Selasa, 22 Oktober 2019

Ngaji Seni #1 bersama Taufik Effendi Aria

Ngaji Seni #1 bersama Taufik Effendi Aria

Ngaji Seni #1 bersama Taufik Effendi Aria
Selasa, 22 Oktober 2019

NGAJI Seni adalah program terbaru Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Selain program diskusi seni dan Malam Seni Masyarakat yang telah dan terus berjalan, Ngaji Seni adalah program rutin yang bertujuan untuk memperkuat sumber daya manusia anggota Suku Seni.

Bentuk program ini adalah mendatangi seniman, tokoh seni, atau para penggerak seni di Riau, atau juga luar Riau, untuk belajar dan berdiskusi, menimba ilmu dan pengalaman langsung dari senimannya.  Dengan begitu, anggota Suku Seni yang ikut dalam program ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan pengetahuannya tentang dunia seni, tentang perkembangan kesenian, juga sekaligus mengenalkan lebih dekat tokoh-tokoh seni.

Ngaji Seni #1 dimulai pada Senin malam, 21 Oktober 2019, dengan mengunjungi kediaman salah satu tokoh teater Riau, bapak Taufik Effendi Aria. Dengan sambutan yang hangat, Pak Taufik bercerita tentang pengalamannya dulu berkesenian sejak di Rengat kemudian pindah ke Pekanbaru, bersama tokoh-tokoh seni yang lain, seperti Salimi Yusuf, Idrus Tintin, Bustamam Halimy, dan sejumlah nama lain.

Selain itu, perbincangan berlanjut dengan pandangan-pandangan beliau terhadap teori dan konsep-konsep teater yang ia pahami selama ini. Ia memancing diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan terkait apa perbedaan sandiwara, drama, dan teater. Apa ciri-ciri khasnya. Lalu ia juga menyinggung apa itu teater Bangsawan, dan mengulik bagaimana bentuk-bentuk teater Bangsawan itu dipentaskan di masa kini, dengan versi-versi yang masih harus terus diperdebatkan.

Lebih jauh, penulis naskah drama “Menanti Hari Panen” ini, juga membicarakan soal teater sutradara dan teater aktor. Baginya, keduanya ia sukai. Teater Sutradara kadang diperlukan untuk lebih luas merealisasikan gagasan-gagasan sutradara di atas panggung. Sementara teater aktor juga sangat penting karena dapat memberi tempat lebih luas kepada eksplorasi keaktoran.

Taufik Effendi Aria, lahir di Rengat, Inderagiri Hulu, Riau, 2 Juni 1942. Selain berteater, ia juga dikenal sebagai penyair. Buku puisi tunggalnya adalah Menuju Ruang Kosong, Menjemput Firman (2008). Sebelumnya, menerbitkan kumpulan sajak Arus (1975) bersama Wunulde Syaffinal. Puisi-puisinya juga dimuat di sejumlah media seperti Minggu Pagi (Yogyakarta), Haluan (Padang), dan Riau Pos. Selain menulis puisi, kiprah di dunia teater Taufik nampak dalam sejumlah naskah drama yang ia tulis, seperti Menanti Hari Panen. Selain teater, dunia sinetron pun pernah ia masuki, di antaranya terlibat dalam sinetron Sirus (2000) dan Boejang Talma (2001).

Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni menyebut program ini penting agar generasi-generasi hari ini mengetahui siapa tokoh-tokoh seni di Riau ini. Selain itu dapat memotivasi mereka untuk terus giat berkarya, terus menggali potensi diri mereka dalam dunia seni. Setelah ini, kami akan berkunjung ke seniman-seniman lain. “Bertemu langsung dengan seniman, pelaku seni terdahulu, tentu akan memberi efek yang berbeda,” ujar Marhalim.

Sebagai informasi, meskipun program Ngaji Seni ini difokuskan untuk penguatan SDM anggota Suku Seni, namun tidak menutup pintu bagi kawan-kawan di luar Suku Seni yang hendak turut serta. Informasi berikutnya, soal waktu dan tokoh siapa yang akan dikunjungi, dapat menghubungi manager program Suku Seni, Ajik Bahar (082284808444).***

Ngaji Seni #1 bersama Taufik Effendi Aria
4/ 5
Oleh