Sabtu, 13 Juni 2020

Perempuan yang Pulang dari Surga (Cerpen Ranto Napitupulu)

Perempuan yang Pulang dari Surga (Cerpen Ranto Napitupulu)

Perempuan yang Pulang dari Surga (Cerpen Ranto Napitupulu)
Sabtu, 13 Juni 2020

 
MESTINYA lelaki itu tidak duduk di bawah pohon tanjung itu. Seharusnya ia duduk di bangku kayu yang ada di tengah taman. Dengan begitu ia akan dapat melepas pandang ke semua penjuru. Dapat juga melepas tatapan ke sekitar lapangan bola, tempat yang dulu hampir setiap subuh ia kitari hingga berpuluh kali. Atau memandangi bangunan tua di belakang punggungnya, di seberang jalan, yang hingga kini masih digunakan sebagai kantor walikota. Barangkali masih ada potongan cerita tentang kekejaman kolonial yang tertinggal di dinding bangunan itu. Atau, iseng-iseng, ia bisa menghitung berapa banyak perempuan cantik yang masuk ke hotel di seberang jalan di sebelah kanan taman.
Tetapi begitulah. Lelaki itu tidak bisa duduk di bangku kayu di tengah taman itu. Sudah ada seorang perempuan yang duduk di sana. Itulah sebabnya ia duduk di bawah pohon tanjung yang tidak begitu subur di sudut taman, yang di sebelahnya ada bangunan yang diberi nama Gedung Juang. Keleluasaannya memandang ke beberapa arah menjadi terhalang. Ada tiga atau hingga lima pohon mahoni tua di taman itu, menghalangi pandangannya.
Ini bukan kali pertama. Ini kali ketiga. Empat hari lalu, hari pertama ia kembali mengunjungi taman itu, kejadiannya persis seperti itu. Dua hari kemudian juga begitu. Begitu juga sore ini, perempuan itu selalu lebih dulu duduk di bangku kayu di tengah taman itu.
"Bukankah perempuan itu sudah lama mati?" tanya lelaki itu entah pada siapa. Perempuan yang dia maksud adalah orang yang duduk di bangku kayu di tengah taman itu.
Lelaki itu mengutuki dirinya sendiri. Ia mulai sadar, bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. Semestinya ia tidak menginjakkan kakinya lagi di taman itu. Lihatlah! Senyum orang-orang yang hilir-mudik di taman itu, hanyalah tipuan belaka. Itu penyamaran rasa benci kepada dirinya. Dan orang-orang yang hilir-mudik ke sana ke mari itu, serasa berjalan hanya ke satu arah saja; memunggunginya!
Ketika bergumul dengan dugaan-dugaannya tentang perempuan itu, pelan-pelan perbincangan yang terjadi tiga puluh tahun lalu di taman itu menyusup ke ingatannya. Ia pun terseret. Seperti terbawa arus air sungai yang tiba-tiba meluap. Sesungguhnya ia ingin melawan. Tetapi sangat sulit. Bahkan, sekadar mengelak pun, sangat sulit.
"Sudah sangat matang kuperhitungkan," kata lelaki itu waktu itu. Perempuan yang duduk di sampingnya, menatapnya dalam-dalam. "Kita tidak mungkin dapat hidup di kota ini. Di kota ini tidak ada tempat bagi kita untuk mengais hidup!" katanya lagi.
"Lalu kita akan ke mana?" tanya perempuan itu, dengan suara parau.
"Kita akan pergi jauh!"
"Ke mana?"
"Jauh!"
"Kau pengecut!"
"Kenapa justru aku yang kau katakan pengecut?"
"Orang yang mengelak dari kenyataan hidup adalah pengecut!"
"Terserahlah, mau kau bilang apa aku ini! "
Perbincangan itu tidak putus sampai di situ saja waktu itu. Tetapi berlanjut hingga esok harinya di rumah kost perempuan itu. Dan, syahdan! Sebutan 'pengecut' yang dilontarkan oleh perempuan itu sekonyong-konyong menjelma menjadi mantra yang amat mujarab bagi lelaki itu untuk mendapatkan akal yang lihai.
Dengan kelihaian berfikir yang diperolehnya berkat mantra itu, ia mengatur siasat untuk menamatkan riwayat perempuan itu. Dan jadilah siasat itu! Rumah kost perempuan itu, bersama beberapa rumah kopel di sekitarnya, ludes dilalap si jago merah, persis saat lelaki itu melambaikan tangannya entah kepada siapa di stasion kereta api yang tidak jauh dari taman kota. Menurut berita yang ia dengar dari seseorang di kemudian hari, saat api berkobar, perempuan itu ada di dalam rumah kost itu.
Dalam benak lelaki itu, tamatlah riwayat perempuan itu. Dan tidak seorang pun yang tahu kalau peristiwa itu terjadi adalah atas kelihaian pikiran seorang lelaki yang tiba-tiba menjadi amat jenius setelah pulang dari taman kota waktu itu.
Tidak seorang juga yang tahu, bahwa sebelum perbincangan di taman itu, sesungguhnya lelaki itu sudah lama menyusun siasat untuk meninggalkan perempuan itu. Ada segerombol iblis berduyun-duyun menawarkan kesadaran di benaknya, tentang kemurnian cikal tubuhnya yang ada di dalam tubuh perempuan itu.
"Dia punya banyak teman. Kepada semua sahabatmu, dia akrab! Dia juga sering berdiskusi perihal sajak dengan beberapa laki-laki hingga larut malam di rumah kost itu!"
"Lalu?"
"Gunakanlah akal sehatmu!" begitu suara itu, merasuk ke rongga otak lelaki itu waktu itu. Maka kian menggununglah keraguannya perihal kemurnian darahnya yang ada di dalam tubuh perempuan itu.
Dan tamatlah riwayat perempuan itu. Hiduplah lelaki itu di tanah rantau dengan segala kebebasan yang ia peroleh. Bebas dari janji akan hidup bersama dengan perempuan itu. Sebab janji itu sudah hangus dilalap api. Bebas juga ia dari keraguan atas penjelmaan tubuhnya yang ada di dalam tubuh perempuan itu.
**
Lalu siapakah perempuan yang duduk di bangku kayu di tengah taman kota itu? Kalau dihitung-hitung, andai perempuan yang terbakar dan hangus di rumah kost itu masih hidup, ketuaannya persis sama dengan ketuaan perempuan itu. Berumur sekitar lima puluh lima tahun.
Lelaki itu semakin jauh diseret oleh pikirannya. Ia mulai menduga-duga, ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada saat rumah kost itu dilalap sijago merah. Mungkin saja perempuan yang mengusung-usung di dalam rahimnya sebagian dari tubuhnya itu tidak ada di rumah kost itu pada waktu itu. Ia selamat. Ia tidak mengalami sesuatu apa pun. Lalu, setelah ia mengetahui bahwa lelaki pengecut itu sudah benar-benar raib, ia meneruskan hidupnya.
Mungkin juga perempuan itu ada di dalam kobaran api itu. Lalu seseorang datang menolongnya dan membawanya pergi. Kemudian seseorang itu menyatakan kesediaanya mendampingi dalam meneruskan kehidupannya. Jadilah mereka menjadi sepasang suami isteri. Boleh jadi begitu!
Atau, perempuan itu benar-benar hangus dilalap sijago merah bersama sebagian dari tubuh leleki itu. Hangus! Dan abu tubuhnya pun tidak bisa dibedakan lagi dengan abu bekas tiang-tiang rumah kost itu. Artinya, riwayatnya sudah benar-benar tamat. Ia sudah pergi ke surga!
**
Lalu siapakah perempuan yang duduk di bangku kayu di tengah taman kota itu? Posisi duduknya selalu seperti itu. Membelakangi kolam taman yang letaknya tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia memegang sebuah buku. Sepertinya buku itu buku puisi yang memuat sajak-sajak para pujangga zaman dulu.
Sesekali ia tampak seperti membaca sajak-sajak dalam buku itu. Sesekali hanya sebentar. Sesekali lagi lumayan lama. Kalau ia tidak sedang membaca, ia akan memandang jauh ke langit, seperti sedang berbicara kepada seseorang di sana.
Lelaki itu kemudian mengingat, persis seperti itulah kebiasaan perempuan yang terbakar dan hangus di dalam kobaran api yang menghanguskan rumah kost itu. Ia suka membaca buku sajak ketika sore hendak rebah ke pelukan semesta alam.
Seorang lelaki muda datang menghampiri perempuan itu. Mata lelaki yang duduk di bawah pohon tanjung itu terbelalak. Jantungnya berdegub. Setelah berbincang sebentar dengan lelaki muda itu, perempuan itu berdiri, lalu berjalan mengikuti langkah lelaki itu. Dari cara berjalannya, sepertinya ia belum begitu renta.
Mereka menuju tempat bermain anak-anak di salah satu sudut taman. Di sana ada dua orang anak berusia sekira lima dan tiga tahun sedang bermain dengan riang gembira. Seorang perempuan muda berparas cantik mengawasi kedua anak itu. Sepertinya, perempuan muda berparas cantik itu adalah ibu dari kedua anak-anak itu.
Lelaki yang duduk di bawah pohon tanjung itu tidak dapat menahan rasa sakit di dadanya. Gerak-gerik lelaki muda yang datang menjemput perempuan itu pernah ia miliki semasa muda dulu. Ada hunjaman sesuatu benda yang ia rasa di ulu hatinya. Amat sakit! Ini bukan cerita orang-orang. Sebab lelaki itu, adalah aku sendiri.**

Ranto Napitupulu, Lahir di Pematang Siantar., tahun 1965. Menulis esai dan cerpen di beberapa media cetak, antara lain di Riau Pos dan Sumut PosTinggal di Desa Tualang, Siak, Riau. 

   











Perempuan yang Pulang dari Surga (Cerpen Ranto Napitupulu)
4/ 5
Oleh