Rabu, 09 Oktober 2019

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (4)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (4)

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (4)
Rabu, 09 Oktober 2019


Oleh Marhalim Zaini

FUNGSI PERTUNJUKAN;
HIBURAN, SARANA INTEGRATIF,
REPRESENTASI ESTETIS, & MISTIS (?)

Hari kedua saya di desa Suak Trieng, Woyla, adalah hari sesi latihan dimulai—hari pertama habis untuk perjalanan. Karena latihan dilakukan pada malam hari, siangnya saya ingin melihat bagaimana proses membuat kostum untuk pemain dalupa, yang terbuat dari kulit kayu tarok. 

Saya diajak oleh Pak Husaini, salah seorang pendiri grup SSDR sekaligus tokoh masyarakat yang telah dua priode menjabat sebagai Keuchik (Kepala Desa) Suak Trieung, ke sebuah rumah panggung di atas bukit yang mulai banyak ditanami pohon sawit. 

Sesampainya di rumah sangat sederhana terbuat dari papan itu, saya mendengar suara keras orang-orang berkaroke, bernyanyi dangdut dari dalam rumah menggunakan speaker kecil. Agaknya, berkaroke dalam hutan sunyi ini, adalah sebuah kemewahan.

Begitu saya dan Pak Husaini sampai di depan pintu, dan menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam rumah, mereka berhenti bernyanyi. Terlihat beberapa lelaki yang tak berbaju, dengan kulit gelap, wajah khas Aceh, dan asap rokok yang memenuhi ruangan kecil itu. Mereka menyambut kami dengan bahagia, bersalaman dan berbicara dengan bahasa Aceh yang tidak saya pahami. Beberapa ada yang bergegas memakai baju, beberapa yang lain ke dapur dan ke kamar. 

Tak lama, beberapa orang itu keluar membawa beberapa alat musik rapai. Ada yang berukuran besar, sedang, dan ada yang berbentuk bulat-pipih. Pak Husaini mulai memukul-mukul rapai, diikuti yang lain. Ikram, mulai menyiapkan serunai dan meniupnya. Mereka mulai menunjukkan bentuk musik yang nanti mengiringi pertunjukan Dalupa. Ada yang bersolawat, sesekali bersyair, sesekali tertawa lepas, berkelakar, merokok linting, dan tentu saja ngopi—selama dua hari di sini, entah telah berapa gelas kopi saya minum.

Saya merasakan, ada kebahagiaan yang sama dalam diri mereka antara ketika mereka bernyanyi lagu dangdut dengan ketika mereka bersolawat sambil memukul rapai. Kebahagiaan yang sama, datang dari dua genre musik rakyat, yang satu populer dan yang satu tradisional. Saya kira, inilah salah satu fungsi kesenian bagi mereka, menghadirkan kabahagiaan. Dan kebahagiaan hadir ketika mereka merasa terhibur. Seni (Dalupa) berfungsi sebagai sarana hiburan.

Malam datang, dan latihan akan digelar di halaman depan rumah pak Husaini. Satu persatu para pemain datang. Makin malam makin ramai. Saya agak heran, apakah mereka yang datang ini semuanya pemain. Rupanya bukan. Pemain hanya 15 orang, sisanya adalah masyarakat setempat yang datang hendak menonton. Pak Husaini bilang, sebelum saya datang, mereka telah beberapa kali berlatih, dan setiap kali latihan penontonnya selalu ramai. Demikianlah, fungsi teater Dalupa tidak semata sebagai sarana hiburan bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat pendukungnya.

Fungsi lain yang saya amati selama berada di Woyla dan mendampingi proses latihan Dalupa adalah sebagai sarana integratif bagi sesama anggota masyarakat. Berkumpul ketika proses latihan, tidak semata dalam rangka memperlancar dan mematangkan pertunjukan, akan tetapi terlebih dari itu adalah juga sebagai sebuah pertemuan sosial. 
Saya mellihat, antar pemain telah terjadi hubungan persaudaraan/emosional yang demikian kuat—meskipun memang sebagian besar pemain adalah berasal dari keluarga besar pak Hanafiah dan pak Husaini. Andai pertemuan proses latihan atau pertunjuakn Dalupa ini tidak ada, intensitas pertemuan tentu tidak sebanyak ini. Ditambah pertemuan pemain dengan penonton, dan pertemuan antar sesama penonton. 

Mulai dari anak-anak, orang tua, muda, semua menyatu dalam ruang ekosistem pertunjukan, ekosistem sosial, ekosistem lokal-tradisional. Nilai-nilai komunitas masyarakat seolah menyatu dalam ruang kepercayaan yang sama, dan dengan demikian sebuah pertunjukan telah menjadi titik magnetnya. Dalupa telah menjadi ruang sosial yang produktif.

Apakah juga pertunjukan Dalupa berfungsi sebagai representasi estetis? Tentu saja, karena betapapun ia dimainkan oleh para pemain yang bukan profesional, Dalupa adalah sebuah pertunjukan seni. Nilai estetika dipresentasikan oleh para pemain melalui bahasa, verbal dan non-verbal. Dialog berbahasa Aceh, alat musik khas Aceh, irama dan syair khas Aceh, sejarah kultur Aceh, dan seterusnya, adalah medium representasi estetis itu. Ada mitos-mitos di situ, peralatan tradisional, kepercayaan dan pandangan hidup dalam cerita yang dikisahkan, segalanya berada dalam jejaring ruang sirkular estetika.

“Apakah dalam pertunjukan Dalupa ada ritual-ritual tertentu?” 

Pertanyaan ini saya ajukan sejak di awal pertemuan saya dengan pak Hanafiah di Jakarta, sebelum turun riset lapangan. Dan jawabannya, tidak ada. Tidak ada ritual, mantra, atau prosesi tertentu. Saya hampir tidak percaya, karena setahu saya pertunjukan tradisional semacam ini selalu menggunakan ritual tertentu, yang selalu mistis. Apalagi terdapat sosok Dalupa dengan kostum yang mengerikan itu. 

Saya lalu bertanya kepada Pak Husaini, dan jawabannya sama. Hanya saya, kata Pak Husaini, mantra biasanya ada saat pertunjukan dabuh (debus)—biasanya dipertunjukan di akhir kisah pertunjukan Dalupa. Begitu pula yang ditegaskan oleh Syekh Din, pendiri sanggar Buraq Lan Tapa, bahwa tidak ada mistik dalam pementasan Sidalupa, melainkan hanya hiburan, dan dakwah dibalut dengan zikir.

Apakah saya puas? Tidak. Pada saat hari terakhir saya di Aceh, saya bertemu seseorang di Banda Aceh yang juga pernah menyaksikan pertunjukan Dalupa. Dia mengatakan Dalupa yang ia saksikan itu menggunakan ritual, mengucapkan mantra-mantra saat pertunjukan akan dimulai, bahkan menggunakan sejumlah peralatan seperti kemenyan. 

Apakah saya percaya? Tidak juga. Karena seseorang ini sumber skunder, dan agak diragukan kebenarannya sebelum saya menemukan data pendukung lain. Akan tetapi, memang selalu ada yang misteri, selalu ada yang tersembunyi dari yang tampak. Apalagi Dalupa masih terkait dengan makhluk aneh, dengan kostum aneh, tinggal di hutan, bukit, gunung, melewati laut, gua, dan pohon-pohon, sungai, dan seterusnya, maka mantra “alam” sebagai dunia spiritual selalu ada di sana, unsur mistis selalu menyertainya.***

Hasil Riset Teater Dalupa Aceh (4)
4/ 5
Oleh