yang saling tembus urat darahnya, saling baur warnanya,
saling tangkap kutukan-kutukannya.

maka aku adalah suara yang gaduh. tak mungkin dapat kautemukan
aku, sebagai sunyi yang utuh. bahkan ketika waktu pun telah tiada,
yang abadi adalah suara.

tapi kita diciptakan
dari suara yang satu,

kun!

suara yang satu...

2017
(Sumber: Koran Tempo, 25-2-2018)

Tentang “Agama Sungai” (2): Puisi “Agama-agama” sebagai Sumber Penciptaan
4/ 5
Oleh