Rabu, 17 Juni 2020

Puisi-puisi Galih M. Rosyadi (Tasikmalaya)

Puisi-puisi Galih M. Rosyadi (Tasikmalaya)

Puisi-puisi Galih M. Rosyadi (Tasikmalaya)
Rabu, 17 Juni 2020

 Setelah Kepergian

-buat Alm. Beni Yasin Guntarman

1.
tak ada mendung
hujan sepanjang jalan
keberangkatan

2.
ke arah timur
bayang kian memanjang
perlahan-lahan

3.
betapa hening
daun-daun yang tanggal
di kesunyian

4.
tinggal rembulan
mengintip diam-diam
di celah pohon

2019.



Apartemen Peristiwa

Kota kami diselimuti keresahan.
Kami telah berjalan sepanjang musim,
membaca berita,
dan mengartikan segala pertanda.

Kota kami menanti mimpi-mimpi membelah diri.

Siapa yang telah memborong tanah kami
menjadi hutan kecemasan
yang merampas segala kenangan.

Orang-orang tak henti
membicarakan pertarungan.

Bajuku goyah,
kala mereka meneriakkan revolusi
di tengah kota yang ditenggelamkan banjir.

Mereka memunguti peta-peta yang berserak.
dan berjalan di atas sepatu yang koyak,
jalan aspal yang koyak pula.

Bajuku goyah,
menyembunyikan hotel, toko, pasar,
juga jalanan kota yang terasing.

Wajahmu kian ramai
menghiasi jalanan itu.

Bajuku semakin goyah,
kala kumasuki apartemen peristiwa
yang telah lama tenggelam di ujung kota
dan kau
tak pernah kutemukan di dalam sana.

2019.



Di Tapal Sunyi

Berapa musim lagi yang harus kutempuh
sedang jarakmu kian begitu jauh.
Dari ajal ke ajal, dari tikam ke tikam.

Aku sudah begitu letih menabung hasrat
juga ribuan siasat.
Kau masih saja sembunyi
di ujung paling sunyi.

Akankah kita bersua?

Aku yang masih diburu segala tuju
kian begitu jauh dari rindu.
Kau kian begitu asing
meskipun maut telah mengintaiku dalam hening.

Belum genap kutafsir segala jejak
dari pintu ke pintu,
kuketuk dan kuketuk,
sampai perjalanan ini mengasingkanku
dan keterasingan ini membatukanku.
Kau masih begitu dingin.

Apakah kau menunggu?

Belantara ini telah merentangkan kesunyian.
Aku kian berputar dalam pusaran ingatan.
Tak sempat kutandai jejakmu
dari ladang ke ladang,
dari simpang ke simpang.
Aku tak kunjung sampai padamu

Akankah kau menuju?

2019.



Parade Kecemasan

Aku tak lagi menulis obituari setelah gerimis di siang itu mengaburkan pandanganku, dan setelah sorak sorai orang-orang yang  menyaksikan pergantian musim memekakkan telingaku. Aku telah menyaksikan pergantian namamu di layar-layar yang entah berapa lama telah kaurencanakan.

Aku telah menyaksikan kecemasan dihantarkan pulau-pulau, menembus hujan, dan melintasi  kota-kota yang tertidur. Aku menyaksikan namamu didera kegelisahan. Dan di sudut-sudut kota yang ketakutan kabar-kabar berkobar dihembuskan angin.

Mungkin, kau akan menjelma banjir yang menghantarkan bunga-bunga kuning, mungkin bunga hijau, mungkin bunga merah, mungkin juga darah. Atau mungkin kau akan menjadi sebuah monumen di sebuah taman, atau menjadi sebuah prasasti di mana orang-orang asik memotret diri sendiri.

Mungkin kau akan menunda perayaan yang akan kaugelar di hari kemerdekaan, atau setidaknya di hari pertama kau meninggalkan jalanan itu, atau setelah seorang menteri mengoyak surat pengunduran dirimu di gedung bersejarah itu.

Tapi, apa kau akan menjelma nama lain setelah semua berakhir?

2020.



Galih M. Rosyadi lahir dan menetap di Tasikmalaya. Bergiat di Sanggar Seni Harsa Cipasung Tasikmalaya. Puisi-puisinya dapat ditemui di berbagai antologi, antara lain Tasbih Cinta (2018), Bulan-bulan dalam Sajak (2019), Pesisiran: Dari Negeri Poci 9 (2019). Puisi-puisinya juga dapat ditemui di sejumlah media massa, antara lain Radar Tasikmalaya, Gema Mitra, Pikiran Rakyat.










Puisi-puisi Galih M. Rosyadi (Tasikmalaya)
4/ 5
Oleh