Sabtu, 01 Agustus 2020

Menunggu Ayah Pulang (Cerpen Ranto Napitupulu)

Menunggu Ayah Pulang (Cerpen Ranto Napitupulu)

Menunggu Ayah Pulang (Cerpen Ranto Napitupulu)
Sabtu, 01 Agustus 2020

HINGGA saat di mana kami harus meredam rasa yang berkecamuk itu, segelas kopi yang kami temukan di atas meja Ayah masih saja menjadi perdebatan di antara kami. Meski satu sama lain mulut kami tidak berbicara, batin kami antara yang satu dengan lainnya masih terus saling bertanya; siapakah yang menyeduh kopi itu?

Menurut Ibu, kopi itu bukan seduhan Ayah. Ibu sangat tahu kalau Ayah tidak pandai menyeduh kopi. Lebih baik Ayah mengurungkan niatnya meminum kopi ketimbang harus menyeduh sendiri kopinya. Itulah alasan Ibu untuk tetap yakin bahwa yang menyeduh kopi itu bukan Ayah.

Jika Ibu berpendapat seperti itu, dua adik perempuanku lain lagi. Dari raut wajah mereka, sepertinya mereka menaruh curiga, kalau-kalau ada seseorang yang telah menyeduh kopi itu dan meletakkannya di atas meja Ayah. Tujuannya hanya sebagai pengalih perhatian.

Satu-satunya orang yang menaruh dugaan kalau kopi yang kami temukan di atas meja itu adalah senduhan Ayah sendiri, adalah aku. Alasan yang kugunakan untuk menaruh duguaan itu adalah pertimbangan-pertimbangan logis. Lalu rasa di hati, feeling.

Terakhir kali, sebelum kopi di atas meja itu kami temukan, aku melihat Ayah membawa beberapa buku menuju meja kerjanya. Sepertinya waktu itu Ayah hanya hendak membaca saja. Bukan hendak menulis. Kalau Ayah hendak menulis, paling banyak membawa dua buku saja.

Kebiasaan Ayah kalau hendak membaca buku, ia selalu meminta disediakan segelas kopi. Nah! Waktu itu Ibu tidak ada di rumah. Menurutku, sesuatu yang tadinya tidak biasa dilakukan oleh seseorang, bisa jadi menjadi bisa ia lakukan karena dipaksa oleh keadaan. Kukira demikianlah yang dialami oleh Ayah waktu itu.

Beberapa buku yang kusebut tadi adalah buku yang di masa dulu tidak bisa bebas dibaca oleh orang-orang. Pun oleh kami sendiri. Di rumah kami, buku-buku itu tidak bisa bebas kami baca. Ayah tidak pernah mengizinkan kami untuk membacanya. Selalu saja ada alasan Ayah untuk mengahalangi kami membaca buku-buku itu.

“Itu catatan sejarah yang salah! Tidak baik untuk kalian ketahui!” kata Ayah suatu hari. Pada hari yang lain, ada lagi alasan yang Ayah kemukakan untuk menghalangi kami membaca buku-buku itu. Sepotong kata-kata Ayah yang selalu kuingat adalah: catatan sejarah yang salah.

*

Kopi itu sudah dingin ketika kami menemukannya di atas meja. Bahkan sudah sangat dingin. Tampaknya belum sempat diminum barang seteguk pun, atau sekadar diseruput. Kalau seumpama sudah ada diseruput untuk sekadar merasakan manis atau pahitnya, tentulah sisi bagian atas dari gelas itu akan ada bekas kopi yang mengering. Ini masih bersih. Awalnya kami menduga, sembari menunggu kopi itu dingin, Ayah pergi ke kedai di ujung gang. Mungkin hendak membeli sesuatu, atau bermaksud menemui seseorang untuk mengobrol. Tetapi akhirnya keenakan ngobrolnya, dan kopi itu pun menjadi tidak diingat.

Tetapi kemudian ketika aku sadar bahwa beberapa buku yang dibawa oleh Ayah ke ruangan kerjanya ternyata tidak ada di atas meja, jantungku seketika berdegub. Dan ketika hal itu kukemukakan kepada Ibu, Ibu tampak sangat cemas. Keempat adik-adikku pun tampak turut cemas.

Kecemasan kami semakin bertambah, sewaktu ada berita bahwa ada beberapa buku yang ditemukan oleh seseorang di atas batu di tepi sungai di selatan desa. Buku-buku itu adalah buku milik Ayah. Berpuluh pertanyaan dan praduga absurd sekonyong-konyong berkelebat saling berebut di hati kami.

Apakah Ayah telah dibunuh? Atau, apakah Ayah sengaja ingin membaca buku itu di tepian sungai, lalu tiba-tiba ia dipanggil seorang temannya, dan buku-buku itu tertinggal di sana? Atau seorang temannya mengajaknya ke sana, lalu mereka pergi entah ke mana dan buku-buku itu tertinggal di atas batu itu? Atau buku-buku itu dipinjam oleh seorang temannya. Karena suatu hal terjadi atas diri temannya itu, maka buku itu pun tertinggal di atas batu itu.

Atau..., Ayah sendirikah sebenarnya yang meletakkan buku-buku itu di atas batu itu? Tetapi untuk apa? Dan kemanakah Ayah pergi setelah meletakkan buku-buku itu di situ? Andai benar Ayah pergi, ini di luar kebiasaan. Ayah tidak pernah bepergian tanpa meninggalkan pesan terlebih dahulu kepada Ibu. Terlebih kalau bepergiannya sampai beberapa hari. Biasanya kalau Ayah bepergian, paling tidak satu atau dua hari sebelumnya ia pasti memberitahu Ibu.

Kami tidak tahu harus melapor kepada siapa. Hendak melapor kepada kepala desa, tidak mungkin. Hendak melapor kepada polisi, lebih tidak mungkin. Hubungan Ayah dengan kepala desa sudah lama tidak baik. Demikian juga kepada polisi di kecamatan. Kata orang-orang, hubungan tidak baik itu terjadi sejak dulu. Sejak Ayah sering menyuarakan ketidakpercayaannya pada catatan sejarah. Menurut Ayah, sejarah itu dicatat oleh orang-orang pendusta. Ayah lebih percaya pada sejarah yang dicatat di nisan orang-orang yang telah mati. Atau pada batu-batu di tepian sungai di selatan desa. Oleh sebab itulah kepala desa dan polisi di kecamatan menganggap Ayah sebagai orang yang tidak perlu disahabati.

“Mereka menggolongkan Ayah sebagai orang berhaluan kiri.” kata Ibu suatu hari, ketika aku bertanya perihal ketidakbaikan hubungan Ayah kepada kepala desa dan polisi. Kata Ibu, sikap tidak bersahabat itu berlaku secara estafet dari seorang kepala desa ke kepala desa berikutnya. Begitu juga dari kepala polisi di kecamatan ke kepala polisi berikutnya.

Tetapi, terkait dengan sikapnya atas ketidakbenaran sejarah itu, Ayah tidak diberhetikan dari pekerjaannya sebagai guru. Malahan, ada berita kemarin ini, bahwa masa bakti Ayah akan diperpanjang selama lima tahun lagi. Pejabat sekolah yang membawahi Ayah mengatakan, bahwa Ayah adalah guru sejarah terbaik sekecamatan.

*

TIGA hari tiga malam berlalu. Harapan kami semakin pupus. Pada hari ke dua, harapan kami masih ada; bahwa Ayah hanya pergi entah ke mana untuk beberapa saat saja. Tetapi setelah malam ke tiga dari waktu kami menemukan segelas kopi di atas meja kerja Ayah, harapan itu pupus. Dugaan banyak orang pelan-pelan mulai bisa kami terima, meski terasa begitu menyakitkan di hati kami.

Orang-orang menduga, bahwa sebelum kami menemukan segelas kopi itu, Ayah telah dijemput oleh sekelompok orang. Kata mereka, Ayah adalah salah seorang yang tahu penyebab hilangnya orang-orang desa pada masa dulu. Ayah adalah orang yang selalu lebih dulu ribut jika ada penduduk desa yang tiba-tiba hilang. Ayah selalu mengatakan, bahwa orang-orang yang hilang itu tidak bersalah. Mereka adalah korban arogansi. Korban dari cara-cara konyol; mempertontonkan kekuasaan. Tujuannya, agar yang lainnya tidak mau macem-macem.

Menurut Ayah, kalau orang-orang yang hilang itu dikatakan sebagai antek-antek kelompok tertentu, itu tolol namanya. Jangankan menjadi antek-antek. Arti dari antek-antek saja mereka tidak tahu.

“Paling banter mereka pintarnya itung duit hasil penjualan gaplek. Selebihnya, ya, bikin anak! Membuntingi bininya! Masak orang seperti itu dituduh ngikutin perkumpulan terlarang? Edan itu!” begitu selalu kata Ayah ketika ada orang yang mempertanyakan perihal orang-orang yang hilang di desa.

Kami pun sebenarnya sadar, bahwa Ayah sudah lama dianggap sebagai orang yang tidak baik dalam upaya menghilangkan dendam dan kebencian masa lalu. Ayah dihitung sebagai duri dalam daging. Ayah patut diduga akan selalu memengaruhi orang-orang desa untuk tidak meyakini sejarah yang ada. Ayah patut diduga sebagai orang yang selalu mengatakan kepada orang-orang desa, bahwa sejarah yang benar adalah sejarah yang dicatat pada batu-batu di tepian sungai. Yang dicatat dengan gesekan tulang belulang yang hanyut dan terhempas oleh arus air sungai.

*

Ibu memanggil kami untuk berkumpul di ruang kerja Ayah. Kami masuk satu demi satu, dengan mata yang sembab, letih dan kuyu. Dua adik kami yang belum mengerti apa-apa, tampak beringsut di pelukan Ibu. Mata mereka mencari-cari sesuatu di wajah kami.

Aku melihat Ibu telah mengenakan sehelai kain berwarna biru-tua bergaris hitam-putih samar di atas kepalanya. Ibu pernah bercerita, katanya Ayah pernah bilang, kalau seorang isteri orang Batak ditinggal mati oleh suaminya, pada saat jenazah disemayamkan, di atas kepalanya akan dikenakan sehelai kain selendang bernama ulos sibolang. Itulah kain yang dikenakan oleh Ibu waktu itu.

Semestinya orang yang menyematkan ulos itu di atas kepala Ibu adalah ayahnya Ibu, atau salah seorang saudara laki-laki Ibu. Tetapi Ibu telah mengenakan sendiri ulos itu. Ada cerita panjang yang lumayan rumit diuraikan tetang hal ini. Satu yang kutahu adalah, bahwa Ibu tidak satu suku dengan Ayah. Ibu telah kehilangan sanak keluarganya sejak ia dianggap tolol; berani memilih Ayah sebagai suaminya.

“Apakah Ibu yakin kalau Ayah sudah mati?” tanyaku pelan kepada Ibu.

Ibu tidak menyahut. Hanya bulir-bulir air bening yang tampak mengambang di kelopak matanya. Aku berusaha untuk tidak ikut menangis. Kupikir, jika aku menangis, kekuatan kami akan benar-benar runtuh. Harapan di hati keempat adik-adikku akan benar-benar pupus.

*

SEJAK malam di mana Ibu mengenakan sehelai ulos berwarna biru tua bergaris hitam-putih samar itu, Ibu tidak berniat lagi melakukan upaya pencarian terhadap Ayah. Malahan Ibu sudah melakukan hal-hal sebagaimana dilakukan oleh para perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya.

Ibu sudah merapikan semua pakaian Ayah ke dalam satu lemari, lalu menguncinya rapat-rapat. Ibu juga sudah memasukkan semua buku-buku Ayah -yang tidak bisa bebas kami baca dan yang bisa bebas kami baca, ke dalam koper besi di kolong ranjang kayu di bilik mereka.

Meski ada kabar yang menghidupkan harapan kami tentang kemungkinan Ayah masih hidup, Ibu tidak mengurungkan niatnya untuk melakukan semua yang ingin ia lakukan sebagai pertanda bahwa Ayah tidak akan kembali lagi.

“Kata orang-orang di kabupaten, ayah kalian hanya ditahan saja.” begitu kabar itu. “Jika ia mau berjanji tidak akan mempersalahkan catatan sejarah yang ada, ada kemungkinan ia akan dipulangkan.” kata pembawa berita itu.

“Ayah kalian adalah laki-laki yang sangat teguh pada pendiriannya.” kata Ibu menanggapi berita itu. Artinya, menurut Ibu, Ayah tidak akan pulang lagi. Sebab Ayah tidak mungkin menarik kata-katanya soal ketidakbenaran catatan sejarah yang ada itu. Andai hal itu menjadi kenyataan, akan sangat menyakitkan. Ayah dijemput paksa oleh sekelompok orang karena ia mempersalahkan catatan sejarah. Ini tidak adil! Bagaimana pun upaya kami untuk tidak percaya akan hal itu, rasa pedih itu akan tetap membekas.

Aku sendiri sebenarnya masih ingin menghidupkan keyakinanku, bahwa Ayah masih hidup. Sementara itu, aku sangat tahu bagaimana kedekatan hati dan jiwa Ibu dengan Ayah. Aku juga sangat percaya, bahwa Ibu sangat mengenal Ayah. Oleh karenanya, aku tidak berani mempersalahkan Ibu, kalau Ibu sudah benar-benar yakin bahwa Ayah tidak akan pulang lagi.

Tetapi aku akan tetap menghidupkan harapan, bahwa Ayah masih hidup. Pada waktunya, ia akan pulang. Ketika ia sudah tiba di rumah, ia akan bercerita ke mana saja ia pergi selama ia meninggalkan kami. Lalu Ayah akan menjelaskan perihal catatan sejarah yang salah itu.

*

Tiba-tiba terdengar suara sirine di kejauhan. Agaknya suara sirine itu adalah suara sirine mobil jenazah! Aku melihat seorang adikku yang duduk di kursi, mempertajam pendengarannya terhadap suara sirine itu. Aku berharap, mayat yang diusung oleh mobil jenazah itu bukanlah jenazah Ayah.***


Ranto Napitupulu, lahir di Pematang Siantar, 06 Juni 1965, tinggal di Desa Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Menulis cerpen dan esai di beberapa media cetak.


Menunggu Ayah Pulang (Cerpen Ranto Napitupulu)
4/ 5
Oleh