Minggu, 24 November 2019

Suku Seni akan Pentaskan “Megat” dalam Festival Teater Bangsawan di Siak

Suku Seni akan Pentaskan “Megat” dalam Festival Teater Bangsawan di Siak

Suku Seni akan Pentaskan “Megat” dalam Festival Teater Bangsawan di Siak
Minggu, 24 November 2019



Rumah Kreatif Suku Seni Riau tengah berlatih mempersiapkan pertunjukan teater Bangsawan berjudul “Megat” yang diangkat dari novel Rida K Liamsi, adaptasi dan sutradara oleh Marhalim Zaini. Suku Seni diundang oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak untuk tampil dalam Festival Teater Bangsawan yang akan diselenggarakan pada 7 Desember 2019, di Gedung Maharatu.


Marhalim, selaku Kepala Suku Seni dan sutradara mengatakan, Suku Seni akan menampilkan pertunjukan sesuai dengan tema festival yakni dengan gaya Bangsawan, meskipun tidak murni sebagai Bangsawan konvensional. Bangsawan akan tetap dijadikan pijakan utama pertunjukan, dengan sentuhan-sentuhan dramaturgi yang eksploratif. “Permainan simbolisasi, dimungkinkan untuk menyuguhkan tawaran lain dalam pengembangan teater Bangsawan,” ujar Marhalim.

Para pendukung yang terlibat dalam pertunjukan ini semua dari anggota Suku Seni, yakni Joni Hendri, Adek FeisaL Usman, Ajik Bahar, Ace Pauzul Azmi, Denisa Indriani, Ukhidaragia, Misratul Jannah, Cici Sri Rahayu, Novita Suhendriani, Faisal Amin, dan Eko Raghil. Mereka akan memerankan tokoh-tokoh di antaranya Megat, Sultan Mahmud, Bendahara, Sri Bija Wangsa, Wan Anom, Hulubalang Rejab.

Marhalim menambahkan, cerita ini diangkat dari novel Rida K Liamsi dengan judul sama, yang terbit pada tahun 2016 (penerbit Sagang Intermedia). Marhalim selaku editor novel tersebut merasa sangat tertarik sejak awal membacanya. Perbancuhan antara sejarah sebagai ruang masa lalu, dan peristiwa kekinian dipadukan dan dikait-kelindankan dalam perdebatan-perdebatan yang memikat. Namun, kata Marhalim, karena durasi yang tersedia terbatas, maka untuk kali ini akan dipentaskan kisah masa lalu tentang kematian Sultan Mahmud.

Marhalim mengaku, ia akan mengangkat Wan Anom, sebagai sosok perempuan Melayu yang “dikorbankan” (yang dibunuh gara-gara seulas nangka). Meskipun porsinya belum banyak dalam pertunjukan ini, akan tetapi dialog-dialog “perlawanan” akan memberi jalan keberpihakan Marhalim dalam mengulik soal-soal gender.***


Suku Seni akan Pentaskan “Megat” dalam Festival Teater Bangsawan di Siak
4/ 5
Oleh