Rabu, 09 Oktober 2019

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (1)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (1)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (1)
Rabu, 09 Oktober 2019


Oleh: Marhalim Zaini

SAYA memulai perjalanan ke Aceh dari ingatan kuat tentang bencana besar 2004, ihwal konflik dan Islam. Keseniannya, menjadi ingatan yang samar. Tapi yang samar bukan berarti tiada. Saman, Seudati, PM.Toh, Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-raja Pasai, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Rencong, dan sederet ingatan yang lain tentu telah lama mengendap dalam kepala saya. Aceh dengan 4.5 juta penduduk ini adalah daerah istimewa dengan kewenangan khusus, maka pasti juga menjadi istimewa dan khusus dalam ingatan, berikut sejarah dan kunikan-keunikannya.

Tetapi nama “Dalupa”, hampir tiada dalam referensi pengetahuan saya yang terbatas ini. Kenapa Dalupa tidak setenar kesenian yang lain. Apakah hanya saya, yang bukan orang Aceh yang tidak tahu ada kesenian bernama “Dalupa”. Rupanya tidak. Ketika saya bertanya pada beberapa orang di Banda Aceh, pun Meulaboh, nama “Dalupa” juga samar. Bahkan ketika saya bertanya kepada satu-dua masyarakat yang tinggal di Woyla, daerah yang “diduga” menjadi tempat persebaran Dalupa, mereka terlihat ragu untuk menjawabnya.

Hemat saya, ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Pertama, bentuk seni pertunjukan Dalupa dibanding kesenian yang lain, tidak menunjukkan secara jelas identitas lokal Aceh, kecuali aspek bahasa dan unsur musik. Sehingga Dalupa tidak selalu menjadi pilihan untuk ditampikan dalam berbagai ivent budaya di dalam maupun di luar Aceh. Kedua, untuk itu Dalupa lebih sering ditampikan dalam karnaval atau pawai budaya karena kostumnya memang menarik perhatian masyarakat. Ketiga, oleh sebab itu, masyarakat lebih akrab pada ingatan visual dibanding mengingat Dalupa sebagai sebuah kisah/narasi. Keempat, sebab lain, tentu bahwa kesenian serupa ini, selalu kalah ketika berhadapan dengan gempuran budaya yang lain.



JALAN CERITA

Berikut ini adalah alur cerita pertunjukan Dalupa versi Sanggar Seni Datok Rimba (selanjutnya akan disingkat SSDR), yang saya olah kembali dari hasil pengamatan dan sinopsis yang ditulis oleh Pak Hanafiyah (sutradara).

Daripada lon gadeh keubeu pusaka,
Leubeh get lon gadeh awak drokeuh!
(Daripada saya kehilangan kerbau pusaka,
lebih baik saya kehilangan kalian!)

INILAH kallimat sumpah, yang menjadi muasal sebab segala kisah tragedi ini dimulai. Keluar dari mulut seorang lelaki setengah tua bernama Toek Mancang, seorang ayah yang murka kepada kedua anaknya karena telah lalai menjaga kerbau pusaka warisan keluarga. Dua ekor kerbau hilang di pinggir hutan, ketika kedua anak lelakinya sibuk bermain. Toek Mancang yang telah lama ditinggal istrinya itu kalap, emosinya memuncak. Ia lupa bahwa sumpah seorang Ayah bisa menjadi kutuk bagi anak mereka. Kedua anaknya, Si Cuka dan Si Cukeng, diusir dari rumah.

Namun, selang beberapa hari saja, hati seorang ayah luruh. Kesepian dan kerinduan datang. Dua anaknya telah terusir ke hutan, dan tak pulang-pulang. Penyesalan datang tak beri ampun. Dadanya bergemuruh mengingat dua anaknya yang masih belia, entah di mana tersesat di rimba raya. Toek Mancang seperti orang gila, mencari anaknya, berhari-hari. Tapi apa hendak dikata, hutan lebat membentang, tak mengabarkan di mana dua beradik Cuka-Cukeng berada. Ia menangis. Menepuk-nepuk dadanya yang sesak oleh rasa sesal.

Sementara itu, kisah bergulir pada nasib kedua beradik di ceruk rimba. Si Cuka dan Si Cukeng, oleh sebab ketakutan dan rasa berdosa pada orang tua, mereka belari dan berlari. Pergi jauh, sejauh-jauhnya dari rumah. Namun di hutan belantara, tak ada jalan lurus-lempang. Mereka tersesat, berbelok-kelok ke arah entah, membuat keduanya terpisah. Terpisah jauh, bertahun-tahun

Sampai suatu hari, 25 tahun kemudian. Ketika dua petani, Si Gimbak dan Si Bugeh, sedang mencari rotan di hutan, mereka dikejutkan dengan suara-suara aneh. Suara yang tidak biasanya mereka dengar, tidak serupa dengan suara-suara binatang hutan. Makin lama suara itu semakin jelas terdengar, seperti suara auman binatang yang besar. Dua petani ini ketakutan, dan lari tunggang-langgang. Si Gimbak lari ke kanan, si Bugeh lari ke kiri. Tetapi, telah jauh mereka lari, suara itu malah terus mengejar mereka. Dan semakin dekat, lalu menyergap. Sesosok makhluk besar dengan tubuh penuh bulu hitam yang lebat menyeringai dengan wajah yang mengerikan, membuat tubuh dua petani menggigil.

Mereka pun pingsan. Dua sosok makhluk hitam ini, merasa senang karena telah berhasil menangkap kedua petani ini. Namun, rasa senang itu hanya sebentar, karena setelahnya dua sosok hitam ini saling pandang. Saling heran, kenapa ada sosok yang persis sama dengan diri mereka di hutan ini. Lama mereka saling pandang. Hingga keduanya saling marah karena merasa tersaingi. Saling meraung, karena tak ada kata-kata yang bisa mereka ucapkan selain raungan yang mengerikan. Makin lama, keduanya bertambah emosi, yang kemudian berujung perkelahian.

Saat itulah, sesosok lain tiba-tiba muncul entah dari mana. Sosok lelaki berjubah putih, yang memegang tasbih. Mulutnya berkomat-kamit, merapal ayat-ayat suci. Dialah Datoek Rimba. Penyebar ajaran agama Islam, berlayar dari Gujarat Hindia Belakang dan singgah ke Aceh Barat. Mendengar ayat-ayat suci itu, kedua sosok hitam makin keras meraung dan mengaum. Mereka marah dan menyerang Datoek Rimba. Tapi tidak sedikitpun tubuh Datoek Rimba dapat disentuh, apalagi dilukai, oleh kedua makhluk besar itu. Keduanya terpental jatuh, berkali-kali. Dan akhirnya menyerah.

Datoek Rimba kemudian memenangkan dua makhluk itu. Meminta kedua makhluk itu untuk menyembuhkan dua petani yang pingsan. Setelah itu, Datoek Rimba berpetuah, memberi nasihat-nasihat kebaikan. Setelah mengetahui bahwa kedua makhluk ini ada hubungan darah, maka Datoek Rimba kemudian memberi nama makhluk hitam itu dengan “DALUPA”. Kata “Da” berarti “kakak”, dan “Lupa” berarti “tidak ingat”. Jadi “Dalupa” itu artinya “Adik lupa Kakak, dan Kakak lupa Adik.”

Setelah itu mereka bersama-sama turun ke gampong (kampong), menemui Datoek Mancang dan masyarakat setempat. Datoek Mancang gembira sekali anaknya ditemukan meskipun telah berubah wajah dan tubuhnya. Untuk merayakan itu, mereka membuat sebuah pesta, dengan menghadirkan berbagai kesenian, seperti seudati, rapai, top daboh, tarian aksi, dll. Datoek Rimba akhirnya berdomisilli di kampong itu, dan berhasil mengajak semua masyarakat masuk Islam, dan membuang semua kebiasan buruk mereka seperti mabuk-mabukan dan sabung ayam.***

*Riset Teater Dalupa Aceh ini adalah bagian dari acara Pekan Teater Nasional 2019 di Taman Budaya Samarinda, Kalimantan Timur. 

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (1)
4/ 5
Oleh