Rabu, 03 Juni 2020

M. Faizi Menafsir Puisi “Aku Mencarimu di Jakarta” Karya Marhalim Zaini

M. Faizi Menafsir Puisi “Aku Mencarimu di Jakarta” Karya Marhalim Zaini

M. Faizi Menafsir Puisi “Aku Mencarimu di Jakarta” Karya Marhalim Zaini
Rabu, 03 Juni 2020


aku mencarimu di jakarta

aku akan tetap mencarimu dalam rimba suara
di kota yang menyembunyikan bunyi sunyi

mencarimu, dalam derap ratusan ribu pendatang
yang tak bersepatu, yang menanggalkan baju

hingga tubuh-tubuh terpiuh jadi satu warna
tubuh-tubuh kampung yang tak bernama

engkaukah itu yang diam dalam prasasti tugu
atau engkaukah yang bersemedi di tujuh batu

bukan, aku tidak mencarimu dalam buku sejarah
tapi aku menontonmu dalam film fatahillah

apakah orang portugis itu yang telah membawamu
pergi jauh dan meninggalkan aku sebagai masa lalu

aku akan tetap mencarimu, karena aku selalu tahu
engkau lebih suka laksa betawi daripada bacalhau

jadi jangan sembunyi dalam aroma rempah-rempah
jangan engkau curi bau sarung melayuku yang meruah

kelak rindu juga engkau pada suara bajaj di kota tua
sebab membenciku, hanya membuat engkau tersadai

di sunda kelapa, menggigil dalam kenangan jali-jali,
masa kecil yang kadang datang saat kita lupa diri

sebab di tanah abang engkau lupa mengucap pantun
sebagaimana engkau lupa melepaskan kain tenun

maka aku tetap akan mencarimu, meskipun di ibukota
aku jadi sekecil debu di jalan tol, aku jadi pengelana

di tanah rantau, tanah kelahiran semua orang, tanah
yang telah jadi batu, tanah para bung mengucap sumpah

sumpah untuk tetap setia mencarimu, di jakarta, di jakarta.

2019

Puisi Marhalim Zaini yang berjudul “aku mencarimu di jakarta” ditulis dalam format huruf kecil, tak terkecuali untuk awal kalimat atau nama kota. Bahkan, judulnya pun ditulis menggunakan cara yang sama: huruf kecil. Dan itu berlaku untuk semua bait (ada 14 bait; masing-masing bait terdiri dari 2 baris, kecuali bait terakhir, terdiri satu baris saja). Baik, mari kita mulai main tafsir-tafsiran untuk memudahkan pembacaan.

#tafsirpuisimanasuka


aku akan tetap mencarimu dalam rimba suara
(karena “engkau”, atau x, atau “sesuatu yang belum kita ketahui” itu, apa atau siapa, yang disebut melalui kata ganti engkau/mu di sini telah dan sedang dicari dan tidak kunjung ditemukan. Jadi, kata “tetap” di awal bait menunjukkan bahwa proses pencarian telah sedang dan akan berlangsung. Penyair menyatakan bahwa “x” itu hilang di sebuah kota rimba suara. Rimba suara ini menggambarkan heterogenitas, yang dalam hal ini diekspresikan dalam kata “suara”, semacam keberisikan dan sejenisnya. Andy Fueller pernah melakukan penelitian perihal “urban sound” [khususnya terkait dengan cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarama], yaitu bunyi-bunyian apa saja yang terdengar di Ibu Kota, mulai dari azan dari TOA, suara letang besi di bengkel las, hingga bunyi mangkok yang dipukul dengan sendok abang bakso. Itulah keserbaberisikan kota Jakarta, kota yang tidak pernah sepi, yakni kota yang oleh Marhalim digambarkan dalam baris berikut:) di kota yang menyembunyikan bunyi sunyi.

(Saya berpikir, apa atau siapakah yang dicari? Berdasarkan redaksi bahasa literal, ia adalah orang. Namun, jika sudut pandang kita ganti secara metaforis, maka ungkapan tersebut adalah figuratif. Barangkali, orang yang disebut “engkau” dalam puisi ini sebetulnya engkau-lirik, atau sebuah nilai budaya, sebuah nilai kesejatian, entah itu tradisi Melayu atau Betawi, yang disematkan ke dalam satu “sosok engkau” sebagai perlambang. Jadi, engkau di sini adalah sebuah nilai). 

mencarimu, dalam derap ratusan ribu pendatang
(yang jumlahnya barangkali lebih dari 90% dibandingkan dengan penduduk lokal, yang jumlahnya bisa bertambah setelah lebaran. Dan para pendatang itu adalah mereka yang datang dari pelosok desa, mungkin buruh atau pedagang, atau pekerja kasar. Semua tergambar dalam ungkapan)
yang tak bersepatu, yang menanggalkan baju

hingga tubuh-tubuh terpiuh (terputar) jadi satu warna (yang artinya satu nasib)
tubuh-tubuh kampung yang tak bernama (frasa ini bermakna taksa: orang yang tak punya kampung dan tak punya bahasa daerah karena telah menjadi urban, atau kemungkinan kedua: berasal dari kampung, dari udik, pelosok, yang tidak terkenal sehingga digambarkan begitu)

(Penyair lantas menebak-nebak yang dicarinya, yang mungkin sudah mulai tampak, tapi ia sendiri masih ragu-ragu. Ia bertanya secara retoris) engkaukah itu yang diam dalam prasasti tugu (barangkali yang dimaksudkan Marhalim adalah Monas, karena prasasti tugu yang paling identik dengan kota Jakarta adalah Monumen Nasional itu)

atau engkaukah yang bersemedi di tujuh batu (tujuh batu? Tujuh patung? Ya, tujuh patung pahlawan revolusi yang ada di Cipayung, Jakarta Timur. Namun, karena ragu, ia pun mencari kemungkinan yang lain dengan cara membantah keyakinannya sendiri, keyakinan yang semula dianggap benar, keyakinan yang mirip dengan yang mula-mula dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam pencarian keimanan ketika meyakini benda-benda langit sebagai Tuhan)

bukan, aku tidak mencarimu dalam buku sejarah
tapi aku menontonmu dalam film fatahillah
(maka mulai jelas, bahwa yang dicari si penyair bukanlah sosok, melainkan nilai. Artinya, nilai-nilai itu—yang kini menurutnya sudah raib—mulai ia temukan dalam sejarah perebutan Sunda Kelapa yang dilakukan oleh Fatahillah [sebagaimana ia tonton dalam film besutan sutradara Imam Tantowi dan Chaerul Umam tersebut])

apakah orang portugis itu yang telah membawamu
(bahwa nilai kesejatian yang dibayangkan oleh penyair Marhalim itu mestinya ada sampai kini namun sekarang telah raib itu dimungkinkan ‘dihabisi’ oleh Porutugis di kala menyerang Jakarta tempo dulu, sehingga nilai-nilai luhur tersebut, saat ini, sudah tidak ada lagi, karena)
pergi jauh dan meninggalkan aku sebagai masa lalu.

(Namun begitu, penyair tidak putus asa. Dia menyatakan diri akan terus berusaha mendapatkannya karena “laksa betawi” pasti lebih layak disukai ketimbang “bacalhau” [Penyair mencoba membandingkan dua tradisi dengan menyandingkan dua makanan dari kedua tradisi yang diperbandingkan tersebut: Betawi dan Portugis, yakni laksa dan bacalhau]. Dan karena itu, ia menyatakan)
aku akan tetap mencarimu, karena aku selalu tahu
engkau lebih suka laksa betawi daripada bacalhau

jadi jangan sembunyi dalam aroma rempah-rempah
(karena sejatinya, ia bisa muncul dalam wujud ekspresi budaya yang lebih jelas daripada sekadar menjadi simbol kekayaan khazanah Nusantara dalam makanan)
jangan engkau curi bau sarung melayuku yang meruah
(“sarung melayu” merupakan metafor budaya Melayu yang mungkin ia duga—salah satu dari yang—hilang itu, di mana sarung merupakan simbol budaya yang paling ikonik dalam konteks puisi ini)

kelak rindu juga engkau pada suara bajaj di kota tua
sebab membenciku, hanya membuat engkau tersadai
(makna tersadai adalah [perahu yang] tertambat di darat. Pada bait ini, penyair mewanti-wanti, bahwa daya tarik nostalgia itu kemungkinan kelak bakal muncul. Dan jika dilupakan dengan cara dibiarkan, hal itu akan membuat masalah serius)

di sunda kelapa, (yaitu kota Jakarta, yang saat ini digambarkan sebagai sebuah tubuh yang) menggigil dalam kenangan jali-jali (nama lagu yang menjadi identitas warga Betawi dan kini mulai kurang populer, bahkan mungkin dilupakan, padahal lagu itu akan menumbuhkan ingatan akan)
masa kecil yang kadang datang saat kita lupa diri

sebab di tanah abang engkau lupa mengucap pantun
sebagaimana engkau lupa melepaskan kain tenun
(Ada tiga frasa kunci dalam bait ini, yakni “tanah abang”, “mengucap pantun”, dan “melepaskan kain tenun”. Ketiganya merujuk pada sebagian identitas kebetawian [yang lebih luas lagi barangkali tentang “kemelayuan” dan “kenusantaraan”]. Tanah Abang adalah pasar di Jakarta yang merupakan tempat aktivitas perniagaan terbesar kain tenun. Barangkali, ada tradisi “mengucap pantun” pada zaman lampau dan kini telah hilang. Apakah mengucap pantun itu juga metafor? Saya tidak tahu. Yang jelas, ketiga frasa tersebut ditampilkan penyair Marhalim dalam bait ini sebagai pelengkap narasi kehilangan, sesuatu yang tengah dicarinya itu, yang—antara lain—gambarannya terdapat di dalam dua larik tersebut. Maka dari itulah, si penyair tetap bersikukuh untuk terus mencari hal-ihwal yang kini hilang. Ia pun berjanji untuk terus mencari. Katanya:)

maka aku tetap akan mencarimu, meskipun di ibukota
aku jadi sekecil debu di jalan tol, aku jadi pengelana

di tanah rantau, tanah kelahiran semua orang, tanah
yang telah jadi batu, tanah para bung mengucap sumpah

(Dengan kebesaran hati, penyair menyatakan akan terus mencari sesuatu yang hilang tersebut, yang mestinya tetap ada hingga sekarang, yang mestinya tetap dibanggakan sebagai—mungkin—identitas budaya atau bahkan bangsa. Dan pada saat yang sama, ia merendah, menyatakan kekecilannya, tapi bukan di hadapan yang dicari, melainkan di dalam situasi pencarian, tepatnya di tempat asal yang hilang itu dan kini berubah, yaitu di Jakarta, di mana ia merasakan betapa tidak berartinya dirinya dibandingkan kebesaran kota. Namun, karena kebesaran hatinya untuk tetap bertekad menemukan kebesaran nilai, maka ia terus mencari di tempat itu: tempat yang menjadi tujuan banyak orang, tempat yang dulunya petak biasa dan kini telah menjadi metropolitan, tempat para tokoh dan pejuang menerakan dan menandai sumpah kemerdekaan. Di mana itu? Ya, di Jakarta.  Sebab itu, dia pun bersumpah)

sumpah untuk tetap setia mencarimu, di jakarta, di jakarta.

2019

M. Faizi, penyair, pengajar dan menetap di Pondok Pesantren An-Nuqayah, Sumenep.

M. Faizi Menafsir Puisi “Aku Mencarimu di Jakarta” Karya Marhalim Zaini
4/ 5
Oleh

1 Comments:

avatar

Tafsir yang begitu dalam, lagi jujur.
Terimakasih, Pak.