Sabtu, 11 Juli 2020

Puisi-puisi Sulthan Indra (Lampung)

Puisi-puisi Sulthan Indra (Lampung)

Puisi-puisi Sulthan Indra (Lampung)
Sabtu, 11 Juli 2020



 

MERATAKAN MUSIM LALU

lalu, aku pergi ke hulu
meratakan musim bergelombang
-- datar saja segala rasa

sekiranya musim ini bisa kuhindari,
aku ingin membawa lari segala yang tersisa

tidak saja tentangmu,
tapi juga cahaya yang tumbuh seketika itu

: musim lalu dan mendatang
kita akan berguguran
dan kering tanpa tampuk.

Bukittinggi | 2020




MERAWAT KEMBANG DUKA BULAN JULI

ini bulan Juli,
tempat puisi bermula; kabarnya
mulai dari hujan hingga kembang dikemas bulan ini dalam puisi

tidak dengan kepulangan hujan dalam puisiku.
selain duka dan mekar menjadi sabak pagi hari

selain romantisme kenangan,
-- apakah aku luka karenanya

tidak!

dukaku tak bisa ditawar menjadi luka yang menganga
: percintaan tidak selalu diakhiri perih meski putus di tali jantung

ini bulan Juli,
bulan di mana aku merawat kenangan menjadi kembang hujan berguguran.

Halaban - Bukittinggi | 2020





KEPADA MANTAN

kusimpan waktu sebagai perjalanan silam,
sekiranya ada yang menagih atau terlupa.
akan kuperlihatkan gulungan musim yang berdebu

biar dibukanya sendiri,
setidaknya membaca kenangan
: kau mampu menagihku atau aku yang melupakanmu

kita menjadi jejak silam yang terpendam
bukan sebagai mantan,
tetapi keabadian.

Bukittinggi | 2020




LELAKI MEMBACA MUSIM
~untuk ayah

lelaki itu membaca musim yang gugur di tubuhnya,
meski panen belum segera tiba. ia telah menanam keriput

sebagai peladang, layak sekiranya memupuk kira-kira.
ia mengitari sepanjang pagar, jangan-jangan ada yang patah masa lalu

ditatapnya langit tengah hari dengan napas tersengal,
dipatutnya musim yang semak

lelaki itu baru menyadari, ladang telah terang.
ada satu yang tak terbabat
: cintanya pada kekasih yang menanti di ujung ladang.

Air Haji | 2020




NASIB PUISI

sebelum puisi-puisi menemu takdirnya dan hingar-bingar menemu ajal,
ada yang terlupakan

bagaimana peradaban mati suri sebelum kembali terbangun sebagai puisi

di sudut-sudut relung riuh,
tiba-tiba penyair berhamburan menuju meja makan

ada yang lupa cara mengunyah kata-kata.
serupa pesakit kesurupan mantera euforia

sebelum menemu takdir,
puisi-puisi adalah kesepian yang dipuja.

Bukittinggi | 2020



Sulthan Indra, penulis kelahiran Lampung 1982. Ketua komunitas Rabuang Gadiang. Beberapa tulisannya di muat di Haluan Sumbar, Rakyat Sumbar, Banda Sapuluah.Com dan beberapa tergabung dalam antologi bersama semenjak tahun 2016. Alumni Teater Imam Bonjol Padang.


Puisi-puisi Sulthan Indra (Lampung)
4/ 5
Oleh