Rabu, 10 Juni 2020

Puisi-puisi Abdus Salam (Jember)

Puisi-puisi Abdus Salam (Jember)

Puisi-puisi Abdus Salam (Jember)
Rabu, 10 Juni 2020

BALADA PENSIL

Pensil biru yang berjalan di setapak garis buku tulis
Ia tak jemu bahkan menjamu arsir
Atas wajah yang ia taksir

Pensil itu suci, belum pernah dimaki oleh tangan kiri
Kecintaan pensil, ia rela meregang suci
Asalkan dia tertidur di kotakmu yang hello kitty

Tapi sayang, sentuhan tanganmu berbeda kali ini
Ia pun merenung dan mengurung diri
Alpha dan Beta ia ciptakan tak bermakna apa-apa

Pensil yang terbalut kayu, tapi kayu lapuk
Ia tak sekuat pena yang habis oleh tinta

Dia seperti lilin
Yang lahirkan sejuta kalimat
Bahkan arsiran wajahmu
Kini, ia ingin berganti kayu
Agar tetap tegar melihatmu dengan pena itu
Ia rela patah, bahkan kau buang
Hanya satu permintaan pensil
“izinkan aku menyelesaikan arsiran rindu”

Jakarta, 15 April 2020



KOREK API 

Korek api bercelana plastik
Tak punya mata, jelaslah dia buta
Terbatas melihat batu berlumut intrik
Biru api, jelaslah dia sengsara

Di rumah, hanya sebatang kara
Korek renta duduk di peti cukai
Api tua bergelar penyakit gula
Dan peti dikoyak tikus, lalu dibantai

Cok!!!
Rumah macam apa ini
Katanya sejahtera
Lelap pulas berselimut was-was pelindung diri
Dan api ronta, jelaslah tersiksa di rumah duka.

Tangerang, 5 Mei 2020



RATIH DAN SURYO 

dia berjalan dengan satu kaki
sudah patah dan pahanya masih ada belati
pincang tak lagi lincah
kelingkingnya sudah tak ada

dia pria mungil penuh pekerti
tulus mencintai sepenuh intisari
Suryo, semua orang tau dengan nama itu
pengusaha nyentrik kolektor batu akik

kini tertatih ulah si Ratih
wanita anggun pemilik intisari
senyum Ratih penuh misteri
namun bengis mengiris hati

perkenalan ditengah malam 1 suro
melihat Ratih dengan melati di kuping kiri
menghanyutkan imajinasi sang Suryo
melati yang mengikat suryo dengan aroma duri dari melati

“hai, neng geulis, senyummu sangat manis”
bujuk rayu Suryo kepada Ratih
semakin terlena dengan gincu Ratih
ditambah senyum yang penuh perih

“akang, jangan genit, aku akan menjerit”
ketus Ratih dengan memalu
memaksakan diri terima rayu
dan Suryo pun melepas baju

rumput basah tak punya salah
tertindih nafsu penuh serakah
bintang tak mau melihat
menutup diri dibalik bulan

desus angin tiarap di sela-sela dada Ratih
kebaya putih tak lagi suci
dingin terasa panas
saat Suryo memeras
kaki terikat, tangan jua terikat
mulut disumpal, kemaluan pun dijagal

“akang, tunggu neng di sini”
tanda amarah sebagai manusiawi dari Ratih
Suryo pun berdiri
dan belati itu adalah hati milik Ratih

Tangerang, 28 April 2020



Abdus Salam, lahir di Jember, 25 Juli 1996. Berawal saat di SMPN 02 Ajung, ia menulis naskah komedi dan dipentaskan pada acara perpisahan, sampai sekarang ia kecanduan menulis. 

Puisi-puisi Abdus Salam (Jember)
4/ 5
Oleh