Sabtu, 04 Juli 2020

Puisi-puisi Fauzi Afriansyah (Jakarta)

Puisi-puisi Fauzi Afriansyah (Jakarta)

Puisi-puisi Fauzi Afriansyah (Jakarta)
Sabtu, 04 Juli 2020


Rencana 1

Sewaktu aku menulis
Aku melihatmu mati di ujung selokan
Orang bilang mati adalah akhirnya
Akhirnya kamu mati
Tapi tidak bagiku
Mati adalah rencana
Seperti yang kau tulis dalam bukumu


Di tengah-tengah saat aku menulis
Kematianmu menjelma akal sehat
Orang-orang berduyun-duyun mengangkatmu
Saling bertanya dan heran
Aku pun heran kenapa mereka heran
Aku ingin mengatakan bahwa matimu sudah kau tuliskan
Tapi aku sedang sibuk menulis
Rencanaku sendiri

2020



Rencana 2

Pintu kamarku terbuka
Sewaktu aku melihatmu di balik jendela
Kau melambai mengajak
Aku diam dan bertanya
Bukankah kau sudah mati tempo hari

Lalu aku ingat puisiku sebelum ini
Bahwa matimu adalah rencana
Rencanamu setelah mati adalah mengajakku
Tapi aku sudah punya rencana
Pukul 12 nanti saat pintu kamarku terbuka
Orang-orang akan berteriak
Seperti ada meteor menimpa mereka
Tapi belum genap pukul 12 pintu kamarku sudah terbuka
Dan orang-orang sudah berteriak padahal belum ada meteor menimpa mereka

2020





Gelisah

Kegelisahan yang kau kirimkan kemarin
Telah kulipat dengan rapi
Dan kutuliskan dalam puisi ini

Aku menjelma jejak
Yang tenggelam pada matamu
yang tumpah pada larik tentangmu
dan aku telah mati berkali-kali
Untuk mengakhiri puisi ini

2020




Tubuh

Kutemukan tubuhmu di pinggir jalan
Kuangkat dan kuselamatkan
Orang-orang berkata
Tubuhmu berceceran
di sepanjang jalan menuju kelurahan
menjelma kerumunan yang lupa kewajiban
Ah, tubuhmu
Seperti Tuhan
Menggelantang perasaan
Aku bungkam
Orang-orang berganti pakaian
Memakai hak tapi abai memasang keadilan

Juni 2020




Terpisah

Puisiku terbuat dari pagi yang belum dewasa
Riuh yang sengsara, dan pelukan
yang kedaluwarsa
Kuucap mantra di sela-sela tubuh dan mata
Aku berlindung kepada rindumu
Dari godaan jarak yang membusuk
Dengan menyebut nama waktu
Yang maha jenjang lagi maha sesak
Kau tuliskan kisah asmaradana
sebelum perang
Tentang damarwulan dan anjasmara
Tentang tapak kuda yang menjauh ke utara
Tak ada yang lebih menyesakkan dari takdir perceraian
Mati atau kembali menjelma rindu yang sempit
Dan pagi mulai tumbuh
Menjadi puisi
yang nyata di matamu

Juni 2020


Fauzi Afriansyah, kelahiran Jakarta 1994. Berprofesi sebagai pengajar bahasa dan aktif membaca puisi sejak di bangku kuliah, tergabung dalam komunitas Bengkel Sastra UNJ. Beberapa pencapaian dan kegiatannya perihal puisi dan bahasa dituangkan di akun instagram @fauzi.afriansyah. Saat ini sedang melanjutkan studi S2nya tentang pendidikan bahasa.


Puisi-puisi Fauzi Afriansyah (Jakarta)
4/ 5
Oleh