Rabu, 09 Oktober 2019

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (3)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (3)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (3)
Rabu, 09 Oktober 2019


Oleh Marhalim Zaini

BENTUK DAN STRUKTUR PERTUNJUKAN;

Dapat dipastikan bahwa pertunjukan Dalupa yang dimainkan oleh grup Sanggar Seni Datuk Rimba (SSDR) dari Gampong Suak Trieng, Woyla, ini adalah sebuah bentuk pertunjukan teater. Unsur-unsurnya terlihat jelas pada kisah dramatik yang dimainkan, para pemeran dengan tokoh-tokoh karakter tertentu, pola dramaturgi dari adegan per adegan, dialog-dialog yang dituturkan, peran sutradara yang sekaligus pemimpin grup cukup menonjol, dan unsur musik berfungsi sebagai ilustrasi pendukung. 

Hal ini penting ditegaskan, karena ada informasi lain yang menyebutkan bahwa pertunjukan Dalupa pada mulanya tampil lebih pada bentuk pertunjukan tari dan musik mulai popular pada tahun 1980 (baca juga Herman HN, dalam Buletin Teuho, Mei 2016). Lalu di tahun 1988, pada ivent Pekan Kebudaayaan Aceh (PKA) baru muncul unsur-unsur teater di dalamnya, seperti kisah-kisah dramatiknya.

Informasi tersebut boleh jadi benar, jika gejalanya dilihat dari sosok tokoh Dalupa yang berkostum karakter berbulu hitam lebat dan dengan topeng yang menyeramkan itu. Sehingga sosok Dalupa menjadi yang paling menonjol dalam pertunjukan ini, dibanding yang lain. Bahkan kalaupun tokoh-tokoh pendukung yang lain ditiadakan, pertunjukan Dalupa masih tetap menarik perhatian penonton. Buktinya, sosok Dalupa dengan kostum dan topeng yang sambil menari-nari, beberapa kali “dimainkan” juga dalam sebuah parade atau pawai budaya dalam sebuah iven—yang tentu saja tanpa narasi.

Maka unsur drama (narasi), pada gilirannya, akan menjadi semacam “penguat” untuk membuat pertunjukan Dalupa menjadi lebih memiliki motivasi, gagasan, nilai ideologis (values), sekaligus pengembangan plot. Argumen ini dapat dikuatkan lagi dengan munculnya beberapa varian cerita lain, selain yang dimainkan oleh grup SSDR. Misalnya pertunjukan Dalupa yang dimainkan oleh Sanggar Buraq Lam Tapa pimpinan Syekh Din, di kecamatan Bubon (bersebelahan dengan kecamatan Woyla), cerita yang mereka bawakan jauh berbeda.

Hal ini juga tampaknya yang membuat bentuk pertunjukan seni teater Dalupa yang dimainkan oleh grup SSDR memiliki struktur pertunjukan yang cukup longgar. Cerita Dalupa yang dikarang oleh Hanafiah (yang sekaligus bertindak sebagai sutradara) masih sangat mungkin dilakukan penambahan, bahkan pengurangan, bersifat kondisional tergantung tempat dan waktu. Konvensi atau pakem cerita hanya pada alur cerita, itupun tidak terlampau ketat, karena masih mungkin tumbuh cabang dan ranting kisah. 

Pak Hanafiah mengaku bahwa cerita dalam pertunjukan Dalupa adalah sebagaimana yang pernah ia saksikan sejak ia masih anak-anak. Ketika ia membuat grup bersama Pak Husaini, untuk kebutuhan ivent tertentu ia lalu menuliskan semacam jalan cerita yang memberikan panduan kepada para pemain. Maka penambahan, pun pengurangan terjadi pada narasi, adegan, dan pesan-pesan ke-Islaman yang kontekstual.

Struktur teks cerita yang longgar, tentu berakibat pula pada struktur pertunjukan yang longgar. Hal ini mendapat signifikansinya dengan pola permainan yang lebih banyak mengandalkan improvisasi dengan dialog-dialog berbahasa Aceh yang bersifat spontan. Semua pemain pertunjukan Dalupa (terdiri dari 14 orang), adalah laki-laki. Ada seorang perempuan, yang bertugas menjadi narator (peran tambahan), tidak ikut turun main. Kalau ada peran perempuan dalam cerita, tetap akan dimainkan oleh pemain laki-laki yang memakai kostum perempuan.

Sebagaimana juga kebanyakan teater tradisional, para pemain Dalupa bukan para pemain profesional. Mereka semua adalah para petani sawit, petani karet, peladang, dan pedagang yang memanfaatkan waktu luang malam hari untuk “menghibur diri” dengan bermain Dalupa. Meskipun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa mereka semua adalah pemain “amatir” sehingga tidak total ketika mereka naik panggung. 

Beberapa pemain terlihat memiliki jam terbang cukup tinggi dengan improvisasi dan spontanitas yang baik, seperti Pak Abdul Salam dan Pak Darisman yang masing-masing memerankan dua peran sekaligus (sebagai anak-anak dan petani). Dua tokoh ini, menurut saya, justru yang bisa menghidupkan suasana, membangun dan mengambangkan plot cerita. Karena dua sosok Dalupa sendiri, yang menjadi tokoh utama, justru tidak mengucapkan dialog apapun kecuali hanya suara auman mirip suara binatang besar yang buas.

Konvensi yang longgar juga pada tempat dan waktu pertunjukan. Tidak seperti seni ritual, pertunjukan Dalupa dapat dipentaskan kapanpun dan bisa di mana saja. Tidak membutuhkan waktu dan tempat khusus. Meskipun lebih sering pada acara-acara perkawinan, Dalupa juga tampil dalam berbagai perayaan tradisi, festival seni-budaya, bahkan di panggung hiburan rakyat. Bisa siang hari, dan bisa pula malam hari. Bisa dipentaskan di ruang terbuka seperti di lapangan gampong, halaman rumah, kebun, atau bahkan di dalam semak belukar. 

Jika melihat kecenderungannya, maka Dalupa juga bisa ditampilkan di ruang tertutup, di gedung pertunjukan misalnya. Walaupun demikian, para pemain menyebut mereka lebih bersemangat kalau pertunjukan dapat digelar di malam hari dan di ruang terbuka. Selain merasa bisa lebih total bermain, suasana mistis ketika sosok Dalupa keluar dari semak-semak persembunyiannya juga dapat lebih terasa.

Maka kostum, khususnya yang dikenakan oleh dua sosok Dalupa menjadi faktor penentu menariknya pertunjukan ini.  Meskipun hanya terbuat dari lidi ijuk, dan topeng yang terbuat dari kayu rubek, efek bentuk dan visualnya dapat membangkitkan rasa ketertarikan penonton. Apalagi sengaja dipilih pemain yang berbadan cukup besar untuk memerankan Dalupa dan memakai kostum ini, maka akan semakin kuat kesan mistis yang ditimbulkan. 

Sementara kostum yang terbuat dari kulit kayu tarok yang dibuat sendiri oleh para pemain, yang dikenakan oleh pemain-pemain lain, juga sangat mendukung pertunjukan. Hanya saja, kostum sejenis ini, juga kerap digunakan oleh masyarakat suku pedalaman di sejumlah daerah di Indonesia. Tidak ada tata rias khusus bagi para pemain, selain topeng yang dikenakan oleh dua tokoh Dalupa.  

Unsur yang tak kalah penting dalam pertunjukan Dalupa adalah musik. Meskipun fungsi musik di sini hanya sebagai pengantar adegan dan kadang ilustratif, namun nada dan irama yang terdengar justru sangat kuat menunjukkan kekhasan identitas Aceh. Setidaknya ada 2 jenis instrument musik yang digunakan, perkusi dan tiup yang khas Aceh yakni rapai dan seurunei. Rapai dimainkan oleh 2 sampai 3 orang, dengan ukuran rapai yang berbeda. Sesekali syair juga dilantunkan bersama iringan musik oleh Pak Husaini, salah seorang tokoh masyarakat yang juga pendiri grup ini. Namun tidak seperti seni pertunjukan tradisional lain yang biasanya selalu menyertakan unsur tarian di dalamnya, Dalupa dari grup SSDR ini hanya menampilkan gerakan-gerakan sederhana. Unsur gerak lebih banyak spontan, yang berfungsi semata untuk membantu memperkuat karakter peran.

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (3)
4/ 5
Oleh