Minggu, 29 September 2019

Puisi-puisi untuk Mengingat, Karya Joni Hendri

Puisi-puisi untuk Mengingat, Karya Joni Hendri

Puisi-puisi untuk Mengingat, Karya Joni Hendri
Minggu, 29 September 2019


Mengingat Hari

Hari yang begitu cepat bagai peluru
ia membawa nyawa-nyawa yang sedang tidur
walau itu hanya tetesan air di gurun pasir
melenggang ingin pada panas itu
hingga ia menikam kaki

Ia lupa hari-hari membawa nyilu
sebab cuaca bermain di pinggir pintu
menutup doa dalam rumah batu

Jika raib sisa hidup?
kembalilah kepada pedoman yang belum redup
lalu dambakan Tuhan pencipta alam
sebelum senja menjemput malam.

September, 2019



Mengingat Hujan

Perubahan yang tak pernah berhenti
ia turun dari langit
bukan tetesan air tapi pukulan
hujan adalah kematian untuk kemarau
hidup adalah perubahan bagai harap yang tak sampai

Dunia hanya sebentar kata sabda nabi
kekal ialah kata dalam hati
yang kita kecup setiap hari
kepunyaannya terus ia beri kepada kita
dengan lembut kita rasa

Mengingat hujan
maka ingatlah pada maung serupa durhaka
tempat kita bersungut pada ujung usia
ditempat maksiat terkumpulnya kata lupa.

Jumat, September 2019



Mengingat Ad-din

Kita sudah melata di buminya
dengan melupakan kata Ad-din
menyimak pada kesusahan tiba
lalu mengiba dengan muka tak berdosa

Menghirup lintasan siang dan malam
hingga melompati doa-doa pada iba
tapi apakah kita patuh pada iman?
jika sudah terbunuh oleh zaman
mengingat Ad-din serupa gemuruh dalam api

Lalu kita tuliskan khusuk pada mata
bukan pada diri yang hampir mati!

21 September, 2019





Mengingat Jiwa

Serupa tubuh kehilangan otak
cemas yang menampar jiwa
hingga roh terpiuh dan pergi

Apakah kita mengingat jiwa?
ketika cinta bermain di atas tahta

Orang-orang gila jauh tidak mengingatnya
ia hanya berjalan dari batang hari
sampai masuk ke jurang tua
segala sesal bertakung lalu membusuk

Tapi ketahuialah,
 jiwa adalah segala obat dalam diri
saat kita menyusu di teluk mimpi
dan mandi dalam kolam hati.

2019



Mengingat Usia
          :Abah

Wajah pucat itu tidak mendatangkan ingin
hingga menepuk-nepuk pundak
menggores mata pada anak-anak yang berpergian ke Masjid
ada terbujur lupa pada waktu
ia bahkan sakit di hulu usia

Derai-derai umur mulai tertutup keranda
bahkan tidak menghiraukan pada tanda-tanda
walau setiap saat bintang-bintang tajam menikam telinga
mungkin, satu kali ia akan mengingat usia

Tiba-tiba hujan datang sebentar, ia pun diam-diam melihat dari jendela
tampaknya pintu-pintu tertutup
angin hanya masuk dari lubang tua
ia hanya cium-cium bibir sisa kematian yang di bawa oleh angin itu.

2017



Joni Hendri, adalah anggota tetap Suku Seni. Mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru. Alumnus Akademi Kesenian Melayu Riau ini selain berpuisi juga berpantomim, dan aktor teater.

Puisi-puisi untuk Mengingat, Karya Joni Hendri
4/ 5
Oleh