Rabu, 23 Oktober 2019

Ngaji Seni #2 bersama Iwan Irawan Permadi

Ngaji Seni #2 bersama Iwan Irawan Permadi

Ngaji Seni #2 bersama Iwan Irawan Permadi
Rabu, 23 Oktober 2019


SELASA malam, 22 Oktober 2019, Ngaji Seni #2 Suku Seni mengunjungi kediaman Iwan Irawan Permadi, seorang tokoh seni tari yang memimpin Pusat Latihan Tari Laksemana di Pekanbaru. Setelah sebelumnya pada Ngaji Seni #1 mengunjungi dan belajar bersama Taufik Effendi Aria. Selain bersilaturahmi, Suku Seni mandapat banyak kisah-kisah pengalaman dan pengetahuan dari Iwan selama menekuni dunia kesenian.

Sejak ia datang ke Pekanbaru sekitar tahun 1984, Iwan Irawan sudah bertekad untuk menggerakkan dunia seni tari di Riau. Hal ini dibuktikan dengan membentuk sebuah ruang berproses kesenian yang ia beri nama Pusat Latihan Tari (PLT) Laksemana, yang sampai sekarang masih terus bergerak dan menghasilkan karya-karya tari.  

Iwan bercerita bagaimana proses awal ia berkarya di Pekanbaru dengan penuh tantangan. Namun, berkat kegigihannya, tantangan itu justru membuat ia termotivasi untuk terus berkarya. Tantangan terbesar tentu iklim berkesenian di Riau sendiri saat itu, yang belum kondusif jika dibanding Yogyakarta, tempat ia menempa diri sebelum pindah ke Pekanbaru di Padepokan Bagong.

Penolakan-penolakan masyarakat Pekanbaru terhadap kehadiran karya-karya Iwan saat itu, adalah tantangan yang lain, yang kemudian membuat ia banyak belajar bagaimana memahami kebudayaan Melayu. Ia tidak surut, tapi kemudian justru menggali, menelusuri berbagai khazanah tradisi Melayu untuk kemudian dieksplorasi dalam kerja-kerja kekaryaan. Ia ingat pesan gurunya, Bagong Kusudiardja, “lepaskan semua kebudayaan asalmu, ketika berkarya, membumilah….”

Maka lahirlah karya tari seperti Dramatari Hang Tuah, Silat Perisai, Koba dari Langit, Seri Buantan, Cik Masani, Sirih Besar, Bulian Besar, Kompang Gelek, Puteri Kacamayang, Seligi Tajam Bertimbal, Tuanku Tambusai, Tidur di Bukit Tadah Angin, Kepak-kepak Sayap Puan, dan Air Janggi.

Suku Seni, sebagai komunitas seni yang baru berdiri 2 tahun, menyerap sangat banyak pengalaman Iwan bagaimana mengelola sanggar yang telah bertahan sampai lebih 30 tahun. Mulai soal managemen, keanggotaan, sampai bagaiman bisa survive dalam menghadapi berbagai tantangan. Caranya adalah menjaga intensitas berkarya, dan totalitas, serta terus bergerak secara konsisten. Iwan mencontohkan bagaimana PLT. Laksemana menggagas dan menggerakkan PASTAKOM (Pasar Tari Kontemporer) yang akan kembali digelar 28-30 November 2019 ini.

Iwan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Suku Seni selama ini dengan menggelar berbagai program rutin, seperti diskusi seni dan Malam Seni Masyarakat. Menurutnya hal ini penting untuk membuka ruang-ruang berkesenian yang baru, dan membangun ekosistem berkomunitas di Riau ini.

Iwan berpesan kepada anggota Suku Seni yang baru masuk ke dalam dunia kesenian, jangan gampang menyerah, dan teruslah berlatih, karena dunia kesenian butuh orang-orang yang tidak setengah-setengah. Hal ini terkait pertanyaan yang muncul dari Ukhidaragia, salah seorang anggota termuda Suku Seni (masih duduk di bangku SMA), soal bagaimana caranya meyakinkan orang tua bahwa dunia seni itu adalah pilihan yang tepat untuk diperjuangkan.

Lebih lanjut, Iwan bercerita, bahwa ia dulu pernah diminta masuk sebagai Pegawai Negeri, tapi ia menolak. Ia memilih berkesenian. Dan ia adalah juga orang yang awalnya berseberangan dengan orang tua soal pilihan ini. Namun kemudian ia bertekad untuk membuktikan bahwa pilihannya ini benar. Caranya adalah dengan menunjukkan prestasi, serius dalam menekuni dunia seni, totalitas, dan tidak setengah-setengah. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini, yang dulu ia juga pernah memiliki persoalan yang sama saat ia masuk ke jurusan teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta.***


Ngaji Seni #2 bersama Iwan Irawan Permadi
4/ 5
Oleh