Rabu, 08 Juli 2020

Menyoal Sastra Melayu dalam Sastra Indonesia (Esai Marhalim Zaini)

Menyoal Sastra Melayu dalam Sastra Indonesia (Esai Marhalim Zaini)

 Menyoal Sastra Melayu dalam Sastra Indonesia (Esai Marhalim Zaini)
Rabu, 08 Juli 2020



 

IDENTITAS Melayu atau kemelayuan, setidaknya dapat dilihat dari tiga sifat yang melekat yakni agama (Islam), adat/tradisi, dan bahasa. Dalam aspek kebahasaan, Melayu Riau-Lingga (bersebelahan dengan Johor) adalah penyumbang bahasa karena dianggap paling murni, yang kemudian dijadikan bahasa Melayu baku dalam sistem pendidikan kolonial—setelah  sejumlah peneliti Belanda seperti Von de Wall, dibantu cedikiawan/pengarang pribumi seperti Raja Ali Haji mencatat bahasa dalam kamus dan tata bahasa. Lalu bahasa Melayu disumbangkan, dibawa ke Betawi, diolah lagi, diintelektualisasi, dimodernisasi. Masalahnya kemudian dalam proses yang terakhir itu, menurut Putten (2007), penutur asli bahasa Melayu tidak dilibatkan, melainkan hanya Belanda, Minang, dan Jawa.
Salah satu efeknya di kemudian hari, roman karya sastrawan Melayu Riau Soeman Hs (1904-1999) yang berjudul Kasih Tak Terlarai (1929) yang diterbitkan Balai Pustaka, sempat menjadi perdebatan soal kata “terlarai” (bahsa Minang) yang mestinya “terlerai” (Melayu). Meskipun mengandung arti yang serupa: tercerai, terpisah. Hal ini diakui sendiri oleh Soeman HS (dalam biografi yang ditulis Fakhrunnas MA Jabbar, 1998). Mahayana (2006) cukup panjang lebar mengurai peran Balai Pustaka ini, serta bagaimana kolonial Belanda secara sistematis mengecilkan kebesaran Kerajaan Melayu beserta prestasi para sastrawannya.
Setelah merdeka, bahasa Melayu sebagai bahasa nasional terus dilakukan pembakuan ragam bahasa. Resikonya, ketika bahasa baku terus berkembang, semakin berjarak dari bahasa aslinya. Sehingga bahasa Melayu seolah “turun derajat” dan mau tidak mau menjadi bahasa daerah (tidak baku).
Namun, bukan tanpa masalah ketika bahasa Melayu menjadi bahasa daerah. Satu sisi, masih melekat/identik bahasa Indonesia dalam dirinya (tersebab ia adalah ibu kandung), sehingga tidak mudah bagi pengarang Melayu untuk keluar dari “hubungan darah” itu: yakni untuk menjadi sastra daerah. Sebagaimana tidak mudah untuk menyebut secara dikotomis misalnya seorang Sutardji Calzoum Bachri itu sebagai “sastrawan Melayu” atau “Sastrawan Indonesia.”
Sisi yang lain, begitu hendak menjadi “sastra daerah” pengarang Melayu mau tidak mau harus kembali “terjebak” ke dalam genre sastra lama, semisal pantun, gurindam, syair (yang sesungguhnya juga memakai bahasa “Indonesia”). Maka, tentu, tidak mudah pula para sastrawan yang menulis dengan bahasa daerah Melayu (jika dianggap ada), untuk menerima Hadiah Rancage misalnya. Tidak pula kemudian nyatanya terpecahkkan oleh sebutan “sastra lokal”.
Pada zaman ORBA, pusat tidak adil. Proyek pembangunan tidak merata. Sementara bahasa dan minyak bumi disumbangkan. Riau menuntut. Suara-suara perlawanan terdengar nyaring dalam karya sastra. Tentu, tuntutan dan perlawanan ini tidak semata tersebab itu, akan tetapi juga dalam hal “tersingkirnya” sastra (Melayu) Riau dalam peta kesusastraan Indonesia sejak kolonial Belanda memainkan kuasa-politiknya.
Perlawanan dalam aspek bahasa, misalnya dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah. Will Derks (1994) menyebut perlawanan SCB dalam bentuk “membungkam diri melalui sajak mantranya.” Sementara Ibrahim Sattah melakukan “perlawanan bahasa” dengan “nihilisme linguistiknya melalui sajak nyanyian anak-anak”—selain dapat pula ditelisik dari karya-karya BM. Syam, Hasan Junus, Taufik Ikram Jamil, Idrus Tintin, Rida K Limasi, Norham Abdul Wahab, Abdul Kadir Ibrahim (untuk menyebut beberapa nama), yang menulis karya sastra dalam ragam bahasa Melayu Riau.
Perlawanan masih berlanjut dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang setelahnya, namun lebih bersifat “ideologis,” dikotomi pusat-daerah. Bahasa Melayu masih tampak terus digunakan dalam penciptaan karya sastra, namun lebih digunakan sebagai “identitas kultural” untuk menyuarakan perlawanan. Nama-nama seperti Taufik Ikram Jamil masih masuk dalam barisan ini, terutama dalam puisi dan prosanya semisal Gelombang Sunyi. Selain itu ada Edirusalan Pe Amanriza, Fakhrunnas MA Jabbar, Syaukani Al Karim dan ada banyak cukup nama dalam barisan ini. Teriakan-teriakan “protes sosial” terus terdengar nyaring sampai generasi setelahnya.
Taufik Ikram Jamil (Kompas, 18 September 2004) pernah mengeluhkan prihal hilangnya Melayu dalam sastra Indonesia. Menurutnya, Melayu telah menyumbang bahasa bagi Indonesia, akan tetapi ciri khas Melayu pelan-pelan hilang dalam bahasa Indonesia. Kerisauan Taufik ini juga memiliki alasan yang kuat ketika arah perkembangan bahasa Indonesia tidak merujuk pada asal bahasa Indonesia itu sendiri. Misalnya kata “seronok” yang dalam bahas Melayu berarti “sesuatu yang menyenangkan” tetapi dalam banyak media massa lebih diartikan sebagai yang mengandung pornografi. Kata “sumpah serapah” dalam bahasa Indonesia cenderung bermakna suatu tindakan yang berkaitan dengan amarah, tetapi dalam bahasa Melayu frasa itu bermakna jampa-jampi. Sementara untuk amarah, dalam bahasa Melayu disebut “sumpah seranah.”
Setelah otonomi daerah, dan Riau mekar menjadi Riau (Daratan) dan Riau Kepulauan, persoalan lain memang muncul, misalnya prihal tarik-menarik identitas kultural. Namun, hemat saya, tidak serta merta membuat karya-karya pengarang Riau yang lahir setelah otonomi ikut terpecah. Sepertinya pengarang Riau tidak  terlalu terganggu dengan pemisahan geopolitik ini, karena semangat ke-Melayu-an telah menjadi arus utama penciptaan individu pengarangnya. Al azhar (2015) pernah menyebut kepengarangan di Kepulauan Riau sebagai “pengarang lingkaran Penyengat,”yang tetap terus berhubungan dengan Riau (daratan) tidak semata oleh kesamaan sejarah, tetapi juga oleh sikap kepengarangan. Pengarang-pengarang lingkaran Penyengat bersikap kritis terhadap sejarah dan gejala-gejala yang ada, karena itu mereka cenderung meninggalkan kepengarangan reproduksi-kreatif, dan ‘hijrah’ ke kepengarangan representasi-kritis.
Meskipun begitu, hemat saya, jalan kepengarangan “representasi kritis” itu hari ini tampak telah memudar, terutama setelah otonomi daerah. Sementara kepengarangan “reproduksi-kreatif” juga masih cenderung lambat pergerakannya. Hal ini berakibat pada “sastra (Melayu) Riau” seolah kehilangan “energi” untuk bergerak. Generasi penulis baru (milenial) cenderung tidak lagi masuk ke dalam semangat ke-Melayuan sebagai arus utama. Beberapa hal penyebabnya antara lain: sebagian mereka berasal dari luar Riau, tidak berasal dari rumpun Melayu, bahasa Melayu bukan menjadi bahasa pergaulan anak muda, dan pengaruh arus besar sastra Indonesia hari ini.
      Jadi, jika ada pertanyaan “adakah sastra Melayu dalam sastra Indonesia hari ini?” Maka jawaban yang paling mudah agaknya adalah seturut pernyataan Will Derks dalam sebuah perberbincangan di Pekanbaru beberapa waktu lampau, “sastra Melayu itu ya Sastra Indonesia. Sastra Indonesia itu ya Sastra Melayu.”***

Marhalim Zaini, penyair. Kepala Rumah Kreatif Suku Seni Riau.


Menyoal Sastra Melayu dalam Sastra Indonesia (Esai Marhalim Zaini)
4/ 5
Oleh