Minggu, 09 Agustus 2020

Bendera Merah Abu-abu (Cerpen Romi Afriadi)

Bendera Merah Abu-abu (Cerpen Romi Afriadi)

Bendera Merah Abu-abu (Cerpen Romi Afriadi)
Minggu, 09 Agustus 2020

MURAD melangkah dengan gontai saat baru saja pulang sehabis memanen karet di kebunnya. Bukan saja karena kelelahan, tapi membayangkan uang hasil panen karetnya yang kian jauh dari harapan. Daun-daun pohon karet sedang meranggas, berjatuhan serupa musim gugur di negeri jauh. Mengakibatkan getah semakin sedikit keluar. Ditambah lagi, harga karet yang tak pernah naik dalam beberapa bulan belakangan. Membuat petani karet macam Murad keteteran memenuhi kebutuhan hidup.

“Sebentar lagi peringatan 17 Agustus, Bang, semoga kita bisa beli bendera baru pada tahun ini.”

Murad masih mengingat permintaan istrinya sebelum berangkat. Keinginan itu sudah diperam istrinya nyaris tiga tahun ini. Barangkali ia malu selalu mengibarkan bendera lusuh yang warna putihnya sudah berubah abu-abu itu tiap tahun.

“Tapi tahun ini musim pandemi, orang-orang tidak merayakan kemerdekaan seperti biasa,” Murad berharap itu mampu meredam keinginan istrinya.

“Kata Pak RT tahun ini tetap diadakan lomba pemasangan bendera, Bang. Seperti biasa, dusun paling banyak memasang bendera dan paling semarak, akan dapat penghargaan dari Pak Wali.”

Itu memang perlombaan rutin yang diselenggarakan tiap tahun selain perlombaan tradisional lainnya. Penilaian ini bersifat menyeluruh. Satu rumah yang tidak memasang bendera, akan mengurangi poin untuk dusunnya. Begitu pun, untuk bendera yang ukurannya besar dan menarik.

Bahkan tiang benderanya saja ikut dinilai. Jika menggunakan tiang dari kayu yang tinggi dan kokoh, nilai juga akan bertambah. Sebaliknya, bagi yang enteng saja menegakkan bendera pada kayu bengkok ala kadarnya, potensi menang akan sangat sulit.

Tiga tahun-tahun berturut, istrinya memberi andil atas kegagalan dusunnya menjadi juara. Jadi Murad amat paham, istrinya meminta bendera baru karena tak tahan melihat tetangga yang menudingnya sebagai biang kekalahan.

“Asih, seharusnya kamu bisa lihat sendiri keadaan benderamu. Kalau kamu pakai bendera itu terus, dusun kita tak akan pernah menang.”

Murad pun hanya bisa terdiam jika Asih menceritakan itu. Ia cuma bisa berharap tahun depan ia bisa membelikan bendera baru. Tapi tersebab hidup yang tak pernah mudah, harapan itu selalu saja mengambang. Selama ini, Murad dan keluarganya memang hanya bergantung pada hasil potongan karet. Jika harga karet jatuh, otomatis kehidupannya akan tercekik.

Menjadi penyadap karet selalu menimbulkan banyak masalah yang kerap memusingkan Murad dalam berbagai musim. Saat musim penghujan, sudah jelas amat menakutkan. Bukan karena takut banjir akan menenggelamkan kebun karetnya. Tapi hujan akan membuat cucuran getah yang ditampung tempurung itu berubah menjadi air persis menyerupai warna susu putih.

Apalagi hujan tak bisa diprediksi. Hujan pada malam hari masih bisa diakali. Biasanya Murad akan memulai aktivitas agak tengah hari, membiarkan batang-batang pohon karet itu mengering dari tetesan air hujan. Hujan pada pagi hari pun, masih bisa diterima dengan tanpa umpatan. Jika itu terjadi, Murad akan memilih melanjutkan tidur di atas tilam, menarik selimut untuk menyambung mimpi. Lalu ia akan berangkat menyadap sore hari.

Tapi jika hujan datang tengah hari atau sore hari, itulah yang membuatnya kehabisan akal. Sesal lalu menggema, karena itu pertanda kerja sehari jadi percuma dan sia-sia. Apa sebab? Proses air getah membeku membutuhkan waktu 9 hingga 10 jam. Maka, kalau hujan cepat sekali bertandang pas tengah hari. Alamat keesokan harinya akan berubah menjadi susu putih. Mubazir.

Sebaliknya saat musim kemarau seperti sekarang, Murad juga cemas. Memang tidak perlu dikhawatirkan lagi getahnya akan tertimpa hujan, karena sekali sebulan belum tentu hujan turun. Namun, kulit pohon karet akan keras dan menyusahkan saat menyadapnya. Belum lagi air getahnya yang menyusut drastis. Kalau biasanya bisa dapat empat kilo sehari, masa kemarau sudah mujur jika dapat separuhnya.

“Kalau mengharapkan timbangan esok pagi, tidak cukup untuk beli bendera. 17 Agustus masih lebih seminggu lagi, kan? Semoga ada rezeki kita minggu depan,” ucap Murad lirih.

***

Tempat penimbangan hasil panen karet itu terletak di samping pasar sendiri, berdekatan dengan sebuah pohon yang amat keramat oleh semua penghuni kampung ini. Pohon itu disebut pohon tanjung. Berdiri kukuh menjulang, cuma ada sebatang, dan tidak mau ditanami lagi pada tempat yang lain. Usianya sudah tak terbilang, saking tuanya. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui sejak kapan pohon itu tumbuh dan berada di situ. “Dulu saat masih kecil, sudah seperti itu juga pohon ini,” itu kata tetua kampung. Kalimat itu juga yang mereka dengar dari generasi di atasnya. Sehingga tak ada yang berani sekadar menaksir usia pohon tanjung itu. Karena itu pulalah, kampung ini dinamai Tanjung.

Hari Jumat, hari pasar, sekaligus hari menimbang hasil karet. Proses penimbangan karet berlangsung ramai dan gaduh. Puluhan kilo karet yang sudah dibentuk dan direkatkan satu sama lain dalam plastik atau ember bekas. Dililit dengan akar dan tali rafia agar tak terlepas, dinaikkan untuk ditimbang pada kilo besi. Para tauke akan menggeser pemberat pada timbangan agar tepat pada angka yang pas. Jika berhenti pada angka yang kurang berkenan dihati pemilik karet, mereka kan bergumam. “Coba naikkan lagi satu angka, sepertinya masih cukup,” lalu si tauke akan menjawab. “Kau lihat saja! Tambah satu angka lagi berat sebelah timbangannya. Bisa rugi aku.”

“Harga karet kalau sekali turun, susah sekali naiknya.”

Murad berucap pasrah mendapati harga yang berkisar itu-itu saja. Nada yang sama juga terucap pada mulut lain. Para istri sudah menunggu di pasar, menukarkan uang itu dengan kebutuhan selama sepekan mendatang.

Murad berjalan menuju pasar, tak terlalu bersemangat. Namun saat mendapati wajah Asih begitu semringah, hilang sudah gundah gulananya. “Dua hari ke depan aku akan bekerja menyiangi rumput di ladang Gambir Pak Ahmad, semoga uang itu bisa kita belikan bendera baru,” ucap Asih bersemangat.

Murad ikut senang, setidaknya itu jadi jalan keluar tentang keinginan istrinya yang sudah menahun.

“Aku mau beli yang agak besar, Bang. Supaya tetangga tidak lagi mencelaku,” Asih jadi kian tak sabar. Agaknya perasaannya sudah amat tertekan mendengar olok-olok tetangganya yang berulang saban tahun.

“Terserah kamu saja yang penting uangnya cukup,” jawab Murad singkat.

Asih lalu berlalu dengan langkah riang. Memilih cabai dan Ikan asin, pada lapak yang berdekatan.

***

Hujan mengguyur kampung tiga hari berturut-turut, hujan bulan Agustus yang menyesakkan bagi Murad dan Asih karena rencananya berantakan. Entah mengapa kemujuran enggan menghampiri. Padahal seharusnya pekan ini jadi sangat layak untuk diabadikan dengan bahagia. Sesuai rencana, Asih bekerja dua hari menyiangi ladang Gambir. Ia akan menerima upah lima puluh ribu per hari. Uang itu sedianya akan dibelikan bendera baru, sedangkan hasil karet akan dijadikan belanja di pasar.

Namun hujan yang turun tiba-tiba memaksa keinginan itu kembali harus dikubur dalam-dalam. Biasanya musim hujan baru mulai ketika September atau Oktober, tapi tahun ini datang lebih awal. Akibatnya rencana terpaksa dibelokkan. Membeli bendera baru harus dihapus dari daftar. Tentu, kebutuhan perut lebih penting dari mengisi kemerdekaan dengan semarak.

“Mungkin bendera lusuh ini memang ditakdirkan sebagai perlambang kehidupan kita, Bang. Aku akan tetap memasangnya tanpa peduli dengan omongan orang-orang.”

Murad jadi tak enak kepada istrinya.

“Aku ada ide untuk itu,” bagai menemukan barang penting, Asih bersemangat menjelaskannya. “Abang ingat! kita masih punya sisa cat kapur di dekat sumur. Esok, kita cari kayu lurus yang agak panjang sebagai tiang bendera. Lalu kita bisa mengecatnya.”

Murad mengingat, sebetulnya cat itu dulu didapatnya saat bekerja sebagai tukang di salah satu rumah warga. Karena berlebih, Murad minta izin membawanya pulang.

Memang itulah yang mereka lakukan. Sengaja dipilih kayu paling lurus dan kokoh. Kayu itu dikuliti, dibiarkan kering, lalu dibalur cat kapur setelah direndam sehari semalam. Sebelum 17 Agustus, bendera itu telah berkibar dan terpacak di sudut halaman rumah.

Asih tak lagi sakit hati dengan omongan tetangga, ia juga tak lagi peduli apakah dusunnya gagal juara gegara itu. Memperingati kemerdekaan tak harus dengan bendera baru yang berkilau, pikirnya. Asih sudah melakukan sebisa yang ia mampu. Ia merasa merdeka seutuhnya saat melihat bendera merah abu-abunya terpasang dengan kayu bercat kapur itu. (*)

Tanjung 26 Juli 2020

Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah.

Bendera Merah Abu-abu (Cerpen Romi Afriadi)
4/ 5
Oleh