Rabu, 09 Oktober 2019

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (2)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (2)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (2)
Rabu, 09 Oktober 2019



Oleh Marhalim Zaini

ASAL MULA, PERSEBARAN, VARIAN

“…Pada malam bulan purnama, anak lekaki remaja kadang-kadang menyaru untuk menakuti teman-temannya. Membuat mukanya tak dapat dikenali dan tubuhnya dibalut pakaian aneh, disebut dalupa…” (lihat: Asal Usul Aceh Barat, 2015:454).

Kalimat di atas adalah kutipan dari tulisan Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang ilmuan Belanda yang pernah lama tinggal di Aceh, yang terdapat di dalam buku “Asal Usul Aceh Barat” yang ditulis oleh HT Ahmad Dadek SH, dkk, (terbit tahun 2015). Setidaknya ada dua aspek yang dapat diurai dari kalimat tersebut. Pertama, dengan dikutipnya pernyataan tersebut, Dadek seolah hendak menegaskan bahwa asal mula seni Dalupa adalah dari Aceh Barat. 

Meskipun muncul pendapat bahwa Dalupa berasal dari Aceh Jaya, namun informasi yang saya dapatkan dari sejumlah sumber di lapangan, grup teater Dalupa memang banyak terdapat di Aceh Barat. Hemat saya, kedua pandangan ini masih relevan karena kedua daerah (Aceh Barat dan Aceh Jaya) masih berada pada satu wilayah Pantai Barat Aceh. Sehingga sangat wajar persebaran terjadi pada dua daerah yang berdekatan ini. Yang masih perlu penelusuran lebih jauh adalah ketika saya juga mendapatkan informasi bahwa sosok mirip Dalupa (dengan kostum dan topeng) ada juga di daerah luar Aceh, seperti Lampung.

Kedua, pernyataan Snouck tersebut juga mengemukakan satu informasi lain tentang asal mula munculnya istilah “Dalupa”—yang nanti akan menjelaskan pula bahwa “Dalupa” memiliki beberapa varian. Sosok “Dalupa” dalam pernyataan Snouck, muasalnya dari keinginan seorang anak laki-laki yang menakut-nakuti teman bermainnya. Hal ini berkorelasi pula dengan informasi lain yang saya dapatkan bahwa kata “Dalupa” itu sendiri berarti “menyamar” atau “samaran.”  Menyamar dengan memakai kostum dan topeng.

Varian Dalupa yang ada di Aceh Jaya, narasinya jauh berbeda dengan Dalupa dari grup SSDR. Di dalam buku “Asal Usul Aceh Barat” diceritakan bahwa Dalupa itu sesosok makhluk tapi bukan manusia. Kisahnya bermula dari perjalanan seorang Teungku Sabé, yang tinggal di Panggong. Suatu malam ketika ia berjalan melintasi sebatang pohon kayu besar, tiba-tiba ia mendengar suara yang memberikan salam. Teungku Sabé menjawab salam tersebut, tetapi ia tidak melihat sesiapapun ada di situ. Tak lama ia mendengar suara lagi, “Saya ada di samping Anda. Jika Anda mau melihat saya, tolong ambilkan kupiah kakek saya di pohon besar itu dan pakailah.”

Teungku Sabé menuruti suara tersebut dan mendekati pohon yang ditunjuk. Teungku Sabé melihat ada bundelan berbentuk peci yang dirajut dari lidi ijuk atau ‘pureh jok’. Ia lalu memakai peci tersebut, lantas melihat ke arah asal suara tadi. Ketika itulah, Teungku Sabé melihat sesosok makhluk tinggi besar. Sosok itu kemudian mengaku ingin menjadi pengawal Teungku Sabé. Dan dari sinilah kemudian para seniman di Aceh Jaya meyakini asa muasal Dalupa itu yang dimainkan dengan diiringi rapai debuh (debus dengan iringan rapai).

Sementara itu, di Aceh Barat, termasuk grup SSDR yang berada di Suak Trieng Woyla, kisahnya seperti yang tergambar dalam alur cerita di awal tulisan ini. Namun, variasi kisah yang lain muncul. Misalnya tokoh Datok Rimba dalam grup SSDR, dalam versi yang lain bernama Sidar Singh—sebelum ia diberi gelar oleh masyarakat sebagai Datok Rimba. Seorang dari suku India yang berlayar ke Aceh Barat. Ketika ia masuk hutan Woyla ia bertemu dengan dua sosok makhluk menyerupai manusia tetapi seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat. Sosok itu kemudian disebut “Si Dalupa.” Maknanya kira-kira ‘si kakak lupa adik’ dan ‘si adik lupa kakak’. Hal ini diambil dari kata “Da” dalam bahasa Aceh yang artinya ‘kakak’. Artinya, variasi cerita maupun arti kata “Dalupa” di Aceh Barat tidak terlalu jauh berbeda.

Ada satu versi lain yang saya dapatkan informasinya dari seorang jurnalis bernama Mellyan Cut Keumala Nyakman, yang tinggal di Meulaboh. Ia pernah melakukan liputan di salah satu grup Dalupa di daerah Keude Layung, Kecamatan Bubon, Aceh Barat. Ia bertemu langsung dengan sutradara dan pimpinan kelompok Sanggar Buraq Lam Tapa, bernama Syekh Din (kelahiran 1931). Nama kelompok ini juga adalah nama pangung dari Syekh Din. Kisah Dalupa versi Syekh Din, berbeda dengan kisah Dalupa versi SSDR. Syekh Din mendengar cerita ini dari Pang Kaom pada tahun 1662, dan nama pertunjukan ini adalah “Si Dalupa.

Sambil bersyair, Syekh Din mengisahkan bahwa ada dua orang India kakak beradik bernama Sidal dan Upa. Mereka terusir dari kampung halamannya karena suatu kesalahan yang membuat sang Raja murka. Keduanya kemudian pergi dengan sebuah perahu buntung mengarungi Samudera Hindia. Setelah terombang ambing di tengah laut, perahunya terhempas karena angin kencang dan puting beliung. Mereka terdampar di pesisir barat Aceh, di pantai Kuala Bubon. Sidalupa berjalan sampai ke Cot Amun (sekarang masuk Kecamatan Samatiga). Ketika melanjutkan perjalanan ke Cot Kuyun mereka dihalang oleh buaya.

Mereka pun mengayuh perahu sampai ke sungai Layung. Sungai yang memiliki dua muara itu berakhir dalam hutan rimba (sekarang terletak di Desa Liceh, Kecamatan Bubon). Di situ terdapat sebuah gunung bernama Glee Tarom Pucok Sikumbang. “Awak nyan deuk alahai hana dipajoh sapue (mereka kelaparan, tidak makan apa-apa),” begitu ucap Syekh Din. Si Dalupa tinggal dalam sebuah gua berpuluh tahun hingga tubuhnya ditumbuhi bulu yang sangat lebat.

Bertahun kemudian, orang-orang kampung mendengar berita ada mahkluk dalam gua, yang suaranya seperti orang mendengkur. Karena penasaran, orang kampung beramai-ramai menuju gua di Pucok Sikumbang. Mereka melihat banyak rotan yang tumbuh di sekitar gua. Begitu rotan-rotan itu ditarik terdengarlah suara seperti suara orang mendengkur yang sangat keras. Orang-orang pun melihat sesosok makhluk hitam, dan berupaya mengajaknya bicara, memintanya keluar dari gua. Karena gagal, ada yang usul untuk memancing Sidalupa dengan cermin. Cermin diletakkan dekat dengan wajah Sidalupa. Karena kaget dan penasaran, Sidalupa mengikuti arah cermin itu sampai ia keluar dari gua. Namun tidak lama, dan hanya sampai pinggir desa, keduanya kembali berlari ke dalam Gua Liceh. Tidak lama kemudian, terdengar kabar Sidalupa mati akibat kelaparan. Setelah Sidalupa mati, bertahun tahun kemudian, warga sekitar mengisahkannya kembali dalam sebuah pertunjukan kesenian yang bertajuk “Sidalupa”.***


Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (2)
4/ 5
Oleh