Sabtu, 27 Juni 2020

Puisi-puisi Giffari Arief (Padang)

Puisi-puisi Giffari Arief (Padang)

Puisi-puisi Giffari Arief (Padang)
Sabtu, 27 Juni 2020


Buah Pecah

ada jarak beratus-ratus keguguran
memisahkan asam kandis dan garcinia
serta manggis yang tumbuh di hidungmu
—satu juntrungankah dengan lebat mundu
yang terbakar di lambungku?

pantun membuatku selalu hidup
walau jutaan kekerabatan buah-buahan
hanya keasingan bagi kaum pemburu frasa
yang amat angkuh, jijik mencicip buah skizofrenia
—buah rindu telah busuk, sebab kelaparan
begitu senang menyantapnya

di atas semua buah yang kurap jugalah aku lahir
meninju gagap harapan atau kikir pemikiran
muncul sebagai penangkap nakal atau pemilih iri
sehingga jauh di perbatasan hujan, aku bayangkan
ada tempias-tempias betina menunggu jantan jadi panutan

2020



Mencoba Bertaut

gugur daun-daun, bersama dingin
hanya buat bisu hujan

dan pada tahun-tahun lampau kau tunggu awan
saat malam terbatuk-batuk amat kuno
badam-badam cokelat berjatuhan
ganti hujan sebagai ucapan paling menyentuh
di maret yang begitu kejam

di antara pohonan, bergulir-gulir badai
tak ada panggilan dari hari-hari beku

bila sungai demam, dokter-dokter tersipu kaget
batu-batu di dasar keringatan
menunggu sampah-sampah
tapi tak ada hape disana, tak ada situs-situs internet
tempat jutaan, barangkali triliunan sepi, diternak

2020



Pengelana Katarak

semacam tank, kau harus menerjemahkan ledakan
sebagai cara melata di malam hari
sebab bulan di tahun ini
akan sekarat
ribuan tahun sebelum mati

konon, asap kemenyan kirmizi
terkabar saat dinihari masih ranum
terang adalah mitos paling pencemburu
yang menjadikan moncong meriam
sebagai kenangan terindah di lambung
dan rasanya, kau tak tahan lagi
menanggung segala teluh yang
merusak baju aslimu

bacalah, tanpa menyebut biru-biru langit
awan-awan hanya melongo
ketika putih cangkang matamu
tak bisa bedakan kerbau-kerbau penggulung kota
dan kuda-kuda pemulung kata

2020



Selamat Siang

kita adalah gulungan awan
pembakar kaleng-kaleng sarden
pembatas terik
pembunuh ingatan orang-orang
yang mencaci panas mencaci hari
yang bergerak lamban

kita adalah mendung
pendingin bungkus gorengan
pembatas lincah sengat panas
pembatas daftar pekerjaan orang-orang
yang memuji macet memuji langkah
yang memuji bayangan pemberontak

kita adalah awan yang diam
adalah awan seluler
adalah—
“kita bukan awan,” sanggahmu.
“kita memang awan,” tegasku.
“awan tidak pernah diam,” sanggahmu terus.
“kita memang awan
selalu diam
selalu mengutuk tempias hujan
selalu bergemuruh
selalu gendut
dan selalu bersama,” tegasku terus
kita adalah awan

2019



Keinginan Kecil

akan jadi sebuah kekaisaran aku
merencanakan penaklukan besar
mencari tanah lapang di ujung tata surya
bumi yang dari jarak enam milyar kilometer
hanya serupa titik biru pucat
telah sesak, ribuan kemanusiaan keluar
dari semak-semak got-got sebagai iklan paling menyentuh
kau tahu, kekaisaran tak hidup
saat bunga, saat akar, dan
matahari tak bersinar dengan terang

ujung tata surya
adalah taman gelap berisi rimbun awan oort
rerumah para komet beku, dingin
hari ini kekaisaran telah tumbang
berita bahagia untukmu

hari ini peradaban telah tumbuh
sebesar superklaster laniakea
tudung galaksi bima sakti
langit bagi tata surya kecil
dan semesta bagi bumi burik

2019


               
Giffari Arief, lahir di Padang, 10 Juli 1998. Sedang menjalankan studi di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Labor Penulisan Kreatif dan Lab. Pauh 9. Nomor Whatsapp: 089667409340.

Puisi-puisi Giffari Arief (Padang)
4/ 5
Oleh