Sabtu, 29 Agustus 2020

Puisi-puisi Diego Alpadani (Bandung)

Puisi-puisi Diego Alpadani (Bandung)

Puisi-puisi Diego Alpadani (Bandung)
Sabtu, 29 Agustus 2020



 Tidur Kesorean

 

Tidur siangku lambat dan lontong pagi

sudah menjadi kuah kering di mangkok.

Lambat-lambat teringat teman lontong

teh telur pagi tadi di lepau Wo Wat.

 

Sekarang sudah sore

datang membawa apa saja yang kau inginkan

: sayur bayam, kangkung, sapi belang puntung

atau

sekedar air mineral dalam pipa.

 

Karena tidur kesorean

itu bunga rampai yang kudapatkan

dibangunkan malam.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

Dibangunkan Malam

 

Dibangunkan malam sudah seperti

ke kamar mandi tidak membuang apa jua

Itu kunamakan kesal panjang

karena malam-malam selalu lama berteman

dengan peronda layar miring.

 

Tidak ada kopi atau roma kelapa

Mendampingi mabar dini hari. Sejauh itu

peronda layar miring merapal carut-

marut menelan kekalahan.

Untung saja, Hitler tidak bangun lagi.

 

Aku yang kesal melepas semua lamunan itu

sudah menghabiskan beberapa menit

di kamar mandi, yang keluar pada tengah

malam pun tiada.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

Setelah Dibangunkan Malam

 

Keluar dari kamar mandi

sudah kutanggalkan atribut hayalan itu

mestinya kopi dan roma kelapa yang tadi tiada

mesti ada di dalam kulkas berdaya tinggi.

Acapkali kulkas dibuka

yang ada hanya lampu hidup

dan mati ketika ditutup.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

Menutup Pintu Kulkas

 

Lampu kulkas putus

tapi masih ada cahaya mungil seperti

mata kucing jantan pada tengah malam

mengintai kucing betina

 

sebelum aku menarik selimut pemberian Emak.

Dari dalam kulkas, cahaya mata kucing itu

keluar dan mengawasi aku yang alpa

tentang perubahan, pergeseran waktu.

 

Aku tahu,

cahaya itu tidak dapat bicara

hanya hayal pembawa cahaya bicara.

Jelas dari awasnya ingin berpetuah

satu atau dua pepatah lama

mungkin, belum terlihat sudah teraba.

 

Agam, 2020

 

 

 

 

Dalam Selimut Pemberian Emak

 

Kealpaan terhadap ini dan itu

membuat cahaya mata kucing jantan

masuk ke dalam selimut sebesar badan

di dalam

 

ia mengikrarkan persekutuan padaku

yang enak-enakan dengan bayangmu.

 

Ia tanyakan tentang kopi hitam dan

kue roma kemarin di perkulkasan.

Tidak sesekali aku mengerti

kenapa bisa cahaya mata kucing

meminta kopi dan kue roma,

sedang aku hanya meminta bayangmu

lekas memagut dalam selimut.

 

Agam, 2020

 

 

 

 

Bayangmu Sebesar Normal

 

Ternyata bayangmu tidak lebih besar

dari akar toge di lapak tani Bapak.

Bayang sekecil itu mampu membuat

buntutku tak mau diam barang sejenak

pada tengah malam saat para moba

membanting ponsel canggihnya.

 

Buntutku ingin kaki berlari

keluar dari selimut pemberian Emak

dua puluh dua tahun lalu, lebih enam bulan.

Di situ sudah banyak liur dan ompol

menjadi kesatuan tanpa persatuan

dan ganjilnya,

 

bayangmu yang tak lebih besar dari akar toge

memaksaku mencipta buntut sebesar kesatuan.

Di situ, aku dan bayangmu menjadi sebesar normal

dari ketiadaan panjang memungkinkan keberadaan.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

 

 

Diego Alpadani, lahir di Bandung. Saat ini tengah menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Indonesia Universtas Andalas. Ia aktif berkegiatan di Labor Penulisan Kreatif (LPK), Teater Langkah, dan Lab. Pauh 9.


Puisi-puisi Diego Alpadani (Bandung)
4/ 5
Oleh

1 Comments: