Selasa, 29 Oktober 2019

Ngaji Seni #3 bersama Datuk Seri Al azhar

Ngaji Seni #3 bersama Datuk Seri Al azhar

Ngaji Seni #3 bersama Datuk Seri Al azhar
Selasa, 29 Oktober 2019


SENIN, 28 Oktober 2019. Hujan lebat telah mengguyur Pekanbaru sejak petang. Bahkan sampai malam, ketika kami akan berangkat ke Balai Adat (Lembaga Adat Melayu Riau) di jalan Diponegoro, hujan masih cukup lebat. Tapi kami tak surut, karena program Ngaji Seni ini penting bagi kami. Penting untuk menyerap energi kreatif dari para tokoh seni di Riau ini.

Kami sampai di Balai Adat, ketika bapak Al azhar sedang sibuk mengerjakan sesuatu di depan laptopnya. Ia menyambut kami dengan hangat. Menyuguhkan kopi panas dan makanan ringan. Beberapa dari kami mengaku belum makan malam dan langsung menyerbunya. Tak lama, Marhalim Zaini, Kepala Suku Seni memberi pengantar tentang pertemuan ini; yang intinya silaturahmi dan belajar dan belajar. Anggota Suku Seni lalu sibuk mengeluarkan buku catatan mereka.

Bapak Al azhar langsung menyambutnya dengan mulai berkisah tentang proses awal ia berkenalan dengan seni sejak di bangku sekolah menengah. Bagaimana pertemuan pertamanya dengan Idrus Tintin, adalah juga pertemuan yang membuka jalan panjang proses berkesenian yang ia lalui sampai sekarang, yang sejak itu pula ia tidak pernah “berpisah” dengan Idrus Tintin.

Dan sejak itu, ia masuk dalam kehidupan seni di Riau. Proses berkesenian selalu tidak dapat dipisahkan dengan proses menjalani kehidupan, begitulah ia menjelaskan. Bagaimana ia dulu sempat ngamen puisi, hidup bohemian, pentas di berbagai tempat dengan seadanya dan fasilitas yang minim. Tapi berteater, berkesenian, tidak semata soal ketersediaan, akan tetapi soal kemauan dan kecintaan.

Pengalaman semacam ini, bagi kami, amat penting untuk dapat menakar bagaimana kini kami, Suku Seni, harus memposisikan diri dalam proses berkesenian yang makin kompleks dan tentu makin banyak tantangannya. Tentu ini bukan semata romantisme, karena bagi kami, sejarah hidup seseorang adalah pelajaran yang penting yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolahan/kuliahan.

Dinamika berkesenian sejak tahun 1970-an sampai kini, diceritakannya sebagai  gambaran bagi kami bahwa dunia seni Riau itu terus bergerak dialektis. Tidak hanya cerita tentang kegigihan dan totalitas dalam berkarya tetapi juga soal pergesekan paham terutama dalam konteks estetis. Soal pilihan-pilihan dalam berteater, antara yang “klasik” dan yang “kontemporer”, antara yang setia pada naskah dan yang memilih bermain pada gagasan-gagasan visual.

Banyak yang kami dapat, sedikit yang baru bisa kami tuliskan di sini. Masing-masing dari kami mencatatnya dalam buku dan ingatan kami, sebagai pemantik untuk terus bertahan dan bergerak dalam dunia seni. Satu pertanyaan penutup dari Ajik Bahar, “apa yang membuat kita bisa bertahan di dunia seni ini, Pak?” Sambil sejenak berpikir, bapak Al azhar menjawab lugas, “Cinta. Cintalah yang membuat kita mampu bertahan di dunia seni ini.”

Ngaji Seni 3# telah usai, tapi belum tuntas, karena dalam waktu 2 jam pertemuan terasa sangat singkat untuk sebuah rentang panjang perjalanan. Terima kasih karena bapak Al azhar pun berkenan, ketika kami mengajukan diri untuk kembali datang, berkunjung, di lain waktu nanti, untuk lanjut ngaji seni, dalam tema yang spesifik. “Boleh di mana pun, tidak mesti di sini. Di Suku Seni juga boleh. Bahkan di bawah pohon juga oke,” tutupnya.***


Ngaji Seni #3 bersama Datuk Seri Al azhar
4/ 5
Oleh